
Siang ini cukup panas teriknya matahari membuatnya banyak mengeluarkan keringat. Tenggorokan pun terasa haus dan obatnya adalah minuman yang segar,, Nanda memilih singgah dikontrakan Nayla berharap ada minuman dingin yang bisa menghilangkan rasa hausnya,, perut pun tak kalah sengit,, lapar begitu terasa semenjak pagi tadi dirinya tidak makan satu butir nasi pun. Sampai di depan rumah,, Nanda memanggil Nayla tapi tak ada sahutan suara dari dalam rumah.
"Ya ampun aku lupa, dia sekarang pasti tinggal di rumah suaminya," Nanda baru tersadar jika sahabatnya tersebut sudah menikah.
Nanda merasa cuaca semakin terik,, rasa dahaganya kian semakin terasa, namun netra nya menatap celah pada pintu.
"Kenapa pintunya nggak dikunci? apa Nayla lupa?" Nanda berjalan ke arah pintu dan benar saja tak dikunci, sedikit didorong sudah terbuka lebar.
Merasa tidak ada orang di dalam sana Nanda pun memutuskan untuk masuk mencari mineral dan meneguknya segera,, akhirnya tenggorokan kering kini terasa basah dan lebih segar.
"Kebelet banget,," Nanda segera masuk ke dalam kamar mandi merasa rumah kosong dan aman membuatnya merasa bebas.
Setelah ini dirinya akan menghubungi Nayla memberitahukan tentang kontrakan yang tidak terkunci, sebenarnya tidak ada masalah barang-barang Nayla masih berada di sana, Nanda takut jika ada maling nantinya.
Akhirnya Nanda merasa lega setelah mengeluarkannya.
Pintu kamar mandi pun terbuka, Reyna hanya dengan balutan handuk yang melilit di tubuhnya, ingin mandi tapi tiba-tiba dirinya melihat ada seorang pria di dalam kamar mandi.
"Aaaaaa," teriak Reyna dengan kencang.
Nanda pun tidak kalah terkejut melihat keberadaan Reyna, bahkan hanya dengan balutan handuk saja, sedangkan dari luar tetangga mendengar jeritan Reyna.
"Masuk aja yuk," seorang wanita yang merasa ada yang aneh apalagi ada sebuah motor yang terparkir di teras.
"Iya masuk aja!" ucap wanita yang satunya lagi karena penasaran.
"Ada apa ibu-ibu? rame sekali," kebetulan ada Pak RT yang melewati rumah kontrakan tersebut.
"Bapak harus masuk, sepertinya ada yang tidak beres," usul wanita yang satunya dan diangguki oleh ibu-ibu lainnya.
Pak RT beserta beberapa warga seketika masuk,, mereka melihat Nanda dan juga Reyna berada di dalam kamar mandi.
"Wah ternyata mereka kumpul kebo di sini," ucap wanita yang satu.
"Benar," ucap wanita yang satunya lagi memanasi keadaan.
Reyna menggeleng sambil menutupi dadanya, dirinya yang hanya melilitkan handuk saja merasa malu.
"Ibu-ibu salah,,, kami nggak ngapa-ngapain," Nanda coba membela diri.
"Masa nggak ngapa-ngapain, nyatanya penampilan kalian?" ucap wanita menunjukkan celana Nanda yang belum di sleting,, Nanda melihat ke bawah dan cepat-cepat menarik resleting celananya.
"Kamu pakai baju dan kita bicarakan ini," Pak RT segera keluar,, bagaimanapun Reyna adalah wanita,, dirinya menghargai itu.
Setelah Reyna memakai pakaian,, kini dirinya duduk diantara warga yang tengah berkerumun menuduh dirinya dan Nanda sudah melakukan hal tersebut.
Padahal kenyataannya keduanya tidak pernah akur sama sekali, sayangnya tak ada yang percaya pada apa yang dijelaskannya.
"Bapak Ibu semuanya, kami tidak melakukan apapun,, bahkan aku nggak tahu kenapa dia bisa masuk," ucap Reyna sambil menatap penuh kebencian pada Nanda.
"Bapak-bapak dan ibu-ibu kami..."
"Permisi," seorang wanita paruh baya segera masuk berjalan diantara kerumunan warga.
"Mama,," Reyna menangis melihat Puput datang, entah apa tujuannya,,, tapi dirinya merasa sedikit lebih baik.
"Reyna ini ada apa?" Puput panik dan menatap wajah-wajah warga yang mengerumuni anaknya.
Awalnya dirinya datang untuk mengunjungi anaknya setelah Reyna memberikan alamat kontrak tempatnya tinggal bersama Nayla, bahkan dirinya datang dengan sahabat lama yang kebutulan bertemu di jalan,, Puput mengajaknya menemui Reyna sambil jalan-jalan dan bercerita tentang masa sekolah mereka dahulu di kampung.
__ADS_1
"Oh ini,, anak ibu itu udah kumpul kebo sama cowoknya," kata salah satu wanita dengan sinis.
Puput cukup shock mendengar penjelasan warga,, rasanya tidak percaya tapi nyatanya kini warga yang memergokinya.
"Nggak gitu Ma," Reyna menangis memeluk Puput dengan eratnya.
Tidak lama kemudian Arni menyusul masuk,, awalnya dirinya hanya di luar tapi rasa penasaran benar-benar mengalahkan segalanya.
"Mama di sini?" Nanda benar-benar terkejut juga melihat keberadaan Arni di sana.
"Mama?" tanya Puput.
"Nanda kamu?" Ani menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Puput apa wanita itu anakmu?" tanya Arni.
Puput mengangguk, dirinya sampai terduduk rasanya jantungnya berdegup kencang dengan nafas yang mulai tidak stabil.
"Ma?" Reyna ketakutan karena Puput memiliki penyakit jantung.
Memberikan mineral juga membuat Puput kembali membaik, walaupun masih memegang dadanya yang terasa sakit.
"Bu! mereka harus dinikahkan, kami tidak tidak ingin di kampung kami ada zina," ucap salah satu wanita yang sangat bahagia merasa selama ini Reyna adalah saingan baginya,, semenjak ada Reyna dirinya tidak lagi bersinar dipandang para laki-laki.
Reyna seakan menyingkirkan dirinya,, dan sekarang saatnya menyingkirkan Reyna membuat dirinya kembali menjadi rebutan para lelaki seperti dulu.
"Iya Bu, mereka harus dinikahkan," ucap salah satu seorang wanita lagi.
"Ma" Reyna menggeleng sambil menangis,, dirinya tidak mau menikah dengan Nanda.
Nanda ingin mengatakan sesuatu akan tetapi mulut warga sudah berbicara dengan tajam,, apalagi dirinya tidak memakai baju dinas mungkin menganggap dirinya hanya rakyat biasa.
"Kalian mau dinikahkan atau di arak keliling kampung telanjang?" usul salah satu wanita lagi yang disetujui oleh warga lainnya.
"Baik kalau begitu segera nikahkan mereka," sebagai Pak RT tentunya harus bisa menengahi,, lagi pula keputusan terbaik adalah mereka menikah.
"Iya Pak mereka akan menikah," ucap Puput.
"Aku nggak mau," ucap Reyna.
"Harus mau dong,, asal Ibu tahu mereka berdua tadi habis mesum, anak Ibu cuma pakai handuk dan lakinya buka celana," ucap salah satu wanita.
"Iya kami lihat sendiri," ucap wanita yang lainnya.
"Betul," ucap warga lagi.
"Ibu, bapak tenang mereka pasti akan menikah,, saya Arni orang tua Nanda," tegas Arni merasa anaknya harus bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuat.
"Ma?" Nanda tidak ingin membuat keributan seketika diam, apalagi dirinya takut malah mencoreng nama baiknya sebagai seorang anggota polisi, padahal ini hanyalah sebuah kesalahpahaman.
"Sudah, warga sudah melihat kalian berbuat dosa,,, kalian akan menikah!" tegas Puput tidak ingin dibantah.
"Memalukan!!!" ucap Puput lagi.
Reyna tidak bisa lagi berkata apa-apa, apalagi Puput bisa saja karena serangan jantung dengan tiba-tiba.
"Reyna," Nayla dan Devan akhirnya sampai di kontrakan setelah menerima telepon dari Reyna, membuatnya segera menuju kontrakan, dirinya sudah bisa mendengar penjelasan dari Reyna melalui sambungan telepon.
"Nay, aku nggak ngapa-ngapain," Reyna menangis dengan eratnya.
__ADS_1
Nayla hanya bisa memeluk Reyna, dirinya yakin tak ada yang terjadi diantara keduanya.
Nayla mengenali Reyna begitupun juga dengan Nanda, sekalipun orang lain menuduh, dirinya tak akan bisa percaya.
Akan tetapi keputusan Puput dan Arni sudah bulat untuk menikahkan keduanya hingga Nayla hanya bisa diam, bagaimanapun dirinya menghargai keputusan orang yang lebih tua darinya,, walaupun kasihan pada Reyna.
"Beresin barang-barangmu dan pulang ke rumah," ucap Puput.
"Nggak bisa main pulang aja dong, nikahin dulu," ucap wanita yang satunya dan disetujui oleh warga lainnya.
"Mereka akan menikah ibu-ibu, tapi dalam waktu beberapa hari ke depan, saya jamin mereka akan menikah!" kata Puput dengan yakin.
"Halahh nanti bohong dan ternyata melakukan lagi di kampung lainnya, nikahin sekarang!" wanita yang satunya pun tak mau kalah menjadi kompor.
"Mereka akan menikah,, ini uang!" Devan mengeluarkan rupiah cukup banyak dan meminta dibagikan kepada warga yang lain agar bungkam.
Terpaksa Reyna membereskan semua barang-barangnya dan ikut pulang bersama Puput,, sampai di rumah Reyna langsung menuju kamarnya, sedangkan Nanda, Devan dan Arni menunggu di ruang tamu.
Nayla ikut menyusul Reyna ke dalam kamar,, dirinya ingin menenangkan sahabatnya tersebut sama seperti apa yang pernah dilakukan Reyna saat dirinya tengah berada dalam masalah.
"Nanda,, Tante mau kamu menikah dengan Reyna, jangan sampai nanti Reyna hamil diluar nikah,," Puput seakan menganggap keduanya sudah benar-benar melakukannya.
Nanda langsung merasa horor, tidak ada yang terjadi di antara mereka, apa mungkin harus menikah pikirnya.
"Mama juga mau kamu menikah," Arni ikut menimpai.
"Mama dan Tante Puput dulu sahabat,, kalau kalian menikah kami akan semakin dekat," ucap Arni,, Nanda kini mengerti tapi dirinya tak mudah untuk menikah banyak proses yang harus dilalui.
"Aku akan menikahi Reyna Ma, Tante. Tapi aku nggak mudah buat menikah," ucap Nanda.
"Kenapa begitu?" Puput kebingungan tak tahu maksud dari penjelasan Nanda.
"Aku anggota polisi, kami harus melalui proses bahkan harus menghadap dulu," ucap Nanda.
Puput mengerti artinya Reyna akan menjadi Ibu Bhayangkari jika menikah dengan Nanda,, Puput pun semakin bahagia, bukankah dulu anaknya ingin memiliki suami yang anggota polisi karena ingin dilindungi dan ingin memakai pakaian Ibu Bhayangkari.
"Kamu urus segera, Tante tidak mau tahu, kalau sampai Reyna hamil kamu harus tanggung jawab," ucap Puput.
Hamil dari mana, apa mungkin bisa hamil hanya dengan melihat Reyna saja.
Ada-ada saja!!! Nanda tidak tahu bagaimana cara untuk bisa lepas dari semua ini.
"Arni tolong yah, jangan sampai anakku hamil," ucap Puput.
"Ya, nanti malam bagaimana kalau mereka tunangan dulu, setelah mengurus semua mereka nanti baru menikah, mau Reyna hamil juga Nanda sudah jelas ayahnya," usul Arni.
Ya ampun jika tidak berhadapan dengan yang lebih tua darinya ingin sekali Nanda membantah dengan keras.
"Bagaimana kalau Dokter ini memeriksa Reyna?" jalan keluar bagi Nanda, Devan adalah Dokter, kenapa tak meminta pertolongan saja pikirnya.
Puput dan Arni beralih menatap Devan.
Dan akhirnya Devan pun menyuruh Reyna berbaring di atas sofa dan segera memeriksa.
"Apa anakku hamil?" tanya Puput tidak sabaran.
Belum juga Devan menjawab Puput sudah jatuh pingsan, takut mendengar kenyataan bahwa benar anaknya sudah hamil diluar nikah.
Reyna ketakutan sebab kondisi Ibunya sangat dipahami olehnya, wajah pun begitu pucat, matanya terbuka dan menatap Reyna kemudian menatap Nanda.
__ADS_1
"Tolong tanggung jawab," ucap Puput.
Nanda mengangguk,, dirinya memilih menurut mungkin ada jalan lainnya setelah ini.