Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Gempa lokal!


__ADS_3

Segera menuju rumah sakit jiwa melihat Zaskia sudah berada dalam dunianya sendiri, Jessica tidak menyangka ternyata Zaskia begitu terobsesi pada Alex hingga saat ini pun mulutnya hanya memanggil nama Alex.


"Apa tidak ada kemungkinan untuk sembuh kembali?" tanya Jessica pada Nanda yang berdiri di sampingnya.


Keduanya menatap arah yang sama, Zaskia tengah menyisir rambutnya seakan berdandan dan bersiap-siap untuk pergi bersama dengan Alex.


"Aku tidak mengerti, hanya saja dia harus sembuh agar polisi bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut, perbuatan kriminal ini menyangkut keselamatan sehingga semua harus diproses," jelas Nanda.


"Aku serahkan masalah ini pada kalian, aku tahu kalian pasti melakukan yang terbaik," ucap Jessica.


Sekalipun sudah mencelakai anaknya Jessica tetap saja merasa iba pada Zaskia, mungkin lain hal jika saat ini Zaskia waras dan berdiri di hadapannya, tetapi saat ini Tuhan menghukum dengan caranya, Zaskia berubah gila setelah apa yang diperbuatnya sendiri.


Hukum mungkin bisa dihindari, tetapi tidak dengan karma.


Setelah melihat keadaan Zaskia, segera Jessica kembali menuju rumah sakit, dirinya masih harus menjaga anaknya yang masih butuh waktu pemulihan.


"Cahaya masih tidur sepertinya karena obat, tidak apa yang penting dia segera pulih," kata Inggit yang dari tadi menjaga Cahaya selama Jessica pergi melihat Zaskia.


"Iya Ma," ucap Jessica.


"Apa Dokter sudah memperbolehkan untuk pulang?" tanya Inggit.


"Kemungkinan besok sudah bisa dirawat di rumah, Ma" Jessica kembali teringat wajah Zaskia.


"Zaskia benar-benar sudah gila, mungkin saat menabrak Cahaya dia juga sudah tidak waras," Jessica menarik nafas dengan berat.


"Zaskia itu siapa lagi?" Inggit tak pernah tahu siapa itu Zaskia sehingga agak bingung.


"Dulu dia itu asistennya Alex, dan ternyata dia suka sama Alex akhirnya singkat cerita dipecat oleh Alex sendiri, dia dendam dan Reyna jadi sasarannya, sekarang setelah keluar dari penjara malah Cahaya, tau dari mana dia Aya anaknya Alex?" Jessica memijat dahinya, sungguh ini adalah suatu keadaan yang rumit.


"Hay!" Nayla dan anaknya datang membawa buah tangan dan memberikan pada Jessica.


Jessica pun menepikan sejenak pikiran kacaunya, beralih menatap tamu spesial yang menjenguk anaknya.


"Terima kasih," Jessica menyambut dengan antusias tidak lupa tersenyum pada dua bocah lucu yang berdiri tidak jauh dari Nayla.


"Gimana keadaan Aya?" tanya Nayla.


"Sudah lebih baik," Jessica menjawab sambil mencolek dagu Felix dan Adnan secara bergantian.


"Kalian nggak sekolah?" tanya Jessica.


Adnan menggeleng saja sebagai jawaban tidak, tapi berbeda dengan Felix yang langsung menjawab.


"Nggak Tante, kan hari libur,"


"Oh begitu tante lupa," entahlah, pikiran memang terlalu berat sehingga tidak ingat hari libur.


Setelah berbincang-bincang kecil sejenak akhirnya Nayla pun berpamitan pulang bersama kedua anaknya.


Felix terus tersenyum bahagia sambil berjalan masuk ke dalam mobil.


"Kamu kenapa sih?" Nayla malam merinding melihat tingkah anaknya yang aneh.


"Tangan Tante Jessica lembut banget, Ma," Felix menutup mata dan terus memegangi dagunya.

__ADS_1


"Ya ampun Felix kamu itu yah, kalau urusan perempuan cepat banget, Tante Jessica itu sudah punya suami dan kamu juga harus sekolah," geram Nayla.


"Tante Jessica itu janda, Ma" ucap Felix.


Nayla terkejut saat mendengar jawaban anaknya.


"Masih anak-anak sudah mikirin wanita janda, kamu ya," Nayla pun menjewer telinga Felix hingga mengadu kesakitan.


Kesal bukan main dengan kelakuan absurd anaknya tersebut.


"Kalau urusan perempuan pintar, sedangkan di sekolah paling bodoh," ucap Nayla.


"Mana ada Felix bodoh, Ma," jawab Felix tidak mau mengalah.


Nayla duduk di jok belakang bersama dengan Adnan sedangkan Reyna yang menjadi sopir duduk bersebelahan dengan Felix.


Reyna memilih menunggu di dalam mobil, dirinya belum siap bertemu dengan Cahaya, rasa iba akan keadaan keponakannya itu sungguh luar biasa.


"Terus mau bilang kamu itu murid paling pintar di sekolah?" ucap Nayla.


"Iya dong! Felix juara 27! hebat dong, gimana nggak?" tanya Felix dengan bangganya.


Wajah Nayla seketika memerah, jika saja mungkin telinganya sudah mengeluarkan asap.


"Itu bodoh! dari 28 siswa di dalam kelas mu malah kamu dapat juara 27 dan itu kamu paling bodoh! pintar dari mananya?" Nayla cepat-cepat meneguk mineral sebelum kesabarannya habis dan pada akhirnya menelan Felix kembali.


"Yang pintar itu Adnan," Adnan menunjuk dirinya dengan bangga.


"Kamu apa lagi?" kini Nayla beralih menatap Adnan, masih saja sama. Menenangkan diri agar tidak khilaf.


"Adnan dapat ciuman dari Cahaya di sekolah waktu itu,"


"Apa?


"Ahahahaha," Reyna tidak dapat menahan tawa melihat kokonyolan dua bocah edan keturunan Devan dan Nayla.


Jawaban keduanya yang selalu menyimpang tentu membuat siapa saja bisa tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


"Reyna cepat pulang ke rumah aku bisa mati berdiri kalau begini terus," ucap Nayla.


"Baiklah!" Reyna pun menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan nya.


Sepanjang perjalanan pulang hanya hening sampai akhirnya Adnan bertanya.


"Ma, semalam itu aku kan tidur di ranjang kok paginya aku tidur di kasur yang direntang di lantai?" Adnan kebingungan dan ingin bertanya dari tadi tapi ini baru memiliki kesempatan.


"Kok bisa?" tanya Reyna penasaran.


"Nggak tahu, semalam aku juga sempat kebangun dan ranjangnya gerak-gerak, aku pikir gempa bumi tapi kok ranjang Bunda doang yang gerak, aku tutup mata lagi, soalnya takut," ucap Adnan.


Nayla menarik rambutnya ke depan rasanya tidak memiliki muka di hadapan anaknya itu kalau saja keduanya mengerti, sayangnya hanya Reyna yang mengerti jadi dia hanya tertawa sendirian saja.


"Itu namanya gempa lokal, jadi cuma gerak di tempat tertentu," jelas Reyna dengan konyolnya.


"Hush! udah ah, apaan sih!" ucap Nayla.

__ADS_1


Nayla langsung turun dari mobil saat Reyna memarkirkan mobilnya di teras rumah.


"Ahahahaha," Reyna terus tertawa karena Nayla yang tengah menahan malu.


"Ketawa aja terus, sampai puas!" ucap Nayla.


"Ahahahaha," tawa Reyna semakin menggelegar.


"Sayang kamu kenapa?" Devan bingung melihat bibir istrinya yang mengerucut saat masuk ke dalam kamar.


Bahkan menutup pintu dengan membanting, Devan yang tengah membaca berita di siang ini pada tab malah tersentak.


"Mas tahu," ucap Nayla.


"Nggak," jawab Devan enteng sekali hingga semakin menjengkelkan.


"Makanya dengerin," ucap Nayla.


"Apa? kamu belum ngomong juga," ucap Devan.


"Semalam ternyata Adnan kebangun..."


"Terus?"


"Makanya dengerin," ucap Nayla.


"Em, lanjutkan!" ucap Devan.


"Ternyata Adnan kebangun dan lihat ranjang goyang," akhirnya Nayla berhasil menyelesaikan ceritanya.


"Wah bagus dong!" ucap Devan.


"Bagus dari mananya? untung aja Adnan nutup mata lagi coba kalau dia menghampiri, memalukan!" ucap Nayla.


"Tapi kan dia nggak menghampiri jadi nggak memalukan," ucap Devan.


"Ya ampun! tidak Ayahnya, tidak anaknya, sama saja! sama-sama menjengkelkan," Nayla segera masuk ke kamar mandi dan memilih berendam agar badannya bisa lebih segar.


Sedangkan Devan tersenyum menatap pintu kamar mandi yang tertutup, istrinya itu tetap cantik walaupun sedang marah seperti itu.


"Sayang, I love you," teriak Devan hingga terdengar sampai ke dalam kamar mandi.


"CK" Nayla sudah terlanjur kesal, sehingga tidak peduli dan memilih menikmati sentuhan air hangat.


"Sayang," Devan memutar gagang pintu hingga berulang kali, tapi sayangnya tidak bisa, akhirnya menempelkan daun telinganya pada daun pintu.


"Sayang buka dong! mana tahu kamu butuh bantuan," ucap Devan.


"Nggak dibutuhkan sama sekali," seru Nayla dari dalam sana.


"Nanti kalau mandi sendiri tidak bersih, bisa saja ada kuman yang tertinggal," ucap Devan.


Hening tidak ada jawaban membuat Devan kembali memikirkan ide.


"Sayang,"

__ADS_1


"Nggak!" jawab Nayla tidak peduli.


Devan pun putus asa dan memilih tidur siang.


__ADS_2