
Selama tiga hari ini Devan benar-benar meluangkan waktunya untuk Jessica membuat istri pertamanya itu bahagia tanpa ada bayang-bayang istri keduanya yaitu Nayla. Devan memfokuskan liburan berdua untuk Jessica, menjadikan istri pertamanya itu sebagai ratu,, itu semua sebagai bentuk ucapan maaf atas apa yang selama ini terjadi di belakangnya,, karena tidak mungkin kata maaf langsung keluar dari bibir Devan,, itu sama saja akan membuat Jessica tau semuanya.
"Sayang aku masih betah disini,, aku sedang tidak ingin kembali," ucap Jessica sambil bergelayut manja pada Devan.
Beberapa hari ini Jessica merasa waktu Devan benar-benar hanya untuknya setelah dia habis bermimpi,, sekalipun sebenarnya Jessica sangat ingin bertanya mengenai ponsel Devan yang terkunci tidak seperti dulu,, ponsel Devan dulu tidak terkunci jadi dia bebas memeriksa apa saja di ponsel Devan. Tapi itu tidak masalah,, Jessica lebih memilih bahagia daripada terus menderita karena curiga.
"Sayang,, kan nanti kita bisa kembali lagi,, apa kamu tidak merindukan dua kurcaci kecil yang berada di rumah itu?" ucap Devan sambil menarik Jessica mengecup rambutnya berulang kali.
"Rani?" ucap Jessica.
"Iya mau siapa lagi kalau bukan si ompong cerewet itu," ucap Devan.
"Iya juga sih,, ya udah ayo kita balik," ucap Jessica.
Jessica setuju untuk kembali,, karena mengingat Devan memang sangat dekat dengan kedua ponakannya apalagi pada Rani. Sehingga Jessica tidak bisa egois juga, lagipula mereka sudah berlibur selama beberapa hari ini dan membuat hubungan mereka kembali membaik lagi.
########
Akhirnya mereka sampai di Kota tempat mereka tinggal,, Devan dan Jessica di jemput oleh sopir ketika mereka sudah sampai di bandara. Sepanjang perjalanan Jessica terus berada dalam dekapan hangat Devan. Sesekali keduanya tertawa karena candaan mereka yang cukup membuat keduanya bahagia, hingga sopir menghentikan mobilnya yang sedang melaju secara tiba-tiba.
Ccittt..
"Ada apa pak,, kok berhenti tiba-tiba?" tanya Devan.
Jessica seketika itu juga langsung menatap ke depan.
"Nayla," ucap Jessica yang secara tergesa-gesa langsung turun untuk melihat wanita yang sudah lama menghilang.
Devan benar-benar terkejut begitu mendengar Jessica menyebut nama wanita yang sangat dikenalinya,, dengan segera Devan ikut turun.
"Nayla,, kamu kemana saja Nayla? satu rumah mencari kamu terutama Mama, malam itu kamu tiba-tiba menghilang begitu saja dan...," Jessica langsung melupakan kalimat yang akan dia ucapkan begitu melihat perubahan tubuh Nayla.
"Nayla,, kamu lagi hamil?" tanya Jessica memberanikan diri.
__ADS_1
Degh!!!
Jantung Devan langsung berdetak lebih kencang begitu mendengar pertanyaan Jessica. Begitupun dengan Nayla dan seketika itu juga Nayla baru sadar kalau ada Devan,, pria itu sedang berdiri di samping mobil.
"Nayla,, kamu sudah menikah?" tanya Jessica lagi sambil menggerakkan telapak tangan Nayla untuk menyadarkan Nayla dari diamnya.
"Sudah Nyonya," jawab Nayla.
"Aku minta maaf malam itu pergi tiba-tiba,, malam itu aku ada urusan penting dan...," Nayla mendadak diam membisu,, berbohong bukan keahlian Nayla sehingga dia bingung harus berucap apalagi.
"Tidak apa-apa Nayla yang penting keadaan kamu baik-baik saja sekarang,, rumah kamu dimana Nayla? biar aku antar kamu,, ini lagi gerimis dan malam-malam begini kamu keluar,," ucap Jessica sambil menatap kantung plastik yang lagi dipegang Nayla.
"Itu apa Nayla?" tanya Jessica.
Nayla langsung menatap plastik ditangannya.
"Oh ini martabak Nyonya,, aku lapar," ucap Nayla sekalipun saat ini Nayla benar-benar merasa sangat tegang.
"Suami mu dimana Nayla? kenapa dia membiarkan kamu pergi mencari makan sendiri malam-malam begini," ucap Jessica lagi yang terlihat kesal kepada suami Nayla meskipun dia belum pernah ketemu,, karena melihat Nayla yang malam-malam malah dibiarkan pergi mencari makan sendiri.
Devan langsung melihat ke arah lainnya, karena tidak ingin menatap manik mata Nayla.
"Iya Nayla suami kamu,, kenapa dia menjadi suami yang begitu tega seperti ini,, apa dia tidak memiliki hati," omel Jessica.
"Ayo aku antar kamu pulang Nayla," ucap Jessica sambil memegang lengan bagian atas Nayla untuk membawa Nayla masuk ke dalam mobil.
"Em terima kasih atas tawarannya Nyonya,, tapi rumah ku sudah dekat kok Nyonya,, aku jalan kaki saja,, aku permisi," ucap Nayla lalu segera pergi meninggalkan Jessica,, takut Jessica akan semakin banyak bertanya padanya,, sedangkan Devan saat ini hanya diam saja sambil menatap Nayla seperti orang asing.
Lagi pula perut Nayla sekarang sudah benar-benar lapar,, Nayla ingin segera mengisinya jadi lebih baik dia pulang saja lalu makan.
"Ya ampun kasihan sekali Nayla," ucap Jessica sambil menatap punggung Nayla yang saat ini sedang berjalan sendiri,, Jessica benar-benar merasa iba pada keadaan Nayla.
"Ayo kita pulang," ucap Jessica lagi.
__ADS_1
Keduanya kembali masuk ke dalam mobil,, melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke rumah. Mulut Jessica terus saja bercerita tentang kemalangan yang dialami Nayla sedangkan Devan hanya diam saja sambil mendengarkan.
"Sayang pokoknya nanti kalau aku hamil kamu jangan seperti itu yah,, kamu lihatkan tadi Nayla,, suaminya itu manusia atau iblis massa sangat tega membiarkan istrinya keluar sendiri tengah malam begini membeli makanan, jalan kaki dan juga tadi hampir saja tertabrak,," ucap Jessica yang sangat marah sampai saat ini,, Jessica betul-betul marah pada suami Nayla.
Devan hanya diam saja sambil mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir Jessica,, bahkan secara tidak sadar Jessica saat ini sedang mengatai dirinya habis-habisan.
"Coba saja kalau aku ketemu dengan suami Nayla itu,, aku pasti akan bilang pada suaminya,, apa dia tidak pikir bahaya bagi perempuan keluar malam apalagi ini sudah hampir tengah malam,, wajah Nayla juga tadi terlihat sangat pucat yah sayang,, kasihan sekali Nayla," ucap Jessica.
Devan saat ini masih sangat bingung mengapa bisa Nayla pergi mencari makan sendiri, dan juga sudah tidak ada selang infus yang terpasang di tangannya,, semenjak Jessica habis bermimpi,, Devan memang sengaja menonaktifkan ponselnya sampai saat ini,, hingga Devan tidak tau mengenai kabar Nayla.
Lalu dimana Reyna? kenapa malah membiarkan Nayla keluar mencari makan sendiri.
"Devan,, kamu itu dengar aku nggak sih?" ucap Jessica.
"Iya," ucap Devan.
"Jadi menurut mu gimana?" tanya Jessica.
"Apanya yang gimana?" tanya Devan.
"Ya ampun Devan aku nanya Nayla,, atau jangan-jangan sejak tadi kamu tidak mendengar ucapan ku," ucap Jessica.
Pikiran Devan saat ini benar-benar terbelah,, terbagi pada Nayla yang baru-baru saja bertemu dengannya.
"Sayang, kamu sebenarnya lagi mikirin apa sih?" tanya Jessica,, sekarang Jessica merasa bahwa Devan sedang berada dalam pikirannya sendiri lagi dan itu terjadi setelah mereka bertemu dengan Nayla barusan.
Devan hanya mengangkat bahunya.
"Kita bicarakan yang lain saja," ucap Devan yang tidak ingin Jessica semakin banyak bertanya.
Lebih baik dia diam dan mengalihkan perhatian Jessica,, meskipun sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan keadaan Nayla.
"Aku nggak mau,, aku masih sangat kesal pada suami Nayla,, kapan-kapan kita temui yah biar kita tegur tuh suaminya,, kasihan banget Nayla," ucap Jessica lagi.
__ADS_1
Devan hanya mengangguk lemah saja,, Jessica mengatakan bahwa dirinya ingin menemui suami Nayla nah sementara dirinya adalah suami Nayla juga.