Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Ingin membicarakan sesuatu...


__ADS_3

"Mas,, kenapa seperti ini sih?" ucap Nayla lagi yang masih sangat terkejut dengan ulah Devan.


"Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan aku?" ucap Devan dengan ekspresi wajah kesalnya juga.


"Lepas mas,, aku sesak,, mas mau bunuh aku?" ucap Nayla yang berusaha melepaskan diri dari Devan karena Devan terlalu menghimpit tubuhnya di dinding.


Devan pun tersadar,, karena kemarahannya tadi Devan sampai membuat Nayla sesak, Devan pun sedikit melonggarkan tempat untuk Nayla meskipun tidak melepaskan Nayla sepenuhnya.


"Maksud mas itu apa sih? aku baru datang langsung ditarik seenak hati," ucap Nayla yang tidak mengerti dengan Devan yang saat ini terlihat marah,, dan juga menarik Nayla seperti tadi membuat Nayla benar-benar terkejut dengan ulah Devan.


"Pria tadi itu kekasih mu juga?" tanya Devan langsung agar Nayla tidak terlihat seperti orang bodoh yang tidak mengerti dengan maksud Devan tadi.


"Memangnya kenapa mas tanya-tanya? kepo banget," ucap Nayla.


Mendengar jawaban Nayla membuat kepala Devan semakin bertambah pusing dengan jawaban istri keduanya itu. Bukan jawaban seperti itu yang diinginkan Devan saat ini.


"Kau!! beraninya berbicara seperti itu pada suamimu!!," ucap Devan yang sudah mulai kehabisan kesabaran. Sejak tadi mondar-mandir menunggu kepulangan Nayla giliran bertanya jawaban Nayla seperti tadi,, padahal kepala Devan sudah benar-benar pusing memikirkan Nayla dan pria tadi.


"Mas yang kenapa nggak jelas gitu?" tanya Nayla sambil melihat Devan dengan tatapan mata penuh selidik.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Devan begitu melihat ekspresi wajah Nayla yang tampak sedang menginterogasi dirinya.


Nayla semakin mendekati Devan dengan memicingkan matanya melihat Devan.


Sial!! kenapa matanya indah sekali,, batin Devan yang semakin tidak karuan.


"Hei,, apa kamu sedang tidak waras saat ini? kenapa begitu dekat padaku?" ucap Devan sambil mendorong kepala Nayla agar menjauh dari dirinya karena melihat mata indah Nayla membuat Devan merasa semakin tidak karuan. Ada perasaan yang sulit dijelaskan.


"Apa mas saat ini sedang cemburu?" ucap Nayla sambil tertawa,, Nayla menggoda Devan,, saat ini mood Nayla sedang bagus karena habis bertemu dengan sahabat lamanya,, sehingga hari ini Nayla tidak gampang marah.


Devan dengan cepat melepaskan kungkungannya pada Nayla begitu mendengar ucapan Nayla,, Devan menyadari dirinya saat ini memang aneh.


"Kalau bicara tuh jangan asal," ucap Devan sambil menyentil kepala Nayla.


"Sakit tau mas,," ucap Nayla sambil memukul lengan Devan juga sebagai bentuk perlawanannya.


Melihat Nayla yang seperti ini malah membuat Devan benar-benar gemas pada Nayla,, wajar bagi Devan karena Nayla saat ini sedang mengandung anaknya,, itulah yang selalu dipikirkan Devan ketika mulai bersikap aneh pada Nayla, Devan selalu merasa mungkin karena Nayla sedang mengandung anaknya.


"Jawab dulu pertanyaan ku,, pria tadi itu siapa?" tanya Devan lagi yang belum merasa puas dan tenang sebelum mendengar jawaban langsung dari Nayla.


"Oh pria tadi namanya Nanda,, dia itu..," ucap Nayla terhenti karena Devan sudah lebih dulu memotong ucapan Nayla.


"Jelaskan dia itu siapa mu!! bukan malah memperkenalkan nya padaku,," ucap Devan cepat yang sudah sangat ingin tau siapa pria yang bersama Nayla tadi,, lebih tepatnya ingin tau apa hubungan Nayla dan pria tadi.


Nayla langsung mendengus kesal melihat Devan sambil memiringkan bibirnya sejenak.


"Dia itu sahabat lama aku mas,, tadi baru ketemu dia lagi setelah sekian lama," jawab Nayla singkat padat dan jelas tak ingin bertele-tele.

__ADS_1


"Heran semua teman mu pria,, apa kamu tidak memiliki teman wanita?" ucap Devan dengan ekspresi wajah kesal.


"Kata siapa? aku memiliki teman wanita,, Reyna yang bersama ku di rumah sakit tadi," jawab Nayla enteng tanpa beban.


"Yakin cuma teman? nggak lebih?" ucap Devan lagi yang masih belum terlalu yakin.


"Memang kita hanya teman," jawab Nayla.


Devan kemudian menatap Nayla mencari jawaban apakah Nayla jujur atau tidak,, Devan terdiam sejenak lalu merasa Nayla mungkin tidak berbohong.


"Mbak Nayla!!," ucap Rani yang tiba-tiba memergoki Devan dan Nayla dengan posisi yang sangat dekat.


Devan langsung memperhatikan posisinya bersama Nayla yang memang sangat dekat karena tadi Devan malah mendekatkan diri lagi pada Nayla,, Devan langsung merasa khawatir karena yang memergoki mereka berdua adalah anak paling cerewet di rumahnya.


Nayla dengan cepat mendorong dada Devan agar menjauh dari dirinya agar Rani tidak berpikiran macam-macam dan banyak tanya.


Dengan ekspresi wajah bingungnya,, Rani terus melihat Devan dan Nayla.


"Mbak Nayla dengan Ayah ngapain tadi dekat-dekat gitu?" tanya Rani dengan polosnya dan juga dengan rasa ingin tahunya.


Rani yang belum mendapatkan jawaban apa-apa segera berjalan ke dekat dinding dimana dia melihat Nayla dan Devan begitu dekat,, Rani tampak memeriksa tapi tidak menemukan apa-apa. Rani kembali menatap Devan dan Nayla.


"Rani sayang,, tadi Mbak Nayla berada disana dan Ayah tidak sengaja terpeleset jadi seperti tadi deh,, yang seperti Rani lihat," ucap Devan berusaha memberikan alasan.


Rani masih diam,,, Rani tampak berpikir sambil melihat Devan,, seketika itu Devan mengeluarkan semua doanya agar tidak ada lagi pertanyaan dari anak paling kepo sekecamatan itu.


"Terus ada yang sakit?" tanya Rani lagi sambil melihat Devan lalu melihat kaki Devan.


"Kalau gitu ayo biar Rani bantu jalan dan biar kaki Ayah diobati dengan Tante Jessica,, Mbak Nayla juga ikut yah,, biar diobati sekalian," ucap Rani dengan polosnya yang benar-benar khawatir pada Devan dan Nayla.


Devan lagi-lagi merasa panik,, karena bisa saja bibir cerewet ponakannya itu menceritakan semua apa yang dilihatnya tadi pada Jessica. Tentu hanya bocil saja yang akan percaya dengan alasan Devan tadi,, sedangkan Jessica tidak mungkin percaya dengan alasan tidak masuk akal itu.


"Rani sayang,, Ayah sudah tidak apa-apa,, kaki Ayah mendadak sudah sembuh total," ucap Devan sambil memperlihatkan kakinya pada Rani.


"Hah kok bisa secepat itu,, tadi katanya sakit," ucap Rani sambil melongo melihat kaki Devan yang sudah baik-baik saja.


"Nggak kok,, tadi cuma bercanda saja,, ingin lihat Rani khawatir," ucap Devan lagi.


Rani angguk-angguk sambil beralih menatap Nayla.


"Mbak Nayla,, kakinya gimana?" tanya Rani.


"Baik kok,, kaki Mbak nggak kenapa-kenapa," jawab Nayla.


Tidak lama kemudian Jessica datang,, Devan dengan segera menggendong Rani.


"Rani,, jangan bilang-bilang mengenai apa yang Rani lihat tadi yah kepada siapapun,, nanti Ayah akan belikan Rani mainan yang banyak dan juga ice cream sebanyak apapun yang Rani mau,," bisik Devan.

__ADS_1


Rani seketika itu menjadi setuju,, bagi Rani tidak ada untungnya menceritakan hal itu pada orang lain,, tentu mainan dan ice cream jauh lebih berharga bagi bocah imut itu.


"Oke Ayah, kunci mulut dan anaknya dibuang," ucap Rani yang seakan-akan sudah mengunci mulutnya rapat-rapat tidak akan berbicara apapun pada orang lain demi mainan dan ice cream.


"Ternyata kalian disini?" ucap Jessica sambil melihat Devan dan Rani.


Devan melihat ke samping dan ternyata Nayla sudah tidak ada.


Kemana perginya dia? batin Devan.


"Devan aku bertanya padamu,, apa kamu mencari sesuatu?" tanya Jessica lagi pada Devan.


"Tidak kok,, ayo kita masuk," ucap Devan lalu segera berjalan masuk dengan menggendong Rani,, Jessica juga mengikut masuk di belakang Devan.


Nayla kemudian kembali keluar dari persembunyiannya,, melihat dirinya sendiri dengan perasaan kasihan. Nayla juga ingin mendapatkan perasaan dicinta tapi semua itu tidak mungkin karena semuanya akan kembali seperti semula ketika Nayla telah melahirkan.


"Nayla," ucap Ana yang mengejutkan Nayla seketika.


"I..ii..iya Nyonya,," jawab Nayla.


"Kamu kaget yah Nayla?" ucap Ana lagi.


"Aku ingin berbicara dengan mu,, tapi nanti yah ketika makan malam," ucap Ana lagi,, belum juga Nayla menjawab pertanyaan nya tadi sudah membuat Nayla merasa was-was lagi.


Setelah mengucapkan itu Ana segera pergi.


Makan Malam....


"Nayla!!," panggil Ana karena tidak melihat Nayla.


Nayla sedang berada di dapur berusaha menghindari Ana karena Ana ingin berbicara sesuatu tadi tapi Ana tengah memanggil nya saat ini.


Nayla sudah merasa was-was semenjak dari sore karena Nayla sangat takut Ana akan membahas dirinya dan Devan.


"Nayla!!," panggil Ana lagi karena Nayla belum muncul-muncul juga.


"Nayla, kamu dipanggil dengan Nyonya," ucap Bik Ina.


Dengan langkah kaki terpaksa Nayla berjalan menuju meja makan.


"Duduk Nayla," perintah Ana sambil menunjuk kursi yang saat ini sedang kosong.


Nayla lagi-lagi merasa sial dan sangat malang karena kursi kosong saat ini ada di samping Devan lagi. Yang itu berarti Nayla harus duduk lagi di samping Devan.


Nayla semakin merasa takut jika yang ingin dibicarakan Ana pada dirinya benar-benar mengenai Devan dan juga dirinya,, Nayla tidak tau harus mengatakan apa jika itu benar-benar terjadi saat ini.


"Nayla,, ayo duduk,," ucap Ana lagi,, dan Nayla pun segera duduk dengan detak jantung tidak karuan.

__ADS_1


Nayla berpikir kemungkinan Rani berbicara sesuatu tadi pada Ana.


Tidak!! Nayla benar-benar takut.


__ADS_2