
Reyna kemudian hanya mengangguk lemah saja,, Reyna tidak berani lagi bertanya begitu melihat ekspresi wajah Devan yang begitu dingin,, nyali Reyna seketika menciut.
"Ssstttt,,"
Telinga Reyna mendengar suara seseorang yang ternyata adalah suara Nayla. Dengan segera Reyna berbalik melihat keadaan Nayla.
"Nayla,, kamu baik-baik saja Nay?" ucap Reyna dengan ekspresi wajah panik yang tidak bisa dia sembunyikan.
Perlahan Nayla membuka matanya sambil meremas perutnya yang sangat sakit luar biasa.
"Sakit Rey,," ucap Nayla.
Nayla tampak berkeringat dingin dengan wajah pucat bahkan saat ini Nayla tampak seperti mayat,, Nayla terus meremas perutnya yang sangat sakit.
"Nayla,, kamu sebenarnya kenapa?" ucap Reyna yang semakin bingung apa yang terjadi pada sahabatnya saat ini,, mengapa Nayla terlihat begitu menderita, pucat dan juga sangat kesakitan saat ini.
"Sakit Rey,," ucap Nayla seiring rasa sakit yang terus menyiksa dirinya saat ini.
"Dokter Devan,, ini sebenarnya kenapa? apa yang terjadi pada Nayla?" tanya Reyna pada Devan.
Reyna memberanikan diri bertanya pada Devan,, begitu melihat wajah pucat Nayla dan juga Nayla yang tampak kesakitan membuat Reyna benar-benar tidak tega dan juga kebingungan.
"Rey,, tolong,, tolong aku,, aku benar-benar nggak kuat,, sakit banget Rey,," ucap Nayla sambil mencengkram tangan Reyna,, Nayla benar-benar merasakan sakit yang luar biasa yang setiap detik menyiksa dirinya.
Devan kembali menyuntikkan obat pada Nayla,, membuat Nayla perlahan-lahan kembali tidak sadarkan diri,, terlelap bukan tertidur tapi tidak sadarkan diri seperti mayat hidup di atas ranjang.
"Dokter,, sebenarnya Nayla kenapa Dok? apa yang terjadi padanya dok? kenapa dia tidak dirawat di rumah sakit saja?" tanya Reyna lagi yang belum puas jika belum mendapatkan jawaban yang dia inginkan,, apalagi melihat Nayla yang kondisinya sangat memprihatinkan.
"Aku tidak mengizinkan kamu datang kesini untuk banyak bertanya,, rawat dia di rumah ini sebaik-baiknya,, atau karir mu dan karir kakak mu Dokter Alex akan segera hancur,," ancam Devan.
Degh!!!
Reyna terdiam seribu bahasa,, Reyna tidak berani lagi bicara,, siapa yang tidak tau Devan Bima Putra,, keluarga yang sangat terpandang dan juga memiliki kekuasaan,, Reyna tidak ingin membawa-bawa kakaknya dalam hal ini,, kakaknya tidak tau apa-apa,, kasihan jika karir kakaknya dihancurkan padahal dia tidak tau apa-apa. Reyna memang bukan orang miskin juga tapi keluarganya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Devan.
__ADS_1
"Dokter maksud saya..," ucap Reyna yang tidak melanjutkan lagi karena sudah di potong oleh Devan.
"Rawat istriku disini selama dua puluh empat jam,, untuk sementara kamu bekerja disini bukan di rumah sakit,, dan ini menjadi rahasia kita!" ucap Devan tegas.
Reyna pun terdiam tidak lagi bicara,, karena Reyna takut ancaman Devan tadi benar-benar menjadi kenyataan,,, atau bahkan ada kemungkinan Devan mencarikan perawat lain untuk Nayla. Itu tidak akan dibiarkan Reyna,, Reyna begitu menyayangi Nayla seperti keluarga nya sendiri,, dia akan merawat Nayla sampai Nayla kembali pulih seperti dulu.
Dua hari telah berlalu,, keadaan Nayla bertambah tidak baik-baik saja,, setiap kali Nayla sadar,, Nayla pasti menjerit kesakitan sambil meremas perutnya yang sakit,, Reyna benar-benar tidak tega melihat kondisi Nayla saat ini. Reyna juga sangat mengkhawatirkan Nayla. Kasihan melihat penderitaan sahabat nya.
"Dokter,, apa tidak sebaiknya janin Nayla diangkat saja?" tanya Reyna yang telah mengumpulkan sedikit keberanian nya untuk bertanya pada Devan.
Devan hanya diam dan pergi begitu saja,, bahkan Devan mungkin tidak memikirkan usulan Reyna sedikit pun meskipun kehamilan itu sangat membahayakan Nayla.
Reyna tidak lagi bertanya bahkan Reyna tidak mengerti sama sekali apa yang ada di dalam pikiran pria itu.
Reyna kembali duduk di samping Nayla hingga tidak lama Nayla membuka kedua matanya.
"Nayla kamu sadar?" ucap Reyna tersenyum sambil menitikkan air matanya,, Reyna tidak kuasa melihat penderitaan sahabat baiknya.
Kali ini Nayla baru melihat jelas siapa wanita yang berada di sampingnya saat ini sebelum-sebelumnya Nayla tidak terlalu melihat jelas namun sedikit bisa mendengar suara Reyna.
"Nayla,, kamu sudah dua hari berada disini,, aku yang merawat mu Nay,, kamu sempat sadar tapi kesadaran kamu hanya meringis kesakitan saja lalu Dokter Devan pasti menyuntikkan kamu obat,, lalu kamu tidak sadarkan diri lagi,," ucap Reyna dengan perasaan yang benar-benar sakit melihat penderitaan sahabat nya.
Nayla masih belum terlalu mau mendengarkan penjelasan Reyna dengan baik-baik,, namun Nayla mendengar nama Devan disebutkan.
"Rey,, aku dimana?" tanya Nayla sambil mengedarkan pandangannya,, saat ini Nayla sadar dirinya berada di suatu ruangan yang tidak asing menurut nya namun Nayla tidak tau dimana tepatnya saat ini dirinya berada.
"Ini rumah kita," ucap Devan.
Devan semakin berjalan mendekati Nayla,, wanita yang saat ini sangat lemah dengan banyaknya peralatan medis di tubuh nya.
Reyna lebih memilih keluar tidak ingin mendengar pembicaraan Devan dan juga Nayla.
Nayla tersenyum miring melihat Devan.
__ADS_1
"Aku tidak sudi menjadi istri siri mu lagi,," ucap Nayla.
Devan tidak perduli sama sekali dengan ucapan Nayla,, apapun yang terjadi janin yang berada di kandungan Nayla tidak boleh sampai di angkat.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Devan.
Devan tidak ingin berdebat sama sekali dengan Nayla,, dengan Nayla merasa tenang itu akan membuat kondisi Nayla semakin membaik.
Kali ini Devan ingin berdamai dengan Nayla sehingga Devan tidak perduli sama sekali ketika Nayla terus memaki dirinya. Devan hanya diam saja tidak ingin meladeni makian Nayla.
"Apa anakku sudah tidak ada?" tanya Nayla dengan perasaan sakit luar biasa,, tapi Nayla berusaha kuat,, karena dengan tidak ada janinnya lagi itu adalah suatu kebebasan Nayla dari pernikahan nya bersama Devan.
"Anak kita masih ada dan anak itu akan dilahirkan ketika waktu nya tiba," ucap Devan.
Nayla terkejut dan langsung menatap Devan,, percayalah saat ini Nayla benar-benar benci dengan keadaan seperti ini.
Sekalipun Nayla merasa sakit ketika kehilangan janinnya,, tapi Nayla lebih memilih itu daripada harus bertahan bersama Devan.
"Kenapa? aku masih ingat dokter itu mengatakan jika anak ku harus diangkat dari rahim ku," ucap Nayla.
Entah terluka atau tidak,, berdosa atau tidak,, Nayla tidak suka dengan apa yang dia dengar. Mengapa anak ini masih bertahan di dalam rahimnya? bukankah anak ini harusnya sudah tidak ada.
"Karena aku menginginkan anak itu!" ucap Devan.
"Kenapa harus anak ini? bukankah kalau tidak ada anak ini kita bisa bercerai,, dan kamu bisa hidup bahagia bersama istri mu," ucap Nayla.
"Aku membutuhkan anak itu! Jessica hanya memiliki peluang yang sangat kecil untuk mengandung,, dan jika nanti seumur hidupnya dia tidak bisa memberikan aku seorang anak, paling tidak ada anak itu yang bisa kami besarkan,," ucap Devan.
Nayla langsung terdiam bahkan bibirnya bergetar,, Nayla bahkan kehilangan setiap cacian yang akan dilontarkan pada Devan.
"Kenapa kamu tidak memiliki hati nurani sama sekali?" ucap Nayla dengan suara yang hampir tenggelam dan juga memilukan.
"Setelah anakku lahir,, terserah apa mau mu,, kamu mau pergi silahkan pergi tapi jangan bawa anakku,," ucap Devan.
__ADS_1
Lagi-lagi kata-kata Devan terdengar begitu memilukan di telinga Nayla,, siapakah Devan ini? apakah dia manusia atau iblis,, atau iblis dalam bentuk manusia.
Dia tidak memiliki hati nurani sedikit pun.