
"Kemana si kurang ajar ini?"
Dari tadi Devan terus menghubungi Alex, tetapi sampai sekarang belum juga di jawab sama sekali.
Devan sudah kesal sampai di ubun-ubun, saat ini dirinya harus menjadi Dokter pengganti Alex. Sedangkan jam pulang kantor seharusnya sudah beberapa jam yang lalu.
"Mas, udahlah. Nggak papa, mungkin dia sedang romatis-romantisan sama Jessica. Sekali-kali tidak masalah kan Mas," Nayla mengusap lembut punggung Devan, berusaha menenangkan suaminya yang tengah terbakar emosi.
Devan beralih menatap Nayla, menimbang kata-kata istrinya barusan. Kemudian Devan kembali berdebat dengan dirinya sendiri.
Benarkah apa yang dikatakan oleh Nayla, kalau iya sungguh Alex sangat keterlaluan sekali.
Dirinya harus menggantikan pekerjaan Alex saat ini, sedangkan Alex bahagia dengan istrinya.
"Dia itu memang sangat keterlaluan, semalam saja dia mendatangi aku. Meminta solusi, sedangkan hari ini dia malah kurang ajar begini, jangankan kata- kata terima kasih........" Devan mengacak rambutnya membayangkan wajah Alex ingin di acak-acakan nya habis-habisan.
"Terus Mas, kasih solusi?"
"Iya. Mas, suruh dia pura-pura mabuk."
"Mas!" Pekik Nayla dengan suara keras.
Devan tidak mengerti mengapa Nayla marah, saat ini merasa tidak melakukan kesalahan rasanya tidak wajar jika mendapatkan kemarahan.
"Apa?"
"Gimana kalau ternyata ide Mas, malah membuat mereka bertengkar? Mas juga ada-ada saja, ngasih ide itu yang bagus gitu," Nayla berkacak pinggang, membayangkan kini Jessica dan Alex tengah bertengkar hebat.
"Sudah! Ayo kita pulang!" Devan sudah lelah seharian penuh berada di rumah sakit, dirinya juga butuh istirahat.
"Mas, kok bisa sih. Ngasih ide begitu?" tanya Nayla sambil terus berjalan di samping Devan.
"Kamu itu terus memikirkan hal buruk nya, gimana kalau ternyata ide Mas berhasil? Terus mereka sedang romatis-romantisan?" Kini Devan yang kembali bertanya, sampai akhirnya Devan membukakan pintu mobil untuk Nayla.
"Bagus kalau berhasil, semoga saja berhasil," Nayla pun segera masuk dan berharap ide suaminya dalam menyatukan Jessica dan Alex bisa memberikan hasil yang baik.
"Mas, kita jemput Adnan dan Felix dulu ke sekolah," ujar Nayla.
Devan pun melajukan arah mobilnya menuju sekolah kedua anaknya, sampai akhirnya memarkirkan mobilnya dan Nayla yang menjemput Adnan dan Felix ke dalam kelas.
Adnan dan Felix masuk ke dalam mobil, keduanya terlihat cemberut hingga membuat Devan bertanya.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa cemberut?" Devan menatap Adnan dari kaca spion, kedua tangan anak itu di lipat di dada dengan bibir mengerucut.
"Hari ini Bunda dan Ayah jemput nya telat!" Jawab Adnan kesal.
"Padahal kita udah pulang dari tadi," Felix ikut menimpali karena tidak kalah kesal.
Nayla pun tersenyum melihat kedua putranya yang tengah marah, hari ini dirinya memang terlambat menjemput anak-anaknya.
"Sudah-sudah, maaf ya. Nanti, kita jalan- jalan ke rumah Cahaya gimana?" Tawar Nayla.
Adnan dan Felix seketika tersenyum dan mengangguk setuju.
Sampai di rumah Adnan dan Felix pun bergegas turun dari dalam mobil, Nayla dan Devan berjalan santai di belakang kedua anak-anaknya.
"Kok, di sini?" Tanya Nayla saat melihat Rima yang duduk di ruang keluarga.
"Nayla," Rima langsung menangis tersedu-sedu saat melihat Nayla, wajahnya yang pucat terlihat begitu jelas.
Nayla pun bingung dan bertanya-tanya apakah yang tengah terjadi pada Rima, hingga akhirnya ikut duduk di samping Rima.
"Kamu kenapa, sih?" Tanya Nayla, tangannya mengusir Devan.
Mungkin setelah berdua saja Rima bisa bercerita, setelah Devan pergi Rima pun memeluk Nayla dengan eratnya.
"Apa Aditya melakukan kekerasan?" Tebak Nayla.
Rima semakin menangis tersedu-sedu ketika mendengar pertanyaan Nayla, sungguh tangisan Rima semakin mengundang pikiran buruk di otak Nayla tentang Aditya.
"Rima, jawab aku. Kalian baru menikah, apa mungkin dia sudah KDRT?"
"Bukan KDRT Nayla, tapi lebih dari itu," jawab Rima sambil terus menangis keras.
"Ada apa ini?" Tanya Ana yang mendengar suara tangisan dari arah samping rumah, hingga akhirnya penasaran dan segera mencari asal suara.
Betapa shock nya Ana saat melihat Rima menangis tersedu-sedu sambil memeluk Nayla.
"Coba cerita ke Tante?" Ana pun duduk di samping Rima, hingga akhirnya posisi Rima berada di tengah-tengah.
"Kata Rima, Aditya KDRT Ma," jelas Nayla.
"Apa?" Ana sampai terkejut mendengar penjelasan Nayla, rasanya selama ini belum pernah tahu Aditya ringan tangan pada wanita mana pun.
__ADS_1
"Bukan KDRT Nayla, tapi lebih dari itu." ucap Rima sambil terus menangis tersedu-sedu.
"Dia mukul kamu, di mana?" Ana pun mulai memperhatikan kondisi Rima, mungkin ada bagian memar.
"Bagian dalam Tante."
"Dalam?" Ana dan Nayla saling menatap bingung, penjelasan Rima sungguh tidak dapat dimengerti dengan mudah.
"Aku udah nggak perawan!" Seru Rima, di tambah lagi tangisannya yang menggelegar, tentu bisa membuat seisi rumah mendengarnya.
Nayla sampai melongo mendengar kalimat akhir yang dijelaskan oleh Rima.
Sejenak dunia seakan berhenti berputar, kepala Nayla dan Ana sampai tidak berfungsi sejenak.
"Kok bisa?" Tanya Nayla dengan bodohnya
"Ini gara-gara Dokter Aditya, terutama Jessica! Aku akan mencarinya nanti!" Ujar Rima penuh kemarahan membayangkan wajah Jessica.
"Kok nggak sekarang?" Tanya Nayla sambil menahan tawa.
"Sekarang aku capek banget, badan aku sakit semua! Dokter Aditya keterlaluan banget, masa iya aku udah nolongin dia bukan ngucapin terima kasih malah aku nya di obok-obok," jelas Rima panjang lebar.
Glek!
Ana sampai meneguk saliva saat mendengar penjelasan Rima.
"Mama, ke belakang dulu. Sepertinya ini obrolan orang-orang muda," Ana memilih pergi dari pada terlibat dalam penjelasan Rima.
"Tante, tunggu," Rima memegang lengan Ana.
"Tante, harus dengerin dulu."
"Tante, tidak usah mendengarkan. Tante, ada urusan penting!" Dengan secepat mungkin Ana melarikan diri, rasanya sulit sekali bercerita tentang hal ranjang bersama menantu-menantu nya.
"Nayla, aku gimana? Sekarang aku udah kotor," kata Rima sambil terus menangis memeluk Nayla.
Nayla sampai menggaruk alis matanya, mendengar penjelasan Rima sungguh sangat luar biasa.
"Gimana menurut kamu?"
"Apanya?" Nayla yang bingung malah kembali bertanya.
__ADS_1
"Kamu tega," Rima kembali menangis tersedu-sedu hingga Nayla bingung harus melakukan apa.