
Semuanya berjalan dengan pasangan masing-masing, Nayla dan Devan berjalan paling depan. Kemudian Alex dan Jessica, berlanjut Reyna dan Nanda. Sedangkan yang paling belakang ada Aditya dan Rima.
Di antara ke empat pasangan suami istri itu hanya Rima dan Aditya yang tidak berpegang tangan.
Keduanya hanya diam tanpa bicara, bahkan bibir Rima terus mengerucut saat Aditya sesekali meliriknya.
"Apa lihat-lihat!" Ketus Rima.
Pemandangan yang indah seketika terasa rusak karena melihat wajah Aditya, ingin sekali menelan suami sialannya itu hidup-hidup agar berakhir di toilet. Setelah itu mata indahnya tidak akan melihat wajah menyebalkan Aditya lagi.
Aditya hanya diam saat Rima mengibarkan bendera perang, tidak ada senyum apa lagi jawaban. Wajahnya hanya datar tanpa bicara, sampai akhirnya tanpa sengaja Rima menginjak kulit pisang dan terjatuh di atas aspal.
"Aduh," Rima meringis menahan sakit pada bokongnya yang tersentak.
"Rima," Reyna berhenti melangkah dan menoleh kebelakang, matanya melebar melihat Rima yang sudah terduduk di jalanan.
"Aku kepeleset," jawab Rima sambil merintih kesakitan.
"Aditya, itu istri mu jatuh. Tolongin!" Omel Nayla melihat Aditya hanya diam saja.
"Ya ampun Aditya, kamu kok diam aja!" Omel Reyna ikut menimpali.
Aditya pun mengulurkan tangannya, kemudian Rima menepisnya.
"Nggak usah, aku bisa sendiri!" Tolak Rima, yang lainnya sampai menarik napas menyaksikan pasangan aneh tersebut.
"Yang satunya kaya kanebo, yang satunya juga keras kepala," gumam Nayla bingung.
Rima pun mengulurkan tangannya pada Reyna, akhirnya berdiri kembali dengan bantuan Reyna tentunya. Setelah merasa baik-baik saja perjalanan pun kembali dilanjutkan.
"Yakin kuat?" Jessica bertanya melihat Rima baru saja terjatuh.
"Iya, nggak apa-apa. Cuma sedikit aja kok," Rima pun merasa baik-baik saja, dirinya bukan wanita cengeng, jadi itu tidak masalah baginya.
"Wah, ada bunga," Jessica melihat bunga yang indah tumbuh di halaman rumah salah seorang warga. Bunga mawar yang tengah bermekaran.
Alex pun memetiknya dan memberikannya pada Jessica.
"Ya ampun Alex, kenapa di petik?" Nayla kesal karena Alex melakukan sebuah kesalahan.
__ADS_1
"Kenapa? Ini cantik!" Alex kembali memetiknya dan memberikannya pada Jessica.
Jessica merangkai bunga di tangannya dan menghirup aromanya hingga beberapa kali.
"Aku suka," Jessica tersenyum dan merasa bahagia.
"Kamu suka, tapi itu lihat," Nayla menunjuk ke sebuah rumah, dimana bunga tersebut adalah milik seorang wanita cerewet dan kikir.
Perlahan wanita tua dengan memakan sirih merah mendekati.
"Kenapa berani memetik bunga ini?" Wanita itu merebut paksa dari tangan Jessica.
Jessica sampai tersentak dan berpindah berdiri di belakang Alex, wajah wanita tua itu terlihat menyeramkan.
"Nek Mimi, aku minta maaf. Tadi, temen aku suka sama bunga ini. Dan di petik sama suaminya," Nayla pun menunjuk Alex.
Nek Mimi menatap Alex dengan pandangan berapi-api, sesaat kemudian bertanya.
"Kamu tau itu bunga saya, itu rumah saya dan ini saya yang menanam!" Ujar Mimi.
"Maaf Nek, saya sudah lancang," kata Alex mengakui kesalahannya.
Nek Mimi pun terdiam sambil menatap Alex kemudian menatap Jessica yang bersembunyi dibelakang Alex.
Nayla dan Nanda tahu seperti apa kikir Mimi, tetapi saat ini sepertinya tidak begitu.
Bahkan Nanda dan Nayla saling pandang bingung.
"Tapi kamu jadi suami saya," seru Nek Mimi sambil memeluk lengan Alex.
Jessica menjauhi Alex, di ikuti dengan yang lainnya.
Alex pun panik saat Mimi terus saja memeluk lengannya tanpa ingin melepaskan sama sekali.
"Nek, lepas. Saya sudah punya istri!" Alex berusaha melepaskan Mimi yang terus saja memeluk lengannya, sulit sekali hingga tidak bisa terlepas juga.
Sebenarnya bisa saja tangan Alex melempar Nek Mimi, tetapi tidak ingin membuat urusannya semakin panjang, hingga Alex memilih memohon dilepaskan.
"Istri mu yang mana?"
__ADS_1
"Itu" Alex menunjuk Jessica yang mengangkat kedua tangannya karena masih dalam keterkejutan terhadap reaksi Mimi pada Alex.
"Dia jelek sekali! Aku cantik, kamu sama aku aja. Ayo masuk ke rumah aku," Nek Mimi pun menarik Alex untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Nek, lepas!" Alex panik dengan wajah merahnya.
"Ayo yang, aku masih kuat kok," dengan kulit kendurnya Nek Mimi begitu percaya diri menjulurkan lidahnya pada Alex seakan menggoda.
"Jessica, tolong aku! Devan, Aditya, Nanda! Tolong aku," seru Alex ketakutan.
Wajah Mimi begitu mengerikan di mata Alex saat ini.
"Nayla! Kamu anak Bobby?" Tanya Nek Mimi.
"Iya Nek," Nayla mengangguk dengan suara gagap, dirinya masih dilanda ketakutan.
"Kamu panggil penghulu, kami akan mekikah," titah Mimi sambil memeluk Alex dengan eratnya.
"Apa?" Nayla sampai meneguk saliva saat mendengar keinginan Mimi.
"Alex?" Tanya Devan sambil menahan tawa
"Jangan berpikir aneh-aneh!" Alex terus bergerak berusaha lepas dari pelukan Mimi. Walaupun sebenarnya sulit melihat pelukan begitu kuat.
"Sayang, kita akan menikah dan punya anak. Aku akan memanggil mu Papi dan aku jadi Mami," Mimi bersorak gembira sampai akhirnya gigi palsunya terlepas.
Semua mata tercengang, melihat gigi yang kini terjatuh di jalanan.
Mimi pun berjongkok dan melepaskan Alex sejenak, dalam sekejap mengambil kesempatan dan Alex pun melarikan diri secepat mungkin.
Begitu pun juga dengan dengan yang lainnya.
Hanya Nayla dan Devan yang masih tersisa, sebab Nayla tidak boleh berlari.
"Papi! Tunggu Mami!" Teriak Mimi sekencang mungkin, kemudian melihat Devan.
"Sepertinya kamu tidak kalah tampan" Mimi juga tampak tergoda pada Devan, mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Hueekkkk," Devan mual melihatnya.
__ADS_1
"Sayang, sepertinya ini semakin tidak beres" Devan pun berjongkok, kemudian mengendong Nayla berlari melarikan diri.
"Papi!" Teriak Mimi hingga menggelegar di seluruh penjuru desa.