
Akhirnya malam ini acara makan malam bersama di kediaman Reyna dan Nanda pun dilangsungkan, Nayla dan Devan pun ikut hadir meramaikan acara perayaan dalam ikatan keluarga yang baru terjalin setelah pernikahan Reyna dan Nanda terjadi tidak lupa Alex juga hadir meskipun pikirannya tak pernah berada di sana, selesai dengan makan malam berlanjut dengan pesta barbeque meskipun malam semakin larut tidak serta ada yang menolak, malam ini di halaman rumah dengan penerangan lampu dan juga bintang bertaburan di langit menambah kesan keindahan tersendiri kecuali Reyna yang sibuk bermain dengan Felix dirinya sangat tidak menikmati pesta barbeque di malam ini.
Setelah Nanda mengatakan bahwa pernikahan mereka tidak main-main padahal Reyna berharap bisa bercerai dengan Nanda setelah beberapa bulan kedepan, lagi pula entah mengapa Nanda tiba-tiba mengatakan bahwa pernikahan mereka ini serius tanpa permainan, sedangkan keduanya saja saling membenci, bagaimana bisa berubah menjadi saling mencintai? bukankah mereka harus sama-sama saling memiliki perasaan ditambah lagi mereka tak pernah saling mengenal satu sama lainnya, kalaupun mengenalnya sebatas sama-sama bersahabat dengan Nayla bahkan saat bertemu selalu terlihat cekcok.
Bagaimana bisa menikah dengan serius?
"Reyna kamu anterin ke tempat Nanda, sekalian temani dia, lihat Nayla selalu berada di dekat Devan, kamu juga harus begitu," perintah Puput dengan tangannya yang memberikan piring berisi beberapa makanan.
"Mama aja yang nganterin, kan Mama juga bisa," rasanya malas sekali harus mengantarkan makanan pada Nanda.
"Mama ngantar makanan ke Nanda dan aku untuk kak Alex," tawar Reyna.
Lebih baik dirinya yang memberikan walaupun sedikit berdebat asalkan tidak mengantarkan makanan untuk Nanda.
"Cepat antar pada Nanda! Felix yang ganteng sama Oma Puput ya sayang," Puput mengambil alih Felix dari gendongan Reyna.
Tawaran yang diberikan oleh Reyna sama sekali tak membuat Puput tertarik, menurutnya putrinya tersebut harus sedikit diajarkan cara agar menghargai suaminya.
Dengan bibir komat-kamit Reyna pun terpaksa mengantarkan makanan pada Nanda, hingga matanya menatap bubuk cabai, ide gila pun terlintas di kepalanya.
"Selesai!" Reyna tersenyum penuh kebahagiaan sambil mengantarkan makanan pada Nanda yang duduk di salah satu kursi.
"Cie istri idaman!" celetuk Nayla yang duduk di kursi lainnya namun tak terlalu jauh.
Reyna memutar bola matanya dengan jenuh kemudian memberikan makanan di tangannya pada Nanda.
"Nggak usah mikir aneh-aneh, ini perintah Mama kalau nggak si ogah!" ucap Reyna.
Nanda mengangguk dan mengambil alih makanan yang dibawa oleh Reyna, semakin larut malam wajah Reyna semakin cantik di mata Nanda.
Ini gila! mengapa bisa?
__ADS_1
Pernah mengingat kata-kata mutiara bahwa seorang pria akan patuh pada dua wanita, Ibunya dan wanita yang dicintainya, tampaknya Nanda sudah mulai jatuh hati pada Reyna mungkin mengalah akan lebih baik demi membuat hubungan mereka menjadi lebih baik.
"Kita makan sama-sama," ucap Nanda.
"Nggak mau aku tuh," ucap Reyna.
"Mama di mana yah?" Nanda berpura-pura mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Mama mertuanya.
"Apaan sih lebay banget deh," gerutu Reyna terus terpaksa duduk di samping Nanda.
Nanda tersenyum melihat wajah Reyna dari samping, wajah Reyna sama bersinarnya dengan bulan yang menerangi malam yang gelap gulita.
"Aku tahu aku cantik nggak usah ngeliatin segitunya juga lah!" ucap Reyna.
Nanda mengangguk dan mulai mengarahkan jagung bakar ke mulutnya, tidak berselang lama telinga Nanda bagaikan mengeluarkan asap, rasa pedasnya sungguh luar biasa.
"Ahahahaha," Reyna tertawa dengan terbahak-bahak melihat wajah Nanda yang menahan pedas luar biasa.
"Reyna kelihatannya kamu bahagia sekali?" tanya Puput yang penasaran melihat anaknya, awalnya berpikir Reyna masih bersedih dengan pernikahannya tapi nyatanya kini tertawa dengan lepas.
"Lagi bahagia namanya pengantin baru," Nayla pun menimpali.
"Sok tahu," ucap Nayla.
"Terus apa dong?" tanya Puput bingung, dirinya mengipas jagung yang sedang di panggangan, sedangkan Reyna dan Nanda hanya berjarak beberapa meter darinya, Reyna pun menatap Nanda dan takut jika mengatakan pada Puput atas apa yang sudah dilakukannya.
"Jagungnya enak Ma," Nanda kembali memakannya hingga tandas.
"Iya dong ini resep dari nenek," kata Puput dengan bangga.
"Pas di kampung kita juga sering barbeque, iya kan Puput?" ujar Arni yang diangguki oleh Puput.
__ADS_1
"Aku permisi," Nanda meninggalkan halaman dan segera masuk ke dalam kamar, Reyna hanya melihat saja dan menatap Nanda yang sudah menghilang dari pandangan matanya.
"Nanda kenapa? kamu nggak ngerjain dia kan?" tanya Nayla penasaran, tahu sahabatnya tersebut sangat usil.
Mungkin saja Reyna melakukan sesuatu sehingga Nanda buru-buru masuk.
"Ngerjain? kamu ngerjain Nanda?" tanya Puput shock.
Telinganya mendengar dengan jelas pertanyaan Nayla barusan, tak mungkin dirinya salah dengar.
Jika saja benar maka tamatlah riwayat Reyna malam ini juga.
Puput akan sangat menghukum anak yang nakal itu bahkan di hadapan suaminya sekalipun.
"Nggak Ma," Reyna cepet-cepet menggeleng takut nantinya terkena amukan, sungguh memalukan jika dirinya diamuk di sana tak tahu wajahnya akan ditaruh di mana.
"Awas aja kalau iya! susul Nanda ke dalam, Mungkin ada yang dibutuhkan," perintah Puput.
Glek! Reyna meneguk saliva dan menyusul Nanda sesuai perintah Puput, sudah berulang kali Nanda keluar masuk kamar mandi, perutnya terasa mules setelah memakan makanan yang diberikan oleh Reyna, belum juga lama duduk di sofa dirinya kembali masuk lagi, rasanya sudah cukup lelah sekali.
"Ni obat," Reyna memberikan dua butir obat pada Nanda, saat melihat wajah pucat Nanda membuatnya kasihan.
Tanpa banyak bertanya Nanda pun menelannya, berharap semoga mulesnya segera menghilang.
############
Sedangkan di luar ada seorang pria yang sedang memandangi gambar seorang wanita di layar ponselnya, entah di mana kini keberadaannya membuat Alex hanya bisa diam, ternyata salah menyimpulkan perasaan benci selama ini sebenarnya bukan benci tapi kecemburuan yang terlalu dalam, Jessica wanita yang dicintainya siap melakukan apa saja demi lelaki yang dicintainya, Devan adalah lelaki yang beruntung tersebut dicintai Jessica sepenuh hati mungkin juga sampai mati.
Apa mungkin? apakah bisa Jessica mencintainya sedalam itu?
Alex menarik nafas dengan berat, cukup mustahil! lagi pula mungkin perpisahan adalah jalan terbaik.
__ADS_1
Sedangkan di negeri seberang sana, Jessica juga duduk termenung menatap langit yang bertaburan dengan bintang, mencoba menghibur dirinya sendiri saat ini mengobati rasa trauma dari kejamnya pernikahan yang dijalani, dua kali membina rumah tangga tak satupun berjalan dengan mulus seperti rumah tangga orang lain, akhirnya Jessica hanya bisa tersenyum meratapi nasib malangnya, mungkin perpisahan adalah awal dari kebahagiaan yang akan datang.