
Tubuhnya tinggi tegap, hidung mancung dengan jambang tipis yang terkesan arrogant. Dengan cepat berita perceraian Devan dan Jessica tersebar di mana-mana, hingga kini dirinya sudah mendapatkan gelar duda tampan yang banyak diincar oleh Dokter maupun perawat yang bekerja di rumah sakit, bahkan oleh wanita-wanita di luaran sana.
Jika Devan merasa iba dengan keadaannya saat ini, maka tidak dengan wanita-wanita di luaran sana yang merasa sangat senang dengan perceraian Devan. Artinya dengan begitu mereka memiliki kesempatan untuk bisa menjadi istri pemilik rumah sakit Stay Healthy tersebut. Seorang Dokter yang sangat tampan,, mapan sungguh sangat tidak sulit untuk Devan mendapatkan pengganti Jessica,, akan tetapi Devan bukanlah orang yang mudah untuk jatuh cinta lagi. Dalam hatinya kini hanya ada seorang perawat cantik yaitu Nayla Putri sekaligus mantan istri keduanya sendiri. Bayangan wajah Nayla seperti racun ampuh yang begitu memabukkan, hingga membuat Devan mabuk kebayang.
Pagi ini pun saat masuk ke UGD matanya melihat Nayla yang tengah bercerita dengan teman sesama perawatnya, Devan terdiam menatap wajah wanita itu dengan penuh kekaguman.
"Nay,, kamu diliatin sama Dokter Devan tuh," ucap Rima sambil menepuk pundak Nayla, menyadarkan Nayla bahwa ada yang tengah menatap dirinya saat ini.
Nayla pun langsung memutar kepalanya,, untuk menatap baik-baik siapa orang yang tengah menatap dirinya, sesaat kemudian Nayla membuang pandangannya, Nayla merasa tidak tertarik sedikitpun.
Pertama kalinya Devan merasa diacuhkan oleh seorang wanita, bahkan hanya seorang wanita perawat seperti Nayla. banyak wanita jika Devan mau,, tetapi Devan sudah terlalu jatuh ke dalam pesona kecantikan wanita itu.
Devan kembali melangkahkan kakinya masuk menuju ruangannya dan dalam hatinya Devan berpikir keras bagaimana bisa membuat Nayla jatuh ke dalam pelukannya kembali. Atau dirinya bisa saja gila, bahkan sudah berusaha melupakan Nayla, menepikan diri yang mungkin bisa tapi tidak sama sekali,, Nayla terlalu membuat dirinya mabuk kebayang,, membuat dirinya sangat jatuh cinta.
"Kamu gimana sih Nay?" ucap Rima yang ingin sekali memukul kepala Nayla, sambil mata Rima menatap Devan yang sudah pergi.
"Apanya yang gimana?" tanya Nayla bingung.
"Ya ampun Nayla," ucap Rima sambil mengetuk dahi Nayla, sekalipun keduanya baru saja saling mengenal tetapi mereka sudah memiliki kedekatan yang cukup baik.
"Itu yang lihatin kamu Dokter Devan pemilik rumah sakit Nayla, sangat banyak yang mau dengan dia bahkan banyak sekali yang mengantri,, tetapi dilirik saja oleh Dokter Devan tidak, lah kamu nih udah dilihatin loh, ditatap malahan," ucap Rima jelas yang mungkin bisa membuat otak Nayla sadar.
"Hmmm!! bodo amat,, lagian apa coba aku malas juga lihat dia," ucap Nayla yang memilih merapikan rambutnya,, menatap di cermin milik Rima.
"Terserah kamu saja Nay,," ucap Rima dan memilih pergi, mencari pekerjaan lain daripada berdebat dengan Nayla.
Nayla menatap punggung Rima yang perlahan menjauh kemudian dia juga segera menuju ke ruangan Alex. Beberapa saat lagi akan ada operasi yang harus dilakukan, sehingga ingin meminta Alex untuk segera bersiap-siap.
"Pagi Dok," sapa Nayla dengan wajah yang begitu ceria.
"Pagi, sepertinya kamu bahagia sekali hari ini," ucap Alex yang melihat wajah Nayla tengah berbinar.
"Sedikit Dok," jawab Nayla.
__ADS_1
Kini Nayla sudah sangat bahagia dengan hidupnya, status janda kini menjadi pilihan tepat untuknya,, daripada berstatus sebagai istri tapi terus tersakiti.
"Dok beberapa menit lagi ada jadwal operasi," ucap Nayla.
Alex mengerti dan segera menghabiskan sisa kopinya kemudian keduanya segera berjalan menuju ruangan operasi. Saat keduanya akan keluar dari ruangan Alex tiba-tiba terlihat Devan yang akan masuk ke dalam ruangan Alex.
Alex dan Nayla pun saling menatap kemudian batal melangkahkan kaki mereka karena melihat kedatangan Devan.
"Ada apa Dok?" tanya Alex.
"Bisa kita bicara berdua saja?" ucap Devan.
Alex menatap Nayla dan begitupun sebaliknya, Nayla mengerti dan segera berpamitan untuk keluar terlebih dahulu. Setelah memastikan Nayla sudah keluar, Devan langsung memasang ekspresi wajah serius menatap Alex
"Jauhi dia," ucap Devan.
"Dia?" ucap Alex yang bingung dengan maksud dia yang disebut oleh Devan.
"Jauhi Nayla Putri asisten mu,," ucap Devan dengan jelas.
"Kalau untuk itu tidak bisa,, maaf dokter Devan," ucap Alex dengan tegas.
"Kamu ingin bersaing denganku?" tanya Devan.
"Aku tidak ingin bersaing dengan siapapun, tapi mari kita sama-sama berusaha untuk mendapatkan janda seksi anak satu itu, aku juga ingin memilikinya, dia wanita yang sangat baik, melihat wajahnya yang sangat cantik saja sudah meneduhkan hati dan membuat semangat bekerja,," ucap Alex sambil tersenyum lalu segera keluar dari dalam ruangannya.
Devan masih berdiri di sana sekalipun Alex sudah keluar, bibir Devan langsung tersenyum miring merasa Alex tengah menantang dirinya saat ini. Mendapatkan Nayla tentu saja tidak mudah, janda satu anak itu tidak mudah tergiur dengan uang, sehingga harus benar-benar usaha untuk mendapatkannya dengan susah payahnya.
###########
Pulang dari kerja Nayla langsung pulang,, Nayla pulang bersama dengan Nanda. Menaiki motor gede hingga sampai di lampu merah. Devan juga berhenti menatap Nayla yang kini sedang berboncengan dengan seorang pria,, bukan tanpa sengaja melainkan Devan dengan sengaja mengikuti Nayla pulang, ketika sepeda motor yang ditumpangi Nayla kembali melaju, begitu juga dengan mobil Devan yang kembali melaju.
Saat di depan kontrakan Nayla pun turun dan Nanda langsung berpamitan untuk pulang,, karena dia ada urusan sedikit hingga tidak sempat melihat Felix.
__ADS_1
"Hati-hati yah," ucap Nayla sambil tersenyum pada Nanda dan Nanda pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum lalu segera pergi.
Tidak lama setelah itu Devan turun dari mobilnya,, lalu berjalan mendekati Nayla.
Nayla cukup terkejut melihat kedatangan Devan, sudah sepuluh bulan usia Felix, mungkin hanya bisa dihitung jari saja Devan datang, bahkan selama itu hanya satu kali saja dia menggendong Felix.
"Ada apa Dokter Devan?" tanya Nayla langsung tanpa ingin berbasa-basi.
Devan mendesus,, melihat wajah Nayla yang sangat cantik dan juga meneduhkan hati, jantung Devan semakin berdetak kencang, menatap mantan istrinya itu yang makin hari makin cantik.
"Dokter kalau tidak ada keperluan, silahkan pergi!!!" ucap Nayla yang merasa aneh karena Devan hanya diam saja memperhatikan dirinya.
"Aku ingin bertemu Felix," ucap Devan cepat, Devan tidak bilang bahwa sebenarnya dia ingin bertemu Mamanya juga, Devan sudah bisa pastikan bahwa beberapa detik setelah mengatakan itu,, dia pasti sudah diusir pulang.
Nayla menarik nafasnya berat kemudian menganggukkan kepalanya. Hari ini Felix di rumah bersama dengan Reyna karena Reyna masuk di malam hari. Devan ingin masuk bersama Nayla tapi tidak diizinkan,, Nayla dengan tegas melarang Devan masuk.
"Tunggu di luar!!! saya akan membawa keluar Felix," ucap Nayla sambil menunjuk kursi yang berada di teras.
Devan mengangguk dan duduk di kursi memilih menunggu tanpa membantah sedikitpun. Setelah beberapa saat Nayla keluar sambil membawa Felix. Devan tersenyum saat melihat putranya, Devan cukup terkejut melihat Felix begitu mirip dengannya.
"Anak Ayah," ucap Devan sambil tersenyum dan mengambil alih Felix dari gendongan Nayla.
Sayangnya bocah tampan itu malah menolak, bahkan menangis ketika Devan menggendongnya. Nayla kembali mengambil alih Felix dan berusaha menenangkan Felix lagi,, wajar saja jika Felix tidak mau, karena Devan tidak pernah dikenalinya.
"Anak Papa," ucap Alex yang tiba-tiba datang.
Alex dari kejauhan sudah memanggil Felix,, sambil membawa banyak mainan di tangannya. Felix tersenyum seakan ingin digendong oleh Alex,, Alex yang mengerti langsung mengambil alih Felix dari gendongan Nayla.
Devan seakan benar-benar tidak percaya anaknya jauh lebih mudah bersama dengan orang lain dibandingkan bersama dengan dirinya, padahal dia yang membuat Felix. Bahkan saat ini Felix terlihat sangat bahagia berada di gendongan Alex.
"Papa bawa mainan buat Felix," ucap Alex sambil duduk dan menunjukkan mobil-mobilan.
Sekalipun Felix masih berusia sepuluh bulan,, tetapi Felix sudah mampu mengenali wajah orang-orang yang sering bersama dengan dirinya.
__ADS_1
"Kenapa memanggilmu Papa?" tanya Devan.
"Karena aku calon suami Mamanya," jawab Alex.