Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Inikah Devan yang sesungguhnya?


__ADS_3

Nayla mencari keberadaan Felix, sampai di ruang tamu dirinya melihat Felix sedang bermain dengan Rani, Ana dan Bima Putra. Felix terlihat bahagia sesekali tangannya menarik-narik rambut Rani hingga Rani menjerit kesakitan.


"Sayang,, jangan begitu kasihan kakak," ucap Nayla.


"Mbak Nayla, Felix nakal," ucap Rani sambil menghambur ke pelukan Nayla, mengadu seakan dirinya sangat kesakitan.


"Ya ampun kasihan sekali," ucap Nayla sambil memeluk Rani dan menggosok-gosok kepala bocah itu.


"Felix kita pulang yuk," ucap Nayla lagi.


"Kok pulang sih? Felix juga masih asik main,,nanti saja atau makan malam di sini saja,, Mama juga kangen masakan kamu," ucap Ana.


Belum puas bermain dengan Felix membuat Ana sangat berat hati mengizinkan Nayla untuk pulang,,, belum juga dirinya bermain dalam waktu yang lama. Apalagi ini pertama kalinya Felix dibawa ke rumahnya, tentu Ana sangat bahagia.


"Lagian kamu baru datang," ucap Ana lagi.


Nayla melihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul tiga sore, yang berarti sudah dua jam dirinya berada di rumah mantan mertuanya tersebut. Rasanya malu sekali bila dirinya berlama-lama di sana,, Nayla rasa dulu dan sekarang sudah sangat berbeda.


"Mbak Nayla pulangnya nanti yah,, Rani masih mau main dengan Felix," ucap Rani yang membuat Nayla langsung menatap wajah Rani, baru saja bocah itu menangis karena jambakan pada rambutnya tapi itu tidak membuatnya ingin mengakhiri bermain dengan Felix.


"Kamu masak ke dapur saja,, Mama pengen makan masakan kamu," ucap Ana yang membuat Nayla dengan terpaksa mengangguk lemah, Rani dan Ana benar-benar tidak ingin dirinya pulang. Mungkin karena masih ingin bermain dengan Felix,, dirinya juga tidak bisa jika meninggalkan Felix di sana.


Dengan segera Nayla menuju ke dapur, memilih menyibukkan diri dengan membuat hidangan makan malam daripada duduk tanpa tahu harus melakukan apa.


Tidak sulit bagi Nayla menemukan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk dimasak karena semuanya masih sama,, sehingga Nayla tidak membutuhkan seseorang untuk menunjukkan di mana bahan-bahan itu berada. Sampai di dapur dirinya langsung memasak, awalnya dia juga bingung mau memasak apa akhirnya dia membuat makanan kesukaan Ana. Udang balado dengan petai, sayur bening dan juga ayam bakar kesukaan Rani.


"Sedang apa?" tanya Devan yang membuat Nayla hampir saja jantungan karena tiba-tiba Devan sudah berada di dekatnya.


Nayla memilih menarik nafas panjang dan tetap tenang, berusaha untuk tidak memperdulikan Devan. Nayla masih mengibarkan bendera perang setelah kontrak kerja gila yang baru saja ditandatanganinya. Akan tetapi, siapapun sudah tahu seperti apa Devan, tidak akan pernah habis untuk membuat orang lain kesal hingga menyerah untuk diam saja.


"Kenapa memasak?" tanya Devan,, Nayla masih memilih diam tidak peduli seakan tidak menganggap Devan ada didekatnya.


"Kenapa tidak pulang?" tanya Devan untuk kedua kalinya. Devan pun masih diam sambil terus memotong bawang merah di tangannya.


"Aku tahu kamu sedang berusaha mencari perhatian," ucap Devan yang untuk kali ini Nayla terpancing dan langsung menatap Devan dengan penuh tanya sekalipun dia tidak bicara.


"Kamu sedang mencari perhatian dengan memasak," ucap Devan lagi, dan untuk kali ini Nayla benar-benar tidak bisa untuk berdiam diri lagi, tapi belum juga Nayla berbicara Devan kembali berucap.


"Mas pesan kari kambing," ucap Devan.


"Yang pertama aku bukan pembantu Mas, disini kerjaanku asisten Dokter bukan asisten rumah tangga, yang ketiga aku mau masak buat mencari kesibukan saja, sambil menunggu Rani selesai main dengan Felix," ucap Nayla menjelaskan semuanya agar Devan tidak berpikiran aneh-aneh, berharap Devan juga segera menyingkir dari sana.


Devan mengangkat sebelah alisnya.


"Main apa?" tanya Devan.


"Iya mainlah!!! memangnya ada mainan punya nama?" ucap Nayla yang kembali berfokus pada pekerjaannya,, Nayla berusaha tetap cuek pada Devan.


"Nama main banyak,, main petak umpet yang bersembunyi, main masak-masak kesukaan Rani,, main perang-perangan kesukaan Felix, main di kamar kesukaan Nayla," ucap Devan,, Nayla yang merasa Devan tidak sopan langsung meletakkan pisau di tangannya pada meja, Nayla menatap Devan dengan penuh kemarahan.


"Mas,, kamu bicara yang sopan,, aku nggak suka dianggap rendah, biar begini aku juga punya harga diri!!!" ucap Nayla sambil berkacak pinggang, ingin memberikan peringatan pada mantan suaminya yang masih duduk di kursi roda tersebut.

__ADS_1


"Loh salahnya di mana?" tanya Devan bingung dan tidak tahu apa-apa tapi jujur saja wajah mantan istrinya itu semakin cantik saja di matanya. Apalagi dengan tubuh setengah condong tapi ada satu hal yang membuatnya kesal, mengapa kancing kemeja Nayla tidak terlepas, otaknya tidak beres karena pesona seorang Nayla.


"Terus ngapain ngomong main di kamar?" tanya Nayla.


"Memangnya salah?" tanya Devan balik.


"Salah," ucap Nayla.


"Salahnya di mana?" tanya Devan sambil menatap wajah Nayla dengan penuh selidik.


"Main di kamar main bola, main petak umpet juga bisa atau?" ucap Devan dan sejenak dia menatap Nayla.


"Mas tahu mainan kamar yang kamu maksud," ucap Devan yang membuat mata Nayla melebar sempurna, merasa dirinya malah tersudutkan oleh Devan.


"Enak aja," ucap Nayla cepat.


Mengapa bisa Devan begitu mengesalkan dan banyak bicara? sejak kapan Devan menjadi suka berbicara panjang lebar kepadanya. Merasa selama ini Devan hanya berbicara seperlunya saja bahkan terlihat biasa saja kini sungguh berbanding terbalik.


"Otak kamu makin ngelantur, Mas yakin kamu pasti mikir main yang itu,," ucap Devan.


"Mas apa sih..." ucap Nayla yang ingin sekali menangis dan berguling di lantai, Devan kini sangat jail dan suka sekali menggoda dirinya habis-habisan.


"Nah kan benar tebakan Mas!!!" ucap Devan.


"Mama!!!" teriak Nayla yang sudah tidak tahan karena godaan Devan yang terus saja membuat dirinya merasa malu.


Ya ampun!!! Devan kembali berdoa semoga saja dua kancing kemeja Nayla terlepas karena dorongan sang pemilik yang besar dan padat. Sadar Devan memperhatikan dirinya Nayla segera berdiri tegak dan merapikan pakaiannya.


"Siapa yang pelecehan? otak kamu sudah tergeser!!!" ucap Devan yang tidak mau mengalah, sekalipun Nayla sedang marah tapi bagi Devan daya tariknya tidak pernah berkurang malahan semakin bertambah saja.


"Sana pergi!!! aku mau masak," ucap Nayla.


"Kamu sungguh semakin cantik," tanpa sadar kalimat pujian keluar dari bibir Devan yang membuat Nayla menghentikan sejenak kegiatannya hanya untuk menarik nafas sebanyak-banyaknya.


Sayang sekali jantungnya kembali berdegup dengan sangat kencang,, jika dulunya Nayla hanya menginginkan Devan karena tuntutan batin,, kini tidak. Nayla merasa ada yang berbeda setelah memutuskan berdamai dengan masa lalu.


"Kok muka kamu merah begitu sih?" tanya Devan.


"Mana ada," elak Nayla, segera Nayla menuju wastafel untuk mencuci wajahnya.


Tetapi, tunggu dulu sesaat kemudian merasa ada yang tidak beres. Ya ampun Nayla juga lupa dirinya baru saja habis mengiris bawang, berlanjut mengiris cabai. Mencuci muka tanpa mencuci tangannya dengan sabun terlebih dahulu membuat wajahnya terasa panas.


"Nayla kamu kenapa?" tanya Devan yang tersadar terjadi keanehan, kemudian menatap tangan Nayla.


"Muka kamu merah begitu,, ya ampun kamu kepedasan?" tebak Devan.


Malu Nayla semakin menjadi-jadi setelah mendengar tebakan Devan yang benar adanya.


"E... enggak mana ada," ucap Nayla.


"Iya sayang!!! pipi kamu merah," ucap Devan sambil menunjuk pipi Nayla.

__ADS_1


Apa maunya Devan saat ini? ingin sekali Nayla mencari tanah yang retak dan bersembunyi di sana agar Devan tidak mengetahui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Pakai salep aja,, di kamar Mas ada salep,, kamu ambil saja," ucap Devan.


"Nggak perlu!!! aku nggak apa-apa!!! udah ah! aku mau ke ruang tamu," ucap Nayla bohong padahal kini dirinya sedang berdoa semoga Devan tidak mendengar detak jantungnya yang begitu kencang.


Demi menghindari Devan, Nayla segera keluar dari dapur, entah pintunya yang tiba-tiba berpindah posisi atau dirinya yang kehilangan fokus. Karena Nayla bukan menuju ruang tamu di mana Felix berada bersama Omanya malah menuju arah kamar lamanya.


"Nayla sayang!!! Felix tidak berada di dalam kamar lamamu, anak kita ada di depan,, di ruang tamu!" ucap Devan yang sedikit menaikkan nada bicaranya agar Nayla mendengarnya.


Seketika langkah kaki Nayla berhenti dan menyadari bahwa dia saat ini salah jalan, sejenak memejamkan mata dan membukanya kembali. Dengan menahan malu Nayla yang memunggungi Devan kembali berbalik.


"Sejak kapan ruang tamu ada di sana?" ucap Devan yang kali ini Devan juga bingung, dirinya yang cukup lama koma malah Nayla yang mendadak amnesia.


"Aku ingat tapi pura-pura lupa saja," ucap Nayla yang membuat Devan melongo mendengar alasan Nayla yang tidak masuk akal.


"Udah ah!!!" ucap Nayla yang segera berjalan menuju ke tempat Felix, kali ini benar tanpa kesalahan. Sayangnya saat melewati Devan dengan terburu-buru malah tersandung dan terjatuh di lantai, Nayla terduduk tepat berada di samping kursi roda Devan.


"Sayang hati-hati!" ucap Devan yang mengulurkan tangannya merasa kasihan pada Nayla.


Ya ampun sampai kapan Devan terus memanggilnya dengan panggilan sayang, apakah Devan tidak mengerti dirinya mendadak salah tingkah. Hanya karena panggilan tersebut. Dirinya memang janda,, tapi tidak lupa pula dengan belaian hangat mantan suaminya yang begitu hebat saat di atas ranjang, ya ampun apa itu otaknya mulai tidak beres, segera Nayla berdiri tanpa menerima uluran tangan dari Devan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Devan.


"Emangnya aku kenapa? kamu nggak lihat aku nggak apa-apa?" ucap Nayla sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya ampun Nayla! kamu semakin emosi semakin cantik, kamu ingat waktu sebelum melahirkan Felix?" tanya Devan sambil menatap di sekitarnya untuk memastikan bahwa mereka hanya berdua saja dan tidak ada yang mendengar apa yang dikatakannya.


"Waktu itu kamu hot banget, kamu yang memulai menggoda Mas dengan sangat liar," ucap Devan lagi sambil tersenyum penuh kebahagiaan.


Astaga inikah sebenarnya Devan? Nayla langsung shock saat ini, tidak menyangka ternyata Devan suka berbicara mesum dan mungkin juga mengingat waktu itu dengan jelas. Lagi pula kenapa harus mengingat lagi, dulu dan kini sangat berbeda sekali. Jika waktu bisa diputar,, waktu itu Nayla memilih tidak melakukannya.


Ini sangat memalukan!!!


"Cukup yah Mas!!!" ucap Nayla.


"Sayang kita rujuk yuk,, Mas nggak tahan main solo terus, pakai tangan nggak enak," ucap Devan.


"Dasar Dokter mesum," ucap Nayla,, sebelum dirinya benar-benar gila karena Devan, ada baiknya Nayla segera pergi dari hadapan Devan. Ucapan Devan saat ini tidak bisa lagi dikontrol, berbicara sesukanya tanpa rasa malu. Devan tersenyum melihat tingkah Nayla yang begitu menggemaskan.


"Sayang!!!" seru Devan lagi.


Nayla menutup telinganya dan benar-benar menghilang dari hadapan Devan yang gila itu.


"Nayla masakan kamu gimana?" teriak Devan agar Nayla mendengarnya.


Dan benar saja sedetik kemudian Nayla berlari tergopoh-gopoh kembali menuju dapur, sayangnya dirinya tertipu, karena belum juga memulai memasak Devan sudah datang dan merusak moodnya hingga Nayla memilih batal memasak.


"Mas bohong!!!" ucap Nayla.


"Ahahahah," Devan malah tertawa melihat wajah kesal Nayla.

__ADS_1


"Dasar!!!" Nayla segera pergi dan memilih tidak peduli pada tertawa Devan yang mengejek dirinya.


__ADS_2