
Malam ini Bima Putra dan istrinya Ana memutuskan untuk menemui Nayla,, ingin berbicara langsung pada Nayla.
Tok Tok Tok...
Terdengar suara ketukan pintu, Nayla langsung bangun dari duduknya,, Nayla yakin jika itu adalah Reyna yang datang untuk menjemput dirinya. Namun saat pintu terbuka yang datang ternyata adalah orang tua Devan
Nayla langsung terdiam mematung,, Nayla sudah mempersiapkan diri akan menerima makian lagi dari orang tua Devan, semuanya seakan terasa sangat hampa bahkan air mata pun sudah tidak lagi ada untuk menetes. Hati Nayla sudah benar-benar sakit bahkan mati rasa.
"Boleh kami masuk?" tanya Ana lembut menatap Nayla.
Nayla pun berdiri ke samping, pintu masih terbuka lebar mempersilahkan Ana dan Bima Putra untuk masuk ke dalam.
Ana menatap di sekeliling rumah masih saja sama, rumah itu masih terlihat sangat berantakan,, Ana tau itu semua karena perbuatan Jessica kemarin menghancurkan semua barang-barang milik Nayla yang sudah ditata rapi.
Bima Putra dan Ana duduk di sofa tanpa dipersilahkan sekalipun oleh Nayla yang saat ini masih berdiri di depan pintu, bagi Nayla dirinya hanya menumpang saja di rumah tersebut,, Ana dan Bima Putra paling berhak di rumah itu karena mereka orang tua Devan,, rumah itu Devan yang beli.
Mata Ana kemudian menatap perut Nayla yang membuncit,, Nayla menggunakan daster warna pink motif bunga-bunga masih berdiri ditempatnya tadi dengan pandangan mata kosong.
Wajah rapuh dan perasaan hancur masih terlihat jelas, luka perban pada kaki Nayla pun terlihat terbungkus asal, mungkin Nayla tidak sengaja menginjak beberapa beling Vas Bunga dan Nayla membalut lukanya sendiri.
"Nayla boleh duduk disini," ucap Ana lembut sambil menunjuk sofa.
Nayla hanya menurut saja,, Nayla berjalan duduk di sofa berhadapan langsung dengan Ana. Pasrah oleh keadaan apapun yang dikatakan oleh Ana dan suaminya,, Nayla akan mendengar sekalipun kedua orang tua Devan itu mungkin akan menghabisinya,, dia akan diam tanpa melawan sedikit pun.
Tidak ada artinya dia hidup, kebahagiaan sesungguhnya tidak pernah berpihak padanya hingga membuatnya sangat lelah dan ingin menyerah pada keadaan.
"Nayla saya ingin meminta maaf," ucap Bima Putra.
Sebagai seorang Ayah dan juga suami Ana,, dia merasa sangat iba melihat keadaan Nayla. Mengingat Ana sudah menceritakan tentang hinaan yang sudah keluar dari mulutnya tanpa sadar,, ditambah saat anaknya merampas sesuatu yang sangat berharga untuk Nayla dengan tidak berperikemanusiaan. Hati Bima Putra tergerak,, ikut merasakan luka yang dirasakan oleh Nayla.
__ADS_1
Tidak mudah menerima segalanya,, mungkin putrinya Andini juga mengalami hal yang dirasakan oleh Nayla sehingga Bima Putra tidak ingin terus membuat Nayla menderita.
"Nayla," ucap Ana.
Ana bangkit dari duduknya lalu berpindah duduk di samping Nayla,, menantu keduanya setelah Jessica,, Ana akui itu.
"Mama minta maaf,, dan kalau kamu mau membenci Mama juga itu sangat wajar, tapi Mama benar-benar minta maaf padamu,,," ucap Ana lalu memeluk Nayla, ingin memberikan sedikit saja kekuatan pada wanita rapuh yang tengah mengandung cucunya itu.
"Kamu mau kan memaafkan Mama?" tanya Ana sambil mengusap punggung Nayla.
Nayla hanya diam saja,, mengingat Ana lah yang selama ini telah membiayai kuliahnya. Meskipun dengan cara menjaga Rani dan Raka tapi gaji yang diterima oleh Nayla selalu lebih bahkan sangat cukup untuk membiayai kuliahnya.
"Maaf Nyonya...,"
"Panggil Mama,, posisi mu dan Jessica itu sama, Mama tidak menyalahkan kamu,, tidak juga menyalahkan Jessica,, Devan lah yang salah disini," ucap Ana.
"Cucu Oma," ucap Ana sambil mengusap perut Nayla, bahkan seperti tengah berbicara pada janin yang tumbuh di rahim istri kedua anaknya.
"Sudah berapa bulan kandungan mu?" tanya Bima Putra.
"Empat bulan Tuan," jawab Nayla.
"Kamu akan mendapatkan uang bulanan dari Devan sama seperti Jessica, posisi mu sama dengan Jessica dalam keluarga kami,, hanya saja kalian tidak bisa tinggal satu atap untuk menjaga kamu agar tidak stres dan juga supaya janin mu tidak dalam bahaya,," ucap Bima Putra.
Bima Putra tidak mengerti mengapa bisa gadis polos dan baik seperti Nayla bisa merasakan ini,, tetapi apapun itu semua harus ada tanggung jawab.
Dalam hati Nayla tidak tertarik sama sekali dengan rupiah yang ditawarkan oleh Bima Putra meskipun tujuan Bima Putra itu baik,, tapi menurut Nayla rupiah posisi kedua setelah kebahagiaan.
Apa jadinya jika memiliki uang banyak tapi jauh dari kebahagiaan? menurut Nayla bahagia lah yang penting.
__ADS_1
"Mama pamit dulu yah,, nanti Mama akan mengirimkan pembantu disini untuk menjaga mu dan juga kandungan mu agar kalian tidak kenapa-kenapa,, Mama juga akan sering-sering kesini yah," pamit Ana sambil mengusap kepala Nayla seperti anaknya sendiri.
Nayla hanya diam mematung saja tanpa menjawab,, sampai Bima Putra dan Ana pergi,, Nayla masih diam di tempatnya.
Setelah Bima Putra dan Ana benar-benar pergi barulah Reyna sampai di tempat Nayla, Reyna langsung masuk dan terkejut melihat rumah yang sudah ditata indah oleh Nayla malah sangat hancur dan sangat berantakan.
Reyna benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada Nayla,,, Reyna benar-benar panik begitu melihat kondisi rumah Nayla, sejak kemarin Reyna terpaksa pulang dulu ke rumah orang tuanya karena dirinya tidak enak badan,, Reyna tidak mungkin terus berada di rumah Nayla apabila dia sakit,,, karena Nayla juga sakit meskipun tidak separah sebelumnya tapi Reyna tidak ingin merepotkan Nayla,,, ditambah Nayla juga sedang hamil. Reyna pulang ke rumah orang tuanya dengan berat hati karena meninggalkan Nayla sendiri di rumah ini, ditambah dokter Devan sangat sulit dihubungi membuat Reyna benar-benar ingin segera sembuh dan datang menemani Nayla, tapi apa begitu datang dia melihat rumah Nayla sudah hancur berantakan di dalamnya.
"Nayla rumah kenapa? kok berantakan banget seperti ini? ini bukan ulah dokter Devan kan? kamu nggak kenapa-kenapa kan Nayla?" tanya Reyna sambil berjalan mendekati Nayla.
Nayla langsung tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara Reyna,, orang yang ditunggunya sejak tadi.
"Rey,, kita pergi dari sini yah, aku mau cari kontrakan saja Reyna," ucap Nayla sambil menarik tas miliknya yang sudah berisi pakaian agar saat Reyna datang mereka bisa langsung pergi tanpa berlama-lama.
"Mau kemana?" tanya Reyna.
"Kemana saja asal pergi dari rumah ini,, aku benar-benar sudah sangat lelah," ucap Nayla.
"Tapi kenapa Nayla?" tanya Reyna lagi.
"Nyonya Jessica sudah tau semuanya dan aku hanya dianggap pelakor saja,, dia tidak menjelaskan apapun!!! aku ingin pergi saja Reyna, tolong bantu aku," ucap Nayla.
"Hah apa,, dokter Devan sama sekali tidak membela ataupun menjelaskannya?" tanya Reyna dengan penuh kebingungan dan juga kekesalan.
Nayla menggelengkan kepalanya,, hatinya sudah benar-benar sakit dan tidak dapat lagi terobati.
"Kamu tinggal di Apartemen aku aja Nay," ucap Reyna lalu segera mengambil alih tas di tangan Nayla.
Reyna pun tidak sudi melihat sahabatnya dalam luka terus menerus,, sahabatnya juga berhak hidup bahagia,,, Devan sudah tidak adil pada sahabatnya.
__ADS_1