Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Kesal Reyna...


__ADS_3

Ya ampun mengapa ada manusia menjengkelkan seperti Nanda.


"Ya udah sana pergi," usir Reyna.


"Aku duluan," Nanda menarik gas dan segera pergi.


Mulut Reyna terbuka lebar, kemudian tanpa sadar menendang sepeda motornya.


"Aduh sakit!" Reyna meringis menahan sakit pada kakinya.


Sesaat kemudian Nanda kembali dan memarkirkan sepeda motornya.


"Kamu kenapa?" tanya Nanda.


Reyna kembali menyadari bahwa Nanda kembali, tapi sayangnya moodnya sudah benar-benar rusak.


"Pergi aja sana ngapain balik lagi," usir Reyna.


"Ya udah!" Nanda pun kembali mendekati sepeda motornya, belum juga naik terdengar suara tangisan.


Kembali urung menaiki sepeda motor, Nanda memilih melihat Reyna.


"Aku bilangin ke Tante Arni, kamu jahat!" Reyna mengambil ponselnya dari dalam tas padahal ponselnya mati.


Sedikit berakting tidak apa-apa, sambil berdoa semoga tidak ketahuan bohong. Bukan hanya ponsel yang mati tetapi Reyna pun tidak memiliki nomor ponsel Arni.

__ADS_1


"Apasih, ayo naik! aku antar pulang" Nanda kembali mendekati Reyna dan mencoba untuk membantu calon istrinya tersebut.


"Nggak usah pegang-pegang," ucap Reyna.


Buk!!!


Nanda kembali melepaskan Reyna, hingga terjatuh di tanah.


"Ya ampun! kamu kasar banget sama perempuan, aku ini calon istri kamu loh," ucap Reyna.


"Katanya nggak usah pegang-pegang," ucap Nanda.


"Ya! tapi nggak gitu juga kali," ucap Reyna.


"Mau diantar pulang atau tidak?" tanya Nanda.


Nanda pun hanya geleng-geleng kepala melihat Reyna, entah seperti apa jika benar mereka nanti akan menikah.


"Nanda, motor aku gimana? aku nggak mau kalau hilang, ini motor kesayangan aku," Reyna menolak meninggalkan sepeda motornya, rasanya tidak rela bila nanti berpindah tangan pada orang lain.


"Nggak akan hilang," jawab Nanda.


"Aku nggak mau ninggalin dia di sini," ucap Reyna.


"Aku tinggal bersamamu saja kalau gitu," Reyna duduk kembali di trotoar jalanan dan menunduk sambil menangis.

__ADS_1


Nanda pun terpaksa harus tetap berada di sana menemani Reyna, tampaknya wanita tersebut memang sangat menyayangi sepeda motornya tersebut.


Nanda pun meminta tolong pada temannya untuk membawa sepeda motor Reyna menuju rumahnya,, setelah itu barulah Reyna mau diantar pulang.


"Jangan modus ya," masih saja Reyna menuduh Nanda modus padahal yang ditolong adalah dirinya.


Nanda memilih diam tanpa kata, sampai akhirnya memarkirkan sepeda motornya kembali pada sisi jalanan, padahal baru berpindah beberapa menit saja.


"Kok berhenti?" Reyna merinding melihat sekitarnya begitu sepi, pikiran buruk seketika menghantuinya.


Dirinya masih duduk di atas sepeda motor Nanda sambil menyilang tangan di dada.


Jangan bilang Nanda mau memperkosanya di sana, ya ampun!


"Benar saja," Nanda turun dari motornya dan membuka jaketnya.


Reyna mulai meneguk saliva ketakutan atas pikiran buruknya. Tetapi sesaat kemudian saat Reyna memejamkan matanya terasa ada benda yang menyelimutinya, membuka mata dengan lebar ternyata Nanda memberikan jaketnya.


"Pakai! jangan pikirkan yang aneh-aneh," Nanda menyentil dahi Reyna, bisa menebak isi kepala calon istri dadakannya tersebut.


"Hehe...," Reyna cengengesan, menunjukkan dua baris gigi rapinya, karena merasa malu akan pikiran buruknya.


"Cengengesan lagi, ada cabai itu!" ucap Nanda.


Reyna panik dan berkaca pada spion motor, melihat dengan jelas giginya, tampaknya Nanda sedang menipu dirinya.

__ADS_1


"Kamu bohong yah?" ucap Reyna sambil melihat Nanda.


"Ahahahaha...." Nanda tertawa melihat wajah kesal Reyna,"


__ADS_2