
Akhirnya Reyna berhasil membantu seorang wanita melahirkan bayi yang begitu cantik dan menggemaskan, ibunya terlihat bahagia saat melihat wajah bayinya, tak hentinya wanita yang baru menyandang gelar ibu itu berucap terima kasih pada Reyna, sebuah kebahagiaan juga terukir dari bibir Reyna, suatu kebanggaan tersendiri saat dapat berguna bagi orang lain.
"Mau dikasih nama siapa Bu?" Reyna memberikan bayi tersebut pada sang ibu.
"Namanya jelita," jawab sang ibu dengan bahagianya.
Tak hentinya sang ibu dan ayahnya menciumi wajah bayi mereka yang baru lahir dengan wajah cantiknya.
"Bagus sekali sesuai dengan baby-nya yang imut," ucap Reyna.
Jam menunjukkan pukul setengah dua belas, Reyna segera berpamitan pulang mengingat dirinya juga memiliki bayi di rumah, bayi besar berstatus suami, entah Reyna tidak tau apakah bayinya itu tengah merajuk saat ini, mungkin saja begitu dan semoga juga dirinya dimaafkan, tetapi sebagai seorang perawat dirinya tak bisa lepas dari pekerjaan, menolong orang lain adalah suatu kewajiban bagi dirinya, rumahnya dan rumah tetangga hanya bersebelahan sehingga tak memakan waktu lama untuk berjalan kaki, akan tetapi Reyna tak berani melihat wajah Arni mengingat rasa malu masih sampai di ubun-ubun saat mertuanya memergoki dirinya dan Nanda yang tengah saling bertukar saliva.
Terasa seperti memacu adrenalin, sungguh luar biasa siapa saja yang merasakan akan sangat malu sekali, sial memang sial! tapi begitulah yang memang terjadi.
"Kayaknya Mama besok mau pulang kampung," ujar Arni sambil terus berjalan menuju rumah beriringan dengan Reyna.
Reyna mengusap dahinya, keringat yang meluncur bukan karena lelah, melainkan karena ketegangan yang luar biasa.
"Mama bisa mati berdiri kalau melihat kalian mesra-mesraan," goda Arni lagi yang kian membuat Reyna menanggung malu.
"Itu kamar kalian nggak kedap suara loh, jadi hati-hati," sebelum memasuki kamarnya Arni masih saja sempat menggoda menantunya.
Biarkan saja baginya Reyna adalah anak perempuannya, sebab Nanda adalah anak satu-satunya.
Huffftt...
Reyna pun mengambil nafas sebanyak-banyaknya menghembuskan dengan perlahan agar perasaan kian lebih baik, segera memasuki kamar mengganti pakaiannya dengan perlahan tak lupa pula mencuci tangan dan kaki agar lebih segar, segera Reyna berjalan menuju ranjang melihat mata Nanda sudah terpejam.
"Nanda," Reyna ikut berbaring.
Nanda bergerak dan berbalik memunggungi Reyna.
"Kamu nggak mau lanjutin yang sempat terhenti?" tanya Reyna hati-hati, dirinya juga takut Nanda marah.
Bagaimanapun barusan dirinya pergi begitu saja tanpa izin dari suaminya.
"Sudah basi! kau selalu saja membuatku kesal," geram Nanda.
Reyna pun mengangguk setuju, memang itu benar adanya, hanya saja yang barusan dilakukan adalah menyangkut keselamatan seseorang, Reyna memilih diam takut semakin memperumit keadaan, dirinya memeluk Nanda dari belakang tangannya bergerak memutar pada bagian dada Nanda.
"Maaf, ya udah tidur aja, kamu besok juga dinas ya? kapan ya kamu punya waktu buat aku, kita jalan-jalan ke mana gitu," Reyna berbicara dengan pelan, sekalipun tangannya terus bergerak.
Saat Nanda hanya diam, Reyna pun terus berbicara tidak peduli apakah Nanda mendengarkan atau tidak.
"Anaknya cewek, cantik banget, gemuk juga bikin gemes, namanya Jelita," ucap Reyna lagi.
Nanda yang tak tahan pada tangan Reyna yang hanya terus bergerak di dadanya dengan cepat memindahkan pada bagian utamanya.
"Ishhh," Reyna terkejut dan langsung bangkit.
Nanda pun ikut bangkit dan mengetuk kepala Reyna.
"Makanya jangan mancing," geram Nanda.
"Nggak gitu juga!" Reyna pun tak mau kalah.
"Terus gimana?" Nanda pun masih berkabut emosi bahkan tidak ada yang mengalah dari salah satunya.
"Ya, nggak gimana-gimana, aku capek," Reyna berbaring dan langsung memunggungi Nanda.
__ADS_1
Begitupun dengan Nanda yang berbaring memunggungi Reyna, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Sampai akhirnya bersamaan keduanya berbalik, entah mengapa bisa tiba-tiba begitu.
"Reyna bikin anak yuk," kata Nanda.
"Yuk," Reyna tersenyum dan mengangguk setuju.
Dengan cepat Nanda menindihnya, tapi Reyna menolak saat Nanda akan mencium bibirnya.
"Ada apa lagi?" wajah Nanda begitu putus asa.
"Kata Mama kamar ini nggak kedap suara, benar atau tidak?" tanya Reyna.
Nanda pun mengacak rambutnya, kemudian bangun dengan kesal.
"Pakai jaket mu cepat," ucap Nanda.
Reyna bingung dan dirinya hanya diam di tempat tanpa bicara.
"Apalagi?" Nanda pun segera memakaikan jaketnya pada Reyna, istrinya itu masih bingung sedangkan dirinya sudah tidak tahan lagi.
"Kok pakai jaket?" tanya Reyna.
"Kita tidur di hotel saja," Nanda menarik Reyna untuk keluar dari kamar.
"Loh, kalian mau ke mana?" tanya Arni saat akan melintasi ruang televisi.
"Ini dia gangguannya," gumam Nanda.
"Aku dan Reyna mau ke hotel, Mama malam ini di rumah sendiri yah," Nanda langsung menarik Reyna keluar.
Nanda tidak peduli dirinya mengangkat tubuh Reyna untuk duduk di atas sepeda motornya kemudian baru dirinya naik.
Arni melihat dari pintu, dirinya ingin sekali menangis mungkin dirinya besok benar-benar akan pulang kampung saja, tapi juga bahagia melihat Nanda dan Reyna bahagia.
"Tidak apa-apa, asal kalian memberikanku hadiah cucu," Arni pun segera mengunci pintu.
Udara yang dingin membuat Reyna merasa kedinginan.
"Peluk aku agar lebih hangat," ucap Nanda.
"Kamu aneh, padahal kan ada mobil kenapa harus naik motor?" omel Reyna.
"Oh iya lupa," Nanda pun baru menyadarinya, otaknya memang sudah rusak karena ulah Reyna.
Lagi pula kini sepeda motornya sudah memasuki parkiran hotel, dengan segera memesan kamar setelah menerima kunci Nanda pun kembali menarik Reyna menuju kamar.
"Nanda" sapa seorang pria yang berprofesi sama dengan Nanda.
"Darimana?" tanya Nanda dengan terpaksa menghentikan langkah kakinya padahal sudah tegangan tinggi.
"Biasa, kamu bawa siapa?" teman Nanda pun melihat seorang wanita yang kini berdiri di samping Nanda, tangan wanita tersebut dipegang erat oleh Nanda.
"Istri!" jawab Nanda.
"Bukannya kamu tinggal di daerah sini? kenapa menginap di hotel?" tanya teman Nanda lagi.
"Kau seperti tidak mengerti saja," jawab Nanda.
__ADS_1
"Ya aku tahu agar lebih bebas begitu," seloroh teman Nanda.
"Sampai jumpa besok," Nanda tidak peduli mau sepanjang apa cerita temannya, dirinya memilih untuk segera menuju kamar agar lebih cepat semuanya tuntas, dengan cepat Nanda menendang pintu, Reyna sampai tersentak kaget, tapi dirinya lebih kaget lagi saat Nanda tiba-tiba mendorongnya pada ranjang dengan cepat Nanda membuka pakaiannya dan melemparnya asal.
Glek! Reyna meneguk saliva.
Jika siang kemarin, Reyna tidak memperhatikan tubuh Nanda maka berbeda dengan saat ini.
Tubuh Nanda begitu atletis, perut kotak-kotak begitu terlihat jelas, dengan cepat Nanda pun menindihnya mencium bibirnya dengan perlahan.
Sssttttt...
Desah Reyna dengan tidak sadar, perlahan tapi pasti sampai di sini Nanda semakin mengajak lidahnya menari bersama, Reyna pun ikut terbuai dan membalasnya dengan perlahan tangan Nanda mulai berjalan menuju tengkuk, membelai hangat dan turun pada dua benda kenyal milik Reyna, memainkan dengan perlahan sembari ciuman mulai turun menyentuh tengkuk Reyna.
Reyna pun memegang sprei, merasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya, tubuhnya bergetar hebat saat sentuhan tangan Nanda terus berkeliaran menguasai tubuhnya.
Reyna pun tidak menyadari sejak kapan Nanda menelanjanginya, rasa nikmatnya sungguh membuat Reyna lupa diri, kini berbeda dari kemarin Nanda membelainya dengan penuh kehangatan, melihatnya dengan penuh nafsu dan juga meninggalkan banyak jejak.
"Nanda," Reyna mendesah sambil menekan kepala Nanda semakin dalam, rasanya lidah Nanda yang bermain di dua benda kenyal miliknya sungguh luar biasa.
Nanda pun semakin bersemangat untuk bergerak bebas, menyusu seperti bayi kehausan pada ibunya.
Menikmatinya secara bergantian hingga meninggalkan warna keunguan yang cukup banyak.
Nanda sudah tidak sabar langsung turun ke bawah membuka kaki Reyna dengan lebar dan memandangi sebuah lubang berwarna merah muda, Reyna tersadar dan berusaha untuk menutup, tapi Nanda kembali membukanya dan menciumnya, memainkan lidahnya menari-nari dengan liarnya.
"Ah,," desah Reyna hingga mendapatkan puncaknya.
Tidak lama kemudian Nanda memasukkan jarinya dan menggerakkan nya sambil mencium bibir Reyna.
"Ah... Nanda," untuk kedua kalinya Reyna sampai pada puncaknya.
Nanda pun mulai mengarahkan miliknya dan menggesek-gesekkan batang pisang tersebut pada lubang ke surga itu.
"Nanda cepat," tanpa sadar Reyna memohon, cukup menyiksa saat benda keras dan besar itu hanya menyentuh di bagian bibirnya saja, Nanda tersenyum dan masih terus saja menggesek.
"Nanda tolong aku..."
Dalam sekali sentak Nanda pun memasuki Reyna, hanya setengah yang masuk sudah membuat Reyna menjerit begitu kencang.
"Ah, Nanda," seru Reyna.
"Bagaimana?" goda Nanda.
"Ah..."
Nanda pun mulai bergerak sesuai dengan keinginannya, seirama dengan dua gunung kembar yang bergerak bebas.
Reyna menjerit kencang saat batang itu semakin masuk ke dalam, suara jeritan dan hentakan tidak dapat dibendung, rasanya malam ini cukup membuat udara panas, lupakan AC yang kini pun kehilangan harga diri dikarenakan dua manusia yang kepanasan sekalipun AC masih menyala.
"Ah.... Nanda apa ini"
Reyna pun sampai pada puncaknya, entah yang sudah beberapa kalinya, tapi Nanda cukup membuatnya lelah.
Hingga terlelap begitu saja.
"Terima kasih!" Nanda pun mencium dahi Reyna mengucapkan kata terima kasih untuk malam menggairahkan ini.
Dirinya bergerak membersihkan diri, kasihan melihat Reyna Nanda tidak mengganggu istrinya sama sekali.
__ADS_1