Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tolong maafkan aku Nayla,,,,


__ADS_3

"Aku dan Nayla memang akan menikah Pa," ucap Devan.


Ana dan Bima Putra terkejut mendengar berita yang begitu membahagiakan ini, sudah cukup lama menginginkan Felix ikut tinggal bersama dengan mereka juga. Tampaknya kali ini semua akan terwujud dalam waktu dekat.


"Kamu serius Devan? tidak lagi halu ini?" tanya Ana.


"Iya Ma aku serius," ucap Devan.


Ana langsung tersenyum bahagia lalu memeluk tubuh Devan dengan begitu eratnya.


"Bagus besok Mama dan Papa akan ke rumah Nayla,, pokoknya harus ada pesta yang sangat meriah," ucap Ana yang masih terus mengukir senyum di bibirnya.


Tidak mampu mengatakan betapa sangat bahagia sekali dirinya saat ini. Keutuhan keluarga akan semakin besar dengan lengkapnya anggota keluarga lainnya.


################


Jam masih menunjukkan pukul tujuh tapi pagi ini Ana sudah datang ke kediaman Nayla bersama dengan Bima Putra. Apalagi tujuannya ke sana kalau bukan untuk melamar Nayla sebagai menantunya kembali, terdengar sedikit lucu mengingat Nayla sudah pernah menjadi istri anaknya bahkan sudah melahirkan satu orang putra yang begitu tampan. Akan tetapi tentunya kali ini berbeda dengan pernikahan sebelumnya, bahkan dengan cara yang lebih baik pula. Sedangkan Nayla masih bingung tujuan kedatangan Ana dan Bima Putra sepagi ini,, dirinya juga masih terlalu sibuk mengurus Felix. Tetapi sejenak harus duduk manis di kursi menerima tamunya.


"Mama sangat senang sekali akhirnya kamu dan Devan akan rujuk," ucap Ana lalu memeluk Nayla dengan cepat.


Sedangkan Nayla masih kebingungan saat mengingat perkataan Devan semalam. Tampaknya tidak main-main Devan pasti sudah mengatakan itu semua pada Ana, hingga mendatanginya pagi ini.


"Kali ini Mama mau pesta yang sangat megah dong,, biar orang-orang pada tahu kalau kamu adalah menantu Mama dan tidak ada fitnah sana-sini," ucap Ana yang membuat Nayla hanya bisa tersenyum kikuk, tapi tidak mungkin juga menghancurkan kebahagiaan Ana.


Baiklah mungkin rujuk adalah pilihan yang tepat, lagi pula dirinya juga ingin membahagiakan Felix.


"Kamu mau menikah dengan Devan kembali?" kali ini Bima Putra ikut bertanya,, ingin mendengar dan melihat reaksi Nayla seperti apa.


Nayla mengangguk kemudian dia mengajukan permintaan.


"Tapi aku mau Ayah yang menjadi wali nikahnya, aku juga masih punya ibu," ucap Nayla.


Bima Putra mengangguk mengerti, Nayla begitu menyayangi kedua orang tuanya sekalipun sudah berjauhan bahkan sudah putus hubungan. Sekalipun demikian tetaplah cinta pada kedua orang tuanya tidak pernah berubah, terutama pada ibunya. Sekalipun Nayla terlihat dingin tapi percayalah dalam setiap tarikan nafas ada wajah Ibu yang selalu dirindukan olehnya. Sekejam apapun Ibu dia tetaplah wanita mulia yang bertaruh nyawa melahirkan anaknya. Nayla bersyukur sudah dilahirkan ke dunia ini, sekalipun nasibnya berbeda dari orang lain.


"Itu harus," ucap Bima Putra.


"Nanti Mama dan Papa juga akan berkunjung ke kediaman orang tuamu," ucap Ana yang semakin antusias untuk menggelar pesta pernikahan.


"Mama mau ke kampung orang tuaku? kampungnya di pelosok loh," ucap Nayla.


"Memangnya kenapa?" ucap Ana yang terlihat santai dan tidak peduli sekalipun pelosok.


Nayla mengangguk lemah sesaat kemudian dirinya tersenyum sekalipun tidak yakin apa benar Ana nantinya mau ke kampungnya yang di pelosok itu.


Setelah Ana dan Bima Putra pulang,, kini Devan yang datang ke kediaman Nayla. Lihat saja duda tampan itu, berdiri diambang pintu seakan sedang tebar pesona pada Nayla, dengan bahagia karena akan segera menikahi Nayla wanita yang sangat dicintainya.


"Sok cool!!!" kesal Nayla.


"Biarkan saja!!!" ucap Devan sambil menyisir rambutnya ke belakang, dan mengedipkan sebelah matanya.


"Hmmm," Ibu satu anak itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelucuan Devan.


"Yuk," ucap Devan.


"Kemana?" tanya Nayla.

__ADS_1


"Ke penghulu," jawab Devan.


"Mas!" ucap Nayla.


"Ahahahah,, yuk berangkat kerja," ucap Devan.


"Tunggu dulu aku mau nitip Felix sama Reyna soalnya dia dinas malam," ucap Nayla segera berjalan menuju kamar Reyna, setelah dia menitipkan Felix,, Nayla segera keluar menemui Devan kembali.


Keduanya segera berangkat bersama menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan Devan terus saja menggoda Nayla dengan kalimat rayuan. Sekalipun recehan tapi cukup membuat terhibur.


"Sayang setelah kita cerai kamu banyak banget dekat sama cowok, pernah nggak mereka nyium kamu?" tanya Devan yang membuat Nayla langsung menatap kesal pada Devan, pertanyaan gila tersebut tiba-tiba saja meluncur keluar dari mulut Devan.


"Mas apa sih!!! apa Mas menganggap aku ini janda terus mau dipegang sana-sini?" ucap Nayla.


"Alhamdulillah,, berarti tidak ada," ucap Devan yang tersenyum lebar begitu mendengar jawaban Nayla.


Sedangkan Nayla memilih diam dan melihat ke depan saja, sampai akhirnya Devan mengerem dengan mendadak.


"Mas," ucap Nayla yang terhuyung ke depan beruntung kepalanya tidak mengenai dasbor.


"Maaf,, tapi ada yang kelupaan," ucap Devan dengan panik sehingga membuat Devan kebingungan.


"Apa?" tanya Nayla.


"Mas lupa bilang I love you," ucap Devan tersenyum sambil mengusap kepala Nayla dengan gemas.


Nayla sampai menepuk jidatnya, sudah panik habis-habisan ternyata Devan sedang mengeluarkan gombalan recehannya. Tapi tak dipungkiri bahwa Nayla semakin terpesona akan ketampanan Devan, semakin Devan tebar pesona semakin membuatnya panas dingin pula. Devan terkekeh dan kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit, memarkirkan mobilnya hingga membukakan pintu mobil untuk Nayla.


Tidak ada yang harus ditutupi lagi, setelah kejadian kemarin tentu semua sudah tahu bahwa Nayla adalah calon istri pemilik rumah sakit Stay Healthy. Kini Devan berjalan di samping Nayla,, keduanya berjalan menuju ruangan Devan. Sebenarnya Nayla risih akan hal tersebut, beberapa Dokter bahkan menatap dirinya tanpa jeda. Tetapi Devan memang seorang pria cuek dan tidak peduli pada sekelilingnya, jika Nayla mau tidak keberatan untuk menggendong sekalipun.


"Sayang kita nikah secepatnya saja yah!!" ucap Devan sambil duduk di kursinya.


"Mas apa sih? baru juga sampai di sini,, ini bukan waktunya untuk membicarakan hal pribadi," ucap Nayla.


"Sayang kamu tahu," ucap Devan.


"Apa?" tanya Nayla.


"Semalam Mas main solo.."


Nayla langsung menatap Devan dengan marah, hingga Devan terdiam. Entah sejak kapan Nayla tahu isi otak Devan hanya masalah ranjang.


"Maklumlah Bu,, namanya duda, sudah lama nggak diasah juga kan?" ucap Devan sambil cengengesan macam Rani yang menggemaskan.


Nayla memilih menunduk dan tidak peduli, lebih baik membaca data-data pasien daripada terus mendengar Devan berbicara aneh. Sungguh pria itu mesum tingkat tinggi bila sedang berdua saja dengannya,, tanpa tahu tempat dan suasana. Beda halnya saat ada orang lain, maka wajah dinginnya akan terlihat seperti harimau buas sulit dijinakkan.


"Nayla, kita nikah nanti malam yah," ucap Devan.


"Mas aku masih punya ayah, ibu juga, kalau mau menikah harus nemuin mereka terutama ayah, kalau nggak gimana nikah?" ucap Nayla sambil mendesus kesal, otak Devan bukan lagi rusak ringan melainkan sudah rusak berat.


Devan menggaruk kepalanya karena itu tentunya makan waktu juga, satu tahun bercerai dengan Nayla membuatnya sudah tidak kuasa untuk tidak memeluk Nayla. Lihat saja setelah mereka menikah nanti, Devan akan mengurung Nayla di dalam kamar. Membayarkan rasa dahaganya selama satu tahun penuh ini yang begitu menyiksa.


"Kapan kita ke rumah Ayah? besok!!!" Devan yang bertanya malah Devan juga yang menjawab karena lebih cepat lebih baik.


"Nggak gitu juga kali Mas,, pelan-pelan kan bisa," ucap Nayla.

__ADS_1


"Nurut!!! aku ini duda!!! kamu mau aku perkosa!!!" ucap Devan yang membuat mata Nayla melebar sempurna, mulut Devan sama sekali tidak bisa dijaga. Seketika dirinya menghambur keluar, melihat wajah Devan dirinya merasa horor takut apa yang dikatakan oleh Devan benar menjadi nyata. Devan pun geleng-geleng kepala padahal tidak mungkin melakukan itu lagi, kecuali khilaf.


"Hehehe," Devan tertawa melihat pintu tertutup kembali dan Nayla sudah keluar.


"Kenapa dia sangat menggemaskan," ucap Devan.


Nayla terus berjalan menuju resepsionis, ada beberapa hal yang harus dikerjakan, tapi belum sampai tiba-tiba ditabrak seseorang. Nayla meringis menahan sakit tapi pada dasarnya wanita lembut dan baik hati, dirinya meminta maaf sekalipun dia tidak salah.


"Ini nih janda yang merayu Dokter Devan, janda gatal yah kata wanita kemarin," ucap Dokter Diva tersenyum puas menghina Nayla.


"Tau nih janda,, apa yang diharapkan Dokter Devan dari dia ini," Dokter Rere menimpali sambil menatap penampilan Nayla.


"Maaf Dok permisi!!!" ucap Nayla yang memilih pergi,, takut nantinya Devan tau dan kedua Dokter itu bisa saja bernasib sama seperti Denis, kehilangan pekerjaan dengan cara tidak terhormat, bahkan bisa mencoreng nama baiknya sendiri.


Baru saja Nayla sampai di resepsionis, ponselnya sudah bergetar menunjukkan sebuah notif pesan. Nayla segera membukanya ternyata Devan yang mengirimkan dia pesan.


( cepat kembali ke ruangan Mas,, sebelum dua Dokter barusan Mas lempar ke jalanan )


Nayla bingung sejenak,, mungkinkah Devan tahu bahwa baru saja dirinya dihina oleh dua Dokter itu. Baiklah ancaman Devan sepertinya tidak main-main, lebih memilih segera kembali ke ruangan Devan daripada masalah akan menjadi lebih runyam.


( Tiga menit tidak sampai,, Mas jemput )


Segera Nayla bergegas kembali ke ruangan Devan,,, bukan karena takut pada Devan melainkan masih memikirkan nasib dua Dokter yang menghinanya barusan.


( Sayang!!! )


Tidak ada hentinya Devan mengirimkan pesan,, padahal Nayla sedang berusaha untuk kembali ke ruangan Devan dalam waktu yang sudah ditentukan. Pintu terbuka nafas Nayla terengah-engah, dan berdiri diambang pintu menatap Devan. Tapi tunggu ada dua Dokter disana.


"Terlambat tiga detik,," ucap Devan sambil menunjukkan jam tangannya pada Nayla, kemudian menatap Dokter Diva dan Dokter Rere.


"Bereskan barang-barang kalian!!! kalian di pecat!" ucap Devan.


Dokter Diva dan Dokter Rere memucat, keduanya segera menghambur menghampiri Nayla, meminta maaf dengan rasa ketakutan.


"Nayla, aku minta maaf," ucap Dokter Diva.


"Tolong maafkan aku Nayla," ucap Dokter Rere.


"Dokter jangan begini," ucap Nayla yang benar-benar tidak enak hati.


Entah kapan Devan mengetahui bahwa dua Dokter itu menghina dirinya tadi.


Padahal Devan sendiri yang melihat saat menyusul Nayla, mata dan telinganya mendengar kalimat hinaan,, hingga langsung meminta dua Dokter tersebut masuk ke ruangannya.


"Mas," ucap Nayla sambil berjalan ke arah Devan memohon agar tidak memecat kedua Dokter itu.


"Mas tidak ada hubungannya pekerjaan dan juga masalah pribadi," ucap Nayla lagi.


"Dok, kami janji tidak akan mengulanginya lagi, tolong jangan pecat kami," mohon Dokter Diva yang diangguki oleh Dokter Rere.


"Mas?" Nayla memohon agar Devan mau memaafkan.


"Baiklah karena dia yang meminta, satu kali lagi kalian mengulangi segera bereskan barang-barang kalian! cepat keluar sebelum saya berubah pikiran!! tegas Devan.


"I...iya Dok," ucap kedua Dokter itu lalu segera keluar dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2