Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Ya ampun apa dia kesambet?


__ADS_3

"Mungkin aku memang pantas untuk dihukum Ma, aku memang wanita jahat padahal dulu Alex baik banget, kami bersahabat lama saat Devan dan Alex kuliah Kedokteran dan aku di Fakultas hukum kami tetap bersahabat, sayangnya semua harus hancur dan itu karena aku," ucap Jessica.


"Yang sudah berlalu biar berlalu pergi, tidak usah diingat lagi kalau kamu mati sekalipun tidak mungkin bisa merubah keadaan, ke depannya Mama harap kamu bisa lebih baik yah, Mama yakin sebenarnya kamu punya hati baik dan tulus," Puput bisa melihat raut wajah penyesalan di wajah Jessica, semua manusia pernah melakukan kesalahan bukan tidak mungkin untuk berusaha memperbaiki diri.


"Sekali lagi makasih ya Ma, aku mohon jangan sampai Mama aku tahu, soalnya Mama udah berpikir aku bahagia sekarang," ucap Jessica dan Puput kembali memeluk Jessica dengan eratnya,, mengusap punggung itu dengan penuh kehangatan.


Sesaat kemudian Puput pun menjauh dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Puput mengirimkan pesan pada Reyna untuk ikut menolongnya dalam melancarkan rencana yang akan dilakukan agar Alex dan Jessica bisa akur.


"Kamu ikut permainan Mama sekarang, kamu mandi yang wangi," Puput mendorong Jessica menuju kamar.


"Memangnya kita mau ke mana Ma?" tanya Jessica.


"Jangan banyak tanya, kamu mandi sekarang! harus wangi!" ucap Puput lagi.


Puput tidak mau mendengar penolakan dari Jessica bahkan mendorong paksa menantunya tersebut hingga mau tak mau Jessica pun menurut.


##############


"Nanda ini bakal baju Ibu Bhayangkari kan? nggak bisa langsung dipakai kan?" tanya Reyna.


Kini Reyna duduk di belakang sedangkan Nanda mengendarai sepeda motornya menuju perjalanan pulang, namun yang menjadi pembahasan saat ini adalah bakal baju yang baru saja diterima oleh Reyna.


"Iyalah kecuali kamu kumat," jawab Nanda.


"Ckk," Reyna kesal pada Nanda tak mengerti maksudnya, memilih diam tak melanjutkan pembahasannya lagi.


Seketika Nanda menghentikan laju sepeda motornya kemudian mengambil dompetnya.


"Ini," Nanda memberikan sebuah ATM nya pada Reyna.


Reyna masih diam dan menatap kartu ATM yang diberikan oleh Nanda.


"Ambil," Nanda menyodorkan pada Reyna.


"Kamu serius?" tanya Reyna.


"Em," reaksi Nanda.


"Kalau uangnya aku habisin gimana?" tanya Reyna.


"Terserah padamu," ucap Nanda.


Reyna pun mengangguk lemah masih berpikir mengapa Nanda bisa memberikan ATM nya, apa tak berpikir jika bisa saja dihabiskan tabungannya.


Terdengar suara notifikasi pada ponselnya, Reyna pun membacanya.


"Mama minta beli lingerie untuk Jessica," batin Reyna.


Baiklah itu terdengar bagus, tampaknya kini Puput sudah berpihak pada Jessica.


"Nanda kita ke mall sebentar yah," Reyna menaikkan nada bicaranya agar Nanda mendengarnya.


Nanda tidak menjawab, akan tetapi kini dirinya memutar arah menuju mall.


Setelah sampai di salah satu pusat perbelanjaan sesuai arahan Reyna keduanya pun segera menaiki eskalator, hingga akhirnya memasuki toko lingerie.


Nanda terkejut melihat Reyna membawanya ke toko itu, sungguh ini di luar dugaan!


Kurang ajar! mimpi gilanya semalam kembali berputar di kepalanya.


Apa mungkin?

__ADS_1


Ya ampun Nanda berpikir jika Reyna benar-benar akan menggodanya, seperti apa yang terjadi pada mimpinya semalam, saat ini bahkan Reyna memegang sebuah lingerie berwarna hitam persis dengan warna lingerie yang dipakai Reyna dalam mimpinya tersebut.


"Nanda ini bagus nggak?" tanya Reyna sambil menunjukkan pada Nanda, bahkan bergerak-gerak seakan memastikan bahwa benar cocok saat dipakai.


"Hah?" Nanda sampai melongo melihat Reyna, mungkin akan sangat pas jika dipakai langsung.


"Aku cobain dulu yah, kamu tunggu di sini aja," ucap Reyna.


Nanda masih diam mematung berdiri di tempatnya tanpa bicara satu kata patah pun.


Tapi dalam hati sudah sangat bahagia tanpa sadar dirinya malah berbunga-bunga, tak lama berselang Reyna kembali mendekatinya, kemudian menunjukkan pada Nanda.


"Bagus nggak sih?" tanya Reyna.


Nanda mendesus kesal, mengapa Reyna malah memakainya masih dengan baju di dalamnya bukannya langsung tanpa menimpa dengan kemeja yang sama sekali tak dilepas.


Ah! Nanda sadar ini kan tempat umum, Nanda yakin saat di rumah nanti Reyna akan beraksi.


"Nanda warna hitam ini bagus nggak sih?" Reyna mengulangi pertanyaannya sambil menunjukkan lingerie di tubuhnya.


"I...iya," peluh mulai bercucuran, dingin mall malah terasa panas baginya.


"Kamu kenapa sih?" Reyna malah bingung dengan keanehan Nanda.


Nanda menunjukkan kedua baris gigi rapinya, tidak lupa tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Aneh! aku mau pilih yang lainnya lagi," ucap Reyna.


Reyna tidak ingin pusing perihal perubahan sikap Nanda, dirinya kembali memilih hingga akhirnya kebingungan sebab semuanya sangat bagus.


"Nanda kamu bisa pilihin nggak? soalnya aku bingung,$ ucap Reyna.


"Aku?" ucap Nanda.


Ya ampun Nanda ada apa dengan mu, tubuhmu begitu tegap dan kekar, belum lagi seragammu yang membuatmu berwibawa, tapi ada apa dengan pikiranmu? tepat! kamu sudah jatuh hati pada Reyna.


"Kamu suka yang warna apa?" Reyna kembali bertanya pada Nanda mungkin mengulanginya lebih baik.


"Aku suka yang warna biru," jawab Nanda.


Biru! Nanda memang sangat menyukai warna biru, kulit Reyna yang putih tentunya akan sangat kontras dengan warna lingerie tersebut.


"Ya udah aku ambil yang hitam dan biru," ucap Reyna.


Nanda masih terdiam di tempatnya, betapa Reyna membuatnya tak karuan.


Bahkan sepanjang perjalanan pulang, jantung Nanda terus berdebar kencang, kepalanya pun mulai tak terkondisikan.


"Menurut kamu buat nanti malam langsung dipakai bagusan yang hitam atau yang biru?" tanya Reyna.


"Nanti malam?" ucap Nanda.


Glek!!! Nanda sampai meneguk saliva hingga berulang kali artinya Reyna pun sudah tak sabar ingin merasakan kehangatan dekapannya.


"Iya nanti malam aku bakalan minta Jessica memakainya," ucapan Reyna dengan santainya.


Chitttt!!! mendadak Nanda mengerem, terkejut mendengar nama Jessica disebutkan.


"Kamu kenapa sih? berhenti mendadak banget," omel Reyna sambil memukul punggung Nanda.


Nanda menatap ke belakang dan bertanya langsung agar tak ada kekeliruan.


"Itu buat Jessica?" tanya Nanda.

__ADS_1


"Iya, biar bisa buat hubungannya sama kakak Alex membaik, Ah! udahlah, ini bukan urusan kamu," Reyna mengibaskan tangannya tak ingin Nanda banyak bertanya.


Apa untuk Jessica?


Jadi dari tadi Reyna memilih baju haram tersebut untuk Jessica?


Nanda benar-benar shock, sungguh pernyataan Reyna melebihi bom meledak.


"Jangan bilang kalau kamu mikir aku yang akan pakai lingerie ini?" tebak Reyna.


Glek!!! entah sudah berapa kali Nanda meneguk saliva, apalagi kali ini tebakan Reyna sangat benar sekalipun begitu tentunya Nanda memilih mengelak, tak ingin kehilangan harga dirinya juga.


"Kalau ngomong jangan asal," Nanda menyentil kepala Reyna, seakan dirinya tak menerima difitnah.


Padahal semua memang benar adanya, kemudian dirinya kembali mengendarai motornya, dirinya tersenyum sambil geleng-geleng kepala mengingat betapa bodohnya barusan.


"Ngapain geleng-geleng?" tanya Reyna.


Reyna malah merasa horor melihat Nanda dari belakang.


Sampai di depan rumah Nanda pun memarkirkan sepeda motornya, Reyna turun begitu juga dengan Nanda.


"Makasih ya Nanda buat ini," Reyna menunjuk paper bag di tangannya.


"Kok makasih?" tanya Nanda.


"Kan pakai ATM kamu," jawab Reyna.


Sial memang sial! disaat orang lain yang akan bahagia karena melihat istrinya memakai lingerie seksi tersebut dirinya yang harus mengeluarkan uang.


Andai saja Nanda tahu, sejak awal untuk siapa lingerie tersebut, tentunya tidak akan pernah memilih ataupun akan mengambil ATM segera.


Tapi nasi sudah jadi bubur, biarlah suami Jessica bahagia sekarang, suatu hari nanti dirinya pun harus bahagia juga.


"Ngapain masih di sini?" kesal Reyna ketika melihat Nanda belum juga pulang.


"Kamu nggak mau ngajak aku masuk?" Nanda berjalan mendekati Reyna,, dan Reyna pun mundur hingga membentur dinding, takut pada tatapan mata Nanda.


"Ngapain? kamu mau ngapain? jangan bilang," mulut Reyna terbuka lebar menebak bahwa Nanda akan melecehkannya.


"Apa kamu mau cium aku?" tanya Reyna.


"Ini ada semut di kepalamu," Nanda pun mengambil dan membuangnya dan Reyna terdiam tentang pikirannya salah besar.


"Apa kau pikir aku sudi mencium mu? bibirku ini masih perjaka," ucap Reyna.


Nanda pun segera pergi dan mengemudikan sepeda motornya tetapi bibirnya tersenyum sepanjang perjalanan merutuki kebodohannya barusan.


"Tapi dia cantik juga," Nanda terus tersenyum sampai di rumah pun.


"Nanda kamu kenapa?" Arni sampai kebingungan melihat ekspresi wajah Nanda yang terus tersenyum.


"I love you Mama," Nanda mencolek hidung Arni sebelum benar-benar masuk ke dalam.


"Ada apa dengan anak itu? apa yang sebenarnya terjadi?" Arni sampai merinding melihat keanehan sikap Nanda.


Tak lama berselang Nanda keluar dari kamar dengan mengalungkan handuk di lehernya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Arni.


"Mau mandi Ma," jawab Nanda dengan bodohnya.


"Mandi? tapi di kamar kamu kan ada kamar mandinya," lagi-lagi Arni semakin menegang melihat anaknya.

__ADS_1


"Iya juga yah, kok aku bisa lupa," kembali Nanda masuk dan mandi dalam kamar mandi yang berada di kamarnya, bersiul dengan bahagia.


"Ya ampun apa dia kesambet? apa perlu aku panggil orang pintar untuk menghilangkan jin di tubuh anak ku?" ucap Arni.


__ADS_2