
"Wow! ini luar biasa!!! mungkinkah mereka itu sudah bercerai?" ucap Zaskia.
Zaskia mengintip dari kejauhan, tampak ada ketegangan yang terjadi diantara Inggit dan Alex.
Bahkan saat bertemu dengan Jessica pun keduanya begitu dingin.
Baiklah sampai di sini bisa disimpulkan bahwa ada yang tidak beres.
Akan tetapi dirasa sangat menguntungkan baginya, kenapa tidak?
Bukankah sudah pasti dengan mudah bisa mendapatkan Alex?
Oh! rasanya seperti permen mint yang menyegarkan, ada salju yang turun membayangkan akan menjadi Nyonya Alex.
Belum lagi di kampung akan dipamerkan, tentu sangat membanggakan sekali.
"Mikirin apa woi?" Rima meninju pundak Zaskia, dirinya melihat Zaskia begitu bahagia menyaksikan kesedihan Jessica.
"Urus diri sendiri," Zaskia kesal dan memilih pergi menyusul Alex menuju ruang kerja.
Menarik nafas sebanyak-banyaknya, menyemprotkan parfum ke bagian bajunya, kemudian merapikan rambut lalu melangkah masuk.
Zaskia melihat Alex sedang kusut, bukankah jika begini dirinya bisa memasang badan, mungkin salah satunya menjadi teman curhat!
Ya!
"Ehem," Zaskia berdehem dan berharap diperhatikan oleh Alex.
Alex pun melihatnya dengan pandangan mata tajam.
"Bereskan semua, saya butuh istirahat," ucap Alex.
Alex menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja kemudian pergi.
"Ya ampun aku di kacangin," Zaskia menepuk dahinya kesal pada Alex, tapi nggak apa-apa semua butuh proses.
Alex sama sekali tak ingin bicara pada siapapun termasuk Zaskia, bahkan mungkin saat ini pun dirinya lebih memilih untuk tidak pulang ke rumah demi menghindari pertengkaran dengan kedua orang tuanya.
Satu hari berpisah dengan Jessica.
Dua hari pun Alex masih baik-baik saja dan merasa tetap bahagia.
Tiga hari berikutnya pun tak ada masalah, kepergian Jessica sama sekali tidak membuatnya menjadi galau seperti pria pada umumnya.
Satu minggu pun berlalu Alex benar-benar baik-baik saja, hingga dirinya memilih untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya mungkin keadaan di rumah sudah lebih baik.
Dirinya pun harus mengambil sebuah ponsel miliknya yang tertinggal di kamarnya.
Sampai di rumah tak ada yang tersenyum padanya bahkan Puput sendiri terlihat menghindar saat melihat Alex dirinya langsung pergi begitu saja, seakan tak ingin melihatnya.
Alex pun mengangkat bahunya dengan santai tidak peduli sama sekali.
__ADS_1
Sampai di depan pintu kamar, Alex langsung memutar gagang pintu dan masuk. Kamarnya masih sama saat beberapa hari yang lalu ditinggalkan, berantakan tanpa ada siapapun yang membereskan seperti biasanya, tiba-tiba saja bola mata Alex melihat benda kecil dengan dua garis merah terbuang di lantai, Alex pun mendekatinya dan berjongkok untuk mengambilnya.
Dengan lekat Alex memandangi benda kecil tersebut, hingga bayangan wajah Jessica kembali menghampirinya secepat mungkin Alex menepisnya, tak ingin larut dalam bayangan wajah wanita yang dibencinya tersebut!
"Apa janinnya masih bertahan?" gumam Alex.
Sekalipun berusaha untuk menepisnya, Alex tetap saja tak dapat menghindar sepenuhnya, rasa penasaran masih saja menghantuinya.
"Tidak mungkin janin itu bertahan, ya sulit baginya untuk mengandung, aku yakin janin itu sudah tidak ada," ucap Alex.
Alex meremas tespek di tangannya, meyakinkan dirinya bahwa janin tersebut sudah tak ada lagi.
###########
Sedangkan di tempat lainnya sedang terasa begitu perih, seorang ibu sedang menangis tersedu-sedu karena anaknya masih bersikeras untuk mempertahankan janin yang hanya membahayakan dirinya sendiri.
Berulang kali Inggit memohon pada Jessica untuk mengangkat janinnya, tapi sampai saat ini Jessica menolak dengan keras.
"Ayolah Jessica! Mama mohon sudah dua kali kamu pendarahan dalam waktu 1 minggu, Mama takut," ucap Inggit.
"Nggak apa-apa Ma, aku kuat! semuanya akan baik-baik saja," ucap Jessica mencoba meyakinkan dengan wajah pucat nya.
Inggit menggeleng mengusap dada menatap Rara putri sulungnya yang sengaja pulang ke Indonesia untuk menjenguk keadaan Jessica.
Rara mengusap punggung Inggit, raut wajah Inggit begitu tampak menyedihkan, merasa was-was akan keadaan Jessica.
"Ma kalau memang Jessica ingin mempertahankan janin itu, kita bisa apa?" ucap Rara.
"Tapi Mama takut kehilangan Jessica," tangisan Inggit semakin kuat seiring air mata yang tak hentinya mengalir deras.
Mungkin caranya adalah membiarkan Jessica bahagia dengan apa yang diinginkan oleh dirinya.
"Mama takut, Pa," ucap Inggit.
"Dia akan baik-baik saja, atau mungkin biar Jessica ikut sama aku aja, Ma," usul Rara.
Jessica pun menatap Rara, dirinya langsung mengangguk setuju bahkan sebelum kedua orang tuanya memberikan jawaban.
"Mungkin itu lebih baik Ma," jawab Jessica.
Jessica ingin pergi sejauh mungkin meninggalkan semua kenangan pahit di tengah ibu kota.
Dada yang sesak butuh pelampiasan untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Di sini di ibukota sangat menyiksa, cinta pertama berakhir dengan terpaksa, berharap dengan pernikahan kedua bahagia, nyatanya malah sebaliknya.
Baiklah cukup sudah!
Kebahagiaan Jessica kini adalah janinnya dan janin itu harus diperjuangkan, sampai jumpa lagi ibu kota yang penuh dengan kenangan.
Kenangan indah, sakit, pilu, luka, air mata.
__ADS_1
Jessica pun ikut bersama dengan Rara menuju Malaysia.
Inggit memeluknya dengan eratnya, terasa berat melepaskan kepergian putri bungsunya itu dengan keadaan tidak baik-baik saja.
"Aku nggak apa-apa Ma," Jessica tak ingin membuat Inggit terus bersedih, dirinya akan merasa bersalah jika Inggit sampai sakit karena terlalu lama memikirkan dirinya.
Sejujurnya di dalam hati sangat sakit, hamil tanpa suami itu serasa menyiksa akan tetapi kembali lagi pada kenyataan yang menuntutnya, maka selamat tinggal mimpi-mimpi yang dulu pernah menguasai benaknya, suami setia, menyayangi penuh cinta, mengasihinya tanpa jeda.
Hap!
Lenyap jadi asap dan hilang seketika.
"Janji jaga diri di sana," ucap Inggit.
"Iya Ma," ucap Jessica kemudian beralih memeluk Papanya, Papanya itu memang tak pernah menangis di hadapannya langsung, akan tetapi tidak saat di belakangnya, kebanyakan menunduk dan menangis tersedu-sedu meratapi nasib putrinya yang malang.
"Berjanji untuk menjaga diri," ucap Papa Jessica.
"Iya Pa," ucap Jessica.
"Cucu Opa! jaga Mama kamu ya, karena cuma kamu yang bisa Opa percaya, jangan nakal!"
Papa Jessica mengusap perut rata Jessica seakan berbicara pada janin tersebut.
"Aku pamit ya Ma," ucap Jessica.
Saat Jessica akan berbalik terdengar suara Puput dari kejauhan.
Puput berlari secepat mungkin di tengah keramaian bandara menangis tersedu-sedu dirinya langsung menyusul ke bandara saat mengetahui Jessica akan pergi ke luar negeri.
"Jessica"
Jessica pun melihat Puput.
Satu, dua, tiga...
Belum juga sepenuhnya Jessica berbalik, Puput sudah memeluknya dengan erat, tangisan Puput terdengar begitu menyedihkan, tidak ingin Jessica pergi.
"Jangan pergi! Mama mohon," ucap Puput.
"Terima kasih udah sayang sama aku, Mama adalah Mama terbaik setelah Mama Inggit, tapi maaf aku nggak bisa di sini terlalu banyak kenangan pahit, aku butuh kebahagiaan! aku pamit ya Ma," ucap Jessica.
"Jessica Mama mohon," ucap Puput.
Jessica melepaskan pelukannya dan tersenyum pada semuanya, tangannya melambai sesaat sebelum berbalik pergi bersama dengan Rara yang merangkul pundaknya.
"Jessica," Puput semakin menangis, betapa sakitnya saat ini.
Jessica pergi dengan membawa cucunya, tidak bisa menemani dalam segala sesuatunya, dirinya ingin berbicara pada perut Jessica, mengusapnya dan merasakan tendangannya, makan bersama Jessica yang tengah mengidam dan menemani saat melahirkan nanti, semua harus dikubur dengan ucapan selamat jalan Jessica.
Semoga cucunya akan tetap bertahan dan bisa melindungi Ibunya kelak dimanapun dan dalam keadaan apapun.
__ADS_1
Inggit pun menangis pilu, tidak menyangka bahwa beban batin Jessica begitu berat.
Mungkin inilah yang terbaik!