
Inggit terus saja memeluk putrinya dengan erat saat perjalanan pulang, hingga sampai di rumah.
Hati wanita itu begitu sakit dan terluka!
Wanita mana yang tak sakit hati melihat putrinya dikasari di depan mata kepalanya sendiri, Jessica pun hanya diam di tengah teriknya matahari tapi malah ada air yang membasahi dirinya, air mata Inggit seakan mengalir begitu saja tanpa bisa dibendung, sekalipun berulang kali menyekanya.
"Aku ggak apa-apa kok, Ma," ucap Jessica, tidak ingin membagi luka, Jessica tak menunjukkan rasa sakitnya yang teramat dalam, biarlah luka hanya ditanggung sendiri tanpa ingin membagi walaupun hanya secuil saja.
Sayangnya Inggit tak percaya sama sekali apapun yang dikatakan oleh Jessica, tidak akan mampu mengubah pandangannya terhadap Alex.
Mata kepalanya menyaksikan sendiri bagaimana mungkin ada alasan lagi setelahnya.
Konyol!
"Mama jangan menangis lagi, aku baik-baik saja," berulang kali Jessica mencoba meyakinkan Inggit, sayangnya air mata pilu meratapi nasib putrinya tak pernah bisa berhenti.
"Baik-baik bagaimana? dari mana?" lirik Inggit, bertanya dengan suara yang tercekat.
Sakit!
"Apa pernah tangan Mama ataupun Papa menyakiti mu? tidak! lalu kenapa dia berani menyakitimu? jika dia tidak mampu untuk membahagiakanmu kenapa tak mengembalikan mu pada Mama? karena Mama orang tuamu apapun keadaan anak-anak Mama, Mama akan menerimanya kembali, tidak perlu sampai memaki bahkan sempat meragukan anak itu," ucap Inggit.
Jessica memeluk Inggit dengan erat tidak menyangka ternyata hati Inggit pun tak kalah rapuh saat melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya.
Rumah tangga kelam tanpa ada rasa cinta dan juga kasih sayang, dibangun dengan keterpaksaan hingga berakhir dengan penuh penderitaan.
"Jessica" Inggit mulai panik melihat wajah Jessica mulai memucat, tangannya meremas perutnya yang terasa sakit luar biasa.
"Ma," rintihan Jessica semakin kuat seiringan dengan rasa sakit yang kian terasa.
"Kita ke rumah sakit," ucap Inggit.
"Nggak usah Ma," ucap Jessica.
"Mama nggak mau tahu, kita harus ke rumah sakit," ucap Inggit lagi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Jessica terus menangis merintih kesakitan, ini bukan pertama kalinya, dari pengalaman sebelumnya, ini pun sudah pernah terjadi hingga janinnya tak dapat diselamatkan. Begitupun dengan saat ini pikiran stress dan lemahnya kandungan membawa pengaruh buruk terhadap janinnya, bahkan wajah Devan terlihat ragu saat menjelaskan keadaan Jessica pada Inggit.
Devan sudah sangat tahu seperti apa keadaan rahim Jessica dari dulu dirinya terus saja menutupi sebab tidak ingin Jessica terpukul.
Tapi saat ini semua itu sudah tak mungkin lagi sehingga dirinya harus mengatakan pada Inggit perihal keadaan kandungan mantan istrinya tersebut.
__ADS_1
"Devan, bisa jelaskan pada Mama?" Inggit sudah tidak bisa lagi diam.
Devan yang sudah selesai memeriksa, membuatnya semakin penasaran akan keadaan putrinya.
"Resikonya besar dan saran dari kami agar segera mengangkat janinnya, agar tidak membahayakan ibunya," jelas Devan secara singkat.
"Dan mungkin..." Devan terdiam tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Dan mungkin?" tanya Inggit tidak sabaran.
"Rahim..."
"Nggak!" Jessica segera duduk dan tahu arah pembicaraan selanjutnya.
"Aku nggak mau," ucap Jessica, terserah jika memang orang menganggapnya sebagai wanita egois, tapi baginya janin tersebut tak berdosa dan berhak hidup. Tidak mungkin Jessica tega mengorbankan nyawa janin itu demi nyawanya, jika Inggit tidak mampu melihat anaknya disakiti, maka Jessica pun tak akan mampu membunuh anaknya.
"Jessica tolong mengerti! Mama takut kehilangan kamu," ucap Inggit penuh air mata yang bercucuran.
Jessica pun melempar wajahnya ke arah berlawanan, tidak ingin menatap wajah Inggit yang malah akan membuatnya luluh.
Kali ini saja Jessica ingin hidup bahagia, mungkin dengan membesarkan anaknya. Kebahagiaan Jessica dalam membina rumah tangga tak pernah ada hingga ingin mencari kebahagiaan dengan cara lainnya.
Jika diizinkan bahagia, Jessica ingin merasa bahagia bersama anaknya, sekalipun tak pernah merasakan rumah tangga yang bahagia.
"Jessica jangan egois, Mama takut kehilangan kamu," ucap Inggit.
"Mama takut kehilangan anak Mama?" tanya Jessica dengan tegas.
"Iya," ucap Inggit sambil menangkup wajah Jessica, mengusap air mata yang tiada hentinya terus membasahi Pipi.
"Mama sangat takut," ucap Inggit.
"Begitu juga dengan aku, Ma, aku takut kehilangan anak ini dan tidak akan bisa hidup tanpa dia," Inggit pun mundur selangkah tidak menyangka bahwa kerasnya pendirian Jessica begitu sulit untuk diruntukan.
"Pikirkan keadaan kamu," ucap Inggit.
"Aku nggak peduli, kalaupun harus mati biarkan kami mati bersama," ucap Jessica.
Degh!!!
Jantung itu rasanya semakin berdenyut, sakitnya tak tertandingi.
__ADS_1
Perihnya jangan tanyakan lagi, ini lebih sakit dari tusukan belati.
"Apa karena Alex kamu mati-matian untuk mempertahankannya? apa karena kamu ingin kembali padanya?" tanya Inggit.
Jessica menggeleng, tidak ada lagi keinginan untuk kembali pada Alex.
"Lalu apa? kenapa kamu memilih membahayakan nyawamu sendiri? tanya Inggit.
"Dua kali aku membangun rumah tangga, dua kali sudah aku mengandung dan ini untuk yang ketiga kalinya, tolong izinkan aku bahagia dengan cara ini, sekalipun taruhannya nyawa, biarkan aku bahagia Ma, ini pilihan ku, resikonya pun aku akan tanggung, apapun alasannya aku akan tetap mempertahankannya," dengan gerakan cepat Jessica mencabut selang infus yang terpasang pada tangannya, kemudian turun dari brankar dan segera pergi.
Jessica benar-benar tidak ingin lagi berkompromi dalam hal tersebut, keputusan sudah bulat tanpa bisa diganggu gugat.
"Jessica dengar Mama dulu Nak," Inggit pun segera menyusul Jessica yang sudah pergi, sekalipun usianya sudah menua tak serta merasa lelah dalam berusaha membujuk putrinya.
Keputusan Jessica sangat tidak tepat bagi Inggit, dirinya takut akan kemungkinan terburuknya.
Akan tetapi Jessica pun tak akan goyah pada keputusannya, sampai akhirnya tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Sssssttt...." Jessica kembali meringis menahan sakit pada perutnya, sambil terduduk di lantai dirinya terus menahan sakit.
"Jessica kamu kenapa?" Nayla yang baru saja sampai rumah sakit terkejut melihat Jessica dari kejauhan, segera berlari mendekati Jessica dan membantunya untuk berdiri.
"Kami dorong dia?" tanya Nayla menatap Alex orang yang barusan ditabrak oleh Jessica.
Jessica pun menyadari siapa orang yang barusan di tabraknya.
Alex berdiri diam sambil menatapnya tanpa menolong, laki-laki iblis yang kini sangat tidak di inginkan oleh Jessica.
"Jessica," Inggit pun tiba dan melihat Jessica, Nayla dan Alex yang tengah berdiri hanya saling menatap saja, tidak ingin menjadi tontonan orang-orang Jessica pun memilih pergi.
"Jessica," panggil Nayla bingung.
"Sayang" Devan memanggil Nayla, tidak ingin istrinya ikut campur dalam rumah tangga mantan istrinya tersebut.
"Iya Mas, tapi itu..."
"Masuk!" Devan merangkul pinggang Nayla dan membawa masuk ke ruangannya.
Inggit menatap Alex penuh kebencian, tidak ada lagi tatapan perdamaian seperti selama ini.
"Jika anakku mati! kau lah penyebabnya!!!" tegas Inggit kemudian dia menyusul Jessica.
__ADS_1