
Siang harinya Devan dan Nayla kembali ke rumah,, Nayla kini tidak lagi tinggal di kontrakan melainkan kembali ke rumah besar yang dulu pernah di tempatinya. Jika dulu dirinya hanya seorang baby sitter kini berubah menjadi Nyonya muda. Sekalipun begitu Nayla cukup berat menginjakkan kaki di kamar Devan. Mengingat di sana lah Devan dan Jessica pernah tidur bersama, ditambah lagi ada kenangan pahit dirinya. Entah benar atau salah,, tetapi Nayla benar-benar menganggap itu musibah, di atas ranjang itu dirinya dilecehkan oleh Devan sendiri. Meskipun sudah terlalu lama dan kini sudah mendapatkan pertanggungjawaban dan Devan sendiri dirinya tak pernah bisa lupa sepenuhnya.
"Sayang,, kenapa cuma berdiri di sana? masuk" ucap Devan.
"Mas kita tidur di kamar aku yang dulu aja, gimana?" tanya Nayla.
Kamarnya yang kecil dan sederhana lebih baik baginya, daripada kamar Devan yang luas tapi penuh kenangan pahit di dalamnya.
"Kamu masih marah sama Mas? nggak bisa lupain itu?" tanya Devan panik.
Nayla tertunduk menatap ranjang di hadapannya. Devan pun berjalan ke arahnya dan mencoba untuk membuat istrinya mau menempati kamar tersebut, bagaimanapun juga itu adalah kamarnya semenjak kecil.
"Gimana kalau kita ganti ranjangnya saja? dekornya juga sesuai dengan keinginan kamu?" tawaran Devan cukup baik mungkin bisa diterima oleh Nayla.
Sejenak Nayla diam menimbang ide dari Devan, tidak mungkin pula Devan mau menempati kamar pembantu.
Akhirnya Nayla mengangguk setuju, paling tidak lebih baik apalagi ranjang tersebut bekas Jessica,, Nayla tak akan mau sebab takut Devan malah mengingat wajah Jessica saat tidur bersamanya,, sekalipun tidak mungkin dilakukan Devan, itu hanya rasa takut seorang wanita yang awalnya hanyalah wanita kedua.
"Kalian sudah sampai?" terlihat Ana berdiri di depan pintu kamar yang terbuka, dirinya kembali lebih awal sebelumnya.
Nayla dan Devan seketika melihat Ana, tak lama berselang Rani juga menyusul masuk.
"Hai semuanya," sapa bocah itu dengan bahagia kemudian matanya menatap ada yang aneh dari Nayla.
"Kok leher Mbak Nayla mirip harimau,, isshh.... geli," Rani bergidik ngeri,, curiga Nayla adalah jelmaan manusia harimau.
Ana pun mengangguk,, tapi dirinya tahu itu apa. Padahal Nayla sudah menutupinya tapi lebih tampaknya masih juga terlihat. Sedangkan Devan menutup mulut menahan tawa melihat wajah Nayla.
"Oma,, apa jangan-jangan Mbak Nayla jelmaan manusia harimau," seru Rani ketakutan.
"Bukan," Nayla menggeleng cepat takut nantinya malah Rani takut padanya.
"Jangan pegang-pegang!! Oma,, Rani takut," ucap Rani dan Ana memeluk Rani dengan eratnya,, sambil menahan tawa yang juga sebenarnya ingin keluar tapi takut Nayla merasa malu. Akhirnya dengan susah payah terpaksa ditahan.
"Itu Mbak Nayla lagi sakit, digigit sama harimau buas dan nakal," jelas Ana.
Devan ingin sekali mengetuk kepala Ana, beruntung dirinya tidak berani sehingga saat ini memilih diam sambil menahan kekesalannya.
Mana ada harimau setampan dirinya, apalagi Dokter, tidak ada sejarahnya harimau menjadi Dokter.
"Beneran?" Rani menatap Nayla meyakinkan bahwa Nayla bukan siluman harimau.
__ADS_1
"Mbak Nayla manusia," Nayla tersenyum menyakinkan.
"Oh,, berarti yang gigit Mbak Nayla itu bisa jadi manusia harimau jadi-jadian?" tanya Rani yakin dua ratus lima puluh persen bahwa disekitar Nayla ada manusia harimau,, dirinya berdiri tegak dan menatap sekeliling kamar seakan tengah mencari sesuatu sampai akhirnya Rani menatap Devan.
Devan yang ditatap Rani begitu tajam merasa kesal, dirinya tentu sangat tersinggung dan merasa Rani menuduhnya sebagai siluman harimau.
"Ayah manusia!" ucap Rani.
"Siapa yang ngomong Ayah manusia harimau?" malah si ompong itu yang membuat Devan tersisihkan dengan sendirinya.
"Kok Ayah ngegas,, Rani ngomong Ayah manusia!" ucap Rani.
"Karang ajar ini bocah!!!"
Nayla tersenyum kikuk sedangkan Ana menahan tawanya,, tanpa langsung Rani menyebutkan Devan sebagaimana manusia harimau jadi-jadian.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan membuat keempat orang tersebut bergegas keluar dari kamar.
Ada keributan di bawah sana membuat Ana pun berlari cepat menuruni anak tangga,, begitupun juga dengan Rani. Sedangkan Nayla tidak diizinkan oleh Devan keluar dari kamar.
"Kita di sini saja," goda Devan sambil bersandar pada daun pintu.
Saat seperti inilah yang menjadi kesepakatan pikirnya, sebab Felix sedang tertidur lelap, memiliki anak membuat waktu bercinta cukup terbatas jadi setiap ada waktu haruslah dimanfaatkan dengan baik, contohnya seperti sekarang ini.
"Ngapain dilihat nggak penting,, enakan di kamar berhubung anak kita sedang tidur," ucap Devan.
"Mas gimana kalau Papa yang kenapa-kenapa!" ucap Nayla.
"Ya ampun! apa dia tidak tahu kalau ada pengantin baru di rumah ini," geram Devan.
Bagaikan ada musik dengan volume suara tinggi,, Nayla sampai meloncat mendengar keluhan Devan.
"Apa sih! nggak jelas! dasar harimau jadi-jadian," ucap Nayla.
Nayla menggeser tubuh Devan dan segera keluar,, dirinya berlari menuruni anak tangga kemudian sampai di lantai satu dirinya melihat air sabun tergenang di lantai.
"Sayang ini apa?" tanya Devan.
Nayla kesal pada Devan, tiba-tiba saja suaminya tersebut sudah berdiri di belakangnya, bertanya membuat jantung hampir copot.
"Aku juga nggak tahu Mas,, kita ikutin aja," jawab Nayla.
__ADS_1
Devan mengangguk, keduanya berjalan mengikuti aliran air bercampur sabun hingga menuju kamar tamu ternyata air tersebut benar-benar berasal dari kamar tamu yang ditempati oleh Santi.
Nayla segera masuk ke dalam kamar tersebut,, matanya melebar ternyata Santi tak pandai menggunakan peralatan yang tersedia di toilet.
"Maaf Jeng, saya bingung cara pakai peralatan ini semua," Santi cengengesan tidak jelas sambil meminta maaf pada Ana.
Ana mengangguk dirinya mengerti sebab Santi berasal dari desa.
"Tapi di kamar mandinya asik ada kolam renangnya," ucap Lastri.
Bik Ina tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Santi, dirinya juga tidak menyangka bahwa Santi ibu tiri yang sombong tersebut sangat kampungan.
"Bukan cuma tinggal di kampung, tapi juga kampungan," ejek Bik Ina.
"Hus!!!" Ana memperingati Bik Ina, tidak baik menghina orang lain.
"Jeng Santi,, pindah ke kamar tamu lainnya saja,, nanti kamar ini biar dibersihkan dulu," ucap Ana.
"Iya Jeng, di kamar tamu lainnya ada kolam renangnya juga kan? ada toilet duduk santainya kayak di sini nggak? soalnya di kampung biasanya buang air di kali," ucap Santi.
"Ada semua,, apa yang ada di kamar ini ada juga di kamar tersebut, lain kali kalau mau menggunakan peralatan yang tidak dimengerti bisa minta tolong pada Bik Ina," ucap Ana lagi.
"Ma ini banjir?" Andini baru pulang ke rumah tapi melihat rumahnya becek penuh air sabun.
"Banjir lokal Bu," celetuk Bik Ina.
"Maaf Nak Andini,, barusan Ibu nggak tahu cara cebok di toilet santainya, Ibu masukin sesuatu biar air toiletnya penuh biar bisa buat cebok, ternyata akhirnya meluap dan nggak tahu cara mematikan alat-alatnya, akhirnya meluap jadi begini hehehe..." Santi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jadi ini air toilet?" Andini ingin sekali muntah saat Santi mengangguk.
"Iya," ucap Santi.
"Huekkkk....," Andini yang sedang hamil anak ke empat itu langsung muntah-muntah, jangankan air toilet bau badan suaminya saja jika tidak wangi dirinya akan muntah-muntah.
Bahkan Ana pun ikut muntah,, sebab air tersebut sudah membasahi kakinya.
"Ya ampun," Nayla menggigit kukunya, malu sekali rasanya dengan apa yang dilakukan oleh Santi.
Akan tetapi mau bagaimana lagi pada dasarnya ibu tirinya itu memang sok tahu dan kadang merasa pintar sehingga gengsi dalam bertanya.
"Hueekkkkkk!!!"
__ADS_1
Andini langsung berlari,, pergi dari sana dengan rasa mual yang tidak tertahankan.