
"Dimana aku harus pulang Tuan Devan? tidak ada yang mau menerima ku,, tidak ada yang mau menopang tubuh lelah ku,, tidak ada yang mau mendengarkan keluh kesah ku,, tidak ada yang mengerti dengan keadaan ku saat ini,, semua orang hanya memandang ku sebelah mata,," ucap Nayla tertunduk pilu dengan luka hati yang begitu dalam.
Cinta pun tidak mampu menopang dirinya memberikan sandaran pada luka hati yang dirasakannya saat ini.
Dimanakah kebahagiaan untuk Nayla yang sampai saat ini belum juga dirasakannya?
Kapan dirinya bisa merasakan manis madunya dicintai,, di pertahankan,, di perjuangkan,, sampai saat ini yang terjadi pada dirinya malah kebalikan.
Tangan lembut Nayla mengusap wajahnya,, berusaha untuk menguatkan dirinya dari segala yang terjadi.
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan mu Tuan Devan,, tadi kamu menghina diriku dan sekarang kamu malah menghajar mereka,, padahal aku hanya ingin membuktikan ucapan mu," ucap Nayla lagi dengan suara lemah,, putus asa,, dan sangat terluka.
"Jawab aku mengapa tadi kamu menghajar mereka!!" ucap Nayla dengan diiringi isak tangis yang sangat pilu.
"Nayla cukup, lebih baik kita pergi dari sini,, udara di luar sangat dingin,, ini tidak baik untuk kandungan mu,," ucap Devan sambil memegang lengan Nayla berusaha menahan tubuh rapuh itu yang sedang menangis dengan penuh luka.
Devan jelas-jelas melihat wajah pucat Nayla dengan kondisi tubuh yang semakin lemah.
"Biarkan saja aku disini,, aku mau dimana pun tidak ada sangkut pautnya dengan anda!! lebih baik anda mengurus istri yang sangat anda cintai itu agar dia tidak mengetahui tentang ini semua,," ucap Nayla lagi.
"Cukup Nayla!!!," ucap Devan.
Nayla terus menepis tangan Devan yang ingin memegang lengannya.
"Tinggalkan aku sendiri,, aku tidak ingin pergi bersama mu!!!," teriak Nayla dengan hati yang terluka.
"Nayla udara disini sangat tidak baik untuk kandungan mu,, dan ini sudah hampir larut,," ucap Devan lagi yang terus mencoba membujuk Nayla meskipun Nayla terus menolak Devan entah untuk yang keberapa kalinya.
Nayla tidak perduli sama sekali,, Nayla hanya diam dengan hati yang penuh luka dan entah kapan luka itu bisa sembuh. Kata-kata Devan yang menyebutnya sebagai wanita murahan masih saja terngiang-ngiang dipikiran Nayla.
Apa alasan Devan menyebut dirinya wanita murahan?
Bukankah Devan sendiri yang mengambil paksa keperawanan nya? setelah merampas paksa,, Devan menikahi kekasihnya,, lalu siapa yang membersihkan kamar itu dipagi hari?
Siapa orang yang mendekorasi kamar pengantin itu dipagi hari?
__ADS_1
Siapa yang mencuci sprei putih dengan noda darah dipagi hari?
Siapa?
Nayla!!!
Nayla sendiri yang melakukan itu semua disaat luka yang begitu perih dirasakan Nayla, kaki lemahnya masih berusaha menopang tubuhnya.
Nayla menyaksikan sendiri ranjang panas yang semalam tidak berbelas kasih padanya sedikit pun,, lalu mengapa saat ini dirinya masih disebut wanita murahan?
Sungguh menyakitkan untuk Nayla.
"Nayla,, aku mohon jangan seperti ini," ucap Devan sambil memegang lengan Nayla lagi.
"Tuan Devan,, apa kamu yakin ini anakmu?" ucap Nayla.
Pertanyaan itu sungguh menyakitkan untuk Nayla,, tetapi Nayla ingin mendengar jawaban dari Devan.
Degh!!!
"Jawab kenapa kau diam saja? apa kau yakin ini anakmu yang aku kandung?" tanya Nayla lagi yang menginginkan jawaban dari Devan meskipun pertanyaannya itu sangat menyakitkan dirinya sendiri.
Nayla langsung tersenyum miring begitu melihat Devan yang hanya diam saja,, Nayla tidak tau apa yang dipikirkan Devan saat ini,, tapi Nayla sudah menduga bahwa ada kemungkinan Devan meragukan anaknya sendiri.
"Aku tidak akan ada di hidupmu lagi Tuan Devan," ucap Nayla.
"Nayla, aku mohon jangan seperti ini,," ucap Devan dengan hati yang bingung saat ini.
Tiba-tiba Nayla melihat ke bawah,, Nayla merasa ada cairan yang mengalir di sela kakinya.
Darah!!!
Ada darah yang terus mengalir di sela kakinya.
Devan langsung mengikuti arah pandangan mata Nayla,, sekalipun hanya diterangi dengan cahaya bulan saja tapi Devan tau ada cairan yang mengalir di sela kaki Nayla.
__ADS_1
"Nayla!!!" ucap Devan dengan ekspresi wajah yang sangat panik bukan kepalang.
Ekspresi Nayla berbeda dengan Devan,, Nayla tersenyum sambil melihat darah yang terus mengalir di sela kakinya.
"Kita akan segera berakhir Tuan Devan!! sekarang tidak ada lagi alasan untuk kita tetap bersama," ucap Nayla dengan senyum dan juga wajah yang semakin pucat.
Devan sangat ingin menolong Nayla,, tapi lagi-lagi Nayla menepis tangan Devan begitu Devan ingin memegangnya.
Perlahan kaki Nayla berjalan ke belakang menjauhi Devan,, namun tiba-tiba Nayla terduduk di tanah,, karena Nayla tidak sanggup lagi menopang tubuhnya.
Kesadaran Nayla sudah mulai berkurang,, namun Nayla berusaha keras untuk tetap sadar.
Devan segera berjongkok ingin menolong Nayla,, Devan ingin membawa Nayla ke puskesmas terdekat yang ada disini,, tapi lagi-lagi Nayla menolak pertolongan dari Devan.
"Biarkan aku mati disini membawa anakku,, wanita murahan seperti ku tidak pantas ada di dunia yang kejam ini,," ucap Nayla lagi.
"Nayla aku mohon,, ikut dengan ku," ucap Devan yang lagi-lagi ingin membujuk Nayla agar mau ikut dengannya.
"Untuk apa kau memohon Tuan Devan,, biarkan saja aku mati disini bersama dengan janinku, kau akan hidup bahagia setelah aku mati,, dan aku juga bisa pergi bersama anakku,," ucap Nayla,, saat ini Nayla berbicara seperti orang yang tidak waras karena sudah putus asa dengan hidup yang dijalaninya.
Devan benar-benar bingung harus melakukan apa,, tapi saat ini keadaan istri keduanya benar-benar sangat mengkhawatirkan,, Nayla terlihat keringat dingin dan juga sangat pucat. Nayla tampak sedang menahan rasa sakitnya yang luar biasa.
Sesekali manik mata indah itu bergerak seiringan dengan air mata yang keluar,, meresapi rasa sakit yang semakin tidak terkendali.
Kedua tangannya memegang perutnya erat-erat dengan pandangan mata terus melihat darah yang mengalir tanpa henti,, sesekali Nayla menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakannya.
Semua seakan kembali berputar di otak Nayla,, Devan yang merenggut paksa keperawanannya,, hingga dirinya hamil dan kemudian Devan menikahinya secara siri.
Sampai pada akhirnya Devan memperlakukan dirinya seperti seorang istri yang dicintai tapi malam ini Devan juga menyebut dirinya sebagai wanita murahan.
Nayla ingin teriak sekencang mungkin untuk meluapkan segala kekesalan yang dia rasakan,,, malam tak berbelas kasih ini dengan janin yang ada di rahimnya.
Karena malam itu,, Nayla tidak dapat menikah dengan kekasihnya,, Nayla masuk ke dalam pernikahan tanpa pengakuan ini.
Dan karena malam itu juga Nayla mendapatkan gelar dari Devan sebagai wanita murahan.
__ADS_1
Sungguh sakit!!!