
"Iya nanti aku manggil kamu Ayah, manggil Nayla Bunda," seloroh Jessica.
"Ahahahaha," tawa Nayla menggelegar setelah ucapan sederhana yang dilontarkan Jessica.
Lama sekali tidak bertemu dan bertutur sapa seperti saat ini setelah pernikahan terjadi semua hilang tidak seperti saat bersahabat dulu.
"Aku kok geli yah dipanggil kamu Bunda," Nayla pun menimpali seiring dengan tawa kecil.
"Aku yang juga aneh mendengarnya," ujar Aditya yang dari tadi hanya diam saja.
"Iya kan lucu aja, masa iya aku jadi mertua kamu, aku jadi mertua jahat aja entar," ucap Nayla.
"Felix," seru Cahaya dari kejauhan.
Cahaya menaiki kursi roda mulai ikut bergabung, seorang perawat yang mendorong kursi rodanya sesuai arahan Cahaya.
"Rima kamu di sini?" Nayla melihat Rima yang menjadi perawat untuk Cahaya.
"Aku sekarang udah jadi asisten Dokter Alex, tugas aku sekarang merawat anaknya," jelas Rima.
Rima tentu saja setuju menjadi asisten Alex, selain gaji yang menggiurkan juga bekerja lebih santai.
"Em gitu," Nayla mengangguk mengerti.
"Aya, cium tangan Om Devan sama tante Nayla dulu," Jessica mengambil alih, mendorong kursi roda Cahaya mendekati Nayla dan Devan.
"Anak cantik," Nayla pun mengelus gemas rambut Cahaya.
__ADS_1
"Aya tante, bukan cantik!" Cahaya mengingatkan untuk namanya, dirinya tidak suka dipanggil dengan sebutan yang lain sekalipun lebih indah.
"Maaf" cepat-cepat Nayla minta maaf berharap Cahaya bisa tersenyum bahagia.
"Tante Aya udah ketemu Daddy, nanti Aya kenalin sama Daddy, Aya juga mau ngajak Daddy foto nanti dikasih lihat ke teman-teman di sekolah," ucap Cahaya.
Dengan bangganya Cahaya bercerita tentang sang Ayah, lama merindukan sosok tersebut membuatnya bercerita hampir pada setiap orang yang ditemui.
"Iya," Nayla mengusap lembut wajah bahagia Cahaya.
"Aya sayang sama Daddy?"
"Sayang dong, besok Aya mau bobo bareng Dad sama Mom," ujar Cahaya dengan polosnya.
Devan segera duduk di atas gazebo bersebelahan dengan Aditya, Nayla mendadak menatap Jessica dengan penuh keterkejutan.
"Kalau ngajak bobo bareng, nanti Aya punya adik bayi," celetuk Rima.
Nayla mencubit lengan Rima yang suka bicara asal itu hingga membuat Rima menggaruk kepalanya.
"Emang bisa yah Mom?" kali ini Cahaya langsung bertanya pada Jessica.
Jessica tersenyum dan mencium dahi Cahaya.
"Aya mau duduk di sini?" Jessica menuju gazebo mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas perihal itu.
Jessica kini seperti orang mati rasa jika menyangkut asmara, dirinya bahkan tidak memiliki keinginan untuk menikah lagi, dua kali gagal dalam membina rumah tangga membuatnya tidak percaya dengan adanya cinta.
__ADS_1
"Mama, Aya sebentar lagi ulang tahun kan?" ucap Cahaya.
"Iya," Jessica mengangguk dan tersenyum tulus.
"Oh ya? tante Nayla diundang dong?" tanya Nayla dengan antusias.
"Nggak Tante, Aya ulang tahunnya sama Mom sama Dad aja dinner bertiga," jelas Cahaya.
Nayla memasang wajah bersedih karena tidak ikut diundang oleh Cahaya.
"Tante Nayla sama Om Devan aja sama Felix sama Adnan juga," ucap Cahaya dengan polosnya.
"Ya udah Mom kamu sama Dad aja, kamu sama Felix aja," usul Rima.
"Apaan pacaran sama anak-anak, aku nggak mau Tante, aku bareng Tante Jessica aja," kesal Felix.
Pletak!!!
Devan menyentil kepala putranya yang tengil tersebut.
"Sekolah dulu," ucap Devan.
"Sakit tahu yah," ucap Felix.
"Kalian ini ada-ada saja," Nayla tersenyum melihat tetapan Felix pada Devan seakan penuh permusuhan.
"Dok kok diam aja, senyum dong," goda Rima.
__ADS_1
Nayla mencoba menarik tangan Rima agar duduk di samping Aditya, dengan segera Rima duduk dan melingkarkan tangannya pada tangan Aditya, siapa yang berani melakukan hal tersebut mungkin hanya Rima saja.