
Devan memeluk Nayla dengan rasa haru untuk kedua kalinya merasa kecewa pada dirinya sendiri, bahkan di saat sudah berusaha untuk menjadi suami terbaik malah istrinya tetap harus melahirkan secara prematur, sejak kembali dirinya terus memeluk Nayla hatinya masih berkecamuk.
"Mas aku nggak apa-apa," Nayla menunjukkan dirinya yang sudah lebih baik, walaupun masih lemah dan sedikit sulit bergerak.
Paling tidak dirinya sudah baik-baik saja, tanpa ada yang perlu dikhawatirkan.
"Mas minta maaf nggak nyangka kamu bisa lahiran prematur untuk kali ini pun, kamu terlalu stres yah?" Devan menciumi kening Nayla hingga berulang kali memohon maaf atas kesalahannya.
"Mas aku nggak apa-apa, anak kita juga nggak apa-apa," lagi-lagi Nayla bersuara untuk menyakinkan Devan.
"Nama anak kalian mau dikasih nama siapa?" tanya Ana.
Devan dan Nayla pun beralih melihat Ana, keduanya sampai lupa akan hal tersebut.
"Mas mau ngasih nama siapa?" tanya Nayla.
"Belum kepikiran sayang, Mas belum dapat nama yang cocok," Devan tidak masalah siapapun yang memberikan nama untuk anaknya asalkan baik menurutnya tidak masalah.
"Aku juga belum punya calon nama Ma," ucap Nayla.
"Oh begitu," Ana terdiam sambil memikirkan nama yang paling bagus menurutnya untuk cucunya.
"Hay," Reyna langsung masuk berjalan mendekati Nayla, sedangkan Nanda berdiri beberapa jarak di belakangnya.
Nayla tersenyum melihat kedatangan dua sahabatnya dalam hati bahagia sebab sudah bisa menyaksikan keduanya bahagia.
"Selamat ayang aku," Reyna memeluk Nayla dengan erat, bahkan lupa kalau sahabatnya belum sembuh pasca operasi sesar.
"Reyna sakit," rintih Nayla.
"Maaf," segera Reyna menjauh menyadari kesalahannya.
"Nggak apa-apa," ucap Nayla.
"Selamat dan selamat," Nanda pun ikut mengucapkan kata bahagia itu, keduanya bersahabat sudah sejak sekolah. Kalah jauh dengan Reyna sehingga tak pantas jika ada yang cemburu untuk kedekatan keduanya.
"Terima kasih, nggak nyangka ternyata kita bisa dekat sampai sekarang," jawab Nayla penuh haru.
"Terus Reyna sama Nanda kapan?" seloroh Ana mengingat pernikahan keduanya sudah berjalan beberapa bulan.
"Dalam proses Tante, sabar!" jawab Nanda.
Wajah Reyna memerah mendengar jawaban Nanda, menurutnya jawaban itu cukup sederhana tapi mampu memacu adrenalin sungguh luar biasa.
"Ada yang malu-malu meong nih," Ana tersenyum bahagia melihat wajah Reyna yang tersipu malu.
"Kamu apaan sih!" tangan Reyna mencubit perut Nanda, walaupun cukup sulit, tetapi hatinya begitu berbunga-bunga saat ini jika saja tak ada orang mungkin dirinya akan naik di atap gedung dan mencakar atap gedung, sebab terlalu berbunga-bunga.
"Kan memang begitu," papar Nanda.
__ADS_1
"Sudah, sudah jangan diteruskan, nanti ada yang melayang," seloroh Ana dan menggerakkan kedua alis matanya.
"Em!"
Sampai di sini pun Reyna sudah tak kuat, entah apa masalahnya hingga hati berbunga-bunga saat musim kemarau panjang begini.
"Tante apaan sih," ucap Reyna.
"Ih malu-malu," kata Nanda.
Reyna menutup wajahnya, rasanya sudah tak kuat mendengar godaan di sekitarnya.
"Hahaha," semuanya tertawa melihat kekonyolan Reyna, kecuali Devan yang hanya diam saja seakan tak ada yang lucu.
"Sayang kamu belum boleh tertawa," Devan memperingati istrinya.
Nayla pun diam dan tak lagi tertawa, tak ingin semakin membuat suaminya menjadi khawatir, saat tawa yang tengah menggelegar di ruangan Nayla tiba-tiba pintu kembali terbuka, Alex masuk membuat suara tawa seketika senyap.
"Selamat malam! maaf mengganggu," perlahan Alex masuk dan kembali menutup pintu.
"Alex, terima kasih sudah melakukan tindakan untuk menyelamatkan menantu dan cucu saya," kata Ana tersenyum ramah.
Alex mengangguk.
"Itu memang tugas saya sebagai Dokter, Tante tidak perlu berterima kasih," jawab Alex tidak enak.
"Nah karyawan aja belagu!" Reyna ikut menimpali tak lupa dengan senyum miringnya.
"Devan bisa bicara sebentar, aku mohon," pinta Alex.
"Di sini saja, aku tidak bisa meninggalkan istriku di sini," ucap Devan.
"Loh, kok kamu panik banget?" Ana melihat raut wajah Alex yang lelah dan putus asa hingga menimbulkan tanda tanya besar.
"Ada apa?" tanya Ana.
"Bicara di sini saja, kita semua keluarga," jelas Devan baginya Alex adalah penolong bagi istri dan anaknya.
Dengan sejenak menimbang akhirnya Alex pun memutuskan untuk mengangguk.
"Apa benar kamu melihat Jessica barusan?" tanya Alex.
Semua mata tercengang mendengar pertanyaan Alex, seakan mereka semua butuh penjelasan yang lebih dari itu.
"Karena saat aku ke tempat itu tidak menemukan dia," lanjut Alex lagi.
Aku tidak tahu pasti, tapi aku memang melihatnya, entah benar itu Jessica atau bukan," Devan pun ragu dengan apa yang dikatakannya.
"Mas lihat Jessica di mana?" Nayla ikut bertanya karena penasaran dirinya ingin bertemu wanita berhati baik yang sudah melepaskan Devan untuknya.
__ADS_1
Rasanya Nayla tidak mungkin bisa melupakan kebaikan itu, sekalipun Jessica pernah berusaha jahat tapi percayalah itu semua karena kecemburuan, selebihnya Jessica adalah wanita baik, berhati malaikat tanpa dendam.
"Iya waktu itu aku ikut mengawal jasad Papanya saat akan dimakamkan," jelas Nanda.
Semua semakin terkejut Nanda malah memberikan informasi tentang Jessica.
"Maksudnya?" Alex berpindah bertanya kepada Nanda.
"Beberapa hari ke belakang," ucap Nanda.
"Kamu tahu Jessica di sini tapi nggak bilang ke kami?" Reyna geleng-geleng kepala mendengar penjelasan suaminya.
"Waktu itu saya mendampingi bapak Kapolres untuk menghadiri acara pemakaman sahabatnya dan ternyata itu adalah orang tua Jessica, bapaknya meninggal dunia," jawab Nanda.
"Mungkin Jessica benar di Jakarta, dia kembali karena Papanya meninggal," Nayla menyimpulkan apa yang ada di pikirannya walaupun masih terlalu abu-abu.
"Bisa jadi sekarang dia ada di rumahnya, kenapa kamu tidak ke rumahnya saja," usul Ana yang langsung diangguki oleh Alex sendiri.
"Ngapain? telat! kalian udah cerai hampir satu abad, dari kemarin-kemarin ke mana aja?" ejek Reyna.
Menurut Reyna sudah basi rencana permintaan maaf Alex, jika butuh maaf kenapa tidak awal kepergian Jessica?
"Pasti sekarang Jessica udah bahagia sama laki-laki baik dan bertanggung jawab," Reyna menekankan kata-katanya agar Alex mengerti.
Alex tahu dirinya memang salah, tapi dirinya harus tahu apakah benar Jessica masih mengandung anaknya atau mungkin Jessica sudah menikah lagi dan mengandung anak laki-laki lain.
Bagaimana jika ternyata itu anaknya?
Alex tentu bisa dibuat gila, ini sungguh di luar akal sehatnya!
"Aku permisi," Alex memilih segera menuju kediaman Jessica untuk memastikan apakah Jessica hamil anaknya.
Rasanya tidak mungkin Jessica sudah menikah lagi, mungkinkah Jessica bisa membangun rumah tangga yang baru gagal membina rumah tangga untuk dua kali berturut-turut? tidak ada pertimbangan yang matang terlebih dahulu? tetapi bukan itu saja yang kini di pikiran Alex, ada hal lain yang lebih besar hingga sepanjang perjalanan menuju rumah Jessica dirinya terus berdebat dengan pikirannya sendiri.
Bagaimana jika benar Jessica masih mengandung anaknya?
Bagaimana tanggapan Jessica saat dirinya datang untuk bertemu setelah usia kandungan sudah sembilan bulan?
Apakah Jessica akan mengizinkan dirinya untuk melihat wajah anaknya setelah lahir nanti?
Ataukah akan ada laki-laki lain yang dipanggil Ayah sedangkan itu anaknya?
Mungkinkah anaknya tak mengetahui bahwa Alex adalah Ayah kandungnya?
Tidak!
Citt...
Alex berhenti mendadak di tengah jalanan sejenak membenturkan kepalanya pada setir mobil mengacak rambutnya dengan isi kepalanya ingin meledak, peluh bercucuran membasahi tubuh rasa takut kini sungguh luar biasa hingga bisa membuatnya mati secara perlahan.
__ADS_1
"Jessica maafkan aku," ucap Alex.
Alex kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman Jessica sekalipun sudah larut malam.