
Jessica dan Devan kini tinggal di apartemen untuk menjaga privasi rumah tangga dan ingin menghangatkan keluarga kecil mereka. Hampir dua bulan keduanya tinggal berdua saja,, hari-hari Devan hanya bekerja dan Jessica itu saja. Begitupun saat ini juga,, sekembalinya dari rumah sakit keduanya duduk sambil menonton siaran televisi. Jessica tersenyum bahagia merasa Devan sudah menjadi miliknya,, tanpa Nayla yang selama ini menjadi benalu dalam pernikahannya dengan Devan.
Jika Jessica terus tersenyum bahagia saat menonton siaran televisi namun berbeda halnya dengan Devan. Sebulan pertama masih terlihat tenang dan baik-baik saja, namun setelahnya perasaannya mulai kacau balau. Ada rasa aneh yang membuatnya ingin sekali melihat Nayla, bahkan satu bulan penuh ini dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Devan ingin selalu melihat wajah Nayla tapi Nayla saat ini sungguh berbeda jauh dengan Nayla yang dulu,, Nayla yang lagi hamil,,, Nayla yang sekarang benar-benar tidak perduli padanya,,, padahal waktu hamil wanita itu tidak pernah ingin jauh darinya,, selalu sedih apabila mereka berjauhan meskipun Nayla tidak bilang langsung kalau ingin terus dekat dengannya tapi Devan tau wanita itu ingin terus dekat dengannya, tapi sekarang Nayla seakan sangat asing.
Hari-harinya di rumah sakit terus bertemu dengan Nayla sekalipun itu tanpa disengaja, tetapi cukup membuat Devan merasa sangat tidak tenang. Devan ingin sekali memeluk tubuh itu, mendekapnya dengan erat seperti saat dulu waktu mereka masih bersama, memberikan kehangatan saat membutuhkan belaian, semuanya hilang sirna tanpa sisa.
"Devan kamu kenapa?" tanya Jessica.
Jessica tersadar melihat wajah Devan yang murung,, pikirannya melayang entah ke mana saat ini. Dari tadi bibir Jessica terus membahas tentang seorang pelakor yang saat ini sedang dia tonton melalui siaran televisi tapi tampaknya Devan sama sekali tidak peduli tentang hal itu, bahkan mungkin Devan tidak mendengar sama sekali. Devan menarik nafasnya berat kemudian melihat wajah Jessica yang lagi duduk di sampingnya. Lambat laun wajah Jessica lagi-lagi berubah menjadi wajah Nayla.
"Devan," ucap Jessica,, suara Jessica lagi-lagi membuat Devan sadar bahwa yang di sampingnya saat ini adalah Jessica bukan Nayla.
Ada apa dengan Devan? mengapa Devan seakan tersesat dalam bayang-bayang kerinduan yang sangat mendalam pada Nayla.
Tidak! ini bukan kerinduan Devan berusaha menepis semua itu. Nayla bukan apa-apa bagi dirinya,, Jessica masih pemilik hatinya seutuhnya.
__ADS_1
"Devan kamu sebenarnya kenapa sih?" tanya Jessica yang kembali bertanya saat melihat raut wajah berbeda dari Devan.
Tapi Devan lebih memilih berdiri dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar. Jessica juga ikut masuk ke dalam kamar,, melihat Devan duduk diam di sisi ranjang. Saat Jessica akan ikut duduk di samping Devan,, tiba-tiba terdengar suara Devan hingga membuatnya urung untuk duduk bersebelahan dengan suaminya itu.
"Nayla, buatkan Mas kopi!" ucap Devan.
Itu adalah hal yang tidak akan pernah dilupakan Devan,, kopi buatan Nayla sungguh membuat lidahnya sangat merindukan itu.
"Nayla!?" tanya Jessica shock.
Devan tersadar salah menyebutkan nama,, sesaat kemudian dia memperbaiki ucapannya tersebut.
Jessica hanya bisa mengangguk lemah dan merasa telinganya yang sudah salah mendengar, sesaat kemudian segera menuju dapur dan membuatkan secangkir kopi untuk Devan. Sedangkan Devan langsung merebahkan dirinya di atas ranjang lalu membuka ponselnya,, tiba-tiba ada keinginan untuk menghubungi Nayla.
Hingga tanpa sengaja tangan Devan melihat foto profil aplikasi hijau milik Nayla,, seorang bayi berusia empat bulan dengan pipi tembem sedang bersama dengan Nayla. Devan mengusap layar ponselnya seakan sedang mengusap wajah anaknya, ada kerinduan yang kian semakin mendalam. Nayla terlihat tersenyum mencium pipi anaknya,, membuat Devan pun ingin sekali memeluk bayi mungil itu.
__ADS_1
Sesaat kemudian Jessica kembali masuk dengan membawa secangkir kopi untuk Devan.
"Sayang kopinya aku letakkan di meja,, yah?" ucap Jessica.
Devan menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya lalu mengangguk, sesaat kemudian dia berpindah duduk di sofa lalu mulai menyeruput kopi buatan Jessica. Otak Devan sama tidak beresnya dengan lidahnya,, kopi buatan Jessica tidak mampu mengobati kerinduannya dengan kopi buatan Nayla. Ada apa dengan dirinya sulit untuk dipahami tetapi,, wajah Nayla bagaikan racun yang bisa membunuhnya secara perlahan-lahan. Devan memilih pergi sekalipun malam mulai larut tapi dia tidak peduli sama sekali.
"Devan kamu mau ke mana?" tanya Jessica begitu melihat Devan sudah berada di ambang pintu.
"Aku hanya keluar sebentar saja," jawab Devan lalu segera keluar begitu saja, meninggalkan Jessica sendiri di apartemen yang kini menjadi tempat tinggal mereka berdua sekarang.
Pikiran Devan benar-benar kacau,, seorang Nayla mampu meluluhlantahkan ketenangan hidupnya. Entah sampai kapan bisa tenang tanpa bayangan Nayla, bahkan tanpa sadar mobil Devan mengarah pada rumah kontrakan mantan istri keduanya tersebut. Dia berhenti di seberang jalan dan menatap rumah kontrakan sederhana namun masih sangat layak untuk dihuni. Cat dinding yang kini berwarna pink, dengan keramik lantai berwarna putih adalah warna favorit Nayla. Lama Devan menatap pintu kontrakan Nayla yang sedang tertutup,, namun tiba-tiba saja pintu kontrakan itu terbuka.
Terlihat seorang pria datang tetapi hanya duduk di teras saja, Devan melihat kedekatan Nayla dengan pria itu cukup tidak wajar. Sering sekali Devan melihat keduanya bersama hingga menimbulkan tanda tanya mengenai hubungan mereka berdua, sesaat kemudian pria itu tampak bermain dengan Felix.
Devan hanya bisa melihat karena sudah berjanji pada Jessica tidak akan menemui Felix dalam kurun waktu satu tahun ini,, entah apa maksud Jessica tapi Devan memilih menurut saja, karena ancamannya Jessica akan pergi membawa anaknya yang masih berada di dalam kandungan.
__ADS_1
Devan sudah mengorbankan Nayla dan Felix, tentu Devan tidak ingin juga mengorbankan anaknya yang masih berada di dalam kandungan Jessica. Sangat menyakitkan sekali melihat senyum Nayla bukan untuk dirinya tetapi untuk pria lain,, dadanya terasa sangat sesak melihat itu. Devan benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, sampai kapan dia akan terus tersiksa dalam bayang-bayang wajah Nayla.
Awalnya Devan merasa mudah untuk melepaskan Nayla,, namun semuanya ternyata salah,, entah mengapa dirinya sungguh sangat menderita saat berada jauh dengan Nayla, saat tak ada lagi ikatan antara dirinya dan Nayla, karena itu sangat menyakitkan dengan tidak adanya ikatan lagi antara dirinya dan Nayla,, itu membuat dirinya tidak memiliki hak apa-apa untuk melarang Nayla dekat dengan pria lain. Semua hal tentang Nayla tidak bisa dilupakan oleh Devan meskipun sudah berusaha untuk melupakan hal itu tapi Devan tidak bisa, bahkan dengan Nayla memanggil dirinya dengan panggilan "Mas" saja, sudah cukup membuat dirinya benar-benar merasakan rindu.