Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Pingsan!


__ADS_3

Reyna terbangun dari tidurnya saat subuh hingga matanya melihat Nanda yang tidur di sampingnya, memandangi wajah Nanda begitu lama hingga semakin menyesali kesalahan diri, dengan perlahan Reyna pun bangun turun dari ranjang begitu hati-hati memasukkan pakaiannya ke dalam koper kemudian pergi setelah meninggalkan sebuah kertas berisi goresan pena. Sampai di rumah Puput terkejut melihat kepulangan Reyna, awalnya berpikir jika Nanda yang sudah menceraikan anaknya.


Tapi tidak!


Reyna mengatakan dia pergi tanpa sepengetahuan Nanda karena malu dan tidak berani untuk memperlihatkan wajahnya di depan Nanda lagi.


Reyna pun menceritakan tentang dirinya yang selama ini terus menolak Nanda yang ingin meminta haknya.


"Aku salah Ma, ini hukuman buat aku yang nolak Nanda," ucap Reyna.


Reyna masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan sakit penuh penyesalan yang tak bisa dikatakan.


Puput pun hanya bisa diam, menimbang keadaan Reyna yang tengah terguncang membuatnya berpikir seribu kali untuk marah, mungkin jika keadaan Reyna seperti biasanya, Puput akan memaksa kembali pulang ke rumah Nanda. Kini sungguh tak mungkin meskipun putrinya tersebut memang sangat keterlaluan.


Segera Reyna melempar kopernya hingga cermin lemarinya pecah.


"Aku benci diriku, ini bekas apa!"


Reyna terus melempar kaca yang memantulkan wajahnya, rasanya tanda merah bekas gigitan preman tersebut begitu membuatnya gila.


"Aku ini kotor! aku harus membersihkan diri,"


Reyna mengisi bathtub hingga penuh kemudian masuk untuk merendam tubuhnya, karena fokus ingin membersihkan diri Reyna lupa bahwa dirinya harus bernapas untuk tetap hidup.


Nanda yang baru saja menjejakkan kaki di kamar melihat Reyna segera mengangkatnya.


Uhuk... Uhuk...


Reyna terbatuk-batuk karena terlalu banyak meminum air sampai akhirnya melihat siapa yang menariknya dari dalam bathtub.


Reyna melepaskan diri, mundur selangkah dirinya melihat Nanda dengan perasaan malu.


Mungkin saja Nanda datang hanya untuk mengantarkan surat cerai, lagi pula mana mungkin Nanda masih sudi menerimanya, lama keduanya terdiam hingga Reyna menggigil kedinginan, Nanda mendekat dan segera memeluk Reyna dengan erat tanpa izin.


"Kamu nggak jijik sama aku?" ucap Reyna.


Nanda hanya diam sambil terus memeluk Reyna dengan erat, mencium kening istrinya dengan begitu hangat.


Reyna pun menangis sekencang-kencangnya, jika saja bisa memohon untuk tidak diceraikan Reyna akan memohon dan mungkin Nanda pun akan memaafkan.


Akan tetapi Nanda terlalu sempurna untuk mendapatkan wanita seburuk dirinya.


"Aku udah kotor, aku minta maaf dan aku..." Reyna tidak mampu lagi berkata-kata di hatinya hanya tersisa bagian-bagian dari penyesalan saja.


"Kenapa kamu mendadak lemah? aku sudah tidak mengenalimu lagi atau kamu lupa siapa dirimu?" ucap Nanda.


Reyna mendorong dada Nanda agar melepaskan tapi Nanda tidak mau, dirinya memilih untuk terus memeluk Reyna dengan kencang.

__ADS_1


"Jauhi aku!" ucap Reyna.


"Kenapa aku harus menjauhi istriku?" tanya Nanda.


"Karena aku kotor, aku ini sampah tidak berguna," ucap Reyna.


Nanda merasa kesabarannya sudah sampai pada titik terendah, Reyna tak pernah bisa mengerti dari setiap penjelasan yang diberikan olehnya.


"Ayo kita buktikan!" ucap Nanda.


Nanda pun mencium bibir istrinya dengan cepat tidak peduli saat ini Reyna terus meronta-ronta ingin dilepaskan.


"Lepas! ceraikan saja aku!" ucap Reyna.


"Ayo kita buktikan, kau itu masih perawan! malam itu aku yang melihatmu dan membawa mu pulang," terang Nanda.


Reyna terdiam mencerna penjelasan Nanda, tetapi tetap saja saat itu dirinya pingsan preman itu merobek pakaiannya.


"Kamu bohong," ucap Reyna.


"Apa perlu kita melakukan pemeriksaan ke rumah sakit? tidak perlu aku suami, biarkan aku yang membuktikan!" ucap Nanda.


Dengan kasar Nanda pun mengangkat tubuh Reyna ke atas ranjang, menindih dengan cepat sekalipun Reyna meronta-ronta ingin di lepaskan.


Kali ini Nanda benar-benar tidak ingin melepaskan Reyna lagi, Nanda takut malah Reyna yang melayangkan surat cerai padanya, Nanda tak siap untuk lepas dari Reyna, entah sejak kapan tapi Nanda sudah mulai tertarik pada istrinya tersebut.


"Nanda lepas! Nanda sakit!"


Kini bekas lukisan panas tercipta pada tengkuk Reyna dan dia yang menciptakan.


"Nanda tolong lepaskan aku, apa kamu tidak jijik padaku? dua pria itu sudah menjamah aku," teriak Reyna dengan menangis tersedu-sedu.


"Diam!" bentak Nanda.


Reyna meneguk salivanya menahan rasa takut dengan tubuh yang menggigil kedinginan, dengan cepat Nanda melepas pakaian yang melekat pada tubuhnya, saat itu Reyna ingin mengambil kesempatan untuk melarikan diri, tapi Nanda lebih cepat menuju pintu dan menguncinya, melempar anak kunci sejauh mungkin, hingga dia hinggap di atas lemari.


"Kita buktikan dulu agar kamu percaya!" ucap Nanda.


Reyna menggeleng dan ingin berteriak dengan cepat tangan Nanda memegang mulut Reyna agar tak sampai terdengar keluar, tidak peduli betapa kasarnya tapi hati Reyna yang keras harus dijelaskan, hanya ini cara satu-satunya untuk membuktikan, dengan cepat Nanda menutup mulut Reyna dengan mengikat kemejanya agar istrinya itu tak berteriak, nantinya malah mengundang mertuanya masuk dan semua gagal, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Reyna selain menangis, tangannya terlentang pada masing-masing dan ditekan oleh Nanda.


Dalam hati sebenarnya Nanda tidak tega melakukannya dengan kasar, bahkan sebelumnya juga berniat menunggu sampai Reyna siap tapi lagi-lagi ini untuk pembuktian sampai akhirnya mata Nanda melihat dua benda kenyal dan melahapnya dengan rakus, tidak ingin lagi berlama-lama melihat Reyna menderita Nanda pun segera memasuki Reyna dengan tidak sabar.


"Ah..." desah Nanda begitu nikmat sampai di sini Nanda mulai lupa diri.


Akhirnya tubuh yang selama ini hanya dilihatnya saja pada layar ponselnya, kini bisa disentuhnya.


"Em..." suara Reyna tertahan tidak dapat berteriak saat merasakan sakit yang luar biasa, mulutnya ditutup membuat suaranya tidak dapat keluar.

__ADS_1


"Aku mohon jangan berteriak," pinta Nanda dan segera melepas mulut Reyna yang ditutupnya.


"Nanda sakit," rintih Reyna sambil terus menangis, bahkan untuk berbicara sudah tidak memiliki tenaga, Nanda memasukinya dengan cepat bahkan memaksa.


Seperti orang kesurupan sekali hentakan masuk tanpa memikirkan dirinya.


"Reyna," Nanda terus meracau nikmat merasakan begitu hangat dalam lubang surga itu, akhirnya setelah hampir satu bulan menikah dapat menikmatinya juga.


Tiga puluh menit kemudian, Nanda pun sampai pada puncaknya dan terkapar di samping Reyna, puas sekali setelah meluapkan semuanya, semalam juga dirinya sempat kepanasan saat tidur memeluk Reyna, tapi menyadari keadaan yang tak memungkinkan membuatnya urung, belum lagi saat siang hari kemarin Reyna sudah menjanjikan untuk bercinta.


Sungguh otak Nanda menjadi buntu sebelum mendapatkan haknya, tersadar tak ada suara Reyna, segera Nanda melihatnya.


"Reyna bangun!"


Ternyata Reyna tak sadarkan diri, mungkin Reyna kesakitan saat barusan, segera Nanda memastikan bahwa benar apa yang diyakininya, benar saja ada cairan merah yang terkena pada sprei, segera Nanda memakai pakaiannya dengan cepat kemudian mengambil ponselnya, saat ini butuh bantuan Nayla untuk membuat Reyna bisa sadarkan diri.


( Nayla, Reyna pingsan itu karena hal yang tak bisa aku ceritakan, cepat datang ke rumah orang tua Reyna, jangan bawa suamimu dan jangan sampai mertuaku tahu )


Setelah menuliskan pesan pada Nayla dengan segera Nanda memakaikan pakaian Reyna, koper milik istrinya tersebut masih tergeletak di lantai ditambah lagi kamar tersebut seperti kapal pecah.


"Reyna bangun," Nanda mencoba membangunkan Reyna, mungkin karena kelelahan hingga kehilangan kesadaran.


Menantikan Nayla yang tidak juga sampai membuatnya semakin kesal. Ah iya! Nanda lupa untuk kunci kamar, segera mengambilnya dan beruntung kuncinya tidak hilang.


############


"Sayang, Nanda memintamu datang ke rumah orang tua Reyna tanpa aku," ucap Devan.


Pesan tersebut malah Devan yang membacanya jadi bagaimana mungkin dirinya tidak ikut bersama Nayla.


"Dia bilang apa lagi Mas?" tanya Nayla.


"Reyna pingsan," jawab Nanda.


Nayla menghentikan aktivitasnya yang tengah mengeringkan rambutnya.


"Pingsan? kok bisa?" Nayla mengambil alih ponselnya dan segera menghubungi Nanda.


"Nayla, tolong aku Reyna pingsan," kata Nanda dari sambungan telepon.


"Kok bisa?" tanya Nayla tidak sabaran.


"Aku tak bisa menjelaskan tapi dia pingsan setelah aku memaksanya untuk membuktikan bahwa dia masih..." Nanda mengusap wajahnya dan berharap Nayla mengerti.


Benar saja Nayla langsung bisa menyimpulkan dengan baik.


"Kamu cari minyak angin dan usapkan pada tubuhnya, jangan biarkan tubuhnya kedinginan berikan juga pada hidungnya sebelum aku sampai," kata Nayla dan segera mematikan sambungan telepon.

__ADS_1


Nanda melihat sekitarnya dan menarik laci meja nakas dan benar ada minyak angin segera melakukan hal yang diperintahkan oleh Nayla.


"Reyna aku mohon bangun," ucap Nanda.


__ADS_2