
"Darimana?" tanya Jessica begitu melihat Devan akhirnya pulang.
Devan benar-benar tersentak kaget begitu melihat Jessica tengah bertanya padanya di pintu utama. Jessica jelas-jelas terlihat marah dan juga eskpresi wajah Jessica sungguh dingin.
"Aku tadi siang ke rumah sakit mengantarkan makan siang untuk kamu tapi ternyata kamu tidak ke rumah sakit" ucap Jessica.
Jessica menghembuskan nafasnya kasar dengan kedua tangannya melipat di dada sambil melihat Devan dengan tatapan mata penuh selidik.
Devan berdehem sejenak untuk menghilangkan kegugupan,, Devan berusaha terlihat biasa saja tetap tenang.
"Tadi aku harus ke luar kota,, papa menyuruhku untuk melihat anak perusahaan yang baru saja launching produk terbaru,, makanya aku tidak ada di rumah sakit ketika kamu datang tadi," ucap Devan yang berusaha terlihat biasa saja menutupi kebohongan.
"Hah papa?" ucap Jessica.
Devan dengan segera mengeluarkan sebuah kotak merah berbentuk love dari sakunya lalu diberikan pada Jessica.
"Tadi aku membelikan ini untuk istriku yang paling ku cinta," ucap Devan sambil tersenyum pada Jessica.
Jessica menjadi begitu bahagia,, Jessica yang bahagia langsung melupakan kemarahannya tadi.
Jessica segera membuka kotak yang diberikan oleh Devan,, terlihat cincin yang begitu indah membuat Jessica senang.
"Sayang,, makasih yah," ucap Jessica yang langsung memeluk Devan sambil tersenyum bahagia.
Devan benar-benar merasa bersalah pada Jessica,,, hati Jessica begitu lembut dan baik,, tidak pantas menyakitinya. Jessica terlalu baik untuk disakiti.
Bahkan Jessica sangat mudah dikelabui,, Devan telah bertekad di dalam hatinya jika nanti Nayla telah melahirkan,, Nayla harus keluar dari kehidupannya.
"Kamu suka?" tanya Devan.
"Iya suka banget,," jawab Jessica sambil tersenyum bahagia.
Devan tersenyum sambil mengusap lembut rambut wanita yang sangat dicintainya itu.
Setelah Devan melihat Jessica telah terlelap dalam tidurnya,, Devan segera keluar dari kamarnya.
Entah mengapa Devan teringat wajah Nayla,, bayang-bayang wajah Nayla membuat Devan merindukan Nayla.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Devan sambil melingkarkan tangannya di perut Nayla.
Nayla benar-benar tersentak kaget begitu tiba-tiba ada yang melingkarkan tangan pada perutnya.
"Mas,, jangan seperti ini," ucap Nayla yang cepat-cepat melepaskan diri dari Devan lalu melihat disekelilingnya,, Nayla sangat takut ketahuan. Beruntung tidak ada orang disekitar mereka membuat Nayla sedikit merasa lega.
"Maaf yah," ucap Devan yang merasa bersalah telah membuat Nayla kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Mas hampir saja jantung ku copot, mas tuh jangan tiba-tiba seperti tadi kalau ada orang yang melihat, gimana mas? kita pasti langsung ketahuan dengan tingkah aneh mas tadi," omel Nayla pada Devan.
Devan hanya tersenyum melihat Nayla yang sedang mengomel,, melihat bibir Nayla terus komat-kamit membuat Devan menjadi gemas.
"Maaf,, kan mas sejak tadi minta maaf," ucap Devan agar istri keduanya itu tidak marah-marah lagi. Devan mengulang-ulang permintaan maafnya.
__ADS_1
"Kamu lagi ngapain?" tanya Devan lagi.
"Lagi minum," jawab Nayla sambil melihat Devan.
Devan sangat tau,, Nayla setiap tengah malam pasti berada di dapur,, entah untuk makan ataupun hanya minum saja.
Tangan Devan bergerak menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik Nayla.
Lagi-lagi tubuh Nayla menegang begitu merasakan sentuhan lembut tangan Devan,, Nayla menutup mata menikmati sentuhan lembut Devan pada dirinya.
Devan semakin mendekatkan dirinya menatap bibir Nayla. Devan akhir-akhir ini begitu menginginkan bibir Nayla,, Devan selalu merasa tidak cukup mencium bibir itu. Perlahan Devan mulai mencium bibir bawah Nayla dengan lembut.
Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang sedang menuju dapur.
Dengan cepat Devan membawa Nayla bersembunyi di dekat kulkas.
"Mas,, gimana ini?" ucap Nayla pelan dengan keringat yang bercucuran dan juga tampak pucat.
Devan langsung menutup mulut Nayla.
"Jangan berisik ada mama,," ucap Devan pelan sambil menutup mulut Nayla.
Nayla merasa gemetar,, Nayla tidak bisa membayangkan jika Ana memergoki dirinya sedang bercumbu dengan Devan di dapur,, walaupun sebenarnya itu tidak apa karena Devan adalah suaminya,, tapi dengan keadaan pernikahan mereka yang disembunyikan tentu saja itu akan membuat Ana shock jika melihat mereka bercumbu dan semua rahasia yang ditutup rapat-rapat pasti akan ketahuan.
"Nayla,," panggil Ana pelan sambil melangkahkan kakinya menuju kamar Nayla yang tidak jauh dari dapur.
Tangan Ana perlahan membuka pintu kamar Nayla yang kebetulan tidak terkunci itu.
"Kemana Nayla?" ucap Ana bertanya pada dirinya sendiri.
"Nyonya," ucap Bik Ina yang tidak sengaja mendengar suara Ana lalu memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya menuju ke sumber suara.
"Bik,, Nayla dimana yah? kok di kamarnya tidak ada?" tanya Ana pada Bik Ina.
"Oh mungkin Nayla sedang berada di kamar Rani Nyonya,, biasanya Nayla tidur di kamar Rani," jawab Bik Ina.
Ana pun angguk-angguk begitu mendengar ucapan Bik Ina,, sambil mengingat Rani memang sangat dekat dengan Nayla jadi mungkin malam ini Nayla memang sedang tidur di kamar Rani.
"Apa Nyonya menginginkan sesuatu?" tanya Bik Ina.
Ana menggelengkan kepalanya.
"Tidak Bik,, aku hanya mau memastikan keadaan lengan Nayla,, tapi besok saja karena ini sudah larut pasti mereka sudah tidur,, aku mau ke kamar dulu yah,, lanjutkan aja tidurnya," ucap Ana.
"Iya Nyonya," ucap Bik Ina lagi.
Ana pun segera menuju ke kamarnya dengan melewati dapur lagi,, tanpa Ana sadari sejak tadi ada yang sedang memantau gerak-geriknya dengan wajah pucat dan juga sangat khawatir.
Devan masih setia menghimpit tubuh Nayla,, menutup mulut Nayla sambil melihat Ana yang sedang berjalan ke kamar.
"Sudah,, jangan panik lagi,, mama udah pergi," ucap Devan sambil melepaskan tangannya yang tengah menutup mulut Nayla tadi.
__ADS_1
Nayla langsung bernafas lega sambil sesekali menghembuskan nafasnya kasar.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Devan sambil melihat Nayla.
Nayla menganggukkan kepalanya dan berusaha terlihat tenang setelah apa yang terjadi barusan.
"Ayo minum dulu," ucap Devan sambil menyodorkan segelas air putih pada Nayla.
Tanpa pikir panjang Nayla langsung meneguk minuman itu sampai habis.
Devan malah tertawa melihat kepanikan Nayla.
"Mas kok malah tertawa sih? sadar nggak sih mas kita hampir ketahuan,, hampir mas," ucap Nayla sambil melihat Devan dengan tatapan mata kesal melihat Devan yang saat ini sedang tertawa padahal dirinya sedang panik luar biasa.
"Kamu itu lucu sekali kalau ketakutan,," ucap Devan yang membuat Nayla langsung melongo.
Nayla langsung menaruh gelas yang digunakan tadi ke atas wastafel.
"Mas katamu aku lucu? mas kita hampir ketahuan mas," ucap Nayla lagi mencoba menyadarkan Devan.
"Iya," ucap Devan yang lagi-lagi tertawa.
"Aku mau tidur dulu mas,, ngantuk banget," ucap Nayla yang memilih untuk segera tidur malas meladeni Devan yang menertawai dirinya disaat dirinya sangat ketakutan dan mereka hampir ketahuan.
"Yuk tidur," ucap Devan dengan santai sambil menarik tangan Nayla lalu menggenggam nya.
Nayla dengan terpaksa mengikuti Devan yang sudah menggenggam tangannya saat ini,, Nayla benar-benar bingung dengan Devan yang malah ikut ke kamarnya juga.
"Mas kok malah mau masuk juga sih?" ucap Nayla sambil menarik tangan Devan lalu mendorongnya keluar dari kamarnya.
"Mas tidur disini,," ucap Devan dengan santainya.
"Mas jangan gila yah!!!" ucap Nayla yang sudah melototokan kedua bola matanya ingin memakan Devan hidup-hidup,, tapi Devan malah tertawa melihat Nayla yang sedang kesal dengan bibir komat-kamit dan juga dada naik turun.
Yah dada naik turun?
Devan benar-benar meradang begitu melihat dua kancing piyama Nayla terlepas dan Devan dengan jelas menatap dua gunung kembar yang sangat menantang jiwa kelakiannya.
"Mas,, matamu itu yah,," ucap Nayla dengan suara pelan sambil melihat disekelilingnya,, Nayla sangat takut akan dipergoki orang lain.
"Nayla,, ada mama!!" ucap Devan lalu dengan segera masuk ke dalam kamar Nayla.
Nayla langsung menutup pintu kamar cepat lalu menguncinya. Nayla benar-benar panik.
Devan langsung tersenyum sambil menahan tawanya begitu melihat Nayla yang panik bukan kepalang.
Seketika Nayla merasa ada yang aneh,, Nayla merasa Devan telah membohongi dirinya mentah-mentah.
"Mas,, bohongin aku yah?" tanpa pikir panjang Nayla langsung mengambil bantal dan memukul Devan banyak kali. Kesal karena dibohongi Devan.
"Nayla ampun!!!" ucap Devan sambil terus tertawa walaupun tawanya sangat pelan.
__ADS_1
"Mas tega banget bohongin aku,, aku tuh tadi panik banget dan kamu asik aja tertawa karena melihat aku panik," ucap Nayla lagi sambil terus memukul Devan dengan bantal.