
Syukuran untuk anak kedua Devan dan Nayla pun digelar dengan penuh kebahagiaan, tujuh hari setelah kelahirannya kini bayi itu pun diberi nama Adnan Bima Putra.
Devan dan Nayla terlihat begitu bahagia, keduanya tidak lepas dari senyum indah mereka, beberapa keluarga dan tamu pun mulai memberikan selamat atas kelahiran baby Adnan.
Akan tetapi Felix begitu rewel, mungkin karena perhatian untuknya kini sudah terbagi menjadi dua.
"Halo," Alex mendekati Felix dan mencoba menjadi penghibur Felix yang tengah kesal.
Bocah itu berdiri di sudut tidak ingin berbicara dengan siapapun.
"Ayah gendong sini," Devan mencoba untuk berdamai dan ingin menggendongnya, sayangnya Felix menolak.
Tingkah lucu anak sulung Devan itu mengundang gelak tawa para tamu.
"Sama tante Rima mau?" Rima menawarkan diri berharap Felix mau dengannya.
Felix masih saja menggeleng.
"Sama tante Reyna gimana?" tawar Reyna.
Felix seketika mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk digendong.
"Ternyata Felix sayangnya tante Reyna," Reyna pun menggendong Felix dengan gemas.
Tangan bocah itu melingkar di leher Reyna dengan eratnya.
"Felix anak siapa?" tanya Nayla.
"Tante Lelna," jawab Felix dengan cadelnya.
"Ahahahaha..." semua yang orang yang mendengar jawaban bocah tersebut malah tertawa terbahak-bahak, mungkin karena di awal memiliki seorang adik sehingga Felix merasa diacuhkan padahal tidak sama sekali Devan dan Nayla sangat menyayangi anak-anaknya.
"Dia cucu Opa," ujar Bima Putra mengulurkan tangannya.
Felix berpindah pada gendongan Bima Putra dan memeluk leher sang Opa tidak kalah erat.
Bagi Bima Putra pewaris kerajaan bisnisnya yang utama adalah Felix, dari awal Bima Putra sudah mengatakan bahwa Felix adalah pewaris utamanya, sampai kapanpun itu tidak bisa diubah.
"Opa tita pelgi," Felix mengerucut bibirnya dan tak ingin dekat dengan Devan maupun Nayla.
Devan tertawa kecil mendengar keinginan anaknya tersebut, rasanya bocah itu mulai tahu rasa cemburu lebih awal dan benar saja Felix pergi bersama Bima Putra menemui tamu lainnya.
Hari-hari terus berlalu, siang berganti malam, malam berubah siang.
Tetesan embun di pagi hari pun membasahi dedaunan, menambah dinginnya alam dengan desiran angin tak kalah kencang, semua memori terulang kembali dalam ingatan di mana awalnya Nayla dan Devan dipersatukan oleh waktu.
Empat tahun pun berlalu....
Dua anak laki-laki mereka sudah tumbuh besar dengan penuh cinta, tak terkira rasa bahagia hanya dengan kata syukur pada sang pencipta yang sudah memberikan dua malaikat lucu pelengkap pernikahan mereka, usia pun tidak lagi muda lantas tak juga menyulutkan rasa cinta yang ada.
"Kamu sedang apa?" Devan melingkarkan tangannya pada pinggang Nayla, menyembunyikan wajahnya pada tengkuk istrinya.
Nayla tersadar dari lamunannya, merasakan dekapan hangat Devan yang selalu membuatnya dicintai.
__ADS_1
"Ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Devan.
"Em," Nayla mengangguk.
"Apa?" tanya Devan.
Nayla pun memutar tubuhnya dan berbalik melingkarkan tangannya pada tengkuk Devan.
"Sudah lima tahun kita menikah, terima kasih udah bikin aku bahagia," ujar Nayla sembari menyandarkan kepalanya pada dada Devan.
Devan tersenyum dan membelai hangat kepala istrinya, sesekali mengecup kepala Nayla dengan hangatnya.
"Mas kira-kira apa kabar Jessica sekarang yah?" ucap Nayla.
"Kenapa malah memikirkan Jessica?" tanya Devan tidak mengerti.
"Tiba-tiba saja aku teringat, apa dia belum kembali ke Indonesia?" ucap Nayla.
Di tempat lainnya, udara mulai hangat mentari pun bersinar dengan terangnya persis seperti cahaya yang berusia empat tahun telah memegang tangan sang Mommy, langkah kaki anak itu semakin kencang tidak sabar ingin segera sampai di kediaman sang Oma, jika biasanya Inggit yang mengunjungi Cahaya, kini tidak!
Inggit yang sudah tua sudah sering sakit-sakitan sehingga Cahaya yang ceria pun berubah murung dan sering menangis memanggil nama Omanya.
Sehingga Inggit yang begitu menyayangi cucunya itu meminta Jessica kembali ke Indonesia untuk mengantarkan Cahaya yang sangat menggemaskan tersebut.
"Mommy cepat," Cahaya baru berusia empat tahun tiga bulan itu terlihat begitu lincah, cerewet dan juga periang.
Ditambah parasnya yang cantik membuat siapapun akan gemas melihatnya.
"Sayang hati-hati!" Jessica panik saat Cahaya terjatuh.
"Cup... Cup..." Jessica pun memeluk Cahaya dan berusaha untuk menenangkan putrinya.
"Mommy sakit," Cahaya menunjukkan kakinya, terlihat sedikit ada darah yang muncul.
"Kita obati dulu," Jessica meminta sopir yang diperintahkan menjemputnya dari bandara untuk berhenti sejenak.
Tak terasa semua sudah berbeda, ternyata semua sudah berubah setelah tak melihat indahnya negeri kelahirannya selama empat tahun ini, segera Jessica menuju UGD mengobati luka pada kaki Cahaya sebelum sampai di rumah, Inggit bisa marah besar jika melihat kaki cucu kesayangannya itu lecet walaupun hanya sebuah goresan kecil.
"Halo," sapa seorang perawat perempuan saat melihat wajah bocah lucu dan menggemaskan yang duduk di atas brankar.
Cahaya terlihat acuh dan tak suka disapa oleh perawat wanita tersebut akan tetapi malah menjadi tontonan yang menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya, belum lagi rambut curly yang berwarna coklat muda membuat wajahnya semakin imut.
"Kakinya kenapa? Tante obati dulu ya!" kata perawat itu lagi.
"Nggak, Cahaya mau sama Om Dokter aja," tolak Cahaya menunjuk seorang pria berjas putih.
"Sayang tidak boleh begitu, mau Tante atau Om itu sama saja," Jessica berusaha untuk menasehati putrinya yang nakal namun terlalu menggemaskan.
"Kamu mau sama Om?" tanya pria tersebut yang samar-samar mendengar suara celotehan Cahaya.
Cahaya mengangguk sambil cengengesan dengan bahagia.
"Devan?" Jessica baru menyadari siapa pria tersebut setelah berdiri dengan tegak.
__ADS_1
Devan pun seketika tersadar dan merasa mengenali suara tersebut ternyata Jessica.
"Jessica apa kabar?" sapa Devan.
Jessica tersenyum dan mengangguk kemudian di kejauhan ada Nayla bersama seorang anak kecil.
"Hai," sapa Jessica melambaikan tangannya.
Nayla mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca, sesaat kemudian Nayla berjalan mendekati Jessica dan keduanya berpelukan dengan rasa sahabat yang lama tak bertemu.
"Kamu apa kabar?" Nayla melihat perubahan Jessica antara dulu dan sekarang.
Jika dulu Jessica suka pakaian yang terbuka mungkin kini lebih tertutup ditambah dengan polesan make up yang sederhana membuatnya terkesan lebih anggun dan natural.
"Aku baik dan nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi," ujar Jessica tak kalah antusias.
Nayla pun mengangguk pasti dan mengusap setitik air mata yang menetes di pipinya, Jessica kembali beralih menatap Devan.
"Kamu nggak mau salaman sama aku?" tanya Jessica mengulurkan tangannya.
"Bukankah kita sahabat selamanya?" tanya Jessica lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
Tidak ada lagi cinta yang ada hanya kerinduan saat mereka pernah menjadi teman layaknya saudara, Devan menatap Nayla bertanya apakah istrinya itu tak masalah dengan ini semua Nayla tersenyum dan mengangguk dengan arti mengizinkan.
"Kabarku luar biasa," jawab Devan dengan tawa kecil sambil membalas uluran tangan Jessica.
"Benarkah?" Jessica pun ikut tertawa hingga akhirnya keduanya berpelukan layaknya sahabat yang dulu selalu saling melengkapi.
Sesaat kemudian keduanya menjauh, tidak ada lagi rasa seperti dulu Jessica sudah tidak memiliki rasa cinta dan keinginan untuk seorang laki-laki manapun sekalipun Devan lelaki yang pernah dicintainya, kini dirinya memilih menutup pintu hati pada lelaki manapun, terlalu trauma akan cinta dan rumah tangga kelam di masa lalu begitupun dengan Devan yang sangat mencintai Nayla tanpa terbagi pada siapapun, Nayla pun tidak merasa cemburu saat Devan dan Jessica kembali berusaha menjadi teman baik seperti dulu bukankah Jessica sudah melepas Devan dengan ikhlas? jadi mana mungkin ada rasa cemburu lagi semuanya sudah lebih dari cukup, Nayla ingin kini mereka semua berdamai dengan keadaan tanpa ada perselisihan, melupakan peristiwa silam dan mencari kebahagiaan kedepannya hingga akhirnya Nayla kembali menatap wajah anak kecil yang duduk di atas brankar.
"Dokter, kaki Cahaya sakit," Cahaya mengadu dan seakan kesakitan.
"Kan Aya pingsan!" Cahaya yang merasa tak dipedulikan oleh semua orang langsung merebahkan diri sambil menutup matanya.
Kini Devan tertawa sambil bertanya siapa bocah yang menggemaskan tersebut.
"Dia Cahaya anak aku," jelas Jessica.
"Anak?" tanya Nayla.
"Iya," Jessica pun mengangguk pasti.
Nayla mengangguk-angguk melihat wajah menggemaskan Cahaya meskipun ada banyak pertanyaan tentang anak tersebut, akan tetapi Nayla belum ingin mempertanyakan itu, mungkin saja jawabannya akan kembali melukai hati Jessica yang sudah berusaha mati-matian untuk menyembuhkan luka itu.
Tidak!
Nayla tidak mau membuka luka lama karena ada saat dirinya tahu kehidupan Jessica yang sekarang sudah memiliki suami baru atau belum? pasti akan terlihat dengan sendirinya.
"Hai," cahaya tersenyum pada Adnan yang dari tadi terus melihatnya.
"Ya ampun dia sangat lucu,," kata Nayla lagi sedangkan Adnan yang pemalu memilih bersembunyi di belakang Nayla.
"Ini anak kamu juga?" tanya Jessica.
__ADS_1
"Iya dia adiknya Felix," jawab Nayla.