Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Kenapa tidak bilang?


__ADS_3

"Mas, apaan sih?" Tanya Nayla bingung.


Sepertinya tidak ada masalah tetapi Devan malah membuat masalah.


Devan pun melengos pergi ke kamar, entah mengapa dirinya mendadak tidak terkendali saat ini.


"Mas!" Panggil Nayla masih berada di luar.


Nayla pun melihat Nanda.


"Ini karena kamu!"


"Kenapa aku?" Tanya Nanda bingung.


"Ngapain kamu panggil Robin barusan?"


"Suami mu saja yang sensitif!" Nanda pun berusaha untuk membela dirinya.


"Itu Aliya juga nanyain kamu, kamu pernah cium dia kan?" Tanya Nayla kesal.


"Cium?" Tanya Reyna yang dari tadi hanya diam saja mendadak berbicara.


"Mana ada!" Elak Nanda takut Reyna marah.


Nayla pun segera masuk menyusul Devan yang sudah masuk terlebih dahulu.


Nayla pun melangkah masuk mendekati suami nya yang tengah duduk di sisi ranjang.


Perlahan Nayla duduk di samping Devan, ingin membujuk suaminya agar suasana menjadi lebih baik.


"Mas," Nayla pun menyandarkan kepalanya pada lengan Devan.


Devan menatap arah lainya seakan tidak ingin berdamai dengan Nayla.


"Mas, cemburu ya?" Tebak Nayla.


"Nggak!" Elak Devan dengan cepat.


Nayla tertawa kecil kemudian kembali menyandarkan kepalanya.


"Mas, kalau ngambek kaya anak-anak deh. Aku jadi gemes deh," Nayla pun melingkarkan tangannya pada lengan Devan, bergelayut manja seakan tidak ingin ada pertengkaran.


Hati Devan sebenarnya sudah mulai dingin, tetapi dirinya masih gengsi untuk berdamai dengan Nayla.


Baru pelukan pada lengannya Devan sudah langsung luluh begitu saja, sungguh dirinya begitu mencintai Nayla.

__ADS_1


"Kamu senang berjumpa dengan orang- orangan sawah itu kan?" Tanya Devan lagi tidak ingin Nayla mengalihkan pembicaraan.


Nayla pun reflek melepas tangannya yang memeluk Devan, melihat ekspresi wajah Devan saat ini dengan serius.


Sesaat kemudian Nayla tertawa terbahak-bahak.


"Ahahahhaha."


"Senang sekali kamu bertemu seseorang yang kau sukai itu!" Geram Devan.


"Ahahahhaha," Nayla terus saja tertawa tanpa bisa berhenti.


"Tertawa saja sebanyak-banyaknya!"


"Mas, apaan sih? Nggak usah aneh-aneh deh atau Mas yang merasa lebih jelek dari dia?" Tebak Nayla menaik turunkan kedua alis matanya.


"Mas, kalah dengan dia?" Devan pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela, berdiri di sana sambil menatap keluar.


Nayla pun ikut bangkit dan berdiri di samping suaminya yang masih dilanda kecemburuan.


"Ayo ngaku?"


"Apa tidak ada lawan yang lebih imbang, kalah dari segi apa? Mas, tampan, Uang?" Devan tersenyum pada Nayla.


"Desa ini saja bisa Mas beli," imbuh Devan menyombongkan diri.


"Ya udah, kalau Mas lebih segalanya dari dia nggak usah marah!"


"Mas, nggak marah. Hanya sedikit kesal, sepertinya dia meremehkan Mas. Sebaiknya kita kembali ke kota besok, Mas tidak mau tahu!"


Devan pun keluar dari kamar.


Nayla panik dan menyusul Devan keluar juga, dirinya masih ingin berlibur.


"Ayah," Felix tersenyum dengan membawa ikan Lele yang sudah di goreng.


Devan melihat Felix yang kemudian berjalan menuju teras, Devan pun menyusul berikut Nayla yang masih mengikuti Devan.


"Tante, ini ikan goreng. Felix dan Adnan yang mancing dan Nenek yang menggoreng," Felix pun memberikannya pada Jessica.


Dua ikan Lele terlihat begitu besar dan lezat tersaji.


"Wah sepertinya enak!" Alex pun mengambil sebagiannya dan memakannya.


Selanjutnya Nanda juga memakannya, dirinya juga mengakui ikan itu begitu lezat.

__ADS_1


"Apa benar seenak itu?" Devan pun penasaran dan mencobanya.


Rasanya memang begitu nikmat, hingga ketiga pria tersebut memakannya.


Menghabiskan tanpa sisa.


"Felix nggak makan?" Tanya Nanda.


"Nggak," Felix pun menggeleng dengan cepat.


"Soalnya jorok."


"Jorok?" Tanya Devan.


"Itu mancing di kolam, tapi di atas kolamnya ada toilet umum," jelas Felix membuat yang lainnya tercengang.


"Makanan ikan Lelenya kotoran manusia" Adnan yang baru saja bergabung langsung menimpali.


"Maksudnya bagaimana?" Tanya Alex semakin penasaran.


"Itu mancing di kolam, tapi di atas kolamnya ada tempat BAB, jadi........" Nayla menggantung ucapannya sambil menatap wajah ketiga pria yang barusan memakan Lele dengan lahapnya.


"Jadi..." Nayla tersenyum dengan menunjukkan dua barus gigi rapinya.


"Hueekkkk!" Devan merasa perutnya di putar seketika merasa mual dan muntah.


"Hueekkkkkk" Alex juga ikut muntah, seperti salah mengatakan enak pada ikan Lele sialan itu.


Sedangkan Nanda hanya tersenyum saja walaupun sebenarnya cukup menggelikan. Akan tetapi dirinya sudah terlatih dalam memakan hal-hal ekstrim.


"Kenapa tidak bilang?" Ingin sekali Devan meremas wajah Felix saat ini juga.


"Tadi Ayah bilang enak," jawab Felix dengan polosnya.


"Hahaha," Nayla, Jessica, Reyna dan Rima pun tertawa melihat wajah Devan, Alex dan Nanda secara bergantian.


"Cukup sudah! Kita pulang ke kota saja! Aku tidak tahan lagi tinggal di sini!" Tegas Devan.


"Tapi Mas," Nayla masih ingin berada di desanya untuk beberapa hari ini.


"Tidak!"


"Ya kita pulang, aku setuju," Alex pun ikut menimpali, dirinya juga sudah tidak sanggup berada di sana.


Apa lagi ada Nek Mimi. Alex merinding sempurna.

__ADS_1


"Kita pulang ke kota, nanti akan ada orang-orang aku kirim ke sini untuk merenovasi rumah Ayah. Biar sementara waktu Ayah yang kita bawa ke kota," Tegas Devan tidak ingin dibantah.


"Ya udah," Nayla pun menganggukkan kepalanya, tidak ingin membantah suaminya. Bagaimana pun dirinya adalah seorang istri yang harus mengikuti apapun perkataan suaminya.


__ADS_2