Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Mengapa bisa Devan seperti ini??


__ADS_3

"Mas cuma butuh tubuh aku aja," ucap Nayla.


"Iya memang benar Mas nggak munafik!!! ucap Devan.


Nayla mendongak menatap Devan yang masih menatap dirinya, tak percaya dengan jawaban Devan yang benar hanya membutuhkan tubuhnya saja


"Mas butuh kamu,, tubuh kamu semuanya, Mas tidak bisa jauh dari kamu, Mas sudah candu banget sama kamu, satu tahun sudah kita bercerai, selama itu pula Mas tersiksa batin, hanya kamu wanita yang membuat Mas tergila-gila, tolonglah kembali pada Mas, kita rujuk, bukan hanya demi anak kita, Mas juga ingin memiliki kamu sepenuhnya lagi," ucap Devan yang membuat Nayla terdiam sambil menatap manik mata Devan, mencari kebohongan di mata Devan. Sayangnya Nayla hanya menemukan kejujuran di sana.


"Mas cinta sama kamu,, tolong ingat itu!!!" ucap Devan.


Nayla hanya diam membiarkan Devan memeluk dirinya.


"Mas kangen banget," ucap Devan sambil memeluk Nayla dengan erat, merasakan tubuh wanita yang sangat dirindukannya itu dengan begitu lama.


"Mas,, serius sayang sama aku?" tanya Nayla.


Devan kembali melepaskan pelukannya, merapikan rambut Nayla dengan tangannya.


"Mas sayang banget sama kamu,, Mas juga sangat mencintai kamu, kamu cinta nggak sama Mas?" tanya Devan.


Nayla terdiam cukup lama, sekalipun begitu Devan tetap menunggu jawaban Nayla.


"Iya cuma..." ucap Nayla sambil menatap wajah Devan,, ada keraguan di ekspresi wajahnya untuk menerima Devan kembali.


"Kamu nggak usah takut,, Mas akan buktikan kalau Mas beneran sayang sama kamu," ucap Devan.


Nayla mengangguk menyetujui keinginan Devan, hatinya sudah begitu luluh akan Devan yang begitu besar berusaha meluluhkan hatinya.


"Pacaran," Devan memberikan jari kelingkingnya pada Nayla.


Nayla mengangguk dan mengaitkannya pada jari kelingking Devan. Keduanya tersenyum bahagia, jika Devan berharap Nayla segera menyetujui keinginannya untuk rujuk kembali. Maka lain halnya dengan Nayla yang ingin melihat kesungguhan Devan terlebih dahulu, tidak ada salahnya berpacaran sekalipun usia tidak lagi muda. Agar mempelajari karakter masing-masing pasangan, sampai akhirnya yakin jika Devan tidak membuatnya terluka lagi seperti dulu.


"Ada syaratnya!!!" ucap Nayla.


"Apa?" tanya Devan.


"Menjauh!!! kita punya jarak, satu bulan waktu buat Mas, kalau ternyata Mas nggak bisa sungguh-sungguh,, maka aku akan pergi jauh, menghilang dari hidup Mas, sejauh mungkin!!!" ucap Nayla sambil mendorong Devan agar menjauh darinya, apapun yang terjadi mereka tidak ada hubungan pernikahan sehingga tidak pantas Devan lancang menyentuh dirinya.

__ADS_1


"Namanya pacaran,, pegang,, peluk biasa dong," ucap Devan yang tidak setuju dengan persyaratan yang satu itu, sudah tidak dapat kepuasan batin dari Nayla saja cukup membuatnya tersiksa. Apa mungkin hanya memeluk saja tidak bisa, rasanya itu adalah syarat yang konyol. Apalagi dirinya adalah seorang duda, sudah lama tidak merasakan surganya seorang wanita.


Entah mengapa kini dirinya berubah seribu derajat, dulu tidak akan mau menyentuh Jessica sampai mereka telah resmi menikah. Bahkan terkadang Jessica menggoda dengan terang-terangan, justru Devan sanggup menahan dirinya sampai waktu menghalalkan terlebih dahulu. Tapi tidak berlaku saat bersama dengan Nayla, apalagi dirinya adalah orang pertama yang mengambil keperawanan wanita tersebut hingga membuatnya dengan mudah berpikir negatif ketika berdua saja.


"Mas nggak setuju? kalau nggak setuju nggak masalah!!!" ucap Nayla.


"Nayla!!!" ucap Devan yang terpaksa menuruti persyaratan yang diberikan oleh Nayla, mungkin lebih baik menurut sampai akhirnya benar-benar menjadi miliknya kembali.


"Gitu dong,, kita damai," ucap Nayla sambil mendekati Devan,, merapikan kerah jas putih Devan yang sedikit berantakan.


"Sayang kalau sebulan ini Mas bisa buktikan kalau Mas cinta sama kamu,,, kita rujukan?" tanya Devan dengan penuh harap.


"Iya Mas ku,, aku makan siang dulu yah," pamit Nayla lalu segera pergi.


Bodohnya Devan malah bengong, mungkin nada bicara Nayla yang lembut membuatnya seperti terbang melayang ke langit ke tujuh. Mengapa hanya kata selembut sutra itu bisa membuat dirinya menjadi tidak karuan? sesaat kemudian Devan tersadar ada kata di belakang 'iya mas ku' seketika Devan berlari keluar menyusul Nayla.


"Makan dengan siapa dia? seharusnya aku tidak mengizinkannya kalau bukan bersamaku!!!" Devan menggerutu tidak jelas sambil memutar gagang pintu. Keluar secepat mungkin menyusul Nayla. Karena terburu-buru Devan menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.


"Ya ampun sakit sekali," seorang Dokter sedang meringis kesakitan.


"Maaf Dokter Diva,, saya tidak sengaja!!!" ucap Devan setelah itu dengan cepat-cepat pergi tanpa menolong.


"Ya ampun Dokter Devan? itu Dokter Devan kan?" Dokter Diva tidak menyangka bahwa Dokter Devan bisa berbicara dengan tidak formal juga biasanya hanya membahas tentang pekerjaan saja. Devan pun sampai di UGD,, matanya menatap ke arah pintu keluar, mungkin Nayla sudah masuk ke restoran di depan rumah sakit.


Devan segera menyusul,, bagaikan anak baru gede yang baru tahu indahnya berpacaran. Devan pun tidak ingin berjauhan dari Nayla, bibirnya tersenyum saat melihat Nayla sedang duduk di salah satu meja restoran bersama tiga perawat wanita lainnya. Segera Devan mendekati para wanita tersebut, sesaat kemudian Devan berdehem hingga semua mata yang duduk di meja bersama Nayla menatap Devan. Para wanita tersebut sampai tidak percaya Devan menghampiri mereka, seketika mereka saling menatap satu sama lainnya. Kecuali Nayla,, dirinya kembali fokus pada makanannya setelah melihat Devan.


"Saya boleh bergabung?" tanya Devan yang mampu membuat tiga teman Nayla terdiam.


"Saya sedang tidak ingin makan sendiri," ucap Devan lagi.


"Ah...iya Dok. Ten...tentu,," ucap Lili mempersilahkan Devan untuk duduk.


"Kursinya?" ucap Lili lagi karena tidak ada kursi untuk Devan semua sudah penuh untuk mereka duduki.


"Di sini saja," ucap Nayla lalu berdiri dan mempersilahkan Devan untuk duduk di kursinya.


"Aku sudah selesai makan,,duduk saja di sini Dok nggak apa-apa," ucap Nayla berdiri dan berpamitan pergi.

__ADS_1


Devan menatap punggung Nayla, setelah itu dirinya juga bingung harus duduk atau tidak. Tujuannya adalah Nayla lalu kalau Nayla pergi untuk apa dia ada di sana. Devan menatap punggung Nayla yang hampir mendekati pintu keluar restoran,, sesaat Nayla berbalik dan mengedipkan sebelah matanya. Devan pun tersadar Nayla sedang mengerjai dirinya, seketika itu juga dia duduk diantara para wanita tersebut. Seakan tengah membalas mengerjai Nayla.


"Dokter Devan mau pesan apa?" tanya Zaskia yang kini ikut bertanya, merasa ini sangat langka sekali terjadi. Yakin jika Dokter dan perawat lainnya akan sangat iri melihat ini, bahkan Devan duduk di sampingnya.


"Apa saja," jawab Devan.


Nayla segera pergi,, kesal pada Devan yang malah ikut makan bersama para wanita tersebut. Tapi setelah Devan tidak melihat Nayla, Devan segera pergi tanpa menyentuh makanan yang baru saja sampai. Segera dirinya menyusul Nayla, yakin jika Nayla kini sudah kembali pada ruangannya terlebih dahulu. Setelah pintu terbuka Devan melihat Nayla di sana, duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya.


"Enak makannya sama cewek?" ucap Nayla tak menatap wajah Devan tapi dirinya tahu itu adalah Devan.


Devan tersenyum begitu mendengar kata itu,, tak percaya ternyata Nayla bisa juga cemburu.


"Kenapa?" tanya Devan.


"Aku mau pulang aja," ucap Nayla.


"Mau ke mana?" tanya Devan sambil memegang lengan Nayla saat melewati dirinya, sesaat kemudian Devan melepaskan mengingat perjanjian yang mereka miliki.


Nayla berdiri di tempatnya,, melipat tangannya di depan dada.


"Kamu cemburu yah?" tebak Devan.


Wajah Nayla memerah merutuki kebodohan dirinya, mengapa bisa dirinya bertingkah sebodoh ini. Lihat saja saat ini Devan memiliki bahan untuk menggoda dirinya, membuatnya ingin mati berdiri karena senyuman manis Devan.


"Duduk," ucap Devan sambil menarik Nayla agar duduk di kursinya.


Tidak ada yang pernah duduk di kursi itu selain Devan sendiri, sekalipun Jessica dulu tak pernah duduk di kursi itu, Nayla adalah wanita pertama yang dipersilahkan Devan untuk duduk manis di sana. Kemudian Devan setengah duduk di meja kerjanya, dengan tubuh sedikit condong kepada Nayla.


"Kamu cantik banget kalau cemburu,, coba Mas mau dengar detak jantungnya," ucap Devan sambil mengambil stetoskop dari atas meja dan memakainya, setelahnya mengarahkan kepada Nayla.


"Mas apa sih," ucap Nayla sambil mendorong tangan Devan, kalau sampai Devan mendengar detak jantungnya bisa saja dirinya semakin malu.


Devan tersenyum dan meletakkan kembali stetoskop pada meja.


"I love you," ucap Devan sambil menggabungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seakan membentuk love di depan mata Nayla.


Ya ampun Nayla ingin sekali menangis karena sudah tidak kuasa mendengar kalimat manis yang terlontar dari bibir Devan. Mengapa bisa Devan manis begini,, tidak ada lagi wajah garangnya melainkan wajah lucu seperti kucing imut di mata Nayla.

__ADS_1


__ADS_2