Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tidak ada kesempatan!


__ADS_3

"Terlambat! anakku sudah menganggap mati, kami pun sudah merasa kau sudah dikuburkan," ucap Inggit.


Tampaknya luka yang dirasakan oleh Inggit sudah dalam sehingga untuk mengizinkan bertemu Jessica walaupun hanya satu detik sudah tidak bisa, Inggit begitu tegas untuk kali ini berbeda jauh saat dulu masih menjalin hubungan keluarga baik sebelum menikahi Jessica saat itu.


Mungkinkah Alex tidak dapat bertemu dengan Jessica?


Apakah dengan memohon pun tak bisa juga membuat hati Inggit terketuk?


Sedangkan dirinya butuh penjelasan, dirinya ingin melihat dengan mata kepala dan bertanya langsung benarkah Devan mengatakan bahwa Jessica tengah berbadan dua.


Biar matanya sendiri yang menyaksikan sebagai seorang Dokter tentu Alex tahu berapa usia kandungan Jessica dan semuanya dapat disimpulkan saat itu juga.


"Ma, tolong izinkan aku bertemu dengan Jessica sekali dan mungkin untuk yang terakhir," ucap Alex.


Semoga untuk kali ini Alex dapat meluluhkan hati Inggit.


"Sekali ini saja aku mohon," ucap Alex.


"Sekalipun kamu memohon, bersujud, bersimpuh aku tidak akan pernah mengizinkan anakku bertemu denganmu," ucap Inggit.


Inggit mencoba untuk masuk namun tangan Alex menghentikannya, sehingga dengan terpaksa Inggit menghentikan langkah kakinya.


Menghempas tangan Alex yang masih menggenggam tangannya.


"Hampir sembilan bulan Alex, hampir sembilan bulan," Inggit mengulangi kata-katanya agar Alex bisa mendengar dengan jelas.


"Tapi kenapa kamu baru datang sekarang?" kali ini wajah Inggit yang memancarkan kesedihan.


Alex tertunduk meratapi kesedihan, menerima kalimat makian yang akan segera didengarnya.


Tidak mengapa!

__ADS_1


Tetapi tolong setelah itu berikan waktu padanya untuk bertemu dengan Jessica.


"Dalam waktu itu kau ke mana saja? tahukah seberapa sakitnya aku melihat anakku menderita? tahukah kau seperti apa wajah anakku saat dia pendarahan? tahukah kau anakku hampir merenggang nyawa dan sekarang kau datang dengan membawa maaf?" Inggit tersenyum getir dengan bibir bergetar dan kepalanya yang menggeleng.


"Mungkin jika kau datang saat dia sedang sekarat demi mempertahankan anakmu bisa saja aku iba, nyatanya tidak!" ucap Inggit lagi.


"Aku minta maaf!" ucap Alex.


"Aku melahirkannya, menyusuinya, merawatnya, membesarkannya tanpa ada ujung kuku ku yang mengupas kulitnya, kurawat, kujaga dari teriknya matahari, ku lindungi dari tetesan gerimis, kuberi makan agar dia tidak kelaparan, kupeluk saat dia ketakutan dan kuserahkan padamu saat aku yakin pundakmu jauh lebih baik untuk dia bersandar dibandingkan aku ibu kandungnya, lantas apa yang kau berikan? kau menyia-nyiakannya!" air mata Inggit tak dapat lagi di bendung.


Perihnya, sakitnya jangan lagi dipertanyakan, karena tak akan ada seorang ibu pun yang mampu melihat anaknya menderita di depan mata kepalanya sendiri.


"Aku tak masalah jika pun suaminya terlahir dari orang miskin, aku tidak masalah jika anakku dan kau hanya mampu makan dalam satu bungkus mie instan, aku tidak masalah! yang aku permasalahkan adalah mengapa tanganmu itu tega kasar pada anakku, mengapa mulutmu itu kasar pada anakku?" ucap Inggit.


Alex berjongkok dan berlutut di bawah kaki Inggit, semua ucapan Inggit kini menjadi cambukan keras yang melululantahkan perasaannya.


"Aku minta maaf," ucap Alex.


"Aku dan anakku tidak membutuhkan itu, kepercayaan yang aku berikan sudah kau sia-siakan, jangan harap ada kesempatan karena tidak ada kesempatan kedua untuk menyakiti anakku," ucap Inggit.


"Pergi dari rumahku dan jangan pernah kembali lagi," Inggit menunjuk ke arah pintu gerbang berharap Alex pergi dari rumahnya saat ini juga.


Alex mulai berdiri dengan kaki yang berat wajahnya masih menyiratkan keinginan untuk bertemu dengan Jessica.


"Apakah benar anakku sudah tidak ada?" tanya Alex.


Pertanyaan terakhir yang mungkin bisa meyakinkan dirinya bahwa benar jika pun kini Jessica mengandung maka itu anak pria lain.


"Iya anakmu sudah tidak ada!" jawab Inggit.


Alex mengangguk lemah, dirinya sudah mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya Inggit pun tak mungkin berbohong kepadanya, Alex tahu Inggit bukan wanita yang suka menutupi sesuatu seperti hal itu, Inggit menatap Alex yang sudah pergi dengan mobilnya, kembali masuk ke dalam rumah dan melihat Jessica berdiri di depan jendela.

__ADS_1


Jessica terdiam menatap dirinya, keduanya sejenak diam tanpa kata, sejak ada suara keributan yang terdengar Jessica memutuskan untuk keluar, sayangnya pintu terkunci akhirnya dia melihat melalui jendela dengan menggeser gorden.


Jessica tidak menyangka ternyata yang datang adalah Alex, sehingga memilih diam di tempatnya dan mendengarkan apa yang akan dibahas di luar sana.


"Mama harap kamu tidak mencintainya sama sekali," ujar Inggit.


Jessica pun mengangguk.


"Tak ada cinta untuk Alex sama sekali," ucap Jessica.


"Tapi ini tetap anaknya," ucap Jessica mengusap perut buncitnya.


Inggit menatap perut Jessica kemudian kembali menatap wajah anak bungsunya dengan wajah sendu.


"Bukan! kamu hanya berjuang sendiri selama ini kamu hanya sendiri tanpa dia," ucap Inggit.


Inggit tak bisa melupakan saat Jessica memilih untuk tetap mempertahankan janinnya dengan segala konsekuensinya.


Sudah berulang kali Jessica hampir merenggang nyawa, tapi Jessica terus pada pendiriannya, entah apa yang akan terjadi kedepannya nanti saat hari itu tiba.


"Aku memang tidak cinta, apakah tidak salah jika kita menyembunyikan ini Ma?" tanya Jessica.


"Bagaimana jika ternyata kamu mati saat melahirkan anak itu? lalu dia datang dan mengambilnya? Mama tidak mau kamu yang berjuang kenapa dia pemiliknya? Mama tidak mau!" tegas Inggit.


Hati Inggit kini bukan hanya sakit setelah kehilangan suaminya, hatinya juga sedang was-was dalam menantikan hari persalinan Jessica tiba.


Dokter sudah mengingatkan dari awal, kini Inggit hanya bisa berdoa semoga anak dan cucunya selamat saat nanti.


Rara pun mendengar suara Inggit dan segera menuju ruang tamu.


Sedangkan Jessica tidak bisa berbicara, dirinya sadar sepenuhnya seperti apa rasa yang kini tengah menjadi puncak kekhawatiran Inggit.

__ADS_1


"Rara besok bawa Jessica kembali ke Malaysia, jika kalian rindu biar Mama yang datang," ucap Inggit.


Rara pun mengangguk tidak ingin menambah beban pikiran Inggit yang tengah berduka atas kehilangan sang Papa.


__ADS_2