
Segera Alex memutuskan panggilan sepihak, dirinya sedang mengemudi berusaha agar lekas sampai sebelum Cahaya kecewa.
Sesuai janji Alex, sepuluh menit kemudian sampai di rumah Jessica, Cahaya yang murung tersenyum bahagia melihat kedatangan Alex.
"Maaf," Alex turun dari mobil dan tersenyum pada anaknya.
"Nggak apa-apa, kirain nggak jadi," Cahaya tersenyum menunjukkan dua baris gigi rapinya.
"Jadi, kan Daddy udah janji, Aya nggak marah kan?" tanya Alex.
"Nggak," Cahaya menarik Jessica untuk masuk ke dalam mobil.
"Mom kita duduk sama-sama di depan ya!" pinta Cahaya.
"Aya sama Daddy di depan, Mom di belakang," tolak Jessica secara tidak langsung.
"Nggak mau!" Cahaya merengek minta Jessica untuk duduk di samping sang Ayah.
Akhirnya Jessica mengangguk tidak ingin membuat anaknya bersedih.
Sepanjang perjalanan menuju studio foto, Cahaya terus tersenyum bahagia, bernyanyi dengan suara merdunya berbeda dengan Alex yang hanya fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan Jessica pun duduk diam memangku Cahaya dengan pandangan mata keluar.
"Sampai," Alex pun memarkirkan mobilnya dan turun sambil menggendong Cahaya, membawanya masuk.
"Daddy, bawa baju kita yang kemarin Aya pilih kan?" tanya Cahaya.
Cahaya melihat Alex masih menggunakan kemeja putih sehingga dirinya penasaran dan mulai bertanya.
"Bawa dong, Daddy ganti baju dulu yah," ucap Alex.
"Iya," Cahaya turun dari gendongan Alex, duduk di kursi sambil menunggu.
"Mom juga ganti baju dulu," pamit Jessica.
Seorang fotografer profesional menghampiri Cahaya, tersenyum pada bocah tersebut.
"Namanya siapa?"
"Cahaya Om!" jawab Cahaya dengan cepat.
__ADS_1
Sang fotografer tersenyum pada Cahaya, tidak lama kemudian Alex pun selesai berganti pakaian dan seketika menghampiri Cahaya.
"Daddy kelamaan yah?" tanya Alex.
"Hehehe," Cahaya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Anaknya cantik sekali Mas, saya sudah hampir sepuluh tahun menikah tapi belum juga punya anak," ucap pria tersebut sambil mengusap wajah Cahaya.
"Sepuluh tahun?" tanya Alex.
"Iya doakan yah Mas semoga saya juga bisa dapat anak sepintar dan secantik anak anda," kata fotografer itu lagi sambil tersenyum pada Cahaya.
Alex mengangguk merasa beruntung bisa memiliki anak, hanya saja dirinya masih menyalahkan dirinya yang belum bisa memberikan kebahagiaan pada Cahaya.
"Itu istrinya ya Mas? cantik sekali!"
Alex beralih menatap Jessica, gaun berwarna pink pilihan Cahaya terlihat pas pada tubuh Jessica, sampai mengedipkan mata pun Alex lupa, rambut yang terurai seakan menambah kesan keindahan tersendiri, aura kecantikan luar biasa benar-benar terpancar.
"Mas ngeliat istrinya begitu banget," ujar sama fotografer hingga membuat Alex gelagapan.
"Em!" Alex memegang tengkuknya berusaha untuk menetralkan dirinya, tetapi Jessica memang begitu cantik.
"Mom, kita sama-sama pakai gaun warna pink," kata Cahaya dengan bahagia.
"Iya," Jessica tersenyum dan mengacak gemas rambut Cahaya, kebahagiaan Cahaya adalah segalanya bagi Jessica.
"Om ayo dong ambil gambarnya," pinta Cahaya dengan tidak sabaran.
"Tentu!" sang fotografer tersebut tersenyum dan bersiap-siap, tetapi ada yang aneh di pandangan mata, Jessica dan Alex memiliki jarak.
"Mas dan Mbak nya coba lebih dekat lagi,"
Cahaya menatap ke belakang di mana kedua orang tuanya berdiri.
"Mom cium pipi kiri Aya, Dad juga cium pipi kanan Aya," pinta Cahaya.
"Cahaya tidak usah begitu," Jessica mencoba bernegosiasi tetapi Cahaya malah mengerucutkan bibirnya sehingga dengan terpaksa Jessica pun menuruti.
Saat Jessica dan Alex sedang menciumnya, tiba-tiba ada kecoa yang hinggap di kaki Cahaya, dengan panik Cahaya berlari hingga akhirnya meninggalkan wajah Alex dan Jessica hanya berjarak satu senti saja.
__ADS_1
"Kecoa!" teriak Cahaya sambil melompat-lompat.
Jessica segera menjauh dan mengejar Cahaya, membuang hewan kecil yang sangat ditakuti oleh anaknya secepat mungkin, setelah itu barulah Cahaya tenang dan minta digendong oleh Jessica.
"Mom, aku takut," ucap Cahaya.
Alex menarik nafas panjang, wajah Jessica benar-benar membuatnya hampir lupa bagaimana cara bernafas dengan benar.
"Kecoanya udah pergi," kata sang fotografer.
"Aya digendong Daddy aja!" ucap Cahaya lagi.
"Mas" fotografer tersenyum memanggil Alex yang tidak mendengar keinginan Cahaya.
"Ya?" tanya Alex bingung.
"Anaknya minta digendong Daddy nya," jelas fotografer tersebut dengan rasa bingungnya.
"Ah iya," Alex gelagapan dan mengambil alih Cahaya dari gendongan Jessica dalam keadaan yang berjarak begitu dekat membuat Alex menegang kembali.
Foto pun kembali dimulai sesuai arahan fotografer dan juga keinginan Cahaya.
"Udah ah sekarang Mom sama Daddy berdua aja," Cahaya menjauh dan melihat kedua orang tuanya.
"Aya yang minta foto kan kamu," kata Jessica.
"Tidak masalah bukan?" tanya Alex memegang pinggang Jessica.
Jessica terpaksa diam saat tangan Alex melingkar di pinggangnya, bukan karena takut pada Alex melainkan tidak ingin Cahaya kecewa.
"Ye..." Cahaya berseru melihat kedua orang tuanya berfoto.
"Pelukan seperti Teletubbies Mom," teriak Cahaya.
Jessica hanya diam dan tersenyum pada kamera sedangkan Alex malah memeluknya dari samping.
Setelah pemotretan selesai kini Cahaya tidak ingin langsung pulang, Alex pun setuju saja mengikuti kemana Cahaya ingin pergi sedangkan Jessica hanya diam tanpa kata, hatinya benar-benar tidak tertarik pada apapun.
Cahaya, hanya itu saja alasannya!
__ADS_1