
Nayla tertawa terbahak-bahak mendengar curhatan hati Reyna, dari sejak dirinya datang mengunjungi sahabatnya itu hingga kini masih saja mulut Reyna bercerita.
"Puas?" Reyna ingin sekali mengacak kulit yang mulus itu bahkan meremas wajah Nayla.
"Dasar sahabat enggak ada akhlak," gerutu Reyna.
"Habisnya kamu lucu," kata Nayla masih diselingi tawa.
"Ketawa aja terus, jangan berhenti!" ucap Reyna.
"Ahahahaha... ya ampun aku kencing," Nayla sampai kencing di celana karena terlalu banyak tertawa.
"Dasar jorok," ucap Reyna.
Akhirnya tangan Reyna benar-benar sampai pada Nayla, kesal bukan main tentunya.
"Aku pinjam baju kamu dong," ucap Nayla.
"Ambil di lemari," ucap Reyna.
Jika Reyna hanya mengerucutkan bibirnya, maka lain halnya dengan Nayla, dirinya begitu terhibur melihat wajah Reyna yang kesal.
"Beruntung bude Asri dan Mama udah pulang kampung pagi tadi, kalau nggak dari kemarin sampai hari ini dan seterusnya aku akan sangat malu terutama pada bude Asri," ucap Reyna.
Reyna geleng-geleng kepala mengingat kelakuannya, niat hati ingin mempertahankan harga diri malah berubah menjadi wanita yang gila kejadian malam kemarin hari benar-benar memberikannya pelajaran berharga.
"Reyna," Nanda masuk kamar dirinya melihat Nayla dan Reyna tengah duduk di atas ranjang.
Nayla dan Reyna beralih menatap Nanda yang hanya berdiri di ambang pintu.
"Iya," ucap Reyna.
"Kamu mau ikut ke kantor? Zaskia sudah ditangkap kamu mau ketemu dengan dia atau tidak?" tanya Nanda.
Reyna beralih menatap Nayla, dirinya seakan terlalu trauma atas kejadian malam itu.
Andai saja Nanda tidak menemukannya pasti kini dirinya tidak memiliki keinginan untuk tetap hidup.
"Kita ikut aja Nan, aku juga geram banget sama dia," Nayla langsung menyetujuinya dirinya juga ingin melihat seperti apa keadaan wanita itu kini.
"Nayla aku nggak usah ikut yah," Reyna menunjukkan raut aja sedihnya, dirinya masih tak ingin bertemu dengan Zaskia.
"Nggak apa-apa kalau perlu kita hajar dia," ucap Nayla.
Entah karena bawaan hormon kehamilan tapi kini Nayla jauh lebih cerewet dan juga gampang emosional, kadang juga Devan harus banyak bersabar apalagi Devan benar-benar mencoba untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, cukup sudah dulu Nayla menderita karenanya, kini tidak lagi.
Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi, Reyna hanya diam tanpa kata, dirinya melihat ke luar dari jendela mobil, sedangkan Nanda fokus mengemudi, kali ini memutuskan mengendarai mobil yang baru dibelinya untuk Reyna, selain karena udara yang dingin tidak baik untuk istrinya Nanda pun menyayangkan mobil tersebut sama sekali belum pernah dipakai oleh pemiliknya.
"Kamu mikirin apa?" tanya Nanda.
Reyna melirik Nanda yang hanya fokus mengemudi sesaat kemudian kembali melihat ke depan.
"Aku nggak nyangka aja semua itu bisa terjadi, coba aja kalau kamu nggak datang tempat waktu mungkin..." Reyna mengusap air matanya yang menetes di pipinya.
Begitu terpukul jika mengingatnya lagi.
"Tapi waktu itu sebenarnya aku pulang dari salon, ya aku mau jadi istri kamu yang sebenarnya, aku menyesal banget udah mukul kepala kamu, maaf ya Nanda," ujar Reyna dengan hati-hati.
"Dimaafin nggak yah?" ucap Nanda.
"Ish kamu gitu banget sama aku," Reyna pun mencubit lengan Nanda dengan kuat.
"Aduh sakit!" ucap Nanda.
"Biarin kamu jahat," ucap Reyna.
Nanda tersenyum dan mengacak rambut Reyna dengan perlahan.
"Kamu mau aku maafin kan?" tanya Nanda lagi.
"Iya," Reyna mengangguk.
__ADS_1
"Panggil Mas, Kakak atau ayang," ujar Nanda.
Kali ini Reyna tidak dapat lagi menahan tawanya, keinginan Nanda terdengar lucu.
Apa iya dirinya harus menurutinya?
Mas?
Kakak?
Yang paling lucu adalah ayang.
Sungguh Reyna melupakan rasa sedihnya hanya karena keinginan Nanda yang aneh dan lucu.
"Dasar istri aneh!" gerutu Nanda.
"Baiklah kakak... kakak Nanda minta duit dong, jangan nafkah batin doang, semuanya harus seimbang," seloroh Reyna dengan cekikikan.
"Duit-duit, selalu duit, dasar mata duitan!" ucap Nanda.
Sampai di kantor polisi, Nanda dan Reyna segera masuk, begitupun dengan Devan dan Nayla yang mengendarai mobil lainnya.
Di sebuah ruangan yang cukup kecil dengan kursi yang saling berhadapan dan dipisahkan oleh meja di tengahnya, Reyna dan Nayla duduk di sana melihat Zaskia yang duduk saling berhadapan.
"Kenapa kamu tega?" tanya Nayla tak sabar sekalipun dirinya bukanlah korban.
Baginya penderitaan Reyna adalah penderitaannya juga, jadi dirinya ikut geram pada Zaskia.
Zaskia pun berjalan mendekati Reyna dan berlutut di bawah kaki Reyna memohon untuk dibebaskan dari segala hukuman yang kini menimpanya.
"Reyna, aku khilaf tolong maafkan aku," pinta Zaskia dengan nada memohon.
Reyna membuang pandangannya, matanya berkaca-kaca dan sedetik kemudian cairan bening tumpah juga dari pelupuk mata indahnya.
Begitu sesak di dada, betapa Zaskia iblis dengan wajah manusia, memiliki kejahatan yang luar biasa.
"Kamu tega Zaskia," jawab Reyna dengan suara bergetar, sakitnya masih terlalu hingga sulit untuk mengobatinya.
"Aku benar-benar menyesal, aku minta maaf tolong bebaskan aku, aku gelap mata saat itu, aku termakan amarah dan egois," Zaskia terus memohon dan berharap Reyna mau mengasihani dirinya.
Tapi tidak! hatinya sudah sakit, apa yang dilakukan oleh Zaskia sangat keterlaluan.
"Maaf Zaskia aku tidak bisa, kamu harus mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Reyna.
Tak disangka Zaskia berdiri dan mendorong Reyna, beruntung Nanda tidak jauh berdiri hingga cepat menahan tubuh istrinya yang ringkih.
"Dasar iblis! udah salah masih aja," geram Nayla.
"Kau juga sama aja, kalau bukan karena menikah dengan Dokter Devan, kau tetaplah sampah," kali ini Nayla ikut menjadi sasaran Zaskia.
Menurutnya Nayla juga tak akan bisa seperti sekarang jika bukan karena Devan.
"Lalu kenapa?" tiba-tiba Devan menimpali dirinya tak akan membiarkan istrinya dihina, apalagi hanya karena seekor lalat seperti Zaskia.
"Kenapa?" ucap Devan lagi.
Zaskia terdiam, kemudian kembali masuk ke dalam sel tanpa diminta sekalipun.
Tidak ingin berlama-lama di sana hanya membuatnya semakin terhina, biarkan saja mereka bahagia sekarang, akan ada saatnya nanti kembali membalas, semua ini sudah terlanjur dan kini dirinya tidak ragu dalam berbuat kejahatan lagi.
"Sayang kita pulang tidak bagus bagi ibu hamil sepertimu di sini, kita juga harus ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan kandungan mu," ucap Devan.
Sampai di rumah sakit Devan sendiri yang memeriksa keadaan Nayla, tak disangka jika anak keduanya juga berjenis kelamin laki-laki.
Devan sangat bahagia, baginya laki-laki ataupun perempuan sama saja, dengan catatan yang penting anaknya.
"Mas aku mau Mas pake tato, terus nggak usah pakai baju," pinta Nayla penuh harap.
Devan bukanlah lelaki yang suka melukis dirinya akan tetapi bagaimana jika menolak juga.
"Mas ayolah," pinta Nayla lagi.
__ADS_1
Devan mengangguk hingga membuat Nayla tersenyum.
Sampai di rumah Devan pun mulai memikirkan cara mentato badannya tanpa harus membuat tato sesungguhnya.
"Tapi bagaimana caranya?" gumam Devan.
Devan menghubungi Aditya untuk mencari tahu solusi dari permasalahannya saat ini.
Berkat kepintaran sepupunya itu, akhirnya Devan berhasil membuat tato di tangannya, dada dan punggung.
Aditya sendiri yang melukis semua itu.
Devan berkaca pada cermin besar di hadapannya, dirinya yakin Nayla akan bangga saat melihat tato di badannya.
"Terima kasih," ucap Devan.
Aditya mengacungkan jempol dan Devan pun segera menuju kamar, Nayla yang tengah tertidur lelap merasa terusik saat Devan mulai mengganggu dirinya.
"Mas punya kejutan buat kamu," ucap Devan.
Nayla berusaha untuk membuka matanya dan melihat Devan.
"Sayang," Devan berjalan bagaikan model, tangannya berotot dengan tato membuat Nayla ? meneguk saliva.
Tanpa bisa mengedipkan matanya sedikitpun, dirinya terus saja memandang Devan dengan memuja.
"Mas," Nayla segera bangkit dan mendekati Devan.
Tangannya menyentuh otot-otot yang begitu mempesona, kekaguman Nayla semakin menjadi-jadi saat menyentuh perut kotak-kotak Devan.
"Sayang, apa Mas tampan?" tanya Devan.
"Hehehe iya Mas tampan banget," Nayla tersipu malu saat menatap Devan yang begitu tampan.
Pantasan saja suaminya itu banyak digilai wanita ternyata memang memiliki ketampanan yang berlebihan.
Kenapa baru menyadari semua itu.
Lebih baik terlambat daripada tidak pernah sadar.
"Kamu siapa?"
"Nayla," Nayla memeluk lengan Devan dengan penuh cinta.
"Dia minta ditengok nggak?" tanya Devan.
"Aku lagi pengen mandi gerak soalnya," ucap Nayla.
"Mandi bareng yuk!"
Nayla mengangguk setuju sambil keduanya berjalan menuju kamar mandi membasahi tubuh di bawah shower yang sama, menyatukan tangan untuk saling menggenggam erat.
"Mas sayang Nayla," ucap Devan.
"Aku juga sayang Mas," ucap Nayla.
Air terus saja membasahi tubuh keduanya, tapi tak serta membuatnya merasa dingin justru keduanya seakan merasa semakin hangat, Nayla berpindah memeluk Devan dari belakang menikmati sentuhan air yang terus saja mengalir.
"Sayang," Devan terbalik dan mencium bibir Nayla dengan hangat.
Nayla pun membalasnya dengan pelan kemudian dirinya kembali memeluk Devan dari belakang.
"Mas kok tatonya meleleh?" Nayla menjauh sejenak dan terus menatap punggung Devan.
"Iya ini kan hanya tinta biasa bukan tato asli," Devan menepuk dahinya merasa malu sebab sudah ketahuan.
"Em," Nayla mengangguk walaupun tak benar-benar membuat tato pada punggungnya tapi Nayla sudah sangat terharu sekali atas usaha yang sudah dilakukan oleh Devan.
"Sayang maaf!" ucap Devan.
"Nggak apa-apa! aku malah senang Mas udah usaha begini walaupun meleleh," seloroh Nayla.
__ADS_1
"Hehehe," Devan cengengesan dan menggaruk kepalanya merasakan malu tapi tetap saja dirinya mencintai Nayla sampai besok, lusa dan sampai kapanpun.