
"Apa ada hubungannya dengan dulu Reyna meminum pil KB, ada efek sampingnya ke rahim?" Tanya Jessica lagi penasaran.
Alex memiringkan tubuhnya menatap Jessica, dirinya terdiam tanpa menjawab. Jessica pun mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur.
"Kamu merasa tertekan nggak sama aku?" Alex tidak ingin membahas perihal orang lain, dirinya hanya ingin berbicara dengan Jessica dari hati ke hati.
Tidak ingin ada salah paham Alex ingin transparan dalam urusan rumah tangga di antara mereka berdua.
"Kok nanya gitu?" Jessica kembali bertanya kepada Alex, sebab dirinya tidak merasa hal yang sama seperti dulu. Kini Alex jauh berbeda, apa lagi Cahaya sangat bahagia memiliki keluarga yang lengkap
"Aku minta kamu kasih aku anak satu lagi saja, minimal dua anak," pinta Alex penuh harap.
Jessica tidak tahu apakah harus mengatakan iya atau tidak.
Sampai akhirnya ingatan beberapa tahun silam kembali berputar.
Flashback on.
Beberapa tahun lalu, Jessica pendarahan hebat. Usia kandungannya masih tujuh bulan dengan segala pertimbangan Dokter pun mengambil keputusan untuk segera melakukan tindakan operasi sesar. Saat itu keadaan Cahaya sangat memprihatinkan, kekurangan oksigen hingga harus ditangani dengan intensif. Bahkan Dokter pun ragu untuk kelanjutan nyawa Cahaya akan tertolong, melihat keadaan bayi tersebut yang begitu lemah. Dengan keadaan sesak napas. Di saat itu juga Dokter mengatakan keadaan rahim Jessica yang begitu buruk, hingga harus di angkat secepatnya.
Inggit pun dilanda kegundahan, Dokter mengatakan untuk mengangkat rahimnya sekaligus demi keselamatan Jessica. Akan tetapi saat itu Jessica dalam keadaan terpuruk karena Cahaya masih dalam pengawasan Dokter. Inggit pun meminta Dokter untuk menutupi keadaan Jessica sementara waktu, minimal sampai keadaan Cahaya membaik. Tidak tega jika ternyata Cahaya kecil tidak bisa terselamatkan dan Jessica pun harus menerima kenyataan pahit tentang rahimnya yang juga sudah di angkat.
Inggit meminta waktu pada Dokter, bertanya mungkinkah bisa menunda sampai beberapa Blbulan. Minimal sampai keadaan Cahaya kecil membaik. Sampai akhirnya Dokter mengatakan bisa, tapi tidak untuk mengandung lagi.
Hingga setelah keadaan Cahaya dinyatakan membaik, Inggit pun mengatakan apa yang dikatakan oleh Dokter. Hati Jessica terasa sakit, tetapi dirinya mencoba kuat. Jika pun kehilangan rahim, paling tidak sudah memiliki seorang putri.
Flashback off.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Alex saat melihat diamnya Jessica.
Jessica menggeleng tidak berani mengatakan tentang dirinya.
Tidak tahu apakah mungkin pernikahan mereka masih berlanjut, bagaimana dengan Cahaya yang sudah terlanjur bahagia saat kedua orang tuanya bersatu kembali?
Bagaimana juga jika setelah tahu ternyata Alex malah menceraikan nya?
Apakah Cahaya masih ikut bersama nya atau malah memilih bersama Alex seperti saat dirinya akan menikah dengan Aditya?
"Kamu baik-baik saja? Atau kamu punya masalah? Aku berjanji akan menjaga kesehatan kamu, besok kita lakukan pemeriksaan di rumah sakit," papar Alex lagi.
Jessica tercengang mendengar keinginan Alex, tidak tahu apakah Alex siap menerima kenyataan setelah tahu keadaan terburuk itu.
"Harus banget yah nambah anak?" Tanya Jessica dengan berbaring miring sambil melihat raut wajah Alex.
Tangan Alex memegang wajah Jessica, mengusapnya hingga beberapa kali. Berusaha untuk meyakinkan bahwa tidak perlu lagi mencemaskan keadaan rumah tangga mereka. Alex sudah benar-benar berubah menjadi lebih baik.
"Iya," Jessica pun mengangguk setuju dengan keinginan Alex, biar saja Alex tahu tentang dirinya.
Alex pun tersenyum lega saat Jessica menyetujui keinginan nya.
"Tapi tolong jangan berharap banyak, rahim ku terlalu lemah saat mengandung Cahaya," jelas Jessica dengan air mata yang jatuh.
"Aku minta maaf, andai saja kamu tidak stres pasti semua akan lebih baik," Alex memeluk Jessica dengan erat, tidak ingin ada keraguan yang melanda.
"Kalau ternyata aku nggak bisa hamil lagi gimana?" Tanya Jessica was-was.
__ADS_1
Alex pun merenggangkan pelukannya, hingga keduanya saling melihat satu sama lainnya.
"Maksud mu? Kamu tidak mandul, memang keadaan rahim mu yang lemah, tetapi kamu masih bisa melahirkan, buktinya Cahaya. Artinya kamu perlu penanganan lebih dan pengawasan. Tidak boleh stres yang utama. Nayla juga dulu begitu saat hamil anak pertama, karena terlalu stress," Alex tidak ingin membuat Jessica stres hingga terus berusaha meyakinkan semua akan baik-baik saja.
Jessica pun hanya bisa diam saat melihat Alex begitu memiliki keinginan yang besar untuk memiliki anak lagi.
"Besok aku ikut kamu ke rumah sakit, tapi, tolong jangan banyak berharap," pinta Jessica, mungkin setelah memeriksa keadaan nya Alex akan lebih tahu tanpa perlu dijelaskan lagi.
"Iya," Alex pun mengangguk setuju.
Dengan perlahan menarik tengkuk Jessica dan mencium bibir istrinya penuh damba.
Renata pun membalas dengan baik.
"Alex," Jessica melepaskan sejenak pangutan mereka.
"Kalau aku tidak bisa hamil lagi apakah kita akan bercerai? Apa kamu akan mengambil Cahaya?" Tanya Jessica memberanikan diri.
Alex pun tersenyum dan kembali menarik tengkuk Jessica, mencium bibir istrinya penuh damba.
"Alex, tolong jawab!"
"Tidak, kita tidak akan bercerai," jawab Alex.
Jessica merasa lega, paling tidak bukan hanya takut kehilangan Cahaya. Tetapi dirinya akan sangat malu pada Inggit yang jelas menentang kembali pada Alex.
Jessica pun membalas ciuman Alex dan menikmati dengan penuh damba.
__ADS_1