
"Dokter pasien sadar dok,," ucap salah satu perawat dengan terburu-buru menemui Alex yang sedang berbincang dengan Devan.
Devan dan Alex langsung menoleh,, keduanya sama-sama terkejut begitu mendengar berita bahagia itu bahwa Nayla sadar.
Dokter Alex dan Devan segera masuk ke dalam ruangan,, dan benar saja saat ini Nayla telah sadar,, Nayla tampak melihat ke langit-langit ruangan.
Tanpa lama-lama Dokter Alex segera memeriksa keadaan Nayla.
"Apa anda baik-baik saja?" ucap Dokter Alex berusaha agar bisa berkomunikasi dengan Nayla yang saat ini tengah kebingungan begitu bangun dari pingsannya.
Nayla masih diam dan tampak kebingungan,, bukankah dirinya tadi masih berada di sebuah tempat yang sangat indah?
Lalu mengapa sekarang dirinya malah terbaring lemah di rumah sakit?
Apa tadi hanyalah sebuah mimpi belaka?
Nayla bingung karena belum mendapatkan jawaban yang pasti.
"Ibu,, apa anda mendengarkan saya?" tanya Dokter Alex lagi yang masih berusaha berkomunikasi dengan Nayla.
Mata Nayla kemudian segera menatap Dokter Alex,, hingga beberapa saat kemudian Nayla mengingat kejadian sebelum dirinya tidak sadarkan diri.
Pertanyaannya mengapa Nayla berada ditempat asing ini?
Terakhir kali Nayla ingat dirinya berada di sisi jalanan yang sepi,, memegang perutnya yang terasa sangat sakit dan juga darah yang terus mengalir.
"Anakku!!!," ucap Nayla langsung setelah tersadar sepenuhnya atas apa yang terjadi.
Nayla berusaha bangun sambil tangannya terus meraba perutnya.
Dokter Alex dengan cepat membantu Nayla agar segera berbaring kembali.
"Dokter anakku masih ada kan?" tanya Nayla dengan keadaan yang benar-benar panik,, Nayla tidak ingin kehilangan anaknya,, segala yang diucapkan pada Devan sebelum tidak sadarkan diri itu karena amarah yang menguasai dirinya.
Jika anaknya juga sudah tidak ada,, Nayla tidak tau atas alasan apalagi dirinya bertahan hidup.
"Anda tenang dulu,," ucap Dokter Alex yang berusaha menenangkan Nayla dan juga membuat Nayla agar mau berbaring kembali di ranjang rumah sakit.
Setelah melihat Nayla tenang,, Dokter Alex kembali memeriksa keadaan Nayla.
__ADS_1
"Bisa tolong segera hubungi keluarga anda,, emm maksud saya suami anda? ada yang perlu saya bicarakan padanya," ucap Dokter Alex lagi.
Degh!!!!
Devan langsung menutup mata dan mengusap wajahnya berkali-kali,, pertanyaan Dokter Alex mampu membuat Devan tidak bisa bernafas dengan baik saat ini.
"Suami saya sudah meninggal Dokter belum lama ini," ucap Nayla sambil menatap Devan dengan tatapan mata penuh luka.
Devan langsung tersentak kaget begitu mendengar jawaban dari mulut Nayla sendiri.
Meninggal?
Nayla mengatakan bahwa dirinya telah meninggal? padahal saat ini Devan tepat berada di dekatnya.
Devan benar-benar tidak habis pikir mengapa jawaban Nayla sangatlah kejam.
"Kalau begitu anggota keluarga lainnya saja?" ucap Dokter Alex lagi sambil melihat Nayla.
"Saya tidak punya keluarga Dokter,, saya hidup sebatang kara di dunia ini,, sedangkan keluarga suami saya tidak tau apa-apa tentang saya,, mereka tidak mengenal saya sama sekali,, saya dan suami saya menikah karena sebuah kecelakaan,," ucap Nayla,, Nayla saat ini seakan sedang mengeluarkan kekesalannya,, mengatakan bahwa batinnya saat ini benar-benar sangat terluka dan sangat sulit untuk diobati.
Dokter Alex yang mendengar penjelasan dari Nayla benar-benar merasa kasihan pada Nayla,, seorang wanita yang sangat lemah,, dengan kondisi tubuh yang sangat memprihatinkan harus berjuang sendiri tanpa suami,, keluarga atau orang dekat lainnya satu orang pun.
"Janin anda harus segera diangkat,," ucap Dokter Alex lagi.
Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan di otak Nayla,, pertanyaan demi pertanyaan di otaknya semakin membuat Nayla merasa tidak karuan.
Apa Devan saat ini ingin membunuh anaknya? atau jangan-jangan Devan tidak ingin anak itu lahir ke dunia sehingga Devan menyuruh Dokter lain untuk mengangkat janin yang saat ini di kandungnya?
Disaat perasaan yang tidak karuan dan membutuhkan kekuatan dalam setiap nafasnya,,, Nayla tidak memiliki orang yang akan menguatkan dirinya.
Nayla hanya bisa bertahan sendiri,, berjuang sendiri tanpa ada orang yang bisa menguatkannya,, memberikan Nayla semangat.
"Anda mendengar saya?" ucap Dokter Alex lagi,, yang berusaha menyadarkan Nayla dari lamunan panjangnya.
Mata Nayla kembali berkaca-kaca,, sesaat kemudian Nayla kembali menitikkan air mata sambil menganggukkan kepalanya pada Dokter Alex.
Nayla berpikir biarlah saat ini kehilangan janinnya asal Nayla bisa lepas dari Devan.
"Baiklah,, kami akan segera menyiapkan nya untuk mengangkat janin anda," ucap Dokter Alex setelah mendapatkan persetujuan dari Nayla sendiri.
__ADS_1
Dokter Alex segera keluar dari ruangan itu,, untuk menemui beberapa perawat lainnya.
Devan masih tetap berada disana,, menatap Nayla yang saat ini wajahnya masih dipenuhi dengan air mata.
"Apa kamu sangat bahagia anak kita akan diangkat?" tanya Devan ketika sejak tadi hanya diam saja.
Nayla menganggukkan kepalanya.
"Tidak ada Ibu yang akan mau kehilangan anaknya sendiri,, tapi mungkin inilah yang terbaik yang harus terjadi,, setelah anak ini tiada maka kita berdua akan tinggal kenangan,," ucap Nayla.
Dada Nayla terasa sangat sesak,, sakit,, perih bercampur menjadi satu ketika harus kehilangan anaknya.
Pertanyaan dari Devan seakan menganggap dirinya sebagai seorang penjahat saja,, padahal hati Nayla juga benar-benar sakit karena harus kehilangan anaknya.
"Sepertinya kau terlihat sangat-sangat bahagia akan kehilangan anak kita," ucap Devan.
Ada rasa tidak rela dihati Devan begitu akan kehilangan Nayla,, apalagi mendengar ucapan Nayla tadi pada Dokter Alex bahwa suaminya telah meninggal padahal nyata-nyata dirinya masih hidup.
"Tidak waras!!," ucap Devan lagi.
Nayla lagi-lagi tersenyum miring.
"Iya aku bahagia,, karena kita akan berpisah!!!," ucap Nayla.
Devan dengan segera keluar dari dalam ruangan Nayla begitu mendengar ucapan Nayla,, entah apa yang akan dilakukan dan dipikirkan oleh pria itu.
Setelah kepergian Devan,, Nayla kembali terisak sambil memegang perutnya yang sebentar lagi Nayla akan berpisah dengan anaknya.
Tapi tidak lama Devan keluar kini terlihat Devan kembali memasuki ruangan Nayla.
Dengan perlahan Devan menyuntikkan cairan di dalam tubuh Nayla,, bahkan Devan tidak berbicara sama sekali.
Sedangkan Nayla hanya diam saja tidak berbicara juga,, di dalam pikiran Nayla mungkin Devan sendiri yang akan membuang anaknya dengan menyuntik Nayla.
Apa saja boleh dilakukan Devan,, jika kehilangan anaknya dapat membuat Devan bahagia,, Nayla tak apa.
Nayla sangat tidak apa-apa karena mengingat pernikahan nya dengan Devan hanyalah sebuah penderitaan,, dalam hati kecil Nayla yakin bahwa dirinya pasti akan bahagia jika berpisah dengan Devan.
Mungkin juga Denis akan menerima dirinya,, mencintai dirinya seperti dulu lagi,, sehingga Nayla juga bisa mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya seperti orang lain.
__ADS_1
Perlahan mata Nayla mulai tertutup,, meskipun Nayla sangat berusaha untuk tetap sadar tapi tidak bisa,, tampaknya obat yang disuntikkan Devan sudah mulai bekerja.
Nayla tersadar obat yang disuntikkan Devan adalah obat bius,, perlahan namun pasti Nayla kehilangan kesadarannya,, kedua tangannya mulai merenggang dari perutnya yang sejak tadi Nayla pegang.