
Devan sudah tidak sanggup menghukum dirinya sendiri, hari ini dia memutuskan untuk menemui Nayla. Pasrah bila memang nantinya ditolak juga tak masalah. Tidak ada kata menyerah untuk Devan demi bisa mendapatkan Nayla kembali, dengan menggenggam erat kalung milik Nayla, Devan terus memacu laju mobilnya di jalan raya. Namun karena terlalu lama menatap kalung yang ada di tangannya malah membuat Devan tidak fokus mengemudikan mobilnya,, hingga tidak terkendali. Sampai akhirnya sebuah truk melintas dari arah yang berlawanan. Tabrakan tentu saja tidak dapat lagi dihindarkan, sekalipun Devan sudah membanting setir, tabrakan itu tetap juga terjadi.
Keadaan Devan sangat kritis, segera dia dilarikan ke rumah sakit oleh orang-orang yang menyaksikan kecelakaan tersebut. Ana pun tampak sangat shock begitu mengetahui kecelakaan yang menimpa Devan.
Baru saja Nayla sampai di rumah sakit, kemudian menuju ke ruangan Devan dirawat, dirinya menatap Devan dari balik pintu kaca. Devan berada di sana di ruang ICU, dengan banyaknya alat medis terpasang di tubuhnya.
Saat mendapatkan kabar tentang keadaan Devan dari Ana, Nayla langsung menuju ke rumah sakit menitipkan Felix pada Reyna yang berada di rumah.
"Devan kritis," ucap Ana sambil menangis tersedu-sedu melihat Devan yang terbaring belum sadarkan diri.
Nayla hanya menatap wajah Devan, semua yang terjadi hari ini sungguh sangat luar biasa membuatnya hampir tidak bisa bernafas.
"Apa ini milikmu?" tanya Ana sambil memperlihatkan sebuah kalung, beberapa saat yang lalu dia mengambil dari genggaman tangan Devan.
Devan menggenggam erat,, tidak ingin kalung itu terlepas dari genggaman tangannya sekalipun keadaannya sungguh begitu sulit bahkan untuk bernafas saja, sebelum akhirnya Devan benar-benar tidak sadarkan diri lagi. Setelah tangan Devan merenggang, Ana pun mengambil kalung itu. Menatap kalung tersebut sambil berpikir bahwa dia pernah melihat seseorang memakai kalung tersebut. Tapi Ana masih bingung kalung milik siapa itu,, mungkin karena dirinya terlalu panik membuat Ana tidak bisa berpikir jernih.
Akan tetapi tiba-tiba merasa pernah melihat Nayla memakai kalung tersebut yang sama persis seperti kalung yang berada di tangannya, saat melihat leher Nayla polos tidak seperti saat mengandung Felix, seketika Ana menjadi yakin bahwa Nayla pemilik kalung tersebut. Nayla pun menatapnya dengan penuh tanya, benar atau tidak kalung tersebut adalah miliknya.
__ADS_1
Perlahan tangan Nayla bergerak mengambil alih, meraba berlian kecil yang menggantung untuk memperindah tampilan kalung tersebut. Itu adalah kalung yang pernah diberikan Devan padanya, dengan alasan sebagai mahar setelah mereka menikah. Karena Devan hanya memberikannya uang untuk mahar waktu itu,, mungkin saat dirinya sudah hamil Devan tidak tega dan membelikan kalung tersebut dengan mengatakan bahwa itu adalah mahar pengganti uang yang tidak seberapa saat menikahinya. Tapi saat itu Nayla meletakkannya di atas meja rias,, tepatnya di rumah pemberian mertuanya yang dulu dijadikan tempat tinggalnya. Dengan alasan mengembalikan semua pemberian Devan,, sekalipun dia tidak langsung menemui Devan. Alasannya karena dia tidak ingin hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang kelam.
Waktu itu ada cinta untuk Devan,, Nayla tidak ingin terus hidup dalam siksaan saat melihat kalung tersebut wajah Devan selalu saja terlintas dibenskn. Nayla harus kuat demi anaknya. Nyatanya masa lalu itu tidak mampu hilang begitu saja, Devan kini benar-benar mencintainya dengan begitu dalam.
Devan mengatakan cinta di saat Nayla sudah menutup hatinya, setelah Nayla berjuang keras untuk melupakan Devan. Satu butir air mata jatuh dari pelupuk matanya, rasanya sungguh terlalu sulit untuk dilupakan. Sekalipun banyak kenangan buruk tetapi ada juga kenangan manis bersama. Lagi-lagi hanya bisa diam tanpa tahu harus melakukan apa,, mungkin hanya bisa berdoa yang terbaik saja.
"Kamu masih membenci Devan?" tanya Ana sambil melihat ke arah yang sama dengan tatapan mata Nayla tertuju yaitu pada Devan, sekalipun Ana bertanya pada Nayla.
Ana menyaksikan sendiri bagaimana anaknya hancur sebab sebuah penyesalan atas perpisahan. Nayla menatap wajah Ana dari samping, tangannya masih menggenggam erat kalung yang ada di tangannya.
Seketika Ana memutar lehernya delapan puluh derajat,, hingga keduanya saling menatap begitu dalam.
"Bukan Nayla yang pergi meninggalkan dia Ma, tapi dia yang memutuskan untuk memintaku pergi dari hidupnya," ucap Nayla yang saat itu Devan menceraikan dirinya yang artinya Devan memilih Jessica sebagai pendamping hidup untuk selamanya.
Nayla pun tidak mungkin memohon untuk tidak ditinggalkan oleh Devan karena tidak akan bahagia bila terus terikat dalam pernikahan yang sangat rumit itu. Nayla pun ingin merasakan hidup bahagia juga, memiliki kasih sayang dari suaminya dengan penuh hanya untuknya tidak terbagi dengan wanita lainnya. Bahkan kini Nayla benar-benar tidak menyangka seorang pria arrogant seperti Devan bisa juga merasakan kecewa, di mana Devan yang dingin yang selalu berbicara tanpa memikirkan perasaannya. Yang ada hanya Devan yang kusut saja, tidak terurus dengan hidup penuh dengan penyesalan.
"Kamu tidak ingin masuk?" tanya Ana sebab Nayla hanya diam di depan pintu, menatap Devan yang sedang tidak sadarkan diri dari kejauhan.
__ADS_1
Apalagi sebelum tidak sadarkan diri,, Devan sempat memanggil nama Nayla dan Felix hingga beberapa kali.
Hingga Nayla pun melangkah masuk mendekati brankar Devan dengan perasaan sedih,, Nayla menatap lekat wajah Devan. Semua ini memang nyata awalnya Nayla berpikir ini hanyalah sebuah mimpi saja. Baru saja tadi pagi Devan menghubungi dirinya,, rasanya semua ini terlalu membuatnya shock.
############
Hari-hari terus berlalu,, sudah hampir dua minggu Devan terbaring koma. Ana semakin terpuruk bahkan sangat takut akan kehilangan Devan, air matanya tidak pernah berhenti menetes, pipinya terus basah sekalipun terus mengusapnya. Untuk yang kesekian kalinya Nayla menjenguk Devan, berusaha menguatkan Ana dari keterpurukannya. Bahkan hari ini Nayla membawa Felix, wajah balita berusia satu tahun itu tersenyum begitu melihat Devan. Tapi sayangnya Devan tidak melihat wajah bahagia Felix, sudah dua minggu Devan tidak menjenguk Felix mungkin ada kerinduan tapi tidak tahu bagaimana bocah itu mengatakan bagaimana kerinduannya pada sang ayah.
"Yah!!!" seru Felix.
Felix memang belum pandai berbicara akan tetapi dirinya sudah pandai memanggil Ayah, bahkan terkadang Nayla juga kesal sendiri, karena ucapan yang pertama kalinya keluar adalah memanggil ayahnya. Bukan dirinya yang selalu merawatnya dari kecil,, menyusui siang dan malam.
Tangan Felix menunjuk Devan,, Nayla mendudukan Felix di atas brankar Devan, tangan mungilnya menarik-narik baju sang ayah, seakan ingin meminta digendong dan bermain bersama seperti biasanya. Sesekali mulutnya memanggil Devan, mungkin dia bingung mengapa sang ayah tidak seperti biasanya yang selalu menggendongnya,, mengajaknya bermain bahkan membelikan ice cream coklat kesukaannya. Kadang juga Devan membawanya naik mobil walaupun sekedar keliling kompleks tempat tinggalnya saja, dengan Felix yang duduk di atas pangkuannya dan Devan yang mengemudi.
"Yah!!!" lagi lagi Felix memanggil sang ayah, mungkin berharap digendong dan menggelitik dirinya hingga tertawa terbahak-bahak. Tapi sayangnya sang ayah masih terlelap,, tanpa ada tanda-tanda untuk membuka matanya.
Ana menangis tersedu-sedu melihat Felix terus-menerus menepuk dada Devan, duduk di samping Devan sambil bibirnya mengoceh tidak jelas. Kadang-kadang air liurnya sampai keluar karena terlalu banyak mengoceh. Mungkin Felix mengharapkan sang ayah membalasnya yang sudah nakal karena memukuli sang ayah.
__ADS_1
"Devan bangun,, anakmu merindukanmu," ucap Ana yang terasa sangat pilu, menatap Felix yang berusaha membuat mata sang ayah terbuka dan bermain bersamanya.