
"Aku manggil-manggil Reyna?" ingin rasanya tertawa terbahak-bahak, sejak kapan nenek sihir itu ada dalam memorinya.
"Masih ngelak aja!" tak ingin dianggap berbohong Arni pun menunjukkan rekaman pada ponselnya.
"Lihat nih," ucap Arni.
Nanda melihat dengan jelas dirinya memeluk bantal sofa dengan erat dan menyebut nama Reyna, belum lagi dirinya sampai mencium bantal hingga berulang-ulang.
Tapi tunggu! seketika Nanda kembali mengingat kejadian barusan dan ternyata itu semua hanyalah mimpi.
"Masih mau mengelak?" tanya Arni.
Glek!!! Nanda meneguk saliva ternyata barusan dirinya bermimpi.
"Kamu itu kalau pacaran jangan kelewat batas begini jadinya, pokoknya kamu harus segera menikahi Reyna, hubungan kalian itu sangat tidak wajar!" ucap Arni.
Nanda hanya diam saja sambil menopang kepalanya, bertanya-tanya akan mimpi gila yang barusan menghampirinya.
"Kamu dengar Mama nggak?" ucap Arni sambil memukul Nanda dengan kencang dengan sapu, kesal Nanda tak menggubris perkataannya.
"Iya Ma besok kita udah sidang," jawab Nanda.
Nanda pun melangkah pergi, kesal sekali harus menikah dengan Reyna.
"Ya harus dong namanya kamu udah nidurin anak perempuan orang," teriak Arni dari kejauhan.
Brak!!!
Nanda membanting pintu kamar dengan kencangnya, kesal sekali dituduh sudah meniduri Reyna.
Sepulang mengantarkan Reyna, Nanda pun segera pulang ke rumah sampai di rumah dirinya tidak membersihkan dirinya tapi memilih duduk di sofa sambil memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Reyna.
Siapa sangka ternyata malah ketiduran di sofa dan memimpikan sesuatu hal yang cukup membuatnya panas dingin.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa mimpi dia?" ucap Nanda.
Segera Nanda menuju kamar mandi dan memilih membersihkan dirinya.
Pagi harinya Nanda pun menuju kediaman Reyna sesuai dengan perkataan semalam.
"Nak Nanda sudah datang," Puput menyambut dengan antusias, calon menantu idamannya tersebut terlihat gagah dengan seragam yang melekat di tubuhnya.
"Reyna ada Tante?" tak lupa mencium tangan Puput hingga membuat Puput semakin terkagum-kagum.
"Ada! kamu masuk dan duduk dulu, Mama akan panggilkan Reyna, ingat panggil Mama," ucap Puput.
Setelah Nanda mengangguk dan memastikan duduk di sofa, segera Puput memanggil Reyna.
Tak lama kemudian Reyna pun muncul, kemeja putih berpadu dengan celana hitam membuatnya terlihat begitu cantik.
Seketika bayangan mimpi panas semalam kembali berputar di kepalanya membuatnya diam tanpa kata.
"Woy!!!"
"Biasa aja ngelihatnya, aku emang cantik makanya kamu ngebet banget pengen nikahin aku," omel Reyna.
Nanda bangun dari duduknya dan menyentil dahi Reyna.
"Apa sih!" ingin sekali Reyna membalasnya tapi apalah daya dirinya terlalu rendah tak dapat menggapai kepala Nanda.
"Minum susu peninggi badan dek biar cepat besar dan tinggi," seloroh Nanda.
Reyna memayunkan bibirnya semakin kesal pada Nanda.
Sedangkan Jessica tanpa sengaja melihat dari kejauhan dirinya malah gemas melihat Reyna dan Nanda.
Setiap bertemu selalu saja bertengkar tapi pertengkaran mereka malah semakin menciptakan sebuah kedekatan yang tak disadari.
__ADS_1
"Ayo dek berangkat," Nanda pun menarik hidung Reyna dengan gemas, tak menyangka bahwa begitu menyenangkan membuat Reyna kesal.
"Aku bukan anak kecil," ucap Reyna.
"Ya memang, kau itu pendek alias gagal produk, pembuangan sisa, makanya begini," Nanda menunjuk tubuh Reyna yang kecil seakan meremehkan.
Dalam hati dirinya tertawa dan mulai merasa nyaman saat berdekatan dengan Reyna.
"Mana ada aku gagal produk, aku itu dari produk pilihan, jangan asal ngomong," ucap Reyna.
"Mana ada, kamu itu..." Nanda menatap di sekitarnya terlebih dahulu, setelah memastikan tak ada orang, barulah dirinya kembali berbicara
"Kamu itu lahir karena ****** bocor," ucap Nanda.
Plak! Plak! Plak!
Reyna pun memukuli dada Nanda dengan kencang, kesal bukan main pada pria aneh di hadapannya.
"Ahahahaha..." Nanda tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Reyna, ternyata semakin ke sini Reyna semakin menggemaskan.
"Awas aja sekali lagi ngomong begitu," Reyna segera menuju sepeda motor Nanda yang terparkir di halaman bahkan dirinya naik terlebih dahulu.
Nanda tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Reyna.
"Lain kali bawa mobil aku nggak mau terus-menerus naik motor, panas kulit aku bisa hitam," omel Reyna.
Nanda terus melajukan sepeda motornya, biarkan saja Reyna terus mengomel di belakangnya.
Sampai tiba-tiba ada seorang anak kecil yang tiba-tiba melintas di tengah jalan hingga hampir tertabrak.
Dengan mendadak Nanda memberhentikan sepeda motornya, Reyna panik dan memeluk Nanda dengan kencang.
"Hampir saja," Nanda bernafas lega beruntung tak ada yang terjadi pada bocah tersebut.
__ADS_1
"Kamu itu pembawa sial, setiap aku sama kamu selalu sial!"
Nanda kembali melajukan sepeda motornya jangan lupa dada Reyna masih menempel pada bagian belakang tubuhnya, seketika rasa penasaran semakin mendalam setelah mimpi semalam kini dirinya ingin terus bersama dengan Reyna.