
Ukuran kamar tak terlalu luas, tak ada sofa juga seperti kamar hotel pada umumnya, apalagi kamar mandi yang transparan hingga membuat Reyna kesal bukan main, kamar seperti apa yang dipersiapkan untuk dirinya, mawar bertaburan di mana-mana semakin membuat emosinya meledak-ledak, andai jika menikah dengan pria yang dicintai maka lain halnya, pastinya saat ini akan bahagia merasa indah dengan jantung yang berdebar.
"Apa kamu yang memesan kamar seperti ini? gimana mau pipis kalau toiletnya begini," ucap Reyna sambil menunjuk kamar mandi dengan dinding kaca transparan.
Demi apa?
Ini sangat tidak menarik sama sekali!
"Gimana mau keluar, kalau dinding toiletnya kaca jelas menerawang begini, seharusnya sekalian tidak usah menggunakan dinding kaca ini, buang-buang waktu dan uang saja," ucap Reyna.
"Bisa untuk tidak menuduhku? aku tahu kau tidak suka padaku tapi ingat jangan pernah lupa aku ini suamimu, aku tidak suka direndahkan!" ucap Nanda.
Nanda menutup pintu dan berjalan ke arah ranjang merebahkan dirinya untuk mengumpulkan energi yang sempat terkuras, Reyna mendesus kesal mengapa bisa menikah dengan Nanda pikirnya, sedetik kemudian Reyna mengedarkan pandangannya, mencari koper miliknya yang mungkin saja diletakkan di bagian sudut kamar.
Tapi mana koper itu? tidak ada! tidak tampak sama sekali.
"Apa mungkin di dalam lemari?" ucap Reyna.
Mencoba mendekati dan membukanya tapi tak ada sama sekali.
"Ini apalagi?" Reyna hanya melihat sebuah lingerie berwarna hitam yang tergantung di dalamnya.
Apa mungkin dirinya harus memakai pakaian tak cukup bahan tersebut?
Di hadapan Nanda?
Tidak!
Otaknya kini berpikir keras, dirinya harus mengganti gaun sialan yang sudah tak nyaman di tubuhnya.
Bagaimana bisa tidur dengan gaun pengantin itu, mustahil!
"Aku telepon Nayla aja minta dia nganterin koper aku, tapi ponsel aku di mana?" Reyna menepuk dahi untuk yang kesekian kalinya, mengingat ponselnya ada di tangan Nayla saat ini, kemudian Reyna sejenak memutar leher untuk melihat keberadaan Nanda.
"Apa lihat-lihat?" ucap Reyna.
Nanda pun menutup mata berbaring dengan santai tanpa peduli pada Reyna, sejenak Reyna berpikir untuk memakai lingerie seksi yang tergantung pada lemari daripada terus menggunakan gaun pengantin hingga pagi, itu sangat menyiksa sekali kapan dirinya bisa tidur jika terus menggunakan gaun tersebut, tetapi bagaimana cara mengganti pakaian jika kamar mandinya saja begitu transparan?
Apa mungkin Nanda mau keluar sebentar agar dirinya bisa mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Nanda aku mau ganti pakaian, kamu bisa keluar dulu nggak? untuk kali ini saja kita damai," pinta Reyna dengan sedikit memohon.
"Walaupun kamu tidak menggunakan sehelai benang pun di hadapanku, aku tidak akan tertarik pada tubuhmu yang kurus kerempeng itu," ucap Nanda.
Nanda berbalik memunggungi Reyna, ingin mencari posisi ternyaman untuk merilekskan tubuh dan pikiran yang kacau.
UPS!!!
Jawaban Nanda seakan membuat Reyna geram tapi ada untungnya juga jika memang demikian, artinya dirinya tak akan disentuh sama sekali.
"Kamu yakin?" tanya Reyna.
Nanda pun turun dari ranjang dan mencoba untuk keluar, tampaknya pintu tak bisa dibuka.
"Apa ada yang menyiapkan kamar ini dengan sedemikian rupa sehingga pintunya saja tak bisa dibuka?" Nanda mendesus kesal.
"Nggak bisa dibuka?" ucap Reyna.
Reyna ikut mendekati pintu mencoba untuk membukanya, sama saja pintu memang terkunci dan tak bisa dibuka.
"Ah bodo amat aku mau istirahat, kamu tutup mata aku mau ganti baju," pinta Reyna.
"Bagus!" ucap Reyna.
Reyna pun kembali berjalan menuju lemari dan mengambil sebuah lingerie berwarna hitam yang tampaknya sudah ada yang mengatur semua itu, saat Nanda memunggunginya di situlah Reyna mengambil kesempatan untuk mengganti pakaian.
"Ah ini kenapa lagi sreting gaunnya tak bisa dibuka?" ucap Reyna kesal, mengapa semenjak bersama Nanda semua kejadian tidak enak terus saja menimpanya, bahkan melalui cara yang kadang tidak terpikirkan sama sekali olehnya, termasuk kali ini sreting saja bisa menyulitkan dirinya, tidak ada pilihan lain!
"Nan, tolong bukain dong," simpan dulu harga diri saat ini hanya Nanda yang bisa dimintai tolong.
"Tolong bukain!" ucap Reyna lagi.
"Apa maunya wanita ini? apa dia ingin memancing ku?" gumam Nanda bercampur kesal.
"Nggak usah mikir aneh-aneh, aku kesulitan melepaskannya, lagian kamu bilang barusan biar aku tidak menggunakan sehelai benang pun di hadapan kamu, kamu nggak akan tertarik pada tubuh kerempeng aku, jangan-jangan kamu bohong ya?" tebak Reyna.
"Sini," tanpa basa-basi Nanda pun membantu Reyna melepaskan sreting, setelah itu melepaskan jas nya dan juga kemeja putih yang masih melekat pada tubuhnya.
Nanda pun memilih kembali merebahkan dirinya hanya dengan balutan kaos berwarna putih.
__ADS_1
"Nanda kamu kan laki-laki, ngalah sama cewek, kamu tidur di bawah, aku nggak biasa tidur berduaan apalagi sama cowok," tawar Reyna.
Nanda pun berbalik menatap Reyna, sejenak dirinya meneguk saliva, lingerie berwarna hitam dengan setengah dada di luar membuatnya menjadi hampir tidak bisa bernapas dengan baik.
"Nan, omonganmu bisa dipercayakan? kamu serius kan nggak nafsu sama aku kan?" tanya Reyna lagi.
"Selera aku bukan kamu," elak Nanda, dalam hati menjerit mengapa bisa Reyna begitu seksi apalagi jika mimpinya itu menjadi nyata.
"Awas loh! jangan plin-plan! aku pegang omongan kamu," ucap Reyna.
"Tidur aja di ranjang, aku nggak akan terpancing kalau kamu nggak mau silakan kamu tidur di lantai," ucap Nanda.
Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan dengan perlahan, bagaimanapun Nanda adalah lelaki normal yang juga merasakan panas dingin bila melihat wanita di depannya dengan pakaian seksi, apalagi Reyna adalah istrinya sesuatu yang halal untuk dipandangi dan disentuh, tapi bagaimana bisa Reyna malah bertanya kepadanya bahkan nekat memakai pakaian haram tersebut.
"Kamu jadi cowok ngalah dong," Reyna mengambil bantal dan memilih tidur di lantai sesekali matanya mengintip Nanda.
Mungkin saja Nanda bisa kasihan pada wanita, sayangnya beberapa menit kemudian terdengar suara dengkuran halus Nanda.
"Astaga dia tidur dan tidak peduli pada wanita sedikitpun?" Reyna mengumpat dalam hati, kesal bukan main pada Nanda.
Berlama-lama berbaring di lantai cukup membuatnya merasa pegal, dingin dan juga tak nyaman. Baiklah mungkin pilihan terbaik adalah naik ke atas ranjang daripada jatuh sakit siapa yang akan mengurusnya, lagi pula Nanda pun tampaknya tidak bernafsu saat melihat tubuhnya, jika bernafsu sudah pasti dirinya sudah di lahap sejak tadi pikir Reyna, meletakkan bantal guling di tengah-tengah agar memiliki batas kemudian berbaring dengan nyaman.
"Ini lebih baik, dibawah pegal banget, mana aku bisa masuk angin," Reyna mengomel tak jelas, tangannya menarik selimut dengan tubuh miring memunggungi Nanda.
Nanda yang hanya berpura-pura tidur melihat ke kiri ternyata Reyna memilih tidur seranjang, tak lama kemudian tampaknya Reyna sudah terlelap, Nanda pun perlahan menyingkirkan bantal guling yang menjadi pembatas kemudian perlahan memeluk Reyna dari belakang, entah sejak kapan tapi Nanda ingin memeluk tubuh itu dengan erat, meskipun selalu bertengkar tapi wanita itu cukup membuatnya rindu, malam semakin larut Nanda tak dapat memejamkan mata, yang ada hanya ingin memeluk Reyna saja dan juga merasa hawa semakin panas, perlahan mencium tengkuk Reyna dan cepat-cepat menjauh saat tubuh Reyna bergerak merasa terusik, sesaat kemudian Reyna kembali terlelap, terlalu banyak bergerak membuat tenaganya terkuras cukup banyak hingga tidur adalah pilihan tepat.
"Kenapa aku tidak bisa memejamkan mata," Nanda turun dari ranjang berjalan ke arah jendela menggeser tirai jendela dan menatap ke arah luar.
Pikiran Nanda yang jauh mengingat mimpi yang pernah dialami saat itu Reyna pun menggunakan lingerie berwarna hitam, sejak saat itulah dirinya mulai panas dingin bila bertemu Reyna, ditambah lagi malam ini di depan matanya sendiri Reyna dengan nyata menggunakannya, Nanda pun kembali menatap Reyna yang tertidur pulas dan menendang selimut, ditambah lagi lingerie yang tersingkap membuat kembarannya meronta-rontak ingin dimengerti, tampaknya bibir tak sejalan dengan perasaan Nanda, andai Reyna tahu jika Nanda sudah memiliki ketertarikan pada dirinya, entah apa yang akan terjadi.
"Aku baru tahu kalau orang kurus memiliki dada yang besar," ucap Nanda.
Nanda tersenyum mengingat pikiran kotornya, mengapa mendadak oleng seperti ini, tak berselang lama Nanda pun kembali naik ke atas ranjang, memunggungi Reyna juga, akan tetapi tak berlangsung lama beberapa detik kemudian Nanda berbalik dan melingkarkan tangannya pada pinggang Reyna, menciumi dengan perlahan.
Andai Reyna tahu pasti dirinya sudah di amuk habis-habisan, maka dari itu Nanda sangat berhati-hati agar Reyna tak terusik dari lelapnya.
"Emmm," Reyna menggeliat membuat Nanda segera menjauh agar Reyna tidak tahu apa yang barusan dilakukannya.
"Kenapa dia wangi sekali," Nanda seperti maling saja padahal sudah jelas istrinya.
__ADS_1