
Hueekkkkkk.... Hueekkkkkk.... Hueekkkkkk...
Sejenak Jessica terdiam di depan cermin, lama dirinya menatap wajah sambil menantikan sebuah alat uji kehamilan yang baru saja digunakan.
Beberapa hari ini merasa ada yang berbeda darinya bahkan Jessica memberanikan diri untuk memakai alat uji kehamilan secara diam-diam, mata Jessica melebar sempurna melihat dua garis merah yang muncul.
"Ya ampun!" Jessica menengadah ke atas, menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk membantu meredakan segala keterkejutan ini.
Salahkah jika dirinya tidak mengharapkan kehamilan itu? mungkin! akan tetapi apa yang harus dikatakan, semua sudah terjadi.
Akankah Alex dapat menyayangi dirinya, setelah mengetahui kehamilannya ini.
"Jessica" Puput berdiri di ambang pintu.
Jessica pun berbalik dan bertemu pandang dengan Puput.
"Mama, minta maaf karena kemarin sudah bikin kamu sedih, maksud Mama nggak gitu, kamu mau kan memaafkan Mama?" lirih Puput sambil menangkup kedua tangannya, berharap Jessica tak lagi marah padanya sebenarnya Jessica cukup tersinggung akan pertanyaan Puput kemarin hari, akan tetapi melihat ketulusan hati Puput tak mungkin bermaksud membuatnya sakit hati.
"Iya, Ma. Nggak apa-apa," Jessica pun berjalan ke arah Puput dan memeluknya.
"Itu apa?" Puput mengambil benda kecil yang terjatuh di lantai.
Matanya membulat sempurna melihat dua garis yang muncul, artinya Jessica benar-benar tidak mandul. Setitik air mata haru pun tumpah begitu saja, terharu tentu saja. Semoga pula benda itu milik Jessica.
"Ini punya kamu?" tanya Puput.
"Iya Ma," jawab Jessica.
Jessica tidak sedih, tidak juga bahagia, dirinya terlalu memikirkan reaksi Alex saat tahu tengah mengandung nantinya, padahal dalam hati ingin bercerai dalam waktu beberapa hari kedepan sesuai dengan ucapan Alex beberapa waktu lalu.
Nyatanya saat ini dia sedang hamil, bagaimana bisa dirinya bercerai.
"Ini kabar sangat membahagiakan sekali, Alex harus tahu, Mama yang akan menghubunginya," segera Puput berlari keluar dari kamar Jessica menuju kamar untuk mengambil ponselnya, setelah mengatakan pada Alex lanjutkan dengan menghubungi suaminya yang masih berada di luar kota, hati keluarga begitu bahagia akan mendapatkan anggota keluarga baru.
Puput pun tidak lupa menghubungi besannya Inggit memberitahukan akan kabar baik tersebut. Cucu pertama tentunya disambut dengan rasa bahagia yang luar biasa, satu jam kemudian disaat duduk termenung di kursi meja rias, tiba-tiba saja Alex kembali.
Satu minggu lebih Alex pergi entah ke mana, tanpa kabar, tanpa pamit apalagi menghubungi Jessica. Keduanya berjauhan seakan tidak memiliki hubungan padahal seharusnya setiap pasangan harus saling menjaga komunikasi sekalipun sedang berjauhan.
__ADS_1
"Apa kamu ingin menertawakan aku?" tanya Alex.
Jessica pun tersadar dari lamunannya melihat wajah Alex dari pantulan cermin, lama terdiam hanya menatap saja tanpa bertanya, hati yang gundah gulana masih berselimut luka menantikan reaksi selanjutnya Alex seperti apa, pasti Alex diberitahu oleh Puput tentang kehamilannya.
"Kamu kalau pulang itu pakai salam walaupun pergi nggak pamitan," jawab Jessica santai.
"Tidak usah berbangga hati, sudah pasti sebentar lagi anak itu akan keguguran, hanya saja perlu menunggu waktu," ucap Alex.
Ya! Jessica memang mengkhawatirkan hal itu, sudah dua kali dirinya keguguran dan ini adalah kehamilan untuk yang ketiga kalinya, entah apa yang akan terjadi kedepannya nanti. Entah janin itu bisa bertahan atau ikut menyusul kakaknya sebelum dilahirkan, akan tetapi pantaskah seorang ayah berucap demikian untuk anaknya sendiri? rasanya tidak.
"Alex kepalaku pusing, aku benar-benar lelah, tolong kali ini saja tidak usah mengajakku untuk bertengkar," Jessica berpindah naik ke atas ranjang kemudian membaringkan tubuhnya yang lelah.
Puput pun kembali masuk ke kamar Alex, ingin memastikan bahwa putranya sudah kembali, bahagia sekali Puput melihat Alex sudah kembali, semoga dengan adanya anak itu bisa membuat Alex berubah, rumah tangga yang berantakan berharap akan segera harmonis.
"Alex kamu sudah periksa Jessica?" tanya Puput.
"Pergi ke Dokter lain juga bisa," ketus Alex.
"Mama nggak ngerti sama kamu, istrimu hamil kok kayaknya kamu nggak bahagia, perasaan dulu Papa kamu bahagia luar biasa saat tahu Mama hamil," ucap Puput.
"Jessica kamu istirahat saja, jangan peduli omongan Alex, ingat jangan stress," ucap Puput dan Jessica mengangguk kemudian menutup matanya, tubuhnya terasa letih dan mata yang mengantuk luar biasa. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu artinya hampir setengah hari tidur saja membuat tubuh semakin terasa begitu berat.
Jessica mencoba untuk menyegarkan tubuh dengan mengguyur tubuhnya di bawah air dingin, setelah hampir memakan waktu satu jam, Jessica pun keluar. Alex mengganti pakaiannya di kamar sesaat kemudian matanya melihat Jessica dengan handuk putih saja.
Tubuh Jessica terlihat gemuk dan lebih berisi membuat mata Alex tak berkedip sedetikpun.
Jessica tahu akan tetapan Alex, akan tetapi dirinya memilih diam dan seakan tidak tahu biarkan saja Alex terus menatapnya demikian, mungkin saja bisa merubah sikapnya yang kasar, Jessica tidak ingin anaknya terlahir dari keluarga broken home sehingga jika memang masih bisa dipertahankan Jessica akan mempertahankan rumah tangganya. Mempertahankan sebisa dan semampunya.
"Apa kamu ingin menggodaku?" tanya Alex saat Jessica melewatinya.
Jessica menghentikan langkah kakinya membalas tatapan mata Alex, sesaat kemudian kembali melangkah menuju lemari, sayangnya Alex menarik tangannya hingga membuatnya berbalik ke belakang. Dadanya membentur dada bidang Alex, seketika ciuman pada bibirnya terasa begitu lembut.
Tidak pernah Jessica merasa perlakuan lembut Alex hingga Jessica ikut terbuai.
Apakah Jessica terlalu rendah?
Lupakan! akhir-akhir ini dirinya sangat membutuhkan belaian tangan Alex, entah karena faktor hormon kehamilan hingga merasa bergejolak ingin dimanja.
__ADS_1
Tapi saat ini Jessica sangat menikmatinya, semakin lama semakin terasa memanas, tidak sadar Jessica mendesah, merintih nikmat saat tangan Alex bermain di kedua benda kenyalnya.
Rasanya sakit tapi bercampur nikmat.
"Sssttttt....Ah...." rintih Jessica akhirnya lolos begitu saja tanpa sadar.
Alex semakin menggila saat mendengar rintihan Jessica yang membuat jiwa kelakiannya ingin segera memasuki. Sesaat kemudian Jessica terbaring di atas ranjang dan ditindih oleh Alex, entah angin dari mana hingga Alex menyentuhnya tanpa kekerasan, sudah berulang kali bercinta dengan istrinya hanya kekerasan yang ada, kali ini sungguh berbeda membuat Jessica merasa terbang ke awan, siang hari yang terik bergulat manja di atas ranjang, sungguh terasa nikmat.
"Alex," rintih Jessica tanpa sadar.
Alex pun memasuki Jessica dengan penuh hasrat, bergerak liar seiringan dengan pelepasan yang akan sampai pada puncaknya.
"Ah...." Alex mendesah saat pelepasan tiba, akhirnya puncak kenikmatan sampai juga.
Alex memilih membersihkan dirinya, kemudian duduk di sofa sambil memeriksa jadwal di tab miliknya. Beberapa menit kemudian Jessica pun bangun, berjalan menuju kamar mandi tanpa sehelai benang pun, dirinya tahu Alex berada di sana bahkan dengan sengaja melakukan itu agar bisa membuat Alex berubah mencintainya lagi seperti dulu, perduli setan disebut penggoda, yang terpenting adalah keutuhan rumah tangganya, apalagi dengan adanya janin di rahimnya.
Begitupun saat keluar dari dalam kamar mandi Jessica kembali menggunakan handuk saja, melewati Alex seakan biasa saja.
"Anak siapa yang kamu kandung?" pertanyaan Alex mampu membuat kaki Jessica berhenti berjalan. Ternyata apa yang terjadi barusan tidak mampu membuatnya berubah menyayangi dirinya. Tidak mampu mengembalikan cinta yang dulu begitu besar. Ternyata cinta seorang Alex tidak seujung kuku pun.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Jessica.
"Kenapa kamu menantang ku?" Alex tidak suka ditantang, dirinya bangun dari duduknya dan menarik rambut Jessica ke belakang.
"Alex sakit!" rintih Jessica sambil berusaha melepaskan tangan Alex yang mencengkram rambutnya erat.
"Jangan besar kepala setelah barusan terjadi di antara kita, tadi aku sudah mencari wanita murahan tapi karena Mama memintaku pulang dengan segera aku terpaksa melepaskan wanita murahan yang jauh lebih berharga daripada kau! dan sampai di rumah tadi ternyata kau melebihi wanita murahan itu, bahkan saat ini pun kau hanya menggunakan handuk untuk menggoda ku lagi," cengkraman tangan Alex pada rambut Jessica semakin kuat seiringan dengan kalimat kasar yang keluar dari mulutnya.
Mulut Alex yang tajam melebihi tajamnya belati membuat dada terus berdenyut, berbicara dengan lancang seakan tidak pernah berpendidikan.
"Alex sakit, lepas!" mohon Jessica.
Seketika Alex mendorong Jessica hingga terjatuh di atas ranjang. Beruntung tangannya dengan cepat menahan perutnya, hingga tidak terjadi apa-apa pada kandungannya. Akan tetapi tangannya terasa sakit luar biasa, mungkin juga tangannya terkilir karena terlalu kuat menahan tubuhnya.
Hati bahagia Inggit hilang seketika melihat kekasaran Alex pada putrinya. Kakinya terasa bergetar hebat, tidak kuasa melihat kasarnya Alex terhadap Jessica.
Apakah ini perlakuan Alex selama ini? sangat tidak manusiawi!
__ADS_1