
Mata Reyna terlelap dalam tidur, Nanda menatap wajah istrinya hanya dengan penerangan rembulan malam.
Ada rasa penasaran yang mendalam dengan penuh rasa curiga, mungkinkah benar Reyna tidak pernah melakukan KB setelah saat itu.
Sudah bertahun lamanya menikah, sampai saat ini pun belum ada tanda-tanda kehamilan hingga dirinya juga bertanya-tanya adakah yang salah dari mereka berdua
Nanda pun merasa memiliki peluang untuk berbicara dengan Nayla, perlahan keluar dari dalam tenda menghubungi Nayla agar keluar menemuinya kembali.
Nayla hampir saja terlelap, terpaksa harus menemui Nanda yang memohon.
"Apa?" Ketus Nayla saat masih berada di ambang pintu rumah sederhana sang Ayah.
"Aku ingin bicara, sekaligus meminta bantuan mu!" Nanda pun menarik tangan Nayla untuk duduk di kursi.
Devan melihat dari jendela kamar, dirinya tidak merasa cemburu dengan kedekatan Nanda dan Nayla lagi. Sebab, dirinya sadar persahabatan Nanda dan Nayla begitu tulus.
Justru Devan merasa berterima kasih karena Nanda sudah banyak membantu Nayla dan Felix saat dalam keadaan sulit.
"Nanda cepat, aku sudah mengantuk. Ibu hamil dilarang keras begadang!"
"Kau itu hanya perduli pada diri sendiri kah? sudah bahagia punya suami, punya dua anak yang lucu. Bahkan, sebentar lagi akan lahir anak ketiga, aku juga ingin," papar Nanda.
Nayla pun menoleh menatap Nanda, tidak mengerti maksud sahabatnya tersebut.
"Jangan bilang kamu pengen jadi perempuan, terus pengen juga ngelahirin! Tebak Nayla.
Nanda pun menyentil kepala Nayla.
"Sepertinya Devan terlalu banyak memberikan mu uang!"
__ADS_1
"Apa hubungannya?" Nayla menggosok-gosok kepalanya.
"Karena kau semakin di kasih uang semakin goblok!" Papar Nanda.
Nayla meninju lengan bagian atas Nanda, kesal rasanya pada sahabatnya tersebut.
"Cepat bicara! Aku pengen cepat-cepat tidur di pelukan suami ku!" Nayla pun tersenyum saat melihat Devan yang masih melihatnya dari jendela kamar.
"Dulu Reyna pernah meminum pil KB, tapi setelah aku temukan ternyata dia mengatakan sudah tidak pernah lagi. Aku udah tahunan nikah, Mama nanya terus ke aku. Karena, kalau nanya ke Reyna langsung, Mama, takut Reyna tersinggung. Aku juga penasaran, apakah benar-benar sudah tidak meminum pil KB sama sekali?" Akhirnya Nanda mengutarakan pertanyaan juga, saat ini dirinya sendiri sedang dalam kebingungannya.
Alasan bercerita pada Nayla karena mereka sahabat, bahkan Reyna juga bersahabat dengan Nayla.
Tidak ada yang merasa tersisihkan, atau mungkin tersinggung.
"Aku, mau nanya langsung lebih jauh sama dia, tapi aku juga takut dia tersinggung. Atau menganggap aku tidak percaya padanya, atau mungkin bisa saja benar-benar tidak melakukan KB dan ini bisa menjadi beban tersendiri bagi Reyna juga. Aku tidak tahu cara berbicara padanya. Aku rasa kau orang yang tepat dalam berbicara padanya," imbuh Nanda.
Nayla mengangguk mengerti, siapa pun akan merasa bersedih jika menikah sekian lamanya namun belum juga diberikan anak.
Nanda pun mengangguk setuju, apa yang dikatakan oleh Nayla memang benar.
"Apa dia tersinggung kalau aku mengajaknya ke Dokter?"
"Aku rasa itu perlu, karena jika memang ada masalah, salah satu dari kalian bisa langsung di tangani. Apa lagi Alex Dokter, mereka berdua Kakak beradik, aku rasa Reyna pasti setuju. Atau
mungkin Mas Devan, sama-sama ahli kandungan," Nayla menunjuk Devan yang masih setia menunggunya.
"Iya, aku rasa itu tidak terlalu buruk,"
Nanda pun kembali memasuki tenda.
__ADS_1
Hatinya masih saja di landa kegundahan, rasanya begitu hampa menikah begitu lama tapi belum juga memiliki buah hati yang bisa membuat keluarga mereka menjadi lebih lengkap.
Kembali lagi Nanda menatap wajah Reyna, matanya masih terpejam dengan lelapnya.
Sesaat kemudian Reyna memunggunginya, Nanda pun memilih berbaring, meletakan kedua tangannya sebagai bantal.
Reyna menitikkan air mata, dan mengusapnya secepat mungkin.
Terbangun dari tidurnya saat merasakan pelukan hangat Nanda menghilang, justru saat akan menyusul keluar Reyna mendengar pembicaraan Nayla dan Nanda. Hingga membuatnya urung keluar menyusul Nanda.
Jarak yang tidak terlalu jauh membuat telinganya bisa mendengar dengan jelas.
Hatinya kini terlalu rapuh, dirinya juga tidak ingin merasakan semua ini.
Apa lagi setelah mendengar pernyataan cinta yang di ucapkan oleh Nanda sungguh Reyna sudah membulatkan janji untuk tetap bersama Nanda selamanya.
Memiliki anak-anak yang lucu, menjadi pelengkap hidupnya.
Reyna tidak menyangka ternyata selama ini Nanda sangat menginginkan seorang anak, dibalik diamnya tersimpan sejuta keinginan besar yang Reyna sendiri tidak pernah menyadari itu.
Nanda terlalu pintar menutupi keinginannya menjadi seorang Ayah, bahkan tidak satu kali pun pernah menyinggung.
Baru malam ini Nanda bertanya, mungkinkah hatinya sudah terlalu takut.
Dada terasa semakin sesak, jika tidak mampu melahirkan seorang anak pun maka Reyna menganggap dirinya gagal menjadi seorang istri.
Walaupun sebenarnya ada beberapa wanita yang juga tidak bisa memiliki anak di luaran sana, tapi Reyna bukan wanita kuat yang mampu melewati dengan mudah.
Itu bagaikan mimpi buruk yang paling mengerikan.
__ADS_1
Lagi-lagi Reyna mengusap air matanya dan menyembunyikan rasa sesak di dadanya, menahan isak tangis yang ingin lepas begitu saja.