
Selama beberapa hari di rumah sakit,, Devan terus menemani Jessica dan merawat Jessica,, hingga akhirnya hari ini Jessica diperbolehkan pulang ke rumah. Waktu Devan sekarang hanya untuk Jessica, bahkan untuk menghubungi Nayla saja Devan tidak bisa,, karena Jessica terus bersama dirinya selama dua puluh empat jam penuh. Jika tidak maka Jessica akan meminta ponsel Devan untuk dipegangnya,, Devan tidak mempermasalahkan sama sekali semua itu karena Jessica memang harus sangat diperhatikan saat ini.
"Devan sekarang aku mau foto, kamu harus memelukku lalu kita berfoto bersama," ucap Jessica.
"Buat apa?" tanya Devan sedikit heran dengan keinginan Jessica.
"Oh jadi kamu nggak mau?" ucap Jessica kesal.
Devan pun segera memeluk Jessica sesuai dengan keinginan Jessica lalu mereka berfoto dengan sangat mesra.
Setelah itu tanpa sepengetahuan Devan, Jessica mengupload foto itu di story supaya Nayla melihat foto mesra mereka.
"Ssstttt...," rintih Nayla,, perut Nayla sudah berhari-hari terasa sangat tidak nyaman namun Nayla masih bertahan di dalam rumah.
Sudah satu minggu ini Devan tidak pernah menengok dirinya,, bahkan Devan pun tidak pernah menghubungi dirinya satu kali pun, ada rasa marah dan juga kesal yang dirasakan Nayla,, namun apa daya dirinya bukan siapa-siapa untuk Devan,, sehingga kini Nayla sadar bahwa dirinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Jessica,, Nayla tahu diri dan tidak ingin merusak kebahagiaan Jessica,, Nayla juga tahu cinta Devan hanya untuk Jessica. Tidak akan pernah ada cinta untuk dirinya.
Nayla melihat dengan jelas foto Devan bersama dengan Jessica yang sangat mesra,, mereka terlihat sangat bahagia. Kapan Devan memperlakukan dirinya seperti itu? kapan dia diperlakukan seperti ratu juga sama seperti Jessica? Ah! rasanya itu tidak akan pernah mungkin,, itu hanya akan menjadi mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Nayla tahu itu dan tak ingin berharap karena dia sudah tahu jawabannya tidak akan pernah mungkin.
"Aaakkhhhhhhhh," ringis Nayla sambil meremas perutnya yang terasa sangat sakit luar biasa.
"Reyna tolong,, Reyna," teriak Nayla memanggil Reyna.
Nayla mencoba turun dari atas ranjang sambil menyeret tubuhnya menuju pintu kamar,, agar Reyna mendengar suara teriakannya.
"Reyna!!!" Nayla terus menyeret tubuhnya sambil memanggil nama Reyna,, dan akhirnya Nayla sampai ke pintu kamar, lalu Nayla keluar untuk memanggil Reyna, Nayla keluar dari pintu kamar dengan tubuh yang sangat lemah diiringi dengan keringat dingin yang terus membanjiri dahinya.
Reyna yang mendengar suara teriakan dari Nayla langsung bergerak secepat mungkin ke arah sumber suara,, betapa kagetnya Reyna begitu melihat kondisi Nayla yang saat ini sudah setengah sadar.
"Nayla," ucap Reyna yang benar-benar panik sambil duduk dan memangku kepala Nayla.
"Reyna,, sakit Reyna," ringis Nayla.
__ADS_1
"Darah? kamu pendarahan Nayla,," ucap Reyna benar-benar semakin panik begitu melihat darah yang semakin banyak keluar dari tubuh Nayla.
"Reyna, aku nggak kuat," ucap Nayla sambil mencengkram erat tangan Reyna,, agar bisa mengurangi rasa sakitnya walau sedikit saja,, tapi sungguh tidak bisa itu sangat sulit,, karena Nayla benar-benar merasa sangat kesakitan.
"Nayla,, aku akan telepon dokter Devan biar kamu lebih cepat ditangani," ucap Reyna benar-benar panik luar biasa.
"Rey,, aku benar-benar udah nggak kuat,, tolong aku Reyna," ucap Nayla dengan tubuh semakin lemah dan juga kesakitan.
"Kamu kuat,, kamu pasti bisa Nay," ucap Reyna lagi sambil mengambil ponsel milik Nayla, yang saat ini masih dipegang oleh Nayla sendiri,, lalu segera menghubungi Devan.
Sudah berulang kali Reyna menelepon tapi tak pernah dijawab oleh Devan bahkan sekalipun. Hingga Reyna kembali menatap wajah Nayla yang saat ini sangat pucat dengan mata yang sudah terpejam.
"Nayla!!!" ucap Reyna sambil melihat cairan merah yang kini semakin banyak,, wajah Nayla tampak memucat sempurna dan juga denyut nadi Nayla sudah mulai melemah.
"TOLONG," teriak Reyna dengan berurai air mata sambil tangan yang gemetaran.
#########
Kali ini pun Jessica mengajak Devan untuk berfoto bersama lagi dan akan memasang foto itu sebagai foto profil di aplikasi hijau milik Devan. Dengan alasan agar Nayla menjadi panas dan sadar bahwa Nayla bukan apa-apa jika dibandingkan dengan dirinya istri yang diakui oleh semua orang.
"Devan pokoknya aku mau kamu tetap bersama aku,, aku lagi hamil sekarang," ucap Jessica.
"Iya," ucap Devan.
"Kalau kamu sampai pergi ke tempat pelakor itu,, maka aku akan bunuh diri bersama dengan anakmu yang sedang aku kandung sekarang," ucap Jessica lagi.
"Jessica aku sudah sangat lelah, aku tidur yah," ucap Devan sambil membaringkan tubuhnya di samping Jessica.
Devan saat ini sudah merasa sedikit lega,, karena Jessica kini positif hamil membuat Devan tidak lagi marah dan melupakan permasalahan yang sebelumnya,, yang sempat membuat rumah tangganya dengan Jessica merenggang. Kehadiran janin itu membuat hubungan keduanya semakin membaik,, bahkan saat ini semakin harmonis,, Devan sudah menurut pada Jessica sama seperti sebelum-sebelumnya ketika mereka berpacaran. Jessica tersenyum bahagia sambil menatap Devan yang sedang tidur di sampingnya.
Drettt.......
__ADS_1
Ponsel Devan berdering tertulis nama Nayla di ponsel itu,, tapi Jessica hanya diam saja dan menutup panggilan telepon itu dengan segera,, tanpa perduli sama sekali pada panggilan telepon itu.
Bibir Jessica tersenyum, karena mengira Nayla pasti menelepon hanya ingin marah pada Devan,, sebab melihat foto mesra Devan bersama dengan dirinya tadi.
"Dasar wanita murahan,, perebut suami orang," ucap Jessica sambil tersenyum miring melihat layar ponsel Devan yang terus menampakkan panggilan telepon dari Nayla.
Sedangkan Devan tahu bahwa ponselnya sejak tadi berbunyi,, tapi Devan sudah tahu pasti si penelepon ada hubungannya dengan Nayla,, sehingga Jessica berulang kali menolak panggilan telepon itu. Devan yang tidak ingin membuat Jessica marah dan akan berpengaruh pada janinnya, Devan pun memilih diam dan tidak peduli sama sekali dengan panggilan telepon itu.
"Devan,, aku mau dipeluk," ucap Jessica sambil merebahkan diri di samping Devan, dengan tangan Devan sebagai bantalnya.
"Devan sudah hampir sepuluh hari ini kamu tidak menyentuh aku," ucap Jessica sambil cemberut.
Devan membuka matanya dan mengerti dengan keinginan Jessica, Devan saat ini sudah seperti robot saja yang terus mengikuti keinginan Jessica tanpa membantah.
Segera dia mencium bibir Jessica dan tangannya bergerak liar di tubuh Jessica,, meskipun Devan sebenarnya lagi malas, tapi Devan memilih menurut saja,, Devan mengerti dengan hormon wanita hamil, dan juga bisa berubah-ubah setiap waktu.
"Devan, kamu masih cinta kan sama aku?" tanya Jessica.
"Iya sayang, kita mulai lembaran baru yah bersama anak kita nanti," ucap Devan sambil tersenyum bahagia.
Jessica tersenyum bahagia, janinnya benar-benar bisa membuat Devan kembali menjadi miliknya lagi, kali ini Jessica akan berusaha membuat Devan puas agar dia tidak mendatangi Nayla lagi untuk dipuaskan.
Jessica tidak akan pernah memberikan peluang sedikit pun pada Nayla.
"Sayang," rintih Jessica seiringan dengan sentuhan Devan yang sudah sangat dia rindukan beberapa hari ini.
Devan terus bergerak liar hingga Jessica mencapai puncaknya.
"Devan," teriak Jessica begitu mencapai puncaknya.
Dan lagi-lagi Devan tidak bisa sampai puncaknya membuatnya pusing.
__ADS_1