Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Nayla tidak akan pernah menyesatkan nya...


__ADS_3

"Mending kamu bilang suami kamu aja buat lempar dia dari rumah sakit ini," ucap Reyna dengan geram tak ada habisnya pada Zaskia, hubungan mereka selama ini cukup baik, bekerja pun seringkali bersama dan memiliki kerjasama yang cukup baik, namun siapa sangka sampai di sini ternyata Zaskia tak sebaik itu. Reyna baru tahu akal licik wanita tersebut.


"Jangan ngapain...?" jawab Nayla santai sambil bersandar di dinding bahkan melipat kedua tangannya di depan dada.


Reyna tersentak mendengar kata jangan dari sahabatnya tersebut.


"Jangan bilang kamu dukung dia?" tebak Reyna, jika saja benar begitu, saat ini, detik ini pun Reyna akan memukul kepala Nayla.


"Nggak dong! ngapain! cuma biarkan saja Zaskia tetap berada di dekat Alex, nanti..." Nayla berbisik pada Reyna mengenai sebuah ide di kepalanya.


Reyna pun mengangguk setuju, sekalipun dirinya sedikit ragu, tapi tak ada salahnya mencoba.


"Boleh dicoba biar kak Alex juga paham, lagian memang kalau kita memaksa dengan keras Kak Alex nggak akan sadar bahwa dia masih mencintai Jessica," ucap Reyna dan Nayla pun mengangguk setuju, membenarkan apa yang dikatakan oleh Reyna.


Tak lama berselang Alex keluar dari ruangannya, tatapan matanya sangat dingin pada Reyna, akan tetapi tak masalah bagi Reyna, karena dia tidak takut sedikitpun pada Alex.


Alex pun melihat Jessica dari balik pintu kaca, istrinya itu sedang berbaring di sana, saat itu bersamaan Dokter Aditya pun muncul dan melihat Alex.


"Kenapa hanya diam saja Dok? apa anda tidak ingin masuk?" Alex pun tersadar bahwa ada orang lain selain dirinya, tapi Alex hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Anda sahabat Jessica kan? apakah perceraian dengan Dokter Devan lantas menghancurkan hubungan kalian juga? saya rasa tidak kan Dok?" Aditya terlihat begitu ramah pada Alex, sesekali tertawa kecil sambil bertanya.


"Ya kami baik-baik saja," bohong Alex.


Baik-baik saja dari mana?


Dari mana?


Dasar gila!


Bukankah dirinya yang menyebabkan Jessica harus terbaring di atas brankar? bukankah karena kegilaan yang dilakukannya membuat Jessica lemah tak berdaya meniti jalan luka yang diberikan oleh Alex?


Entah sampai kapan Alex akan puas dalam kekerasan tersebut, entah kapan Jessica dapat bahagia.


"Iya tentu lagi pula memang harus begitu," ucap Dokter Aditya.


"Kelihatannya Dokter begitu peduli pada Jessica? apa?" Alex menggantung ucapannya dan diharapkan Aditya mengerti.


Aditya tersenyum dan meletakkan tangan di dada.


"Namanya usaha, saya kan juga butuh pendamping hidup," ujar Aditya sambil tertawa kecil.


Apakah sebenarnya yang terjadi antara Dokter Aditya dan juga semua ucapannya, akankah ada rahasia di balik rahasia ini?


"Em," Alex mangguk-mangguk.


"Anda yakin mau dengan dia? ya maklum Anda masih lajang dan dia janda," tampaknya Alex masih membutuhkan jawaban yang pasti.


"Tak masalah yang penting dapat menemani saya," jawab Aditya yakin.

__ADS_1


"Kalau begitu saya masuk dulu yah Dok," Aditya memilih segera masuk tanpa memikirkan apapun, siapa yang tahu jika Alex adalah suami Jessica.


Ini benar-benar gila di saat seseorang merasa kini lebih dekat dengan orang lainnya, malah ternyata adalah istri orang lain.


Saat ini pun Aditya masuk tanpa rasa bersalah, hanya tersenyum pada Alex tanpa tahu, lalu apa yang sebenarnya ada dalam benak Alex?


"Selamat siang Jessica," sapa Dokter Aditya, Jessica mengangguk lemah sembari tersenyum.


"Kan sudah aku katakan untuk banyak beristirahat kemarin hari saat aku mengantarmu pulang," papar Dokter Aditya, Alex berdiri diam di pintu yang terbuka lebar, awalnya ingin masuk dan menemui Jessica juga setelah Aditya masuk sayangnya telinganya malah mendengar hal yang cukup membuat kesal.


Aditya yang mengantarkan Jessica pulang, artinya sepanjang hari mereka bersama, lantas bagaimana dengan Puput yang mengatakan bahwa Jessica bertandang ke rumah orang tuanya? ini membuat tanda tanya besar di benak Alex.


Baiklah mungkin saja Jessica berbohong kepada Puput, padahal sebenarnya pergi bersama Aditya.


Ya! Alex bisa mengambil kesimpulan atas semua itu, kalau begitu Jessica masih saja tak berubah, suka berkhianat dan suka berbohong, kembali Alex melihat ke depan menyaksikan istrinya dan Aditya terlibat pembicaraan ringan tapi cukup membuat emosi Alex diuji.


"Aku juga tidak menyangka bisa seperti ini," Jessica menunjuk tangannya, dirinya merasa begitu lemah dan mungkin membutuhkan waktu untuk beristirahat.


"Lain kali harus memperhatikan kesehatan jangan terlalu memaksakan diri, ingat juga tubuh butuh istirahat," ucap Dokter Aditya.


Jessica tersenyum merasa lucu saat Aditya menasehati dirinya seperti anak kecil yang harus diingatkan akan hal itu, tetapi Jessica juga sadar, satu tahun ini dirinya begitu lelah. Lelah dalam menghadapi rumah tangganya yang hancur berantakan.


"Kamu sepertinya belum makan," Aditya melihat makanan di atas meja nakas, makanan tersebut masih utuh membuatnya menjadi penasaran.


"Iya belum dan..."


"Dan biar aku bantu untuk makan yah?" tawar Dokter Aditya sambil membantu Jessica untuk setengah duduk.


"Tidak masalah! lagi pula aku memaksanya," Dokter Aditya terlihat tak mau ditolak, seketika mengambil bekal makanan dan bersiap menyuapi Jessica.


"Aku masih punya tangan dan masih bisa juga digunakan," ucap Jessica.


"Tidak apa! lagi pula aku tidak melihat keluargamu yang datang, jadi biar aku yang membantumu, sampai ada keluargamu di sini," ucap Dokter Aditya.


"Tapi..."


"Buka mulut!"


Terpaksa Jessica membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan dari Aditya, sebenarnya Jessica benar-benar menolak tapi melihat sikap Aditya yang memaksa, membuatnya tak memiliki alasan lagi menolak, sebenarnya dia juga sangat lapar tak lama berselang Aditya menatap pintu tanpa sengaja dan melihat Alex.


"Dokter Alex masuk saja kenapa hanya diam di sana," ucap Dokter Aditya.


Alex?


Ketika Jessica menatap arah pintu dan benar saja ada Alex di sana.


Ya ampun apakah ini akan menjadi masalah lagi dalam rumah tangganya? sudah pasti iya, Alex kan tipe lelaki egois yang suka menyimpulkan segala sesuatunya tanpa bertanya terlebih dahulu.


Terserah setelah ini akan bagaimana, akan tetapi jika dalam beberapa waktu ke depannya masih saja membuatnya tersiksa lahir batin, Jessica akan pergi ke luar negeri dan bersembunyi hingga Alex pun tak bisa menemukannya lagi, percayalah jika suatu hari itu akan terjadi, jika memang Alex masih dalam keras dan kasarnya seperti saat sekarang ini.

__ADS_1


"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Alex bermaksud menyindir Jessica.


"Tidak sama sekali Dokter, aku hanya kasihan pada Jessica," jawab Aditya santai.


"Kasihan?" ucap Alex.


"Iya! dia di sini tanpa keluarganya, jadi sebagai manusia yang memiliki hati nurani aku sangat tidak mungkin tidak menolong orang lain, apalagi Jessica kita sama-sama sudah mengenalnya," ucap Aditya.


"Mengenalnya?" Alex kembali bertanya masih penasaran dengan maksud dari perkataan Aditya.


"Iya dia ini seorang janda jadi tidak ada yang mengurusnya, jadi tak ada salahnya aku mengurusnya sementara waktu," papar Aditya.


"Karena tidak mungkin juga mantan suaminya Dokter Devan yang mengurusnya, coba saja dia punya suami pastinya tidak akan begini, sepertinya anda harus segera menikah Jessica agar ada yang menemani saat begini," ucap Aditya lagi sambil tersenyum renyah.


Baiklah dalam hal tersebut tampaknya Jessica akan besar kepala jika terus disanjung oleh Aditya.


"Kalau begitu anda saja yang menjadi suaminya, melamarnya," kata Alex sambil tertawa kecil agar tetap menimbulkan ketenangan. Padahal dalam hati hanya ingin membuktikan pada Jessica bahwa tidak akan ada pria yang sudi menerimanya.


Aditya pun tersenyum dan melayangkan pandangannya pada Jessica.


"Apa Anda keberatan?" tanya Alex penasaran, sebab Aditya hanya diam saja tanpa menjawab, dalam hati hitungan detik Jessica akan merasa malu, yakin penuh Aditya masih waras dan tak akan mungkin bila menjadikan Jessica istri.


"Kenapa tidak? jika Jessica setuju tentu aku akan segera membawanya ke penghulu atau penghulunya yang aku bawa kemari," ucap Aditya sambil tersenyum bahagia.


Niat hati ingin membuat Jessica malu, malah dirinya yang dipermalukan sendiri, apa maksudnya ingin menikahi Jessica? bahkan Jessica pun hanya diam saat Alex menatapnya dengan dingin, dalam hati menyimpulkan bahwa wanita tersebut sedang menertawakan dirinya, mungkin saja itu benar, Jessica pasti sedang menertawakan dirinya dengan bangga.


"Baiklah coba dipikirkan Jessica, jika kamu setuju dengan yang aku katakan tadi jawab tidak usah sekarang, aku tunggu sampai kapan kamu mau menjawab, aku permisi dulu! nanti aku kembali lagi dan aku akan merawatmu," pamit Aditya.


Jessica mengangguk lemah, dirinya benar-benar tak mengerti akan apa yang tengah terjadi, lagi pula tak ada niatan untuk menikah lagi jika perceraian dengan Alex benar terjadi, dua kali menikah hanya membuat trauma saja, menyisakan luka hingga bisa menjadikan dirinya gila, sampai di depan pintu Aditya melihat Rima, sejak kapan wanita tersebut berada di sana.


"Hai Dok," sapa Rima dengan senyum cengengesan.


Aditya melengos pergi tanpa peduli pada Rima,, membuat Rima kesal sampai di ubun-ubun.


"Mmmmfffppppp," Nayla dan Reyna menahan tawa melihat wajah Rima yang menahan kesal.


"Puas kalian? untuk apa aku ditugaskan menggoda Dokter Aditya yang dingin itu, hilang sudah harga diriku," omel Rima pada Nayla dan Reyna.


"Mau uang tidak?" tanya Nayla.


"Ingat gajiku ditambah lima puluh persen, aku nggak mau tahu," ucap Rima.


"Banyak sekali," ucap Nayla, dirinya kemudian diam.


Dalam otaknya menghitung uang bulanan yang diberikan Devan, apakah cukup untuk membayar gaji Rima yang tidak masuk akal itu.


"Bodo amat!" Rima pun berlalu pergi, kesal pada Nayla dan Reyna, entah mengapa dirinya diberikan pekerjaan untuk menggoda Aditya, padahal itu bisa membuat harga dirinya berantakan, tapi saat mengingat tas branded limited edition membuatnya kembali bersemangat untuk melanjutkan misi walaupun masih bingung dengan tujuan Nayla.


"Tas tunggu aku, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku ada Nayla yang akan membayarnya nanti," Rima tersenyum bahagia ada Nayla yang akan membayarnya barang incarannya itu

__ADS_1


Sudah menabung berbulan-bulan lamanya, sampai saat ini belum juga bisa terbeli dan saat Nayla menawarkan pekerjaan untuk Rima langsung menyetujui, lagi pula yakin jika Nayla tidak akan pernah menyesatkannya.


__ADS_2