Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tidak ada yang mengetahuinya!!!


__ADS_3

Pagi harinya Alex terbangun, pertama kalinya dirinya langsung melihat ke samping.


Ternyata Jessica sudah tidak di sana, tampaknya sudah bangun lebih awal.


"Daddy," Cahaya ikut terbangun setelah merasa ada pergerakan.


Alex tersenyum dan mencium kening Cahaya, pagi yang begitu membahagiakan melihat dua Cahaya secara langsung bersinar.


Sinar Cahaya putri kandungnya tidak kalah cerah dengan Mentari yang bersinar di langit pagi ini.


"Daddy, gosok gigi dulu. Mau ngantor," Alex bergegas turun menuju kamar mandi.


Sedangkan Cahaya kembali merebahkan dirinya, hingga akhirnya Jessica memasuki kamar berniat ingin membangunkan putrinya.


"Anak Mom, sudah bangun?" Jessica pun naik ke atas ranjang dan memeluk Cahaya.


"Mom, hari ini Aya, ke sekolah di antar Dad?"


Jessica tidak tahu untuk itu, tetapi wajah Cahaya terlihat begitu berharap. Entah apa yang harus Jessica katakan pada putrinya itu.


"Mom?" Cahaya menggerakkan lengan Jessica hingga beberapa kali.


"Sama Mom juga bisa 'kan?" Tanya Jessica tersenyum.


Cahaya melipat kedua tangannya di dada seakan kesal pada jawaban Jessica.


"Aya, udah nggak sayang sama Mom?" tanya Jessica.


"Sayang, tapi sama Daddy, boleh ya Mom?" Pinta Cahaya penuh harap.


Jessica melihat sekitarnya, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Artinya Alex ada di dalam sana, kemudian kembali fokus menatap putrinya yang cantik.


"Aya, boleh berangkat sama Daddy. Tapi, kalau nanti Daddy nggak sempat, artinya berangkat ke sekolah nya sama Mom, dulu, ya?" Tanya Jessica.


Alex yang berdiri di ambang pintu kamar mandi mendengar perkataan Jessica, tampaknya putrinya ingin berangkat ke Sekolah bersama dirinya.

__ADS_1


"Aya, mau ke sekolah sama Daddy?" Tanya Alex dari kejauhan.


Cahaya yang menatap Jessica beralih menatap Alex.


"Boleh nggak Dad?"


"Boleh dong, sekarang siap-siap dulu ya. Daddy, juga buru-buru pagi ini," ujar Alex sambil berjalan menuju lemari mengambil kemeja putih.


"Ye!" Cahaya bersorak gembira setelah Alex menyetujui untuk mengantarkan dirinya menuju sekolah.


Dengan bantuan Jessica dalam sekejap Cahaya selesai memakai seragam sekolah nya, hingga berlanjut duduk di kursi meja makan untuk sarapan pagi.


Jessica menyuapi Cahaya yang makan dengan lahapnya, sedangkan Alex pun memulai sarapannya di pagi ini dengan bahagia.


Pagi ini benar-benar berbeda dari biasanya, Alex merasa tidak ada yang lebih istimewa dari pagi ini.


Selesai sarapan pagi Alex dan Cahaya pun berangkat, Jessica pun sarapan pagi setelahnya sendirian di meja makan.


Selesai sarapan Jessica pun membereskan meja makan sekalipun ada Art tetap saja melakukan semua hal sendiri.


Namun, sampai di rumah dirinya melihat Jessica membersikan ruang tamu, memakai piama tidur yang sama dari semalam.


Artinya istrinya tersebut sama sekali belum mengganti pakaiannya, rambut di cepol asal dan juga memegang sapu pel lantai.


Alex melihat sekelilingnya yang sudah rapi, bertanya-tanya apakah Jessica yang mengerjakan semua tugas tersebut.


"Kenapa kamu mengerjakan tugas pembantu?" Tanya Alex.


Jessica pun tersadar, ternyata ada orang Iain selain dirinya di sana.


"Nggak apa-apa, aku nggak enak nggak ngapa-ngapain di sini," jawab Jessica, kemudian kembali menggerakkan pel lantai.


Deg! Jawaban Jessica barusan membuat Alex merasa tidak nyaman, apakah Jessica menganggap dirinya asing di rumah itu.


Apakah Jessica lupa jika dirinya sudah menjadi seorang istri, bukan menjadi pembantu.

__ADS_1


Alex tidak tahu harus melakukan apa saat ini, mengambil paksa alat-alat itu pun tidak memiliki keberanian.


Akhirnya dirinya berjalan menuju kamar tanpa ada sepatah katapun yang keluar lagi dari mulutnya.


Selesai membersihkan ruang tamu Jessica menuju dapur, mengantarkan semua peralatan yang baru saja digunakannya.


"Bu biar saya saja yang melanjutkan pekerjaan lainnya," ucap seorang Art.


"Nggak apa-apa kok, kamu kerjakan saja apa yang misalnya kamu ingin kerjakan. Aku juga cuma numpang di sini, tidak usah memperlakukan aku seperti majikan," jelas Jessica dengan senyuman tulus.


Alex yang mencari Jessica sampai ke dapur lagi-lagi mendengar jawaban Jessica barusan, tampaknya benar-benar Jessica menganggap dirinya hanya orang asing.


Jessica benar-benar tidak lagi seperti dulu, jarak itu jelas ada walaupun tercipta tanpa di sadari.


"Tuan," kata Art yang melihat Alex.


Jessica pun ikut menatap Alex setelah salah satu Art memanggilnya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Alex melihat penampilan Jessica dari ujung kaki sampai ujung kepala, terlihat begitu kelelahan.


Jessica pun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Alex.


"Aku kembali ke rumah sakit," pamit Alex tidak ingin berlama-lama melihat Jessica seperti itu.


Pikiran Alex kacau sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, sikap Jessica benar- benar tidak lagi sama seperti dulunya.


Namun, itulah cara Jessica untuk melupakan banyak kenangan pahit di dalam rumah tersebut.


Hatinya yang begitu rapuh tidak mudah untuk bisa berdamai dengan begitu saja, rasa trauma itu belum pernah hilang dari benaknya.


Belum lagi kesedihannya kini bertambah setelah Inggit memutuskan hubungan dengan dirinya, namun, pada siapa Jessica bisa mengatakan semua itu?


Jessica memilih diam dan memendam semua sendiri, menanggung beban sakitnya tanpa tau harus berbagi pada siapa.


Jika merasa tidak sanggup lagi dirinya memilih berada di ruangan gelap, duduk sendiri sambil menitihkan air mata.

__ADS_1


Tidak ada yang mengetahuinya, Jessica hanya sendiri, dan Cahaya yang menjadi penghiburnya saat pulang sekolah.


__ADS_2