
"Sayang, buka pintunya dong. Jangan ngambek dong. Malu kalau Ayah tau," kata Devan dari depan pintu kamar.
Nayla tidak perduli sama sekali, hanya diam dan memilih berdiri di depan jendela kamar yang terbuka.
Malam ini terasa begitu indah, suasana desa yang sunyi benar-benar menciptakan sebuah ketenangan.
"Sayang," panggil Devan lagi dari depan pintu kamar dengan gorden yang terurai.
"Ayah ngapain? Ngeronda?" Seloroh Felix.
Devan menatap Felix penuh permusuhan, sejak tadi anak sulungnya itu terus saja menjengkelkan.
"Mas Devan, sedang menunggu jemputan Mbak Nayla," celetuk Adnan, sambil berjalan memasuki kamar.
Begitu juga Felix yang ikut masuk ke dalam kamar dengan ukuran 2×2 tersebut.
Devan sampai melongo saat melihat kedua anaknya yang masuk begitu saja, awalnya Devan berpikir jika pintunya di kunci.
Seketika itu juga Devan ikut masuk, ternyata kamar tersebut tidak memiliki pintu. Hanya gorden yang menjadi penutup daruratnya.
Sial! Devan benar-benar merutuki kebodohannya sendiri.
Percuma saja dirinya berada di luar menunggu di bukakan pintu oleh Nayla, mungkin biasanya Nayla akan mengurung diri di dalam kamar jika moodnya sedang tidak baik.
"Bunda, Ayah tadi malah diem aja di luar. Nggak tahu ngapain," ejek Felix.
"Kamu pilih tangan kanan atau tangan kiri?" Devan mengepalkan tangannya dan menunjukan pada kedua anaknya yang selalu saja punya cara dalam mengejeknya.
"Hehehe," Felix pun cengengesan, dan langsung ke luar dari dalam kamar sebelum benar-benar di hajar oleh Devan.
Devan pun memperhatikan anaknya yang perlahan keluar dari kamar, kemudian mendekati Nayla yang berdiri di depan jendela.
"Kamu mikirin apa?"
Nayla menyandarkan kepalanya pada punggung Devan.
Membuat Devan tersentak, artinya dari tadi dirinya salah menganggap jika istrinya tengah kesal padanya.
Devan terlalu menyesali perlakuan kasar nya yang dulu terhadap Nayla, sehingga kini sangat takut melakukan kesalahan walaupun hanya secuil saja.
"Mas, kapan ya aku ketemu Ibu. Apakah Ibu baik-baik saja sekarang?"
Devan menyimpulkan bahwa kini Nayla tengah memikirkan keadaan Ratih, walaupun hanya perlakuan kasar dan hinaan tapi tidak lantas membuat Nayla melupakan Ratih.
__ADS_1
"Kamu punya foto Ibu?"
"Ada."
"Nanti Mas, minta orang untuk mencarinya.
Bibir Nayla tertarik pada masing-masing sudutnya, tidak menyangka Devan mau ikut membantunya.
"Makasih ya Mas," Nayla melingkarkan tangannya pada lengan Devan penuh kebahagiaan, walaupun Devan masih merencanakan tetapi cukup membuat hati merasa bahagia.
"Bunda, di depan ada Tante Jessica, sama Om Alex," kata Felix di ambang pintu kamar.
"Iya Bunda ke sana sekarang"
Nayla pun menepikan sejenak kesedihan, keluar bersama Devan yang mengikutinya dari belakang. Jessica dan Alex duduk di teras, kursi yang terbuat dari bahan dasar bambu cukup nyaman untuk di duduki.
Dan kursi itu buatan tangan Ayahnya sendiri.
"Kalian di sini? Nggak istirahat?" Nayla pun duduk di samping Jessica.
"Sudah beberapa jam istirahat, kayaknya seru kalau kita bikin tenda di halaman rumah ini, gimana?" Usul Jessica.
Nayla terdiam sambil menimbang saran dari Jessica.
"Caelah, manten basi," seloroh Nayla sambil tersenyum.
"Apaan, sih!" Reyna pun mengerucutkan bibirnya kesal pada Nayla.
"Jadi nggak kemping?"
"Kayaknya jadi aja deh, biar seru. Sekali- kali asik juga," Nayla pun mengangguk dan menyetujuinya.
"Di rumah banyak tenda," kini Nanda yang bersuara.
"Baiklah, kalau begitu kau juga harus memasangnya," jawab Devan.
"Kau pikir aku pembantu mu? Dasar aneh, maunya serba instan saja!" Kesal Nanda.
"Udah, kalian para lelaki duduk santai saja. Biar kami para wanita yang mengerjakannya, puas?" Tanya Reyna kesal.
Dirinya lebih memilih untuk membuat sendiri dari pada harus dilakukan para suami yang hanya diawali dengan perdebatan, sedangkan dirinya ingin segera bersantai di dalam tenda.
"Setuju, sekalian kalian pakai daster. Nggak masalah kan?" Imbuh Nayla menyukai usulan Reyna.
__ADS_1
Jessica menutup mulut menahan tawa melihat wajah-wajah pria dengan tubuh tegap mendadak menjadi pendiam karena ucapan istri-istri mereka.
"Alex, apa harus aku juga yang mengerjakan?" Kini Jessica yang bertanya pada Alex yang dari tadi hanya diam saja.
"Nanda, cepat ambil tendanya!" Titah Alex, dirinya juga mendadak takut saat mendapatkan ancaman ringan tapi cukup berat.
"Ayo kita ambil bersama!" Nanda juga tidak ingin melakukan sendirian, lagi pula di antara mereka tidak ada atasan maupun bawahan. Semua sama, jadi tidak ada yang boleh memerintah tanpa bekerja.
"Nayla, ayo kita kerjakan sendiri!" Ujar Reyna.
"Cantik, jangan ya. Biar Abang Nanda yang mengerjakannya. Kamu duduk manis saja," Nanda pun menarik lengan Reyna untuk duduk di kursi, sambil cengengesan berharap tidak mendengar omelan.
"Abang, Adek Reyna maunya sekarang!" Reyna pun tersenyum sambil melihat Nanda.
"Iya," Nanda mengangguk kemudian menarik Devan dan Alex untuk ikut bersama mengambil tenda.
"Tidak usah sok akrab!" Adam pun melepaskan dirinya, kesal pada Nanda yang merangkulnya.
"Jangan berkelahi di sini! Kecuali mau di amuk tiga wanita!" Alex pun memperingati Devan dan Nanda.
Terpaksa Devan dan Nanda meredam amarah, padahal kalau adu jotos saja keduanya siap.
"Sudahlah, tidak usah ribut. Biar Pak Santo yang membawakan tendanya."
Devan dan Alex pun menatap Nanda dengan berapi-api, jika ternyata ada orang lain mengapa harus mereka juga ke sana.
"Kau mau di atas atau di bawah!" Devan pun mengepalkan tangannya dan ingin menghajar Nanda.
"Nayla," Nanda pun menatap ke arah jalan.
Devan pun cepat-cepat menurunkan tangannya dan mengikuti arah tatapan Nanda.
Namun, tenyata tidak ada Nayla di sana. Artinya, Nanda menipunya habis-habisan.
"Sial," Devan pun hanya berdiri di depan pintu gerbang bersama Alex.
Sedangkan Nanda sudah masuk dengan buru-buru, dirinya juga lupa jika ada tukang kebun yang bisa di minta bantuan untuk mengantarkan tenda kemping ke rumah Pak Bobby.
Wajah cantik Reyna bisa membuatnya mendadak pelupa.
Tidak masalah.
Lagi pula jarak kedua rumah tersebut hanya kurang lebih sekitar dua ratus meter saja, bisa dikatakan sangat dekat dan tidak terlalu jauh.
__ADS_1
"Pak Santo, ambil tenda."