
Suara ponsel Jessica terus berdering, hingga dirinya yang terlelap dalam tidur merasa terusik. Matanya masih terlalu mengantuk apa lagi pelukan Alex yang begitu hangat semakin membuatnya enggan untuk bangun. Akan tetapi suara ponselnya terus saja terdengar, dengan setengah kesadaran Jessica pun mengambil ponselnya di atas meja nakas dan menerima panggilan tersebut.
"Halo," jawab Jessica dengan suara khas bangun tidur.
"Jessica, keadaan Mama kritis. Mama di larikan ke rumah sakit subuh tadi, sekarang kamu ke rumah sakit. Kakak sedang di bandara dan sebentar lagi akan berangkat ke Indonesia," kata Rara dari seberang sana.
Jessica pun seketika kehilangan kantuknya, shock mendudukkan tubuhnya dengan selimut putih yang menutupi tubuh polos nya. Alex pun ikut terbangun saat merasakan gerakan cepat dari Jessica, melihat raut wajah yang tidak biasa membuatnya menjadi bertanya-tanya.
"Kakak, tahu dari mana?" Tanya Jessica belum percaya dengan berita yang di sampaikan oleh Rara, Kakak sulungnya.
"Barusan, orang Mama menghubungi aku. Tolong kamu lupakan apapun masalah kamu dan Mama. Bagaimana pun kita tetap anaknya, Kakak mohon kamu ke rumah sakit sekarang," pinta Rara dengan penuh ketakutan, dirinya juga sedang was-was takut keadaan Inggit semakin memburuk.
"Ya, kalau begitu aku segera ke rumah sakit," dengan segera Jessica pun memutuskan panggilan sepihak, kemudian segera turun dari ranjang dengan terburu-buru menuju kamar mandi.
"Jessica, ada apa?" Tanya Alex penasaran, melihat kepanikan Jessica yang begitu luar biasa.
Sejenak Jessica menghentikan langkah kakinya yang sudah berdiri diambang pintu kamar mandi, beralih menatap Alex yang sudah duduk di atas ranjang.
"Mama di rumah sakit, tolong antarkan bisa?" Tanya Jessica.
Alex pun mengangguk, kemudian Jessica masuk ke dalam kamar mandi secepat mungkin untuk membersihkan diri setelah semalam bercinta dengan Alex membuat tubuhnya harus dibersihkan.
Selesai membersihkan diri, keduanya segera menuju rumah sakit. Di mana Inggit kini tengah dirawat.
Sesampainya di rumah sakit Jessica langsung menerobos masuk ke dalam ruang rawat inap Inggit.
__ADS_1
Memeluk Inggit dengan erat dan ketakutan melihat keadaan sang Mama. Mata Inggit masih bisa melihat Jessica, walaupun hanya dengan pandangan buram.
"Ma, maafin aku," kata Jessica dengan suara bergetar, tidak ingin Inggit malah mengusirnya keluar dan tidak lagi mau di jenguk oleh Jessica.
Namun, tidak. Inggit hanya diam saat Jessica memeluknya, seperti apapun yang terjadi tidak akan melunturkan cinta seorang Ibu terhadap anaknya.
"Apa Mama begini karena aku?" Tanya Jessica lagi, mengingat Inggit sangat menyayangi Cahaya.
Apa lagi setelah kembali pada Alex tidak lagi pernah membawa Cahaya menemui Inggit.
"Ma, maafin aku," air mata Jessica terus saja jatuh, seiring dengan pelukannya yang bertambah erat.
Perlahan tangan lemah Inggit menyentuh kepala Jessica, mengusapnya layaknya seorang Ibu yang memang sangat merindukan anaknya.
Jessica pun merasakan belaian lembut itu, hingga dirinya menjauh sejenak untuk melihat wajah Inggit. Sambil bertanya-tanya apakah Inggit sudah memaafkan dirinya.
Inggit menggeleng lemah, berusaha tersenyum pada putrinya yang sangat dirindukannya itu. Jessica pun tersenyum dan kembali memeluk Inggit dengan erat, tangis haru pun pecah begitu saja.
"Di mana Aya?" Tanya Inggit dengan suara lemahnya.
Sedangkan Alex hanya berdiri di depan pintu yang tertutup, menyaksikan ibu dan anak yang tengah berpelukan penuh haru.
"Tadi dia masih tidur Ma, aku buru- buru ke sini. Cahaya belum tau Mama di rawat," Jessica tahu sebenarnya Inggit merindukan putrinya.
"Sebentar, biar aku minta supir untuk mengantarkan nya ke sini," Jessica pun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang berada di rumah.
__ADS_1
Tidak ingin membuat keadaan Inggit memburuk Jessica memilih segera mempertemukan Cahaya dan Inggit. Hingga beberapa saat kemudian Cahaya pun sampai.
"Oma!" Seru Cahaya dengan kencangnya. Dengan cepat berlari menuju brankar Inggit, di bantu Jessica, Cahaya memeluk Inggit dengan eratnya.
Inggit hanya bisa tersenyum, sedangkan mulutnya tidak bisa berkata-kata. Akan tetapi kedatangan Cahaya sungguh membuatnya bahagia, mungkin juga bisa membuat keadaan menjadi lebih baik.
"Salim Oma dulu," kata Jessica pada Cahaya.
Cahaya pun mencium punggung tangan Inggit, kemudian mencium kedua pipi Inggit dengan begitu lama.
"Oma, Aya sekarang udah bisa gambar loh," celotehan Cahaya terus saja terdengar tanpa hentinya, duduk di kursi sambil bercerita pada Inggit yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
Inggit memang begitu lemah dan sulit untuk berbicara, tetapi tangannya berusaha untuk menggapai wajah Cahaya dan mengusapnya hingga beberapa kali.
Sungguh dirinya sangat merindukan Cahaya sebagai cucu kesayangannya, mengingat Cahaya memang berbeda dari cucunya yang lain.
Perjuangan Jessica untuk Cahaya tidak mudah, tidak ada yang lain di sisi Jessica selain Inggit.
Bahkan Inggit tidak mengijinkan Alex mengetahui bahwa Jessica masih mengandung anaknya saat itu, Inggit terlalu takut Alex hadir kembali dalam hidup Jessica hanya untuk menyakiti.
Sedangkan yang dibutuhkan anaknya adalah kekuatan dari orang sekitarnya, bukan konflik yang tidak berkesinambungan.
Namun, pada kenyataannya kini Jessica harus kembali juga pada Alex. Tidak apa jika memang itu sudah pilihan terbaik, tetapi sampai saat ini Inggit masih terlalu sulit untuk percaya pada Alex akan membahagiakan putrinya.
Inggit terlalu sakit saat melihat anaknya diperlakukan kasar, di depan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1
Sekalipun kini sudah berdamai dengan Jessica, Inggit masih belum bisa menerima Alex sepenuhnya.