Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Alex aku mohon..


__ADS_3

"Mbak lempar bolanya, entar Aya yang pukul yah," Cahaya bersiap untuk memukul bola saat ART pun bersiap untuk melemparkan bola padanya.


Bola mulai melayang dan terjatuh di lantai, Cahaya kecewa karena tidak dapat memukul bola yang lolos begitu saja.


Akhirnya diulangi hingga beberapa kali dan untuk kali ini dirinya berhasil memukul bola tersebut sehingga membuatnya bangga bukan main.


"Mbak, Aya hebat kan?" ucap Cahaya.


Cahaya bersorak gembira dengan bangganya pada ART.


"Iya tapi Non Aya makan dulu yah, kamu belum makan siang,"


"Makanya di sini aja yah Mbak, habis makan kita main lagi," ucap Cahaya.


"Sip! Mbak ambil dulu dan Non cantik eh salah Non Aya nggak boleh kemana-mana, setuju?"


Cahaya mangguk-mangguk kemudian duduk di salah satu kursi yang tersusun rapi di teras menunggu ART membawakan makanan untuknya.


"Aya mau latihan dulu ah," Cahaya kembali mengambil pemukul bola dan bermain sendiri sambil menunggu, sampai akhirnya bola kasti miliknya menggelinding ke jalanan, Cahaya segera mengambilnya pintu gerbang yang tidak terkunci membuatnya lebih leluasa, satpam yang tengah ke toilet pun tidak mengetahui Cahaya keluar dari gerbang.


"Itu dia,"


Saat berdiri di sisi jalan dan tiba-tiba saja ada sebuah sepeda motor yang melaju kencang ke arahnya.


"Aaaaaaa," teriak Cahaya seiring dengan sepeda motor yang melaju ke arahnya.


Piring di tangan ART seketika terjatuh di lantai, berlari sekencang-kencangnya melihat Cahaya yang sudah tergeletak di jalan, sedangkan penabrak sudah pergi begitu saja, teriakan ART itu membuat seisi rumah terkejut dan berhamburan keluar, tak terkecuali Jessica. Lututnya bergetar hebat melihat anaknya tidak sadarkan diri dengan darah yang berlumuran.


"Aya bangun,"


Dengan segera Aditya mengangkat tubuh mungil Cahaya, melarikan menuju rumah sakit secepat mungkin, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Jessica menangis tidak henti-hentinya, tak menyangka kejadian itu begitu cepat hingga dirinya merasa terkejut baru saja beberapa saat lepas dari pengawasannya tapi kejadian yang naas tersebut sudah terjadi, dalam perjalanan menuju rumah sakit keadaan Cahaya masih tak sadarkan diri, darah semakin membasahi.


"Aditya lebih cepat aku mohon," ucap Jessica.


Sampai di rumah sakit, Cahaya pun langsung ditangani, keadaannya benar-benar buruk setelah terdapat benturan pada bagian kepala bagian depan, Cahaya terjatuh dalam keadaan telungkup sehingga dahinya membentur aspal, dari pintu kaca Jessica melihat anaknya sedang berjuang, Inggit pun tidak kuasa melihat keadaan cucu kesayangannya, Inggit yang sudah sembuh kini tak membutuhkan kursi roda hingga ikut berdiri di depan daun pintu yang tertutup rapat.


Melihat cucunya melalui kaca transparan.


"Ma, apa anakku baik-baik saja?" tangisan Jessica semakin tidak terbendung, tatkala ketakutan luar biasa mulai menghantuinya.

__ADS_1


Tentang bagaimana hidupnya tanpa Cahaya bahkan alasannya bersemangat hidup adalah putrinya itu, Jessica sendiri pun tidak yakin apakah masih bisa hidup tanpa Cahaya.


"Ibu Jessica," seorang Dokter wanita keluar ketika selesai menangani Cahaya yang kini belum juga sadarkan diri.


Jessica sudah tidak sabar untuk masuk melihat anaknya lebih dekat sehingga saat pintu dibuka dia langsung menghambur masuk, tubuh Cahaya terbujur lemah, wajah pucat belum juga sadarkan diri, keadaan ini semakin membuat Jesika takut, mungkinkah putrinya bisa kembali membuka mata.


"Ma kalau Aya nggak ada, aku juga ikut Aya," kata Jessica sambil menangis sesenggukan.


"Jessica, Aya nggak apa-apa jangan patah semangat, ingat kamu pernah merasakan lebih dari ini, kalian pernah berjuang bersama bukankah saat dia masih di dalam kandungan kalian berdua sama-sama berjuang dia adalah anak yang kuat," Inggit memeluk Jessica dengan eratnya.


Sungguh tidak menyangka bahwa ini akan terjadi, entah sampai kapan dirinya terus merasakan pahitnya kehidupan.


Masa dewasanya tidak bahagia sama sekali, berbeda jauh saat masih kecil yang tidak mengerti betapa kerasnya kehidupan.


Namun sampai kapan?


Kapan dirinya bisa bahagia?


Mengapa kini masih ada kesedihan setelah kelahiran Cahaya yang mampu membuatnya bahagia.


"Ma," Jessica terus menangis tersedu-sedu, sakit sekali melihat Cahaya belum juga sadarkan diri.


"Jessica, tante yakin anak kamu kuat," Arini pun dapat merasakan bagaimana menjadi seorang ibu tentunya anak adalah segalanya.


Jessica pun mengangguk kemudian mengelus rambut coklat Cahaya dengan bercucuran air mata, Jessica pun mencium kening Cahaya.


"Ibu Jessica, setelah kami pastikan ternyata stok darah AB sedang kosong, sedangkan putri Anda membutuhkan transfusi darah secepatnya," jelas Dokter yang menangani Cahaya.


Jessica memutar lehernya beberapa derajat, terdiam mencerna sejenak apa yang barusan diberitahukan oleh sang Dokter.


"AB?" Jessica tak ingin salah mendengar tetapi memang golongan darah Cahaya adalah AB, golongan darah yang terbilang cukup langka dan mungkin sulit juga untuk menemukannya.


"Apakah tidak bisa darah saya Dok?" tanya Jessica.


"Tidak bisa Bu, golongan darah ibu dan putri Ibu berbeda, kami harap secepatnya untuk mendapatkan pendonor, mungkin dari pihak keluarga,"


"Keluarga?" semua anggota keluarga Jessica memiliki golongan darah O, bagaimana bisa melakukan transfusi darah, tapi Cahaya masih memiliki Ayah, apakah Alex bersedia mendonorkan darahnya sedangkan saat hamil saja tega menyiksanya.


Apakah Alex menginginkan anak itu?

__ADS_1


Kenangan pahit itu kembali terulang lagi di benaknya, di mana Alex sendiri yang mengatakan bahwa dirinya mandul, namun semua di bungkam dengan kehamilannya, akan tetapi semua tak sampai di sana malah Alex meyakini jika janin itu akan keguguran dalam waktu dekat.


Mungkinkah sebenarnya Alex tidak menginginkan anak itu? kaki Jessica terasa lemah, tak mampu rasanya menopang bobotnya yang tak seberapa itu, tangisnya terdengar kembali menatap lantai dengan hati bimbang.


"Jessica bangun Nak," Inggit memapah Jessica untuk duduk di kursi.


"Ma, aku nggak tahu harus apa," ucap Jessica.


"Ayahnya masih hidup Jessica, tidak ada cara lain," kata Aditya ikut bersuara.


Tatapan mata Jessica berkaca-kaca, seakan menahan gejolak luar biasa, ingin sekali menjerit sekencang mungkin tetapi harus ditahan sebisa mungkin, Jessica menggeleng tidak yakin Alex sudi mendonorkan darahnya.


"Aku nggak yakin Aditya, dia tidak mungkin bersedia," ucap Jessica.


"Kamu coba dulu," ucap Aditya.


"Ibu Jessica bisakah untuk menghubungi keluarga dekat dengan segera. Putri anda tidak bisa menunggu lebih lama lagi," kata Dokter lagi mengingatkan dan Jessica mengangguk sambil mengusap air matanya.


"Apa Dokter Alex hari ini masuk?" tanya Jessica dengan perasaan harap-harap cemas.


"Iya, kalau tidak salah Dokter Alex sedang bersama Dokter Devan di ruang operasi sesar," Dokter itu tak tahu apa-apa, dirinya pun hanya sebatas menjawab seadanya saja.


"Apakah operasinya masih lama?" tanya Jessica.


"Sepertinya cukup memakan waktu Bu,"


"Baiklah!" ucap Jessica.


Jessica pun segera menuju ruang operasi, dirinya menunggu Alex keluar, di depan pintu mondar-mandir menantikan saat-saat operasi selesai dan Alex akan keluar, sampai akhirnya pintu ruang operasi pun terbuka, Devan keluar terlebih dahulu dan seterusnya Alex.


Devan dan Alex berhenti melangkah saat melihat Jessica dengan mata berkaca-kaca, rambut kusut dan tubuh yang kacau, bahkan ada noda merah yang menempel pada pakaian Jessica, Devan dan Alex masih diam menatap penuh tanya, tanpa ada yang berbicara mereka masih saling menatap satu sama lainnya.


Sampai akhirnya Jessica berjongkok dan bersimpuh di bawah kaki Alex, menangis tersedu-sedu tanpa bisa berbicara.


Biar saja jika Alex ingin mencekiknya seperti dahulu kala, asalkan anaknya bisa terselamatkan dengan segera.


"Alex aku mohon..."


Alex mundur satu langkah tidak mengerti sama sekali.

__ADS_1


"Jessica jangan gila!" Devan pun menarik Jessica untuk berdiri, rasanya tidak pantas apa yang kini dilakukan oleh sahabatnya tersebut.


__ADS_2