Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Ini sangat diluar dugaan Puput sendiri,


__ADS_3

Jessica kembali pulang ke kediaman Alex, walaupun hanya sebentar mengunjungi rumah kedua orang tuanya cukup melepaskan rasa rindu yang terpendam, tapi rumah cukup sepi membuat Jessica bingung dan bertanya-tanya.


"Bik," seorang kepala Art melewati Jessica.


"Orang-orang pada ke mana? kok rumah kayaknya sepi banget," tanya Jessica.


"Ibu sama Bapak dan Neng Reyna hari ini pergi sama calon suaminya Neng Reyna, saya juga lupa ke mana padahal tadi ibu udah bilang sekalian minta dibilang kalau nanti Non Jessica pulang," Art itu tersenyum menggaruk kepalanya sambil mengingat ke mana barusan majikannya berpamitan pergi.


"Udah nggak usah dipikirkan sampai segitunya, mungkin Reyna nikah kantor sama Nanda," Jessica tersenyum melihat wajah lucu kepala Art yang terus saja berpikir keras mengenai kemana pergi majikannya.


"Iya mungkin yah Non, maaf ya Non Bibik sudah tua, suka lupa," ucap kepala Art itu lagi.


"Nggak apa-apa Bik," ucap Jessica.


"Tapi Den Alex di kamar kayaknya Non," ucap kepala Art itu lagi.


"Aku ke kamar dulu yah Bik," ucap Jessica.


Segera Jessica menuju kamar, berdirinya butuh istirahat sejenak untuk memulihkan kondisi tubuh yang kurang baik.


"Habis jalan sama laki-laki yah, bahagia tidak?" cerca Alex dengan pertanyaan.


Baru saja Jessica mendorong pintu kamar, tapi sudah disambut oleh Alex.


Jessica tak mempermasalahkan sama sekali memilih untuk menuju kamar mandi, mencuci wajahnya setelah itu mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan.


Alex merasa Jessica mengacuhkannya, ada rasa kesal sejak tadi sampai saat ini pun, bahkan Jessica tidak menjelaskan apa-apa padanya setelah pergi begitu saja dengan seorang pria.


"Apa kamu butuh tanganku yang berbicara? jika memang mulut saja tidak cukup untuk bertanya, aku tidak masalah jika tangan juga ikut bertanya," Alex mendekati Jessica dan ingin mencengkram dagu Jessica.


Dengan cepat Jessica menepis tangan Alex, mundur beberapa langkah untuk menjauhi tangan kasar tersebut, Alex pun menjatuhkan tangannya kembali tapi tatapannya masih penuh intimidasi.


"Dari mana bersama laki-laki? dasar murahan!" ucap Alex.


"Kamu bicara sama aku?" tanya Jessica.


"Memangnya ada orang lain selain kita berdua?" tanya Alex balik.


"Ada," sejenak Jessica diam membalas tatapan mata Alex berkabut emosi.


"Setan! kamu setannya juga," ucap Jessica dan segera merebahkan dirinya di atas sofa, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sedang menggigil.


Jessica menyebutnya setan, bahkan dengan terang-terangan.


"Sampai di sini kamu semakin kurang ajar saja! bicaramu tidak sopan! sudah berpelukan dengan laki-laki lain di depan umum, pasti juga barusan jalan," tebak Alex tersenyum miring.


Jessica tidak peduli memilih menutup telinganya mungkin sebentar lagi akan tertidur karena obat, rasanya kepalanya begitu pusing apalagi untuk mendengarkan omongan kosong, tapi Alex tidak terima diacuhkan, menganggap secara tak langsung menghina dirinya sebagai seorang lelaki, Alex pun menarik paksa selimut Jessica dan melemparnya pada lantai.


"Ya ampun!" Jessica segera berdiri menatap Alex dengan kesal.


"Kenapa kamu suka sekali mengajakku berkelahi? apa kamu tidak lelah?" ucap Jessica.


Dada Jessica naik turun dengan emosi yang terus tercipta saat bersama dengan Alex, entah sampai kapan perselisihan ini terus berlangsung.


"Aku tidak mengajak bertengkar, aku ini bertanya padamu kenapa kau berpelukan dengan laki-laki lain? kenapa kau pergi bersama laki-laki lain tanpa izin dariku?" ucap Alex.


"Memangnya kenapa?" tanya Jessica.


"Aku ini suamimu!" ucap Alex.

__ADS_1


Jessica tersenyum mendengar kata suami, sejak kapan Alex mulai menganggapnya seorang istri.


Bukankah selama ini dirinya hanya dianggap benalu ataupun wanita licik penuh dengan tipu daya.


"Jawab ke mana kau pergi dengan laki-laki itu?" tanya Alex.


"Suami?" Jessica membuka telinga lebar-lebar, mengulang kata-kata gila tersebut.


"Dasar tidak waras! bukankah kau yang mengatakan bahwa aku ini kotor dan tak ada yang akan sudi denganku?" ucap Jessica.


"Maksudmu kau menantang ku?" tantang Alex sambil menarik bagian belakang kepala Jessica semakin ke belakang.


"Alex sakit, salahku di mana? bukannya kamu nggak suka sama aku?" ucap Jessica.


"Dasar wanita sampah!" Alex melemparkan Jessica pada ranjang dengan cepat menindihnya.


"Kau itu wanita selalu membuat masalah," ucap Alex lagi.


"Alex lepas, aku nggak mau," Jessica meronta-ronta ingin dilepaskan, bergerak dengan sekuat tenaganya demi terlepas dari kungkungan Alex.


"Terus kamu maunya sama siapa? kamu maunya sama laki-laki seperti Dokter Aditya? Mama harus tahu juga hal ini bahwa menantu mandulnya adalah wanita licik, sekarang merangkak menjadi wanita murahan," bisik Alex penuh kemenangan.


"Dasar tidak waras," Jessica berusaha mendorong tubuh Alex agar menyingkir dari atas tubuhnya.


Entah sadar atau tidak, tapi cara Alex tersebut membuat Jessica benar-benar merasa tak dihargai, andai Alex menginginkan dirinya, mengapa tidak berbicara langsung, mengapa harus ada kalimat hinaan yang malah membuat luka di hatinya menjadi semakin dalam, hukuman ini terlalu berat rasanya sudah tak sanggup lagi terus berada di sisi Alex, Jessica tak setangguh wanita-wanita kuat di luar sana yang mampu untuk menahan luka dalam nestapa, bisakah menyerah dan memilih pergi saja dari hidup Alex untuk selamanya?


Sakitnya semakin perih, lagi-lagi perlakuan kasar Alex dalam memacu tubuhnya tak memiliki perasaan manusiawi.


Seakan dirinya hanya dijadikan budak nafsu saja dan ditinggal setelah puas menikmatinya, meninggalkan bekas luka di sekujur tubuhnya, menutup telinga mendengar setiap rintihan yang keluar dari mulutnya.


Sakit!


Perih!


Letih!


Jessica pun terkapar dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, menutup mata membawanya tidur dalam penuh kesakitan.


Senja pun tiba, Puput pulang dengan rasa bahagia bersama dengan Reyna dan juga suaminya.


Matanya menatap Alex yang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi, ini hal yang cukup jarang terjadi hingga membuatnya bertanya-tanya.


"Kamu di rumah?" Puput pun menghampiri putra sulungnya.


"Iya Ma, kenapa?" jawab Alex tidak lupa sambil bertanya kembali.


"Tidak apa-apa, terus Jessica udah pulang?" tanya Puput.


"Pulang?" ucap Alex.


Puput pun duduk di sofa bersebelahan dengan Alex.


"Pagi tadi dia izin ke rumah orang tuanya, setelah mengantar makan siang mu," jelas Puput.


Alex mengangkat sebelah alis matanya, dirinya tak tahu apa-apa.


Tapi Alex ingat bahwa siang tadi Jessica pulang terlambat dari rumah sakit, pada saat keluar dari rumah sakit bersamaan dengan Jessica dengan Aditya.


"Dia bukan ke rumah Mamanya, tapi ke rumah selingkuhannya," ucap Alex.

__ADS_1


"Apa?" Puput sampai shock mendengar penjelasan Alex.


Alex terlihat santai dan memilih melihat televisi yang menyala.


"Kamu jangan asal ngomong," ucap Puput.


"Mama tanya sendiri sama orangnya, dia pergi seharian dengan Dokter Aditya, Mama tahukan Dokter Aditya siapa? dia itu sepupu Devan," ucap Alex.


"Sepupu Devan? Ah! kamu kalau ngomong hati-hati, malahan kamu yang harus jaga jarak sama asistenmu itu, jaga perasaan istrimu, bilang sama dia kalau kamu udah punya istri," omel Puput dengan geram, dirinya sudah melihat perlakuan kasar Alex.


Sampai saat ini memilih tak percaya akan ucapan anaknya tersebut.


"Kamu itu seperti anak-anak, kalau kamu cemburu bilang jangan sok jual mahal, dalam hati kesal karena melihat istri di dekati laki-laki lain," ucap Puput lagi dengan penuh kekesalannya.


Tak lama berselang terdengar suara teriakan dari lantai dua, Reyna berteriak histeris melihat keadaan Jessica yang tak sadarkan diri, bahkan ada beberapa memar pada bagian tubuhnya, karena shock dirinya sendiri bingung harus melakukan apa.


"Aaaaaaaaa...."


Suara teriakan Reyna membuat seisi rumah mendengarnya, tak terkecuali Puput dan Alex secepat mungkin berlari menuju kamar.


"Reyna kamu kenapa?" entah bagaimana kecepatan lari Puput, tetapi dirinya melupakan sakit pinggangnya hanya karena takut ada hal buruk terjadi.


Benar saja sampai di dalam kamar Alex dirinya melihat Jessica sudah terkapar di lantai, berbalut selimut dengan wajah pucat.


"Jessica," Puput memangku kepala menantunya dan berusaha untuk membuatnya tersadar.


"Jessica kamu kenapa begini?" Reyna tidak kalah panik, awalnya saat pulang barusan dirinya langsung menuju kamar. Kamar Reyna melewati kamar Alex, tapi saat melihat setengah pintu kamar Alex terbuka, membuatnya penasaran dan ingin menemui Jessica.


Berniat ingin curhat mengenai kekesalannya terhadap Nanda, sayangnya malah mendapati Kakak iparnya tersebut sudah tak sadarkan diri.


"Alex kamu periksa Jessica sekarang, kenapa diam saja?" saja ucap Puput.


Alex masih diam membuat Reyna geram, segera dirinya turun tangan memeriksa keadaan Jessica.


"Ma kita bawa ke rumah sakit saja," usul Reyna.


"Iya tapi dia tidak menggunakan pakaian, cepat ambil piyama itu," dengan segera Reyna memakaikan baju pada tubuh Jessica.


"Alex angkat istrimu kenapa hanya diam? kau suka dia tiada," teriak Puput.


Alex perlahan mendekati Jessica dan mengangkatnya.


Sampai di rumah sakit Jessica pun segera ditangani, beruntung yang menangani Jessica adalah Devan yang tengah berkebetulan berada di UGD.


Devan pun menjelaskan tanpa ada yang ditutupi termasuk kekerasan yang dialami oleh Jessica.


"Kamu gila Alex," setitik air mata Puput tumpah membasahi pipinya


"Pernah tidak kamu melihat Papa melayangkan tangannya pada Mama? tidak! lalu kenapa kamu bisa melakukan itu, seberapa besar pun kesalahan seorang wanita, kamu tidak pantas untuk menggunakan kekerasan, kamu itu iblis! di hatimu itu hanya kebencian yang entah kapan akan meredam, kamu tidak sadar sudah menyakiti hati Mama juga, Mama wanita sama seperti Jessica, Mama kecewa padamu! ceraikan saja Jessica jika memang kamu membencinya," tegas Puput.


Alex masih diam menatap Jessica yang terbaring tidak sadarkan diri seperti mayat hidup.


"Aku tidak mengenali lagi mana anakku yang dulu, yang menyayangi wanitanya dengan baik, aku kecewa padamu," ucap Puput.


Rasa kecewa bukan begitu dalam, air matanya terus saja menetes menatap keadaan Jessica saat ini.


"Pergi dari sini, pergi!" Puput menarik Alex untuk pergi, biar dirinya sendiri yang mengurus Jessica.


Wanita malang yang ingin merubah diri menjadi lebih baik malah berakhir dengan penyiksaan, entah sampai kapan Jessica akan merasakan hal tersebut.

__ADS_1


Apa yang akan Puput katakan pada Inggit tentang keadaan Jessica saat ini, malu sudah sampai di ubun-ubun, ini sangat diluar dugaan Puput sendiri.


Entah sejak kapan Alex mulai kasar pada wanita, bukankah Alex sangat mencintai Jessica, itulah yang dijelaskan oleh Reyna yang sudah menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada cinta segitiga antara Devan, Alex dan Jessica di masa lalu.


__ADS_2