
Setelah siang berlalu maka malam pun menjelma. Artinya ini adalah waktunya untuk beristirahat begitu juga dengan Reyna. Dirinya tidak diizinkan menginap di kediaman Nayla, setelah kejadian warga memergokinya bersama Nanda beberapa hari yang lalu.
Sumpah serapah terus keluar dari mulut Reyna, kebebasan yang hakiki kini tinggal kenangan, Puput benar-benar bersikap keras padanya tanpa ampun. Sialnya lagi sepeda motornya mogok, padahal waktu tempuh menuju rumah masih memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit.
"Sejak bertemu dia aku memang selalu saja apes," berulang kali Reyna menendang ban sepeda motornya.
Jika saja menginap di rumah Nayla, saat ini dirinya pasti sudah bobo cantik ala-ala Cinderella. Lupakan soal bobo cantik kini matanya kembali menatap motor matic nya dan harus berpikir siapa yang akan menolongnya. Awalnya memilih menggunakan sepeda motor daripada mobil, alasan utama adalah macetnya Jakarta. Tapi siapa sangka ternyata ada cara sama membuatnya kesal bukan kepalang.
"Bukannya untung malah buntung," ucap Reyna.
Malam semakin larut, rasa dingin kian rasa seiring angin berhembus dengan kencangnya. Sayup-sayup terdengar suara dedaunan bertebaran ditiup angin, jalan juga semakin sepi, hanya sesekali kendaraan roda dua maupun empat berlalu lintas. Lelah mendorong sepeda motor, Reyna memutuskan untuk beristirahat sejenak, duduk di atas trotoar jalan sambil memperhatikan sekitarnya.
"Aku telepon Kak Alex aja kali yah," berulang kali menghubungi Alex tapi tak satu kali pun diterima, malahan ponselnya ikut kehabisan baterai.
"Yah mati," ucap Reyna kesal yang semakin di ubun-ubun, tidak ada yang dapat membantunya saat ini.
Dari kejauhan tampak beberapa pria bersepeda motor mendekatinya, tetapi Reyna mengenal salah satunya.
"Sedang apa di sini?" tanya pria tersebut.
__ADS_1
Reyna menatap sekitarnya bingung, apakah pria tersebut sedang berbicara dengannya.
"Kamu!" Nanda kembali berbicara pada Reyna.
"Aku?" Reyna bertanya kembali sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kenal dia Nan?" tanya salah satu teman Nanda.
"Kalian duluan saja," ucap Nanda yang selepas dinas Nanda dan teman-temannya ingin duduk santai mencari tongkrongan tapi urung dilakukan karena melihat Reyna.
Ketiga teman Nanda pun segera pergi dari sana tanpa banyak bertanya.
"Lagi ngepet! kamu mau jaga lilin nggak?" tanya Reyna asal.
"Aneh-aneh aja kamu ini, kamu nggak lihat ban motor aku kempes," ucap Reyna sambil menunjuk ban sepeda motornya.
Nanda pun mengangguk, tapi dia hanya diam saja tanpa berbicara yang membuat Reyna kesal.
"Sebenarnya mau nolongin atau apa sih?" tanya Reyna.
__ADS_1
"Nggak gimana-gimana," jawab Nanda santai.
Nanda menyalakan mesin sepeda motornya, bersiap-siap untuk pergi.
"Ya ampun," Reyna mendengus kesal.
Kenapa pria di hadapannya saat ini bisa bersahabat baik dengan Nayla, sedangkan sikapnya saja sangat menyebalkan.
"Nanda, kamu nggak mau nolongin aku atau gimana?" tanya Reyna.
"Emang kamu mau aku tolongin?" tanya Nanda balik.
Reyna mendesus, jika bukan karena sedang kepepet rasanya dirinya pun tidak akan mau meminta bantuan pada Nanda.
Tapi apa daya jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan satu kilometer ke depan sana ada lampu merah dan banyak preman berkeliaran.
"Emang kamu nggak mau nolongin aku?" gengsi masih mengalahkan segalanya, Reyna ingin Nanda sendiri yang menawarkan diri untuk membantunya.
Nanda mengangkat bahunya dengan santai.
__ADS_1
"Nggak!" ucap Nanda.