
"Aku menerimanya Mas," ucap Nayla dengan satu butir air mata yang berhasil jatuh di pipinya, Nayla mengusapnya dengan perasaan yang sesak.
Sesak itu bukan karena kesal diceraikan oleh Devan dan dia lebih memilih Jessica,, tapi karena kasihan akan nasib anaknya yang tidak akan pernah bisa merasakan keluarga yang utuh layaknya anak-anak lain diluaran sana. Mata nanar Nayla terus menatap punggung Devan yang berjalan semakin menjauh, sesaat sebelum Devan benar-benar masuk ke dalam mobil, Devan berbalik menatap Nayla yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu depan menggendong bayinya yang begitu malang. Sedetik kemudian Devan benar-benar pergi,, menghilang dari pandangan mata Nayla.
"Kamu kuat Nay," ucap Reyna sambil mengusap punggung sahabatnya itu.
Reyna terus memberikan kekuatan kepada sahabatnya itu agar terus bisa berdiri tegak di atas segala cobaan yang terjadi pada hidupnya.
"Aku boleh nangis yah Reyna? setelah itu aku janji aku tidak akan lagi mau menangisi dia," ucap Nayla lalu segera memberikan Felix kepada Reyna.
Setelah itu Nayla masuk ke dalam kamarnya, dan menangis sekencang-kencangnya untuk meluapkan segala emosi yang tertahan. Mengapa anaknya harus ikut merasakan apa yang dirasakannya dulu, sebelum Nayla menikah dirinya tidak pernah membayangkan hal seperti ini,, anaknya akan merasakan seperti dirinya juga, Nayla sangat tidak ingin membagi penderitaannya kepada anaknya, tapi tampaknya Felix juga harus mengalami keluarga yang tak utuh. Rumah tangga yang dibangun dengan terpaksa itu, dijalani dengan penuh air mata dan diakhiri dengan luka.
############
Setelah semalam menangisi nasibnya yang begitu memprihatinkan,, pagi ini Nayla mencoba untuk bangkit kembali, menata hidupnya menjadi jauh lebih baik dan siap meraih kebahagiaan bersama putranya. Nayla membereskan semua pakaiannya dan memasukkan ke dalam tas besar miliknya itu,, dilanjutkan dengan beberapa pakaian dan barang milik Felix.
"Nayla," ucap seseorang.
Nayla sadar ada yang memanggil dirinya,, seketika itu Nayla berdiri tegak lalu menghadap ke arah orang yang memanggilnya.
"Ma," ucap Nayla.
__ADS_1
Nayla menatap Ana yang sedang berdiri di ambang pintu,, sesaat kemudian Ana melangkah masuk ke dalam kamar semakin mendekati dirinya. Ana langsung memeluk Nayla dengan sangat erat menangis tersedu-sedu meluapkan rasa sedih yang sejak tadi pagi ditahannya begitu Devan mengatakan pada semua anggota keluarga jika dia dan Nayla telah bercerai. Ana tidak bisa melakukan apapun,, Ana tidak bisa ikut campur semua pilihan terbaik ada pada anak dan menantunya.
Apapun keputusan itu,, semua anggota keluarga akan menerima asal tidak ada yang menderita terutama Nayla. Ana sangat tahu di antara ketiganya Nayla lah yang paling menderita, maka jika perpisahan mereka adalah pilihan yang tepat untuk kebahagiaan mereka,, maka dengan berat hati Ana harus menerima itu semua. Dalam hati kecilnya Ana tidak ingin Devan berpisah dengan Nayla,, Ana juga sangat menyukai Nayla yang baik.
"Nayla, kamu masih anak Mama kan?" ucap Ana.
"Iya makasih yah Ma,, semenjak mengenal Mama Nayla jadi tahu apa itu kasih sayang seorang Ibu,," ucap Nayla terharu sambil mengucapkan terima kasih kepada Ana yang telah begitu baik padanya selama ini.
Nayla dan Ana tidak memiliki ikatan darah tapi bisa menganggap dirinya seperti seorang anak,, dan memperkenalkan pada dirinya apa itu kasih sayang seorang Ibu yang sangat diinginkan oleh Nayla selama ini.
"Kamu mau kemana?" tanya Ana setelah melepaskan pelukannya pada Nayla sambil melihat tas besar milik Nayla yang berisi pakaian,, padahal rumah itu adalah milik Nayla dan Felix,, mengapa mereka harus pergi dari rumahnya sendiri? Nayla pun menghapus air matanya lalu melihat tas besar miliknya.
"Tidak bisa," ucap tegas Bima Putra tiba-tiba terdengar, entah sejak kapan mantan Papa mertuanya itu ada disana.
Tapi kini Nayla baru tersadar bahwa mantan Papa mertuanya itu ternyata ada di sini,, Nayla pun menatap mantan Papa mertuanya itu.
"Rumah ini adalah rumah Felix dan kamu,, kalian berhak tinggal di sini, Felix adalah pewaris tahta kerajaan bisnisku,, mengapa dia harus pergi tinggal di tempat lain? ini rumahnya" ucap Bima Putra.
Nayla tersenyum haru, tidak menyangka keluarga mantan suaminya begitu menyayangi anaknya,, Nayla sangat bersyukur akan hal itu. Tapi Nayla juga tidak ingin terus berada dalam lingkungan keluarga Devan, karena bukan tak mungkin Jessica akan benar-benar menganggap dirinya sebagai wanita yang sangat haus harta,, jika masih terus berada di lingkungan keluarga Devan,, keluarga mantan suaminya. Tidak,, Nayla benar-benar tidak siap jika terus mendapatkan hinaan dari Jessica.
"Jika Felix benar-benar pewaris Papa,, maka itu hak Papa, tapi tunggu sampai Felix berusia minimal tujuh belas tahun, atau sampai Felix benar-benar mengerti akan tanggung jawab, saat ini Nayla hanya ingin hidup seadanya sesuai dengan kemampuan Nayla saja," ucap Nayla.
__ADS_1
"Tapi Nayla...,"
"Aku sangat memohon Pa, tolong mengertilah keadaan yang terjadi saat ini, aku mohon maaf kalau apa yang aku lakukan ini membuat Papa tersinggung, tapi aku ingin melupakan semua masalah yang pernah aku alami selama ini, aku mohon dengan kerendahan hati,, tolong hargai keputusan aku Pa," ucap Nayla tau bahwa mantan Ayah mertuanya itu sesungguhnya orang yang sangat pengertian,, baik, tegas, dan juga adil.
Nayla sangat berharap bahwa dengan begitu mantan Papa mertuanya bisa mengerti dengan keadaannya,, serta keinginan Nayla yang tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu bersama Devan, Nayla juga ingin memulai hidup barunya,, tentu tanpa Devan dan tanpa mengingat Devan lagi,, Nayla ikhlas Devan bersama dengan Jessica dan mendoakan rumah tangga mereka akan kembali utuh,, makanya Nayla tak ingin lagi terbayang-bayang oleh Devan,, di rumah itu Devan pernah tinggal,, makanya Nayla ingin tinggal di rumah lain,, rumah yang dia bayar sendiri.
Apa yang dirinya alami memang tidak mudah untuk dilupakan,, tapi bukan berarti juga dia harus selalu dalam luka yang tak berkesinambungan itu.
Nayla tak ingin lari dari masalah tetapi Nayla ingin berdamai dan bisa membuka lembaran hidup baru bersama dengan Felix saja, Bima Putra pun mengangguk lemah sekalipun dengan sangat berat,, tetapi dia harus menghargai keputusan Nayla juga. Bima Putra tentu tidak mungkin membiarkan Nayla benar-benar hidup sendiri tanpa pengawasannya,, tentu Bima Putra akan selalu mengawasi Nayla dan Felix agar mereka tetap baik-baik saja.
"Baiklah Papa izinkan,, tapi ingat ini jika kamu butuh bantuan jangan pernah sungkan untuk menghubungi kami," ucap Bima Putra.
Nayla lagi-lagi tersenyum haru tidak menyangka bahwa dirinya dan anaknya begitu disayangi, air mata haru tidak bisa dihindari,, sekalipun air mata terus menetes tapi itu bukan air mata luka,, itu air mata bahagia,, karena mantan Mama dan Papa mertuanya begitu menyayangi dirinya dan anaknya.
Ana kembali memeluk Nayla,, berharap Nayla bisa hidup bahagia setelah berpisah dengan Devan.
"Semoga kamu dapat pengganti Devan yang jauh lebih baik dan bisa membuatmu bahagia," ucap Ana.
Nayla hanya tersenyum begitu mendengar doa Ana untuknya,, pikirannya saat ini bukan tentang calon suami baru,, meskipun tidak menutup kemungkinan nanti Nayla akan menerima pria lain,, tapi untuk saat ini Nayla masih memikirkan bagaimana membuat anaknya itu hidup bahagia.
Jika masalah suami saat ini Nayla masih trauma,, dan masih menutup hatinya dengan rapat, dan mungkin nanti akan terbuka begitu dia menemukan pria yang bisa menerima dirinya dan juga anaknya. Nayla tak tau kapan itu akan terjadi.
__ADS_1