Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Cucu ku,,


__ADS_3

"Ya dia memang anakmu, tapi kamu mengharapkan kematiannya," ucap Jessica.


Jessica belum bisa melupakan saat Alex terus mengatakan bahwa janinnya tak akan bertahan lama, dirinya yang tengah mengandung terus saja dianggap mandul sekalipun sudah jelas tengah mengandung bahkan yang lebih anehnya Alex secara tak langsung seakan tidak menginginkan anaknya sendiri, salahkah jika Jessica lebih memilih untuk tetap diam dan mengikuti keinginan Inggit dan Rara?


"Aku Ayahnya, kenapa malah mengatakan bahwa kau sudah keguguran?" ucap Alex.


"Bukankah kau tidak menginginkannya?" ucap Jessica.


Flashback on


Beberapa tahun yang lalu, saat Jessica sedang duduk bersantai menikmati indahnya sore hari di halaman rumah, tiba-tiba meringis kesakitan, tangannya mencengkeram erat perutnya, rasa sakit luar biasa seakan siap untuk menghabisinya saat itu juga, secepat mungkin Rara melarikan menuju rumah sakit terdekat, Dokter mengatakan bahwa janin Jessica berbahaya dan harus diangkat dengan segera apalagi pendarahan yang tak kunjung berhenti semakin menuntut keadaan yang sulit, Jessica menolak dan tak ingin janinnya diangkat, seberapa kuatnya pun Rara memohon Jessica tetap pada pendirian utamanya.


Tidak ingin kehilangan janinnya!


Mempertahankan anaknya!


Sampai akhirnya satu jam kemudian keadaan Jessica pun mulai membaik, seiring pendarahan yang sudah berhenti, Rara menghubungi Puput dan mengatakan bahwa Jessica sudah keguguran menurutnya saat itu Alex tak berhak lagi atas Jessica.


Jessica berjuang sendiri bahkan Alex tak berusaha menemui adiknya, Rara tentu kecewa sebagai seorang kakak dan wanita yang merasakan penderitaan sang adik, jika mungkin Alex terlahir dari keluarga menengah ke bawah masih bisa dimaklumi dengan alasan ekonomi nyatanya Alex adalah anak seorang pengusaha dan memiliki karir yang cemerlang dan kesimpulannya adalah Alex tidak peduli sama sekali pada istrinya.


"Kenapa Kakak bilang aku keguguran?" tanya Jessica.


"Untuk apa dia tahu juga sama sekali tidak berguna, dia hanya pandai membuat anak tapi tidak dengan bertanggung jawab," ucap Rara.


Jessica pun terdiam tanpa bicara, lagi pula hanya ada Rara untuknya sampai detik ini pun Alex tak pernah berusaha untuk menemuinya dan memohon maaf demi anak mereka.


Berharap?


Sedikit banyaknya Jessica berharap Alex menyesali perbuatannya, tetapi sampai saat ini pun sama sekali tidak ada lantas apakah mungkin Jessica kembali dan memohon pada Alex untuk dikasihani?


Tidak mungkin!


Cukup sudah segalanya!!!


Flashback off


Jessica tersadar dari lamunannya, kembali membalas tatapan Alex yang mengarah padanya.


"Tapi dia anak ku Jessica, aku Ayahnya dan dia harus tahu," jelas Alex mengutarakan keinginannya.


"Ibu Jessica putri anda sudah sadar dan dia memanggil anda," kata Dokter yang menangani Cahaya.


Jessica menatap Dokter itu mengusap air matanya dan tersenyum bahagia, anaknya sudah sadar artinya keadaannya sudah lebih baik.


Benarkah?


"Iya silahkan masuk, tapi mohon secara bergantian" ucap Dokter itu lagi.


Jessica mengangguk dengan tangan memegang bajunya tak kuasa melihat keadaan Cahaya.

__ADS_1


Mata cahaya terbuka menatapnya dengan perlahan, Jessica mencium kening anaknya penuh kasih sayang.


"Aya mau minum?" Jessica berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sedihnya demi anaknya agar bisa kuat dalam menghadapi setiap tantangan ini.


Kecil sekali bocah itu sudah merasakan kesakitan seperti ini.


Cahaya menggelang lemah, dirinya ingin dipeluk oleh Jessica, itu saja!


"Badan Aya sakit, Ma," keluh Cahaya.


"Iya sayang sabar yah, itu tandanya Cahaya sebentar lagi akan besar," lagi-lagi Jessica mengarang cerita demi kesembuhan putrinya.


Selama ini putrinya yang cerewet dan ceria itu tidak pernah murung dan bersedih, kini berbeda sekali.


"Ma," Cahaya menunjuk seseorang yang berdiri cukup jauh darinya.


Hati Alex seperti tercabik-cabik, sakit hingga ke ulu hati saat anaknya sendiri tidak mengenali dirinya sebagai seorang Ayah, ini pedihnya luar biasa, luka tidak berdarah jauh lebih menyiksa daripada luka tergores pada kulit.


Anaknya sendiri memanggilnya dengan sebutan 'Om' Alex tersenyum getir merutuki kebodohannya selama ini, Jessica menarik nafas dengan panjang, berat sekali bibirnya mengatakan kebenaran bahwa itu adalah Ayah anaknya sendiri.


"Om" panggilan itu kembali keluar dari bibir Cahaya.


Walaupun suaranya lemah tapi tetap berusaha memanggil Alex, dua kali sudah Cahaya menyebutnya sebagai orang lain, kali ini Alex tak bisa lagi berada di tempatnya.


Dengan langkah kaki cepat, Alex pun keluar dari ruangan Cahaya, dirinya benar-benar tidak sanggup bernapas saat ini.


Sampai di ruangannya, Alex mengacak rambutnya, mengusap dada yang begitu menyesakkan.


Tak pernah melihat putranya serapuh ini hingga mengundang tanya.


Segera tangannya meletakkan rantang di meja dengan langkah kaki perlahan mendekati Alex, tangisan Alex makin menjadi-jadi panggilan Cahaya terhadapnya sungguh bagaikan sebuah belati yang menikam dada.


"Alex katakan, ada apa?" tanya Puput sambil berjongkok mengimbangi anaknya.


Alex memeluk Puput dengan cepat, menangis tersedu-sedu dipelukan sang Mama seakan kembali menjadi anak kecil yang cengeng.


"Alex?"


Perasaan Puput semakin khawatir melihat keadaan anaknya sebelum Alex menjawab, Puput tidak akan pernah bisa tenang tanpa bertanya.


"Coba jelaskan pada Mama, ada apa?" tanya Puput.


"Jessica..." belum pun menjelaskan, Alex kembali menangis tanpa henti, pertama kalinya dirinya menangis seperti orang gila.


"Jessica?" lama sekali nama itu tidak terdengar sehingga membuat Puput penasaran bukan main.


Apa yang terjadi pada Jessica? mungkinkah ada hal buruk yang menimpanya?


"Alex coba bicara yang benar," ucap Puput.

__ADS_1


"Aku punya anak Ma, Jessica tidak keguguran waktu itu," ucap Alex.


Degh!!!


Dada bergemuruh hebat, jantung ingin keluar dari tempatnya mendengar pernyataan Alex yang sungguh luar biasa.


"Maksud kamu Jessica bohong kalau dia keguguran beberapa tahun lalu dan sekarang berarti?"


Alex mengangguk cepat, membenarkan apa yang disimpulkan oleh Puput.


Puput menutup mulutnya yang menganga, ini sungguh luar biasa, bom waktu yang meledak menghancurkan kedahsyatan lainnya.


"Anak ku perempuan Ma, namanya Cahaya, dia sudah berusia empat tahun dan sedang dirawat di sini akibat kecelakaan," jelas Alex lagi.


"Di sini? cucu Mama dirawat di sini?" lagi-lagi Puput mengulangi pernyataan Alex.


Saat Alex mengangguk, Puput segera berdiri dan mencari keberadaan Jessica, ingin melihat wajah cucunya dengan tidak sabaran.


Saat sampai di depan pintu ruangan, Puput ingin segera masuk sayangnya Inggit tak mengizinkan sama sekali.


"Ada apa kamu ke sini?" tatapan penuh dendam masih terlihat di wajah Inggit.


Sampai saat ini pun dirinya belum pernah bisa berdamai dengan keadaan, menurutnya keluarga Alex sudah tak berhak atas Cahaya.


"Aku ingin melihat cucuku," pinta Puput penuh harap.


"Dia bukan cucumu, Ayahnya memang anakmu tapi anakmu sama sekali tidak menjalankan kewajibannya sebagaimana seorang suami sekaligus seorang Ayah untuk anaknya, jika saat ini anakmu sudah mendonorkan darah untuk Cahaya dan kamu menganggap itu sebagai bentuk kasih sayang seorang Ayah terhadap anaknya, salah! anak ku sudah lebih dulu kehilangan banyak darah untuk memperjuangkan anaknya," ucap Inggit.


"Aku mohon Mbak, biarkan aku bertemu cucu ku, aku ingin melihatnya," ucap Puput.


Puput sangat tidak sabar ingin melihat wajah cucunya, sungguh tidak menyangka jika dirinya sudah menjadi seorang nenek.


"Pergi dari sini! lagi pula Cahaya pun pasti akan membenci Ayahnya dan keluarga Ayahnya, jika dia tahu saat berada dalam rahim ibunya sama sekali tidak diinginkan!" ucap Inggit.


"Tidak! aku menginginkannya," ucap Puput.


"Satpam bawa dia pergi dari sini, jangan sampai dia masuk ke ruangan cucuku," ucap Inggit.


"Biarkan dia masuk," ucap Jessica.


Inggit dan Puput sama-sama menatap ke arah pintu terbuka, Jessica berdiri diambang pintu.


"Biarkan dia masuk," Jessica kembali mengulangi kata-katanya.


"Jessica?" Inggit tidak setuju dengan keinginan Jessica, menurutnya apapun yang terjadi kini tidak ada hak keluarga Alex terhadap Cahaya.


"Dia neneknya Cahaya Ma, lagi pula Mama Puput tidak bersalah, jangan menghukum orang yang tidak bersalah," ucap Jessica.


"Mama benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu, sudah jelas mereka semua tidak ada yang baik, kenapa kamu malah baik pada mereka," Inggit benar-benar kesal bukan kepalang.

__ADS_1


"Jessica terima kasih, kamu memang wanita sangat baik," Puput mengusap punggung Jessica kemudian perlahan melihat anak kecil yang terbaring lemah di atas brankar.


"Cucu ku,"


__ADS_2