
Betapa hati Nayla begitu bahagia setelah mengetahui jenis kelamin cabang bayi yang baru berusia enam belas minggu itu.
Dirinya terus saja tersenyum bahagia saat Devan mengatakan bahwa jenis kelamin calon anaknya perempuan.
"Mas, nanti kalau anaknya sudah lahir mau dikasih nama siapa?" Terlalu bahagia membuatnya benar-benar tidak sabaran.
"Sabar sayang, nanti kalau sudah lahir dulu. Baru kita buatkan nama yang paling indah dan paling baik," Devan mengusap perut Nayla yang kini sudah jelas terlihat.
Tidak lama berselang Felix dan Adnan pun menyusul masuk, keduanya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Reyna bersama dengan Ana.
Apa lagi Felix yang sangat dekat dengan Reyna, mengingat mereka sudah memiliki kedekatan sejak Felix baru saja dilahirkan.
"Anak Bunda, Oma di mana?" Nayla tersenyum melihat kedatangan kedua anaknya.
"Oma, lagi cerita sama Oma Arni dan Oma Puput di ruangan Tante Reyna, barusan Bunda," jawab Felix.
"Terus, kenapa ke sini?" Devan ikut bertanya, melihat tidak baik kedua anaknya masuk ke tempatnya bekerja sebab terlalu kecil untuk mengetahui tentang orang dewasa, di mana semua pasien Devan adalah wanita hamil.
"Tadi aku bosan, terus jalan-jalan tapi taunya di depan tempat praktek Ayah. Terus kita masuk deh," jelas Felix.
"Yah, kok pasien Ayah Ibu-ibu kekenyangan semua?" Kali ini Adnan yang bertanya.
Semenjak dulu sebenarnya dirinya sudah kebingungan dan penasaran saat melihat pasien Devan dengan perut buncitnya.
"Kekenyangan?" Nayla malah dibuat bingung dengan pertanyaan anak bungsunya.
"He'um, semua pasien Ayah, Ibu-ibu perut besar," kali ini Felix ikut menimpanya, sebenarnya dirinya juga ikut penasaran hanya saja tidak pernah bertanya secara langsung.
Glek! Nayla meneguk saliva sambil menggaruk dahinya, mendengar pertanyaan anaknya dengan rasa ingin tahu yang tinggi malah membuat kepalanya ingin pecah saja.
"Mas?" Nayla tidak tahu harus menjawab apa, mungkin Devan bisa menjawabnya dengan bahasa ringan dan tidak lagi menimbulkan pertanyaan selanjutnya.
__ADS_1
Jika urusan orang dewasa tentu Devan mudah mengatasinya, tetapi urusan anak kecil dirinya juga kadang kala kehabisan akal.
"Apa mereka semua rakus ya Kak?" Kini Adnan bertanya kepada Felix, dengan mata yang tertuju pada Nayla.
"Kok, ngeliat Bunda begitu?" Nayla tidak tahu entah apa yang dipikirkan kedua anaknya, mungkinkah hal berbau dewasa?
Nayla bisa pusing tujuh keliling jika sudah menyangkut jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kedua anaknya dengan level kecerdasan yang begitu tinggi.
"Bunda, kenapa Bunda juga sama seperti Ibu-ibu yang mengantri di luar? Apa Bunda juga kekenyangan akhirnya perutnya besar?" Tanya Adnan lagi dengan polosnya.
Nayla ingin berteriak menjerit sekencangnya saat ini juga.
"Nanti kalau sudah besar Adnan dan Felix akan tahu, sekarang sekolah dulu biar jadi Dokter seperti Ayah," Devan ingin mengakhiri pertanyaan kedua anaknya, sehingga memilih untuk menjawab dengan sederhana, mudah di pahami.
"Nggak ah, aku nggak mau dapat pasien Ibu-ibu aneh," Adnan merinding mengintip ibu-ibu yang mengantri dan siap memeriksa kandungan mereka pada Devan.
"Kenapa? Ibu-ibu nya cantik kok," kali ini Felix tersenyum sambil menyisir rambutnya seakan sedang tebar pesona.
"Sudah-sudah, sekarang Adnan dan Felix kembali ke ruangan Tante Reyna. Ayah sedang banyak pasien!" Devan tidak ingin semakin dibuat pusing, sehingga memilih meminta kedua anaknya untuk keluar dari ruangannya.
"Siapa yang mau lama-lama di sini? aku nggak suka juga lihat ibu-ibu dengan perut besar semua, nggak ada yang langsing, seksi, kaya Bu guru di sekolah," papar Adnan dengan senyuman bahagia.
"Mas?" Nayla menepuk dahinya, sepertinya kedua anaknya tidak ada yang beres.
"Bisa tidak mereka aku telan dan setelah mereka lebih baik aku keluarkan lagi? Aku pusing," Nayla memegang pinggangnya, bukan cuma letih karena terlalu lama berdiri, tetapi lelah pikiran melihat wajah anaknya dengan perkataan yang aneh.
Devan tersenyum mendengar kekesalan Nayla.
"Mereka hanya anak-anak, tidak usah di ambil pusing," Devan mengusap punggung istrinya hingga beberapa kali mungkin bisa membuat perasaan sedikit lega.
"Tapi apa yang mereka katakan sudah melebihi orang dewasa, sepertinya guru yang bernama Kiki itu harus di keluarkan dari sekolah. Atau suruh dia memperbaiki pakaiannya. Kesal sekali!"
__ADS_1
"Hehe," Devan mengerti tentang kekhawatiran Nayla, seorang Ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.
"Sekarang kita pulang saja, jangan banyak bertanya!" Nayla pun memberikan peringatan, sebab sudah pasti kedua anaknya akan melihat ibu-ibu kekenyangan dengan perut buncitnya yang mengantri di depan ruangan.
Keduanya mengangguk cepat, entah benar tidak akan bertanya ataupun berkomentar. Tetapi, paling tidak bisa membuat Nayla sedikit lega.
"Mas, aku pulang duluan. Aku capek dan ingin istirahat di rumah, lebih baik juga mengantarkan anak-anak pulang."
"Iya sayang, hati-hati," Devan mengacak rambut istrinya penuh cinta.
Keluar dari ruang praktek Devan dengan kedua anaknya yang berjalan terlebih dahulu, awalnya tidak ada yang aneh sampai akhirnya Adnan dan Felix melihat seorang wanita gemuk dan perut yang membuncit.
"Ibu itu makannya apa sih?" Adnan merasa horor menatap wanita yang mungkin sudah hamil sembilan bulan.
"Kanibal kayaknya," jawab Felix dengan polosnya.
"Kayaknya kebanyakkan di kasih vitamin" Adnan menghentikan langkah kakinya hingga membuat Felix dan Nayla pun ikut berhenti sejenak melangkah.
"Ada apa lagi?" Tanya Nayla.
"Aku nggak mau minum susu sama vitamin lagi!!!
"Kenapa?"
"Nanti gemuk seperti ibu itu!" Adnan menunjuk salah satu dari pasien Devan dengan tubuh gemuk dan perut buncitnya.
Ah! Nayla mengusap wajahnya, bagaimana cara menjelaskan pada Adnan bahwa vitamin penyebab ibu-ibu dengan perut buncit itu berbeda dengan vitamin milik Adnan.
"Dua anak saja aku sudah hampir gila," Nayla mengusap lembut perutnya sambil berdoa semoga anak ketiganya tidak seperti kedua Kakaknya yang membuat Nayla pusing tujuh keliling.
"Bunda, kok ngelamun?"
__ADS_1
Akhirnya Nayla tersadar dan kembali melangkah menuju parkiran mobil, pulang lebih dulu membawa anak-anaknya agar tidak ada yang membuat ulah lagi atau pun melayangkan pertanyaan yang semakin membuat kepalanya hampir pecah memikirkan jawaban yang tepat.