
"Kamu nemenin Alex?" Tanya Nayla yang tidak sengaja berpapasan dengan Jessica di lorong rumah sakit.
Jessica pun tersadar dan menatap Nayla, menghentikan langkah kakinya.
"Nggak, Mama di rawat. Darah tinggi Mama kambuh, pagi tadi dibawa ke sini," jelas Jessica.
Nayla pun mengangguk.
"Begitu? Ya udah, aku ke ruangan Mas Devan dulu. Abis itu aku jenguk Tante Inggit," kata Nayla.
"Iya, aku juga mau ke depan dulu. Cahaya minta dibelikan buah," pamit Jessica.
Nayla pun mengangguk dan segera menuju ruangan Devan.
Setelah selesai menjalani pemeriksaan kandungan segera menuju ruang rawat Inggit.
Nayla bisa melihat keadaan Inggit yang begitu lemah, terbaring di atas brankar dengan Cahaya yang duduk di kursi sambil bercerita panjang lebar.
Tiba-tiba saja tubuh Inggit kejang-kejang hingga segera di pindahkan ke ruang ICU untuk penanganan lebih baik.
Rara pun sampai, dengan membawa ketiga anaknya.
Menangis tersedu-sedu berpelukan bersama Jessica, tidak kuasa Inggit yang tengah berjuang untuk kembali pulih.
"Papa sudah tidak ada, apa mungkin Mama juga akan menyusul Papa?" Tanya Rara bercucuran air mata membasahi pipinya.
Jessica pun hanya bisa menggelengkan kepalanya berharap ada keajaiban hingga Inggit kembali pulih.
"Ini karena aku Kak, Mama pasti stres mikirin aku. Selama ini malah tidak menjenguk Mama, dalam pikiran aku, Mama akan lebih baik, karena takut drop jika bertemu dengan aku yang hanya berdebat saja," kata Jessica dengan sejuta penyesalan, andai dirinya menjenguk Inggit setelah memutuskan untuk kembali pada Alex. Membawa Cahaya, pasti keadaan Inggit tidak akan separah ini.
"Ini bukan salah mu, memang keadaanya udah begini," kata Rara tidak menyalahkan Jessica, mengingat Jessica juga terpaksa meningalkan Inggit.
__ADS_1
Jika pun Jessica memaksa menikah dengan Aditya rasanya akan menambah masalah yang lebih besar, menimbang Jessica masih istri Alex yang sah.
Bahkan memiliki seorang putri yang juga menginginkan kedua orang tuanya untuk bersatu kembali.
"Kak Rara nggak nyalahin aku?"
"Tidak ada yang salah maupun benar, sekarang kita fokus ke Mama. Berdoa semoga Mama akan melalui semuanya dengan baik," Rara menatap Inggit dari balik pintu kaca, banyaknya alat medis yang terpasang membuat perasaan seakan penuh luka.
"Oma kok di pindahin ke sini Mom?" Tanya Cahaya bingung.
"Oma sedang berjuang, Aya berdoa ya, untuk kesembuhan Oma," jawab Jessica yang melihat Cahaya berdiri di hadapannya.
"Iya, Aya udah kangen pengen main sama Oma," keluh Cahaya dengan raut wajah bersedih.
"Sabar ya, nanti Oma pasti sembuh," Jessica meyakinkan Cahaya, walaupun sebenarnya hatinya juga was-was perihal keadaan sang Mama yang masih terbaring lemah di ruang ICU.
Jessica ingin bahagia, bersama dengan keutuhan keluarga.
Alex memang hanya berdiri di kejauhan, menyaksikan Jessica yang tengah mengkhawatirkan keadaan Mamanya. Walaupun tidak berbicara sepatah katakan pun tetapi dirinya terus menjaga Jessica di sana.
"Detak jantungnya sangat lemah," jawab Alex melihat monitor.
"Kau harus mendampingi dia dalam keadaan apapun, dia membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya," Devan menepuk pundak Alex kemudian berlalu pergi.
Alex kembali melihat wajah Jessica yang masih menyimpan keresahan, sedangkan Cahaya di bawa pulang ke rumah karena tidak baik terlalu lama berada di rumah sakit bagi anak usia Cahaya.
Alex pun mendekati Jessica.
"Kamu makan dulu, bahkan kamu belum sarapan pagi"
"Aku nggak lapar," jawab Jessica dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Aku yang lapar, kalau kamu tidak makan kita sama-sama tidak makan, kalau aku sakit kamu adalah penyebabnya," papar Alex.
Jessica mendongkak menatap Alex penuh tanya, mungkinkah kini Alex tengah marah atau bagaimana.
"Jangan menatap ku begitu," Alex memeluk Jessica dengan cepat.
"Kalau kamu sakit bagaimana cara untuk menjaga Mama, maka dari itu kamu harus sembuh," Alex pun menarik lengan Jessica menuju ruangannya.
Meminta seorang perawat untuk membelikan makanan, kemudian Alex sendiri yang menyuapi Jessica makan.
"Ayo buka mulutnya, ini sudah lewat siang. Tapi kamu belum makan apapun dari pagi."
Jessica sebenarnya tidak selera sama sekali untuk makan, tetapi apa yang dikatakan Alex memang benar.
Jika dirinya jatuh sakit tidak akan mungkin untuk menjaga Inggit, akhirnya Jessica pun membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan.
Makan bersama dalam satu tempat yang sama.
"Kira-kira keadaan Mama bisa pulih nggak ya?" Tanya Jessica, sebab Alex pasti bisa memperkirakan sedikit banyaknya kesempatan untuk pulih kembali walaupun mungkin tidak bisa di katakan pasti, sedikit banyaknya Jessica berharap Alex mengatakan berita baik.
"Bisa. Banyak keadaan pasien yang jauh lebih buruk dari pada Mama, masih bisa bertahan, kamu juga harus yakin kalau Mama akan sembuh dan bisa berkumpul di antara kita"
Jessica pun menolak suapan Alex untuk yang kesekian kalinya, sebab sudah merasa kenyang
"Aku udah kenyang, jangan paksa aku lagi ya," pinta Jessica.
"Iya," Alex pun meletakkan piring di tangannya pada meja, meneguk mineral untuk menghilangkan hausnya.
Jessica yang duduk di samping Alex pun menyandarkan kepalanya pada pundak Alex, mencari sedikit kenyamanan yang bisa membuat perasaan lebih tenang
Alex pun menarik kepala Jessica untuk menjadikan paha nya sebagai bantal, menyisir rambut Jessica hingga berulang kali. Hingga tanpa sadar Jessica terlelap dalam tidur, terlalu banyak menangis membuatnya kelelahan.
__ADS_1
Alex tersenyum melihat Jessica yang terlelap begitu saja.