
"Alex, turunkan aku," Jessica merasa geli saat Alex mengangkat nya sambil menaiki anak tangga, bayangkan saja jika terlepas dari tangan Alex tentu tubuhnya akan menghantam anak tangga dan pastinya sakitnya akan sangat luar biasa sekali.
Jessica pun masih was-was dengan perlakuan Alex, dirinya yang terbiasa diperlakukan kasar tampak tidak mengenali perlakuan Alex kini.
Sampai akhirnya Alex kembali membawanya masuk ke dalam kamar, setelah itu menurunkan Jessica di atas ranjang.
"Alex, aku harus mencuci piring. Pekerjaan ku belum selesai," Jessica mencoba bangun, tatapi Alex sudah lebih cepat menindihnya.
Hingga akhirnya Jessica tidak bisa bangun sama sekali.
"Biarkan saja, itu bukan pekerjaan mu. Kamu bukan pembantu di sini," jelas Alex.
"Alex, aku tidak enak kalau tidak melakukan apapun. Pagi tadi Mama sudah masak, apa iya aku cuci piring juga tidak?" Tanya Jessica berusaha melepaskan diri dari kungkungan Alex.
"Alex, bangun!" Jessica mendorong dada bidang Alex agar bangkit dari atas tubuhnya.
"Kenapa tidak enak? Kau itu istri ku, pekerjaan dapur itu urusan pembantu, apa gunanya mereka kalau kau yang mengerjakan semua itu?" Kini Alex yang bertanya pada Jessica.
Alex benar-benar tidak ingin Jessica menganggap dirinya asing, kali ini Alex ingin membuat Jessica nyaman bersamanya. Bukan tertekan seperti dulu.
"Ya, tapi aku juga tidak enak."
"Kerjakan saja semuanya, setelah itu semua pembantu di rumah ini biar aku pecat. Terutama Mbok, biar saja dia tidak punya uang untuk berobat anaknya di kampung," kesal Alex.
Jessica terkejut mendengar pernyataan Alex, artinya Art itu benar-benar membutuhkan uang.
"Kamu mau mereka aku pecat?"
"Jangan dong, kamu kok gitu sih," Jessica menggerakkan tubuhnya berusaha melepaskan diri, walaupun begitu sulit. Tetapi, tidak ada salahnya untuk berusaha.
"Kalau kamu tidak percaya biar aku lalukan."
"Jangan dong," Jessica panik dan memilih berdamai dengan Alex.
"Gitu dong, kan enak," Alex turun dari atas tubuh Jessica, berpindah berbaring di samping Jessica.
Saat Alex melepaskan Jessica langsung bangkit dari tempat nya.
"Mau ke mana?" Alex kembali menarik Jessica untuk berbaring di atas ranjang, dan mengungkungnya agar tidak mencoba pergi.
"Alex ini masih pagi."
"Lalu kenapa kalau pagi?" Kini Alex menatap Jessica penuh intimidasi.
"Oh," Alex mangguk-mangguk.
"Kamu mikirin yang tadi malam ya? Tadi malam, apa subuh sih?" Goda Alex sambil mencolek dagu Jessica.
__ADS_1
"Alex, apaan sih. Nggak enak, pagi-pagi begini masih di kamar. Apa kata orang di luar sana?"
"Memangnya apa yang ingin mereka katakan? Biar saja," Alex mencium bibir Jessica dengan penuh cinta, sekalipun bibir itu terus komat-kamit dalam keadaan protes tidak lantas membuat Alex menjauh.
"Alex, sebenarnya aku mau bicara sesuatu," Jessica ingin mengatakan sesuatu hal yang harus diketahui oleh Alex tentang dirinya, lagi pula tidak baik jika hanya menyimpan rahasia sendiri saja.
Tidak tahu apakah Alex mendengar atau tidak, tetapi dirinya masih terlalu fokus pada bibir Jessica.
"Alex," Jessica mendorong wajah Alex agar berhenti menciumi bibirnya.
"Iya, bicara saja," Alex menopang kepalanya dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah tangannya lagi berkeliaran dengan bebas sesuai dengan keinginan nya.
"Alex, dengarkan aku dulu."
"Bicara saja, tidak masalah."
"Tapi tangan mu ini!" Jessica menyingkirkan tangan Alex yang berusaha masuk ke balik kemejanya.
"Tidak ada hubungannya tangan dan telinga istri ku! Hanya tangan ku saja yang menjalar, sedangkan telinga masih pada tempatnya dan bisa mendengar dengan jelas," ujar Alex merasa kesal saat Jessica menjauhkan tangannya.
Sesaat kemudian tangan itu kembali lagi menyusup masuk ke dalam kemeja Jessica.
Sekalipun ponselnya berdering Alex tidak perduli sama sekali, sudah pasti itu Devan sebab dirinya belum sampai di kantor sampai saat ini.
"Alex, ponsel mu."
"Alex dengarkan aku."
"Nanti ya, aku sudah tidak kuat," Alex mencium bibir Jessica dengan cepat, sejak pagi tadi dirinya sudah tidak sanggup menahan diri.
Tetapi, Jessica menolak saat Alex memintanya di kamar mandi pagi tadi. Untuk kali ini Alex tidak ingin ada penolakan lagi setelah semalam. Setiap malam kedepannya sepertinya akan terus memanas seperti ini.
"Alex, pelan-pelan, sakit!" Jessica kesal saat Alex selalu saja tidak sabaran.
"Hehe, gemas. Lagian, bibir kamu bengkak kelihatan seksi."
"Malu sama Mama," Jessica mengerucutkan bibirnya kesal pada Alex.
Alex terkekeh, bukannya kesal malah dirinya semakin panas melihat bibir manyun Jessica. Sehingga kembali menciumnya dengan perlahan.
Perlahan tangan Alex memegang tengkuk bagian belakang Jessica, berusaha menahannya agar tidak menjauh.
Semakin lama ciuman Alex semakin kasar, semakin menuntut dan menginginkan lebih.
Tangan Alex sudah turun menyusuri tubuh Jessica, menyusup masuk ke balik kemeja dan mencari gunung kembar yang besar dan padat.
"Mommy!" Teriak Cahaya.
__ADS_1
Jessica membuka mata dengan lebar, begitu pun dengan Alex. Keduanya melompat dari atas ranjang dengan panik.
Cahaya menatap kedua orang tuanya secara bergantian, bertanya-tanya apakah yang menyebabkan hingga wajah kedua orang tuanya menegang
Tidak lama berselang Puput juga masuk, mungkin jika pintu tertutup rapat tidak akan ada yang berani masuk kecuali Cahaya.
Tetapi pintu terbuka lebar, tentunya tidak akan ada yang menyangka jika pemilik kamar sedang olahraga di dalam sana.
"Jessica, Mama punya sesuatu buat kamu," ujar Puput, kemudian menyadari keanehan pada Jessica dan Alex.
Jessica berdiri dengan tegak, merapikan mejanya yang sudah terbuka beberapa kancing.
Sedangkan Alex berbalik dan berusaha menutupi dirinya yang sudah menegang. Lagi pula dengan memunggungi Puput mungkin bisa menutupi adiknya yang mengeras.
"Sepertinya Mama salah masuk," kata Puput dengan merasa tidak enak.
"Daddy sama Mommy kok pada berantakan?" Tanya Cahaya dengan polosnya sambil menunjuk kedua orang tuanya saling bergantian.
"Mereka sedang menangkap nyamuk," ejek Puput yang mulai mengerti.
"Nyamuknya ada di dalam kemeja Mommy"
"Pakai racun saja Dad, racun serangga," kata Cahaya lagi memberi usulan.
"Iya, pakai racun. Jessica, nanti Mama bawa racun, kamu kasih sama nyamuknya, biar nyamuknya mati!" Puput menekankan kalimatnya sambil melihat Alex yang memunggunginya, kesal sekali rasanya dengan Alex dan Jessica yang tidak mengunci pintu saat sedang bermesraan.
Glek!
Alex meneguk saliva dengan pahit.
Jessica pun menutup mata dengan perasaan malu.
"Cahaya, ayo kita keluar," Puput pun membawa Cahaya dan menarik pintu kamar.
"Kunci pintu kamar ini masih bagus kan? Apa perlu Mama berjaga di depan pintu ini agar cucu Mama tidak masuk?" Tanya Puput lagi penuh emosi.
Kemudian pintu di tarik dan benar-benar tertutup rapat.
Alex cepat-cepat mengunci pintu kamar agar Puput atau siapapun tidak masuk.
Huuuufff.
Jessica menarik napas dengan berat dan duduk di sisi ranjang.
"Jessica, ayo kita tuntaskan dulu."
"Alex!" Tubuh Jessica melayang dan terlentang di atas ranjang seketika.
__ADS_1